Loading

Tentang Dua Tragedi: NAZI di Jerman dan 1965 (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 11/30/2014

Situasi politik dunia memberi dampak berbeda pada para pelaku kejahatan kemanusiaan.

Di atas tempat tidurnya di penjara Spandau, dia menggantung peta bulan. Selain menyukai pesawat terbang, dia terobsesi pada hal-hal yang berkaitan dengan ruang angkasa. Usianya 90 tahun. Ketika itu tahun1984. Namanya, Rudolf Hess, petinggi NAZI dan wakil Hitler. Sebelum diputuskan bersalah di pengadilan Nuremberg dan dikirim ke Spandau, Hess ditangkap di Skotlandia. Dia tiba di negeri itu menggunakan payung terjunnya untuk bernegosiasi tentang penyelesaian perang secara damai dengan pihak Inggris. Negosiasi tersebut tidak pernah terlaksana. Hess malah menjadi perwira NAZI pertama yang ditawan pihak musuh sebelum perang usai. Namun, Hitler menyangkal telah memerintahkan Hess melakukan misi itu dan menyebutnya mengalami gangguan jiwa.

Pada 1984, dokter menyatakan usia Hess tinggal tiga tahun lagi. Dia satu-satunya penghuni penjara Spandau di tahun itu. Enam rekannya telah dibebaskan, lalu meninggal dunia. Tiga tahun sebelumnya Albert Speer yang juga pernah dipenjarakan di Spandau tutup usia. Speer salah satu perwira SS (Schutzstaffel), organisasi paramiliter di bawah NAZI. Dia satu-satunya pemimpin NAZI yang mengakui kesalahan dan meminta maaf di pengadilan Nuremberg. Berbeda dengan Speer, Hess tidak pernah merasa bersalah atau menyesali tindakannya. Dia justru bangga.

Kisah tentang Hess saya baca di Majalah Intisari edisi Agustus 1984. Jurnalis Jerman, Jurgen Steinhoff, menulisnya dalam laporan bertajuk “Sehari dalam Kehidupan Narapidana No. 7”, yang mengungkap sistem pengamanan dan fasilitas penjara Spandau, dua kali upaya bunuh diri Hess, kebiasaan dan hobinya, kesehatannya, dan jumlah pegawai yang akan langsung kehilangan pekerjaan andaikata sang narapidana ini tiba-tiba mati. Bagi saya, hal yang menarik dari kisah Hess adalah orang yang sangat dingin dan kejam sekalipun mempunyai kelemahan paling mendasar. Setelah lebih dari 30 tahun ditahan, Hess tiba-tiba meminta grasi. Dia ingin bertemu dengan tiga cucunya. Permintaan tadi tidak pernah dikabulkan Sekutu dan Uni Soviet.

Majalah Intisari di perpustakaan keluarga kami itu menjadi sumber tertulis pertama saya tentang NAZI, sebelum ayah saya menghadiahi buku catatan harian Anne Frank, yang mengungkap kisah hidup gadis remaja Yahudi di Belanda. Anne dan keluarganya kemudian dideportasi ke kamp konsentrasi di Jerman. Dia meninggal dunia di kamp konsentrasi Bergen Belsen pada usia 15 tahun. Ibu dan adiknya meninggal di kamp lain. Ayahnya, Otto Frank, selamat, lalu menerbitkan catatan harian Anne.

Sekitar enam juta orang Yahudi dibunuh di masa NAZI. Bersama mereka, orang-orang cacad dan usia lanjut, orang-orang Gypsie, orang-orang komunis, para homoseks dan pemeluk Kristen yang menolak berkolaborasi juga dibasmi. Kekejaman luar biasa ini berakar pada kebencian yang luar biasa. Ketika tentara Sekutu dan Soviet memasuki kamp-kamp konsentrasi pasca kekalahan NAZI, mereka sangat terkejut menyaksikan manusia yang masih hidup di situ nyaris berupa tengkorak yang disangga tulang-belulang dan bertumpuk di ranjang-ranjang susun mirip rak-rak penyimpanan barang.

Masa kekuasaan NAZI dan kekejaman Hitler sering disetarakan dengan situasi di Indonesia pada tahun 1965. Tetapi itu bukan persamaan yang sesuai. 

Meskipun buku sejarah di sekolah-sekolah sekarang tidak mengungkapkan hal ini, kita mengetahui bahwa penyebab tragedi nasional pada 1965 adalah kudeta militer yang dipimpin Mayor Jenderal Suharto terhadap pemerintahan presiden Soekarno.

Lebih dari setengah juta jiwa rakyat menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Tentara-tentara tidak hanya melakukan pembunuhan langsung, tetapi lebih banyak lagi mengancam orang-orang sipil untuk membunuh sesamanya, termasuk membunuh saudara, teman ataupun tetangga mereka sendiri. Suharto kemudian menjadi presiden Indonesia selama 32 tahun. Di tahun-tahun menjelang kudeta itu Perang Dingin tengah berlangsung sengit, begitu pula konfrontasi Indonesia dan Malaysia (negara ini didukung Inggris dan Amerika Serikat) akibat soal perbatasan di Kalimantan Utara. Dunia terbagi dalam beberapa kekuatan ketika itu. Ada dua blok negara komunis, yaitu blok Soviet dan blok Tiongkok. Amerika Serikat dan Inggris di blok antikomunis. Soekarno membangun blok lain yang tidak ingin tunduk terhadap ketiga blok ini, yaitu blok anti neokolonialisme dan anti neoimperialisme bernama non-blok, terdiri dari negara-negara Asia dan Afrika yang kaya mineral dan dulu menjadi wilayah-wilayah jajahan. Tapi konflik itu semakin rumit ketika pemerintah Tiongkok yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia ikut campur dan mendukung Soekarno. Dengan mengakhiri kekuasaan Soekarno, maka dua kekuatan musnah sekaligus: non-blok dan komunis. Keberhasilan kudeta Suharto menjadi berkah bagi lawan-lawan politik Soekarno. Amerika Serikat dan Inggris mendukung Suharto.

Berbeda dengan Suharto, kejayaan Hitler dan NAZI di Eropa justru dihancurkan oleh Amerika Serikat dan Inggris bekerja sama dengan Uni Soviet.

Hitler pun bunuh diri dalam bunkernya, sehingga tidak bisa diadili. Seluruh pemimpin NAZI dan mereka yang paling bertanggung jawab terhadap pembantaian manusia atas nama pemurnian ras dan supremasi bangsa Arya itu disidang di Nuremberg antara tahun 1945 hingga 1946. Para perwira terdekat Hitler dijatuhi hukuman penjara 10 tahun hingga seumur hidup. Tentara Sekutu dan Soviet bergantian mengawasi penjahat kemanusiaan di penjara Spandau agar tidak kabur. Namun, kebanyakan mereka yang lolos dari Nuremberg melarikan diri ke negara-negara Amerika Latin, terutama Argentina dan Brasil, lalu mengganti identitas dan hidup sebagai orang lain.

Suharto lantas menyatakan bahwa orang-orang komunis telah melakukan kudeta terhadap pemerintah Soekarno. Ribuan orang dikirim ke kamp konsentrasi Pulau Buru. Sebagian lagi dijebloskan ke penjara, disiksa dan/atau dibunuh.

Monumen Pancasila Sakti dibangun Suharto sebagai monumen peringatan terhadap pengorbanan tujuh perwira militer yang katanya telah menyelamatkan pemerintahan presiden Soekarno dari kudeta partai komunis di Indonesia. Padahal presiden Soekarno sendiri ditahan hingga meninggal dunia oleh Suharto. 

Belum lama ini beredar sebuah film tentang peristiwa 1965. Film itu berupaya merevisi versi sejarah resmi, tetapi makin menegaskan definisi “korban” dalam peristiwa tersebut, yakni orang-orang yang tidak tahu apa-apa, bukan komunis tetapi dituduh sebagai komunis, lalu menjadi sial nasibnya. Dalam film, kita biasanya mengetahui siapa pelaku utama atau pemberi komando sebuah operasi militer atau upaya mencegah penyakit mematikan yang disebabkan virus Ebola atau perang melawan makhluk asing dari luar angkasa. Ketika menonton film tentang kekejaman NAZI, kita segera mengetahui bahwa Hitler dan perwira-perwiranya adalah para penjahat utama, meskipun penampakan mereka hanya sekilas atau tidak di tiap adegan. Film tentang peristiwa 1965 itu memberi kita informasi serupa meskipun agak mencemaskan. Para pelaku pembantaian dan korbannya ternyata sesama rakyat sendiri! 

Mengapa bisa demikian? Pertama, film itu mengungkapkan pemandangan umum di masa tersebut. Rakyat saling bunuh, tetapi para pelaku utamanya tidak terlihat. Realitas terungkap, tetapi fakta yang berada di balik realitas malah menjadi samar. Kedua, wacana dan trauma yang ditanamkan Orde Baru masih sangat kuat dan akibatnya, orang menghindar untuk mengungkap kebenaran secara gamblang, termasuk dalam film. Ketiga, peristiwa 1965 lebih mengerikan dan rumit dibanding kekuasaan Nazi di Jerman. Saking rumitnya, orang tidak tahu siapa pelaku yang paling bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dan mereka tidak pernah tersentuh hukum. Ujung-ujungnya, pihak yang dituduh dan dianggap paling bertanggung jawab dalam peristiwa 1965 malah rakyat sendiri. Oleh karena itu, mereka sepatutnya saling memaafkan dalam sebuah rekonsiliasi ala mereka sendiri. Negara cuci tangan. Ibarat tawuran antar kampung, dua kubu warga yang berseteru sudah sepantasnya berdamai mengingat pepatah “kalah jadi arang, menang jadi abu”. Jangan heran kalau pengamat asing membuat kesimpulan bahwa peristiwa 1965 terjadi gara-gara orang-orang Indonesia punya bakat dan kemampuan membunuh yang lebih istimewa dibanding orang-orang di negara lain. Setelah disebut bangsa yang ramah-tamah, kini dituduh kejam dan gemar membunuh. 

Suatu malam di awal tahun ini saya menyusuri kawasan Berger Strasse, Frankfurt untuk mencari restoran. Udara musim dingin tidak terlalu menggigit lagi, hanya 4 derajat Celcius. Lempeng-lempeng baja pada permukaan trotoar berkilau oleh bias cahaya lampu. Saya membaca nama-nama dan tahun-tahun yang tercantum di situ. Nama-nama orang Yahudi yang rumah mereka dulu berada di depan trotoar, lengkap dengan tahun kelahiran dan tahun ketika mereka diambil pasukan SS untuk dideportasi ke kamp konsentrasi. Tetapi ada juga yang ditembak di tempat. Saya memandang rumah-rumah tersebut, membayangkan mungkin ada anak perempuan seumur Anne Frank, perempuan tua seusia ibu atau nenek saya, atau anak laki-laki seusia adik saya yang saya sayangi, yang tiba-tiba diseret di malam hari dan sejak hari itu frasa “masa depan” langsung lenyap dari benak mereka. Kehidupan menjadi sebuah noktah hitam.

Saya teringat suatu sore di tahun yang lebih lama lagi di Berlin menjelang musim gugur. Salah seorang pejabat kementerian sosial dan tenaga kerja berjalan kaki menunjukkan letak stasiun kereta api kepada saya sambil bercerita bahwa sekitar 500 meter dari kantornya di Wilhemstrasse terletak bunker Hitler dulu, tetapi entah di mana tepatnya. Lokasi bersejarah ini tidak pernah dipelihara pemerintah Jerman agar tidak dapat dijadikan monumen bersejarah bagi kaum neofasis di mana pun, tidak menjadi tempat suci bagi mereka.

Hess adalah penghuni terakhir penjara Spandau. Sesuai keputusan pemerintah Jerman, penjara Spandau harus dihancurkan setelah tahanan terakhir ini meninggal dunia. Tidak hanya penjara, semua benda-benda milik Hess harus dimusnahkan tanpa sisa. Seperti perkiraan dokter dalam laporan Steinhoff tentang Hess, lelaki itu memang hengkang ke alam baka pada tahun 1987. Tetapi bukan karena penyakit. Dia bunuh diri dengan kabel listrik di usia 93 tahun. Penjara Spandau diratakan dengan tanah, lalu di atasnya dibangun pertokoan. Kematiannya mengundang spekulasi di kalangan Neo NAZI bahwa dia tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Kaum Neo NAZI mengenangnya sebagai pahlawan.

Namun, pemburuan terhadap para pelaku kejahatan kemanusiaan di masa NAZI belum berakhir. Menemukan bukti-bukti untuk memperkarakan mereka terus dilakukan di Jerman hingga hari ini. Di sebuah toko bandara pada tanggal 7 Mei lalu, saya membeli suratkabar International New York Times dan halaman pertamanya berisi berita dengan judul “Prosecutions Surge in Nazi Death Camp Guard Cases”. Para jaksa dari berbagai kota di Jerman, seperti Frankfurt, Stuttgart, Schwerin, dan Hamburg, mengadakan pertemuan sejak bulan Maret 2014. Mereka membahas kembali kasus-kasus pembunuhan orang Yahudi dan korban-korban lain di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau yang melibatkan para penjaga kamp, lelaki maupun perempuan. Menurut suratkabar ini, usia pelaku sudah sangat tua dan hal itu dikhawatirkan dapat mengundang simpati. Ternyata pendapat yang berkembang di media Jerman dan diskusi publik justru menunjukkan bahwa lebih baik para penjahat kemanusiaan tersebut diadili daripada tidak sama sekali.

Suharto meninggal dunia di sebuah rumah sakit dalam usia 87 tahun, dikelilingi tim dokter terbaik dan diiringi ratap tangis keluarganya. Dia tidak pernah diadili untuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya semasa hidup, dikenang sebagai “Bapak Pembangunan Nasional”. Makamnya terletak di Astana Giribangun, sekitar 40 kilometer di sebelah timur kota Solo, dekat kompleks makam raja-raja Jawa dari dinasti Mangkunegara.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates