Loading

Tanah Air Seorang Nomad: Arahmaiani (oleh: Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 03/21/2016

Ia seniman Indonesia dengan reputasi global, selain aktivis kemanusiaan dan lingkungan hidup yang menyuarakan perjuangan tanpa kekerasan. 

 

KAMI berbincang di dapur apartemen temannya pada sore hari, bulan Oktober 2015. Udara musim gugur terasa sejuk, mengalir melalui celah jendela. Pameran restrospektifnya Violence No More dibuka seminggu lalu di Haus am Dom, yang terletak di pusat kota Frankfurt, tak jauh dari Katedral Bartholomew, gereja Gotik abad ke-14. Pameran ini meliputi lukisan, instalasi, foto, dan video pertunjukan selama 30 tahun ia berkarya. Arahmaiani satu dari sedikit seniman Indonesia yang dikenal di dunia internasional serta mendapat pujian. Iani, demikian ia biasa disapa, telah mengikuti belasan pameran bersama dan menyelenggarakan 10 pameran tunggal di berbagai negara.

Sejak kecil ia gemar menggambar. Sosok-sosok dunia seni yang pertama dikenalnya berasal dari sebelah ibu. Ada dalang, ada pelukis. Kakeknya empu seni bela diri. Keluarganya mencerminkan keberagaman. Ibu penganut Kejawen. Ayah kyai modern, alumnus Universitas Columbia, Amerika Serikat, dan dulu aktif di Himpunan Mahasiswa Islam.

Iani belajar di SD dan SMP Labschool. Siswa tidak perlu berseragam. Beda pendapat dihargai. Namun ketika bersekolah di SMA biasa, pertanyaan kritisnya membuat guru tersinggung. Ia juga cemas terhadap situasi politik nasional, “Saya mendengar Ayah berdiskusi dengan teman-temannya.” Suatu hari ia dan sejumlah teman memasang poster berisi kritik terhadap pemerintah Soeharto. Alhasil, murid-murid pemberani ini diinterogasi tentara. Guru-guru ketakutan. Ia mengenang, “Ayah tidak melarang, tapi minta supaya saya lebih berhati-hati.”

Seni adalah panggilan jiwanya, sehingga ia memilih kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ketika dosen memberi tugas melukis dengan cat minyak, ia justru melukis dengan arang. Alasannya, “Harga arang lebih murah dan memberi kesempatan bereksperimen.” Dosen marah, sehingga ia tidak lulus mata kuliah tersebut. Iani protes dengan melukis dan menulis puisi pada dinding koridor kampus. Di hari peringatan kemerdekaan Indonesia, ia mengkritik Orde Baru dengan menggambar tank baja dan menulis puisi di jalanan. Tentara menangkapnya. Proses interogasi berlangsung satu bulan. Ia memperoleh bebas bersyarat setelah dokter tentara menerangkan sang tahanan “mengidap gangguan jiwa”.

Demi keselamatan, ia meminjam uang neneknya untuk pergi ke Australia lalu berjualan di pasar Sydney, yang memberinya wawasan baru, “Saya bertemu hippie-hippie tua. Mereka sangat menghargai kebudayaan Asia.” Para hippie itu ada yang pernah mengelana sampai ke India dan Nepal. Ia juga tertarik belajar menggambar menggunakan otak kanan, tradisi hippie. Katanya, “Kalau berpikir logis, kita menggunakan otak kiri. Berpikir intuitif, menggunakan otak kanan.” Mendukung tekad Iani, kepala sekolah Paddington Art School memberinya beasiswa dari tahun 1983 hingga tahun 1985. Sekolah seni tersebut didirikan pelukis ternama Australia, Stephen Wesley Gorton, pada 1980.

Setelah bertemu hippie, ia berteman dengan punker. “Ratu Inggris memberi anak-anak punk uang dan menyuruh mereka pergi ke Australia, karena di Inggris mereka banyak protes.” Sejak itu Iani memasang cincin di hidung dan telinga. “Mereka memprotes industrialisasi dan globalisasi,” tuturnya. Iani kelak tinggal bersama kaum marginal ini, “Ada hippie tua, punker, etnis Aborigin, dan bermacam orang dari Inggris dan Jepang.”

Kehidupan komunal dengan aneka bangsa serta budaya membuka matanya tentang politik global. Ia gelisah, karena mengetahui bahwa Indonesia juga menjadi sasaran sekaligus terkena dampak. Pertanyaan tentang identitas menguat, sehingga ia memutuskan pulang ke Indonesia untuk menemukan lebih lanjut siapa dirinya. Tiba di Jakarta, ia bertemu Bert Hermen, teman dari Belanda, yang mengajak berkunjung ke Bengkel Teater, yang dipimpin penyair dan dramaturg WS Rendra. Tentu saja ia masih berpenampilan ala punker, "Rambut pendek, jaket paku-paku." Rendra memberinya dua buku, Pararaton dan puisi epik Dante Alighieri, Divine Comedy. Buku Dante mengisahkan perjalanan jiwa menuju Tuhan. Pararaton adalah fiksi tentang riwayat raja-raja di Jawa yang bertujuan melegitimasi kekuasaan feodal. Ketika itu Iani belum mengetahui maksud Rendra. Ia baru menemukan jawabannya beberapa tahun lalu, terutama saat berada di Tibet. Bagi Iani, Rendra sosok mengagumkan, “Mas Willy adalah orang Jawa yang berani mengkritik budaya Jawa. Dalam budaya Jawa, mengkritik itu kualat.”

Pada 1987 Iani memperoleh beasiswa dari Belanda untuk belajar di sekolah seni rupa Jan Van Eyck. Tapi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia menolak memberinya surat keterangan karena ia masuk daftar hitam akibat aksi-aksi politiknya dulu. Ketika masalah teratasi, program beasiswa sudah berhenti. Ia tetap berangkat ke Belanda dan kuliah di Academie voor Beeldende Kunst pada 1991. Belum setahun kuliah, ia harus pulang. Pemerintah Belanda mengkritik pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur, sehingga hubungan dua negara memburuk. “Orang Belanda di Indonesia disuruh pulang. Orang Indonesia di Belanda disuruh pulang,” kisahnya. Iani kecewa, sakit selama setahun, kehilangan semangat hidup. Kakeknya dan teman-teman Bengkel Teater membantunya bermeditasi. Setelah pulih, ia semangat berkarya.

Pameran tunggal pertamanya berlangsung di Studio Oncor pada 1993, didukung penyair Toeti Heraty. Tajuk pameran cukup kontroversial, Seks, Agama dan Coca Cola. Sebelum pameran dibuka ia menyadari dua karya ternyata menghilang, yakni Etalase dan Lingga-Yoni. Ray Sahetapy, pemilik Studio Oncor, memberitahu Iani bahwa sejumlah orang menuduhnya menghina Islam. Mereka menyatakan darahnya halal diminum.

Karya-karyanya waktu itu mengetengahkan Indonesia yang sinkretis dan  mengkritik kapitalisme serta kolonialisme yang menjadi akar komodifikasi berbagai aspek kehidupan. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, tapi menerbitkan kemarahan pihak tertentu. 

Demi menyelamatkan diri, Iani berangkat ke Bali. Tapi musibah lain datang. Mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Seniman Suprapto Suryodarmo bersimpati dan menawarinya tinggal di Solo. Enam bulan di Solo, ia pergi ke Perth, Australia. Sempat pulang sebentar ke Jakarta, ia kemudian menuju Thailand untuk bekerja di sebuah biro iklan selama dua tahun dan sesekali berceramah seni di Universitas Chulalangkorn.

Perubahan kekuasaan terjadi di Indonesia, yang dipicu aksi-aksi protes dan dipercepat oleh krisis ekonomi berat. Pada 21 Mei 1998, tepat di hari ulang tahun Iani, Presiden Soeharto lengser. Sebulan sebelum itu, ia sudah berada di Jakarta. Namun, perjalanannya belum berakhir. Hampir lima tahun silam ia memulai masa yang lebih spiritualistik. Undangan mengikuti acara di museum seni kontempor di Shanghai, Cina, telah memberinya kesempatan berkunjung ke Tibet untuk mempraktikkan seni berbasis komunitas. “Saya menawarkan kerja sama dengan syarat komunitasnya juga khusus, marjinal atau terlanda bencana.” Gempa baru saja melanda kota Yushu. Meski tidak mempunyai kenalan atau tujuan pasti di Tibet, ia nekad pergi.

Iani ingin bertemu biksu. Tapi situasi cukup genting. Tentara Cina mencurigai orang asing. Ia dan Li Mu, seniman Cina yang menjadi asistennya, terpaksa menuju biara terpencil, menyusuri bukit dan tebing selama dua minggu. Sesampai di biara, ia berdiskusi dengan para biksu. Ia mencetuskan revitalisasi pertanian organik serta budaya nomad yang hilang, dan pengelolaan sampah secara daur ulang. Gerakan ekologi ini  meluas, juga berdampak jangka panjang. Bersama orang-orang Tibet, ia telah menanam 320 ribu pohon, yang dimulai sejak tahun 2011. Tibet adalah menara air Asia. Sekitar dua milyar orang tergantung pada air Tibet. Selain itu, Tibet merupakan lempengan es terbesar di dunia. “Bayangkan kalau terjadi pemanasan global dan es mencair,” ujar Iani.

Dalam buku pameran Violence No More, Werner Kraus selaku kurator menyebutkan bahwa Iani menyadari perubahan sosial akan sia-sia tanpa melestarikan warisan ekologi di bumi untuk kepentingan makhluk hidup yang menghuninya. Sementara penggagas dan penyelenggara pameran, Gunnar Stange, menulis tentang perlawanan tanpa kekerasan orang Tibet terhadap pendudukan Cina telah menginspirasi Iani menelusuri masa lalu penganut agama minoritas di Indonesia untuk menemukan cara mengakhiri kekerasan di dunia kontemporer. Pameran ini didukung Universitas Goethe dan Universitas Katolik untuk melengkapi perspektif yang ditampilkan pemerintah Indonesia secara resmi di Frankfurt Book Fair saat Indonesia menjadi tamu kehormatan, “Agar orang Jerman mendapat gambaran yang lebih nyata dan bukan dari sisi pemerintah saja. Lalu ada diskusi dengan Werner Kraus, yakni bagaimana menanggapi persoalan-persoalan sosial politik Indonesia. Dia usul agar menampilkan karya saya dari zaman dulu sampai sekarang.” Iani menyuarakan seni anti kekerasan, “Dalam prinsip tantangan, yang berlawanan direkonsiliasikan, karena dasarnya adalah welas asih."

Perjalanannya untuk sampai di sini cukup panjang. Ia telah melalui masa- masa terberat yang mengantarnya menjadi warga dunia. Ketika ia benar- benar sendirian, maka berkarya adalah sebuah Tanah Air untuk pulang.***

*pertama kali dipublikasikan di rubrik "Profil" Majalah Dewi edisi Februari 2016

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates