Loading

Indonesia dari Kamera Linda

Dari Jawa Menuju Atjeh
Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam dan Gay

Penulis: Linda Christanty
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009 (200 hlm)

Dari Jawa Menuju Atjeh Demikian Linda Christanty memberikan pengantar dalam bukunya yang terbaru berjudul Dari Jawa Menuju Atjeh, sebuah kumpulan perjalanan jurnalistik yang baru saja terbit. Ternyata buku berisi 17 judul tulisan itu bukan rekaman kepedulian tentang ”orang-orang biasa”, karena sebagian subyek yang ditulis Linda adalah orang luar biasa dalam sejarah: Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, dan Dede Oetomo. Dan penulisnya sendiri pun bukan seorang penulis biasa. Dia adalah aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) yang bergerak dengan gesit di bawah ancaman pemerintah Orde Baru; untuk kemudian bergabung dengan majalah Pantau (1999) dengan alasan ”saya dapat berpihak pada orang-orang biasa dan bersikap kritis terhadap kekuasaan”. Di antara kesibukannya meliput itu, Linda kemudian dikenal sebagai sastrawan yang melahirkan kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria Pinto, yang memenangi Khatulistiwa Literary Award (2004).

Kumpulan tulisannya dimulai dengan sebuah perjalanan Linda ke Aceh, tempat untuk pertama kalinya dia membangun dan memimpin kantor berita Aceh Features Service. Linda membukanya dengan kalimat yang menggoda, yang membuat pembaca segera saja memutuskan untuk setia pada tulisannya: ”Dia hampir menendang laptop saya yang tersandar di kaki kursi.”

Lead seperti ini merebut perhatian. Linda, 39 tahun, seorang aktivis, sastrawan, dan wartawan yang memahami bagaimana menarik minat tanpa harus ”menjerit” atau berpretensi menggunakan kata-kata puitis. Kisah hari pertamanya bertemu dengan pengusaha Agam Patra adalah sikap khas seperti seorang yang sudah lama di Pulau Jawa, yang tak mengenali pemuka daerah. Ketika kawannya menyatakan bahwa Linda barusan diantar Agam Patra yang terkenal, Linda hanya memberikan reaksi: ”Oh….”

Hampir di semua tulisannya, ”Jurnalisme dalam Sepotong Amplop” (tentang saat pertama Linda bertemu dengan dunia ”jurnalisme bodrek” yang menghalalkan amplop), ”Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer”, ”Wiji Thukul dan Orang Hilang” (tentu saja tentang Wiji Thukul), ”Gaya Nusantara” (tentang homoseksual di Indonesia), ”Adakah Pelangi dalam Islam”, Linda tidak menghakimi. Apa yang dia ceritakan adalah sebuah kisah yang penting dalam sejarah dan posisi subyek itu dalam sejarah. Ia menceritakan dengan kalimat yang jernih, pas, dan sesekali lucu. Ini adalah faktor penting dalam sebuah penulisan artikel features dengan gaya literary journalism yang tampaknya menjadi acuan dalam gaya penulisan Linda.

Dalam penulisan literary journalism yang selalu menggunakan sang wartawan sebagai ”kamera”, sebagai pencerita, sangat sulit rupanya (bagi warta¬wan Indonesia, paling tidak) untuk melupakan bahwa yang diceritakan bukanlah dirinya sendiri, tetapi: subyek berita. Beberapa tulisan gaya literary journalism yang sesekali dianut juga oleh majalah ini—sang wartawan malah sibuk dengan pemikirannya sendiri dan menjadikan subyeknya sebagai topik periferal. Dalam hal ini, Linda tahu, dia adalah sebuah ”kamera”; seorang pendongeng dan seorang wartawan. Dia tetap meletakkan Pramoedya, Wiji Thukul, Dede Oetomo di panggung cerita, tanpa melupakan reaksi dan pemikirannya sebagai bagian dari jalinan cerita.

Dalam artikel ”Gaya Nusantara”, kita mengenal Dede Oetomo, seorang gay yang berani keluar secara publik menyatakan orientasi seksualnya pada 1979, ketika soal homoseksualitas masih menjadi topik bisik-bisik. Linda bukan sekadar menyajikan Dede sebagai seonggok data biodata, tetapi dia meniupkan roh ke dalam tulisannya. Dede Oetomo seolah tampil seperti film dokumenter dalam bayangan kita; seseorang yang tidak mau kalah dan sangat nyaman dengan posisinya di masyarakat Indonesia yang masih memandang homoseksualitas sebagai ”sesuatu yang tidak normal”. Tetapi, lebih penting lagi, Linda selalu memberikan konteks, memberikan latar belakang sejarah dan situasi pada setiap gerakan subyeknya. Dalam kisah Dede, dia akan mengingatkan pembaca pada situasi politik dan sosial ketika Dede mulai mengumumkan keadaan dirinya, sampai soal homoseksualitas dalam tradisi dan Serat Centhini. Linda juga memperkaya tulisannya dengan informasi guru besar Soetandyo Wignyosoebroto bahwa baru pada 1985 Departemen Kesehatan menghapus homoseksual dari daftar penyimpangan jiwa.

Dalam tulisan ”Adakah Pelangi dalam Islam”, Linda menekankan suatu pertanyaan penting yang sedang mengguncang negeri ini: apakah kebenaran itu tunggal? Apakah pemahaman Islam itu hanya satu? Lagi-lagi Linda tak berusaha menghakimi, meski jelas dia sangat memberikan empati kepada Ulil Abshar Abdalla, yang dikenai sanksi fatwa akibat tulisan-tulisannya.

Tulisan ”Batalion Terakhir” adalah penyajian Linda yang memperlihatkan betapa Linda sosok yang lucu (kelebihan yang harus dipelihara, karena penulis Indonesia biasanya terlalu serius dengan dirinya sendiri). Linda berkisah bagaimana tentara batalion terakhir di Aceh bergaya pada hari-hari terakhir sebelum mereka pulang ke Jawa. Dengan potongan rambut cepak, dan gaya kepingin difoto-foto dengan Linda, kita membayangkan sebuah hubungan yang menarik antara wartawan dan tentara. Dalam tulisan, kita mempersoalkan kekerasan mereka. Tetapi sehari-hari, tentara adalah manusia biasa yang sederhana dan rindu pada keluarga. Kemampuan Linda menggambarkan tingkah mereka dengan humor inilah yang sangat kurang dimiliki jurnalis Indonesia.

Buku ini bukan hanya melengkapi dan memperkaya pengetahuan kita tentang orang Indonesia (yang dikenal ataupun yang tak dikenal) yang luar biasa kompleks; tetapi memberikan perenungan: tak mudah untuk segera menghakimi dan bersikap moralistis pada kasus-kasus yang terjadi. Linda menarik pembaca untuk berpikir lebih jauh melalui penyajian yang asyik. Buku ini wajib dibaca bukan oleh wartawan saja, tetapi oleh seluruh warga Indonesia yang peduli untuk memperbaiki negeri ini.***

Leila S. Chudori
Majalah Tempo edisi 07/XXXVIII 06 April 2009

Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates