Loading

Tahun Nol di Kamboja (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 04/11/2011

Kenangan buruk tentang rezim Khmer Merah di Kamboja.

TANAH merah telah menjelma lumpur. Orang-orang meniti di atas sekeping papan yang diletakkan di atasnya. Sementara itu tetes-tetes air terus berjatuhan dari pohon-pohon yang daun-daunnya tak sanggup menanggung deras hujan. Udara terasa dingin.

Di ujung jalan masuk yang membelah hutan ini, saya menyaksikan pohon-pohon spung bertahta di atas singgasananya yang hitam dan berlumut, berumur 10 abad. Akar-akar raksasanya menjulur dan mencengkeram bangunan-bangunan candi itu, seperti jari-jari mahkluk jahat bernama masa silam membelit kenangan orang-orang Kamboja dan tidak ingin melepasnya. Di sebelah sana, sejumlah kuli tengah bekerja dikelilingi reruntuhan. Suara mesin terdengar bagai jerit, panjang dan tinggi, lalu berhenti, terdengar lagi sesaat, diam dan kembali lagi, berulang-ulang. Proyek pemugaran sedang berlangsung di Ta Phrom, salah satu kompleks candi di kawasan Angkor.

Di jalan keluar Ta Phrom, sejumlah lelaki memainkan alat musik tradisional Khmer. Mereka berteduh di pondok kecil di kanan jalan. Kaki-kaki mereka buntung. Sebuah desa bernama Phum Chon Pika atau “desa orang cacat” berada tidak jauh dari kompleks Angkor. Barangkali, mereka berasal dari desa tersebut. Tiap keluarga di Phum Chon Pika mempunyai anggota yang jadi korban ranjau darat.

Bukan hanya Khmer Merah yang memasang ranjau-ranjau tersebut, tentara Viet Cong atau Vietnam Utara juga menanamnya di sepanjang jalur strategis untuk memasok logistik mereka ketika berperang melawan Amerika. Dari 12 juta ranjau darat yang tersebar di seluruh Kamboja, baru sekitar tiga persen yang dijinakkan.

Dekat para musisi tadi ada pengumuman dalam Bahasa Inggris yang menyatakan bahwa mereka sama sekali bukan pengemis, melainkan pemain musik.

Sekitar 15 meter dari pondok pemain musik, serombongan bocah, laki-laki dan perempuan, berjajar menyanyi lagu berbahasa Khmer, yang di sela-sela baitnya terselip kalimat Bahasa Inggris yang tidak sempurna, “Give money.” Usia mereka antara enam sampai delapan tahun. Anak-anak ini sengaja meminta uang pada pelancong dengan pesan tersembunyi dalam lagu.

Sukry baru berusia tujuh tahun ketika Khmer Merah berkuasa di negerinya. “Saya masih ingat apa yang terjadi dan tidak akan melupakan,” katanya, dalam Bahasa Inggris, saat menunggui saya memotret.

Di usia menjelang 30 tahun, pertumbuhan rambut Sukry telah bergeser dari letak normal, sehingga membuat dahinya makin lebar. Matanya sipit. Gigi-giginya terlihat rapi saat tertawa. Kulitnya sawo matang. Dia mengenakan kemeja biru yang telah pudar warnanya, dengan lengan digulung sampai siku. Ketika dia berdiri di depan saya, sobekan kecil tampak di bagian punggung kemeja tua itu.

Tentara Khmer Merah sering datang ke desa-desa di malam hari. Mereka menembaki rumah-rumah warga. Sukry, ibu, ayah dan saudara-saudaranya harus bersembunyi dengan berdesak-desakan dalam lubang perlindungan yang mereka gali sendiri di lantai rumah. Lubang perlindungan itu disamarkan keberadaannya di siang hari, ditutupi dengan berbagai barang atau pakaian. Selain rasa takut, hal lain yang dikenang Sukry dari masa kanak-kanaknya adalah nyala api dari kain perca. Listrik belum masuk desa. Warga menggunakan minyak ikan untuk bahan bakar penerangan. Kain dicelupkan dalam minyak, lalu dinyalakan dengan korek api.

“Awalnya Khmer Merah tidak bertindak brutal. Mereka itu melawan Jenderal Lon Nol yang merupakan pemerintahan boneka dan didukung Amerika Serikat. Artinya, mereka berjuang untuk rakyat Kamboja. Ketika kesepakatan damai terjadi atas himbauan Sihanouk dan kedua pihak sepakat meletakkan senjata, Khmer Merah pura-pura setuju dan setelah itu membantai siapa saja,” kisahnya.

“Sebelum Khmer Merah berkuasa, negara saya bahkan lebih maju dari sekarang. Ada perkebunan-perkebunan karet. Warga bekerja di sana,” kenang Sukry.

Perkebunan tadi merupakan peninggalan penjajah Perancis.

Orangtua Sukry kini tinggal di desa dekat Ibukota Phnom Penh. Ayahnya masih trauma terhadap apa yang mereka alami di masa Khmer Merah dulu.

“Masalah Kamboja dan Thailand, soal perbatasan itu juga selalu membuatnya was was,” lanjut Sukry. Ayahnya tidak ingin ada perang lagi.

Siem Reap, kota yang saya kunjungi ini, daerah taklukan kerajaan Siam atau Thailand di masa lalu. Hubungan pemerintah Kamboja dan Thailand terus diwarnai masalah sampai sekarang, dari soal perbatasan sampai kepemilikan candi.

Ketika saya bertanya kepada Sukry, apakah dia tahu alasan Khmer Merah membunuh begitu banyak orang, dia menjawab, “Khmer merah tidak suka pada orang bijak. Mereka juga membunuh guru sekolah.”

Ironisnya, para pemimpin utama Khmer Merah terdiri dari kaum terpelajar. Pol Pot, Khieu Samphan dan Ieng Sary sama-sama jebolan Perancis. Khieu Samphan yang kelak jadi presiden Kamboja bahkan seorang doktor ekonomi dan politik.

Sudah hampir empat tahun Sukry bekerja sebagai pengemudi tuktuk atau becak motor untuk menghidupi keluarga. Sebelumnya dia berbisnis jual-beli pakaian bersama seorang teman. Namun hasil yang didapat dari bisnis tersebut tidak cukup membiayai kebutuhan sehari-hari. Dia memutuskan banting setir jadi pengemudi tuktuk.

“Sebentar lagi saya jadi ayah,” ujarnya, dengan mata bersinar gembira. Akhir bulan ini Sukry akan menyusul istrinya ke Phnom Penh untuk mendampinginya melahirkan anak pertama mereka.

Sukry seorang muslim. Ibunya semula beragama Buddha lalu masuk Islam setelah menikah dengan ayahnya. Ibunya orang Thai, ayahnya orang Champa.

Akibatnya, Sukry punya dua nama. “Nama Kamboja saya, Shopeak.” Dia tersenyum.

Shopeak berarti beruntung.

“Sukry, dalam Bahasa Arab, artinya berterima kasih,” katanya.

PADA 8 Oktober 2009 saya pergi desa Bakong, sekitar 40 menit naik tuktuk dari Siem Reap. Dari desa ini ada perahu motor yang disewakan untuk orang-orang yang ingin berkunjung ke danau Ton Le Sap. Perjalanan ke danau itu melewati Kampong Pluk, sebuah kampung di atas sungai.

Rumah-rumah warga di Kampong Pluk berbentuk panggung, dengan kaki-kakinya yang sebagian terendam di air. Penduduk kampung berjumlah 3.065 orang, terdiri dari 565 kepala keluarga.

Pintu-pintu rumah yang terbuka memperlihatkan keadaan tiap keluarga nelayan. Baju-baju dijemur di teras dan pot-pot bunga tersusun di lantainya, menghias rumah-rumah sederhana berdinding papan, daun nipah ataupun tambalan plastik itu.

Saya melihat bocah laki-laki terlentang di salah satu rumah, telanjang dengan burung mungilnya terarah ke jalan. Sepasang suami istri duduk di ambang pintu, menatap lalu-lintas tanpa bicara. Anak perempuan kecil melamun sendirian di tangga, sedang kaki-kakinya yang mungil menyepak-nyepak air sungai.

Di muka satu rumah, anak laki-laki yang masih balita itu berenang hilir-mudik dengan pelampung ban bekas. Tidak ada orang dewasa di dekatnya. Dia terkekeh-kekeh sambil memamerkan kemahirannya meluncur di permukaan air dengan kedua tangan sesekali menepuk-nepuk air, gaya berenang yang belum pernah saya lihat di mana pun, saat mengetahui bahwa beberapa pasang mata di atas perahu ini menonton aksinya. Di ujung sana ada satu sekolah. Pasangan kakek-nenek berkulit putih tampak di berandanya. Si kakek memegang kamera, menyandang ransel, tertawa lebar. Alis-alisnya seputih kapas.

Setelah melalui Kampong Pluk, perahu memasuki hutan preikub. Daun-daun pohon preikub yang hijau rimbun sampai menyentuh air. Tiap kali ada warga yang meninggal dunia di Kampong Pluk, orang-orang mengantar jenazahnya ke sini. Tubuh mereka yang mati beristirahat di bawah akar-akar preikub, di dasar sungai. Kadangkala mayat-mayat itu dihanyutkan di Ton Le Sap, danau yang berjarak setengah jam dari hutan ini.

“Ada lima provinsi dilalui danau Ton Le Sap. Warga di sekitarnya bekerja sebagai nelayan. Waktu Khmer Merah berkuasa, orang tak boleh mengambil ikan di danau. Akibatnya setelah Khmer Merah tak lagi berkuasa, ada banyak sekali ikan di danau. Tapi juga ada jenis ikan yang hilang,” tutur Sukry, yang menyertai perjalanan saya.

Pengemudi perahu motor yang kami tumpangi bernama Somnang. Dia baru lahir saat Khmer Merah memerintah Kamboja. Somnang seperti halnya Sukry, berkulit sawo matang. Rambutnya lurus. Dia orang Khmer, etnis mayoritas di negerinya. Matanya sipit dengan sepasang alis hitam. Bentuk wajahnya persegi, mirip kebanyakan orang Tapanuli di Indonesia.

“Tapi lima tahun setelah mereka kalah, pengaruhnya masih terasa,” cetus Somnang. Dia berbicara dalam bahasa Khmer dan Sukry menerjemahkan kalimat Somnang untuk saya.

“Khmer Merah berkuasa tiga tahun, sembilan bulan dan 22 hari.” Sukry menimpali Somnang. Khmer Merah membenci Vietnam.

“Kalau di satu desa ditemukan orang Vietnam, dia langsung dibunuh, selain mereka membunuh orang Kamboja sendiri,” tutur Sukry.

Khmer Merah juga membunuh etnis minoritas Champa yang beragama Islam, bahkan membunuh orang-orang Khmer sendiri. Dalam hal agama, Khmer Merah tak pandang bulu. Ibadah agama Buddha, Islam dan apa pun dilarang. Tragedi di Kamboja berawal dari perang Vietnam dan Amerika. Kamboja bertetangga dengan Vietnam dan awalnya tidak terlibat langsung dalam konflik itu. Gempuran Amerika yang makin gencar membuat pasukan komunis Vietnam Utara terdesak sampai ke

pedalaman Kamboja. Bom-bom juga dijatuhkan Amerika di perbatasan Kamboja untuk menghancurkan basis-basis komunis Vietnam. Amerika antara lain didukung Vietnam Selatan, Australia dan Thailand. Vietnam Utara didukung Tiongkok dan Uni Soviet. Perang berebut pengaruh dan wilayah antara dua ideologi di dunia ini, komunisme dan kapitalisme, berlangsung selama 12 tahun.

Kamboja akhirnya terseret dalam pusaran konflik. Puncaknya, ketika pemerintah Nixon mendukung Jenderal Lon Nol untuk menggulingkan raja Kamboja, Norodom Sihanouk, pada 1970. Sihanouk dianggap sebagian kalangan sebagai simbol pemersatu negerinya. Dia memimpin Kamboja setelah menang dalam pemilihan umum yang dipantau Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebelum itu hampir seratus tahun Kamboja dijajah Perancis. Untuk berkuasa, Sihanouk menyingkirkan orang-orang Komunis dan lawan-lawan politiknya dengan kejam. Tapi setelah digulingkan Lon Nol, Sihanouk justru berbalik menjadikan orang-orang komunis sebagai sekutu menghadapi Lon Nol. Pasukan Khmer Merah yang dipimpin Saloth Sar atau populer disebut Pol Pot kelak mengalahkan Lon Nol. Pada 1 April 1975 pasukan Lon Nol kalah dan sang jenderal hengkang ke Amerika.

Kini giliran Sihanouk yang menerima balasan politik. Khmer Merah ingin memerintah Kamboja sendirian. Mereka antimonarki. Pol Pot menyingkirkan Sihanouk, memenjarakannya di istana kerajaan di Phnom Penh. Tahun-tahun yang gelap pun dimulai.

Semula Khmer Merah adalah sayap militer Partai Komunis Kamboja, tapi kemudian jadi faksi tersendiri dan mendominasi. Rezim Khmer Merah bahkan mengeksekusi seluruh pemimpin Partai Komunis Kamboja yang dianggap berseberangan, membunuh kaum intelektual dan siapa saja yang dicap pendukung Lon Nol dan mata-mata Barat. Mereka mencanangkan “Tahun Nol”, menyatakan sejarah Kamboja dimulai di masa mereka berkuasa.

Penduduk dipindahkan dari kota ke desa-desa sebagai langkah membangun negara agraris. Ibukota Phnom Penh jadi kota hantu. Tidak hanya itu, Henry Kamm dalam bukunya Cambodia: Report from A Striken Land menyebutkan bahwa di masa tersebut suratkabar, buku, kaset, film, radio, televisi, alat-alat musik, AC, sekolah, rumah ibadah, pengobatan modern dilarang. Semua itu dianggap pengaruh asing atau yang mengancam komunisme ala Khmer Merah .

Berdasarkan praktiknya, Khmer Merah tidak lebih dari rezim fasis di Indochina.

Perang Vietnam dan Amerika berakhir dengan kemenangan komunis Vietnam pada 1975. Negeri yang tadinya terbagi dua, utara dan selatan, itu bersatu lagi. Tapi Kamboja sudah jadi neraka. Pada 1979 Vietnam memutuskan menginvasi Kamboja dan membentuk pemerintahan boneka yang dipimpin bekas kader Khmer Merah, Heng Samrin. Pol Pot tak mau menyerah. Dia melarikan diri ke perbatasan Thailand. Tiongkok yang semula mendukung Khmer Merah berbalik menyerang. Uniknya, kali ini Amerika justru memasok dana untuk Khmer Merah.

Lebih dari satu juta orang mati di bawah Pol Pot, karena kelaparan, penyiksaan dan pembunuhan. Jejak dan kenangan perang itu masih hadir sampai kini. Wajah Pol Pot yang lembut bertolak belakang dengan tindakannya. Dia dijuluki “Setan Berwajah Rembulan”.

Saat saya menanyakan pendapat Sukry tentang pemerintah Kamboja sekarang, wajahnya langsung cerah. Dia mendukung Perdana Menteri Hun Sen. Dia menyebut Hun Sen “mengerti tentang orang-orang miskin”. “Karena dia juga dulu memulai dari hidup susah. Dia belajar di pagoda, sampai jadi orang berpengaruh,” lanjutnya.

Faktanya, korupsi merajalela di kalangan pejabat dan mayoritas rakyat hidup miskin.

Hun Sen dikenal dekat dengan Vietnam. Cambodian People’s Party atau Partai Rakyat Kamboja adalah partai Hun Sen.

“Funcipec tidak bagus. Meski dulu ayah saya ikut partai itu,” kata Sukry, lagi. Funcipec adalah partai Sihanouk. “Partai kerajaan,” lanjutnya.

Dulu Somnang menarik tuktuk seperti Sukry dan lumayan lancar berbahasa Inggris lantaran sering berbicara dengan para pelancong. Bertahun-tahun bekerja sebagai pengemudi perahu membuatnya jarang menggunakan bahasa tersebut. Dia masih mengerti apa yang dibicarakan orang dalam Bahasa Inggris, tapi dia telah kehilangan kemampuan berbicaranya dalam bahasa itu.

Somnang belum lama berkeluarga. Anak pertamanya laki-laki, baru berusia satu tahun.

Perahu tidak lagi melaju. Somnang mematikan mesinnya. Kami mengambang di atas Ton Le Sap. Sejauh mata memandang hanya air dan air. Ton Le Sap mirip laut ketimbang danau. Begitu luas. Kedua sisinya tak terlihat dari sini. Airnya keruh kecoklatan.

Gerimis mulai turun. Namun, matahari bersinar.

Di atas tuktuk Sukry yang meninggalkan desa Bakong, saya melihat lelaki paruh baya menyeberang jalan. Kakinya cuma sebelah. Gambar tengkorak dan tulang menyilang tampak di satu tanah lapang. Tanda bahaya. Ranjau darat tertanam di situ.

POSTER “Year Zero” terpampang di dinding ruang senjata Cambodian Land Mine Museum, yang letaknya tak jauh dari kompleks Angkor. Poster tersebut berwarna dasar merah, bergambar siluet hitam senjata dan siluet putih orang berkaki satu dan bertongkat. Di poster lain tertera sejarah ranjau darat. Tiga puluh delapan negara telah menghentikan pembuatan ranjau darat, tapi 13 negara masih memproduksinya sampai sekarang. Sembilan negara pembuat ranjau darat terletak di Asia, yaitu Burma, Tiongkok, India, Nepal, Korea Utara, Korea Selatan, Pakistan, Singapura dan Vietnam. Satu negara di Timur Tengah, yaitu Iran. Dua negara di benua Amerika, yaitu Amerika Serikat dan Kuba.

Di halaman belakang museum ada pengumuman untuk wartawan, fotografer dan pembuat film. Mereka dilarang memotret atau merekam anak-anak korban ranjau darat yang tinggal di situ tanpa izin. Sebuah rumah tampak di kejauhan, rumah yang dihuni keluarga pemilik museum dan anak-anak asuhnya. Halaman belakang museum ternyata pekarangan depan rumah tersebut.

Antara museum dan pekarangan rumah hanya dipisahkan pagar kayu dan bambu setinggi pinggang.

Saya melihat anak perempuan dengan sebelah kaki palsu melangkah ke pintu pagar, sedang seorang lagi berjalan-jalan di muka rumah. Tak berapa lama seorang anak laki-laki berlengan buntung sampai siku masuk ke museum. Dia menatap saya sejenak, lalu berjalan ke pintu depan. Usianya sekitar 13 tahun.

Peluru mortir dan meriam, bom udara, roket penghancur tank, bazoka dan tabung peluncur roket dipajang di ruang-ruang museum. Dalam bangunan berbentuk bundar dan berlapis kaca yang terletak di tengah museum berjejalan berjenis-jenis ranjau darat. Bangunan khusus ini dikelilingi kolam buatan yang airnya hijau berlumut.

Pendiri museum bernama Aki Ra. Orangtuanya dibunuh Khmer Merah. Dia dipaksa jadi tentara anak di pasukan Pol Pot dan bertugas menanam ranjau. Setelah kekuasaan Khmer Merah berakhir, Ra bekerja sukarela menjinakkan ranjau di Siem Reap sampai ke perbatasan Kamboja dan Thailand. Pengunjung museum hanya membayar tiket masuk US$2 yang digunakan untuk keperluan merawat museum ini.

Sepulang dari museum, kami mampir di satu rumah makan yang di belakangnya mengalir satu sungai kecil. Buku menu tertulis dalam huruf Khmer yang merupakan pengembangan dari huruf Palawa, bukti Indianisasi. Sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Khmer memang bangsa yang paling ter-Indianisasi di Indochina, sebagaimana Vietnam ter-Sinonisasi. Dengan bantuan Sukry, saya memesan amok, masakan khas Khmer yang terdiri dari parutan kelapa dan ikan. Sukry memesan sup bebek dan mulai bercerita tentang masa-masa sekolahnya dulu.

Dia sempat belajar di Makhad Umukula selama lima tahun setelah menyelesaikan sekolah dasar. Di buku catatan saya, Sukry menulis nama sekolah itu dalam huruf Arab. Sukry menyebut sekolahnya sebagai “center”. Di sana dia belajar matematika, bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Melaju Jawi. Gurunya orang Kamboja yang lama tinggal di Malaysia. Guru Sukry pernah ditangkap gara-gara membawa tas bertuliskan huruf Arab setelah menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, ditabrak pesawat yang dibajak pada 11 September 2001.

“Dia sempat ditahan selama tiga minggu, karena dicurigai sebagai teroris,” tutur Sukry.

Sukry tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena harus membantu ibunya bekerja untuk membiayai keluarga. Dia cukup senang, karena dua adik laki-lakinya kuliah di Phnom Penh. Sukry anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya tidak lagi bisa bekerja, karena menderita diabetes dan hernia.

“Ayah saya suka sup bebek,” katanya, tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca.

Saya menanyakan pendapatnya tentang kelompok Islam militan yang berkembang akhir-akhir ini, yang identik dengan teror dan kekerasan.

“Islam mengajarkan untuk mencipta perdamaian, bukan musuh,” katanya.

Desa Sukry dikeliling pemeluk Buddha dan dia tak merasa mereka mengancamnya sebagai muslim. Di Kamboja 60 persen penduduk beragama Buddha dan 40 persen muslim.

“Jangankan perbedaan agama, perbedaan manusia juga perlu dihargai. Di sini ada hotel yang pemilik dan pegawainya waria. Golden Banana Hotel, namanya,” katanya.

Baginya, setiap orang saling menghargai satu sama lain itu sudah cukup.

SAYA meninggalkan Siem Reap pada 10 Oktober 2009, menuju Phnom Penh. Mobil berkapasitas 14 penumpang itu terasa nyaman dan sejuk oleh AC. Sukry memberi nomor telepon temannya di Phnom Penh, sesama pengemudi tuktuk. Namanya, Ban Mao. “Dia pasti akan membantu. Dia teman baik saya,” katanya siang itu. Dia berdiri di muka kantor mobil sewa ini sampai mobil yang saya tumpangi bergerak, meluncur ke jalan raya.

Jarak Siem Reap ke Phnom Penh sekitar empat jam. Tiap 300 atau 500 meter ada papan nama “Cambodian People’s Party” terpancang di kiri atau kanan jalan. Saya menyadari betapa banyaknya papan nama partai Hun Sen tersebut saat mobil berada di provinsi Kampong Thom, yang ternyata tempat kelahiran Pol Pot. Ironisnya, saya hanya menemukan sekitar empat papan nama “Funcipec” di perjalanan ke Phnom Penh.

Di provinsi Kandal, sekelompok remaja berjilbab terlihat duduk-duduk di satu pondok kecil di kanan jalan. Sementara di jalanan, di atas sepeda motor yang melaju itu, pendeta Buddha berjubah oranye duduk di boncengan dan jubahnya berkibar-kibar dilanda angin.

Mobil mengurangi lajunya saat bertemu sapi-sapi. Jumlah mereka begitu banyak, mengingatkan saya pada sapi-sapi di Aceh. Sapi-sapi berkeliaran di kanan kiri jalan, besar dan kecil. Tua dan muda. Mobil terpaksa berhenti saat seekor sapi tua melenggang santai menyeberang jalan.

Rumah-rumah panggung mulai tampak. Bekas banjir mulai terlihat. Di kanan jalan ada kolam coklat yang di tengahnya mencuat sebuah tugu. Ternyata itu halaman sekolah yang terendam air.

Mobil terus melaju ke arah Phnom Penh. Pohon-pohon, kebun menghijau. Di satu daerah, sawah menghampar luas di kanan-kiri jalan. Mata yang penat terasa segar lagi. Desa-desa di Asia Tenggara tak jauh beda. Kebun, sawah, rumah panggung….

Phnom Penh bahkan tak beda jauh dengan salah satu sudut Jakarta. Lalu-lintas ramai dan toko-toko berderet di kanan-kiri jalan. Permukiman kumuh berada di belakang rumah-rumah kalangan menengah dan atas.

Cuaca masih seperti ketika saya tiba di Siem Reap. Hujan turun tak tentu waktu. Kadang pagi hari, kadang tengah hari, kadang menjelang sore. Di pagi pertama di Phnom Penh, saya sarapan di kafe di sebelah hotel dan membeli suratkabar yang ditawarkan seorang bocah laki-laki. The Cambodian Daily. Suratkabar berbahasa Inggris, tapi dengan beberapa halaman berbahasa Khmer. Kebanyakan beritanya saduran dari kantor berita asing. Ada berita tentang Indonesia: penembakan teroris yang terlibat pengeboman hotel Ritz Carlton dan Marriot di Jakarta. Rencana pengadilan tribunal untuk para pemimpin Khmer Merah yang masih hidup dimuat pula di suratkabar.

Siang harinya saya berkunjung ke Choeung Ek Genocidal Museum diantar Ban Mao.

Museum ini sekaligus monumen untuk mengenang kekejaman Pol Pot, yang didirikan di bekas kamp pembantaian. Halamannya merupakan bekas-bekas tempat eksekusi. Dalam bangunan utama terdapat lemari kaca bertingkat-tingkat yang berisi tengkorak-tengkorak, tulang-belulang manusia dan pakaian-pakaian korban. Tengkorak, tulang dan pakaian usang itu ditata seakan-akan barang-barang mewah di rak pajang sebuah butik atau gerai ternama.

Anehnya saya tak merasakan apa pun ketika menyaksikan pemandangan ini. Tidak sedih atau gembira. Tidak juga ngeri. Datar-datar saja.

Di bangunan lain dipamerkan pakaian kader laki-laki dan perempuan Khmer Merah. Setelan hitam-hitam dan syal kotak-kotak merah. Di dindingnya saya melihat potret Hou Nim, bekas menteri informasi rezim Khmer Merah, yang dieksekusi di Choeung Ek. Dia mengenakan jas dan dasi. Bibirnya tersenyum. Sepasang matanya bersinar lembut. Perdana menteri Pol Pot tidak hanya memerintahkan pembunuhan siapa saja yang dianggap musuh, bahkan tega melenyapkan nyawa teman, para pejabat dan tentara-tentaranya sendiri yang dianggap menentangnya. Poster-poster berisi kisah kekejaman dan para pelaku terpampang di seluruh dinding. Salah satu poster menampilkan aksi tentara Khmer Merah membanting bayi. Benar-benar sadis. Terlebih lagi seorang juru kamera sengaja mereka minta untuk mengabadikan adegan ini.

Ban Mao lebih pendiam ketimbang Sukry, juga lebih tua. Usianya sekitar 50 tahun. Tubuhnya kurus kering. Pipi-pipinya tirus. Pakaiannya lusuh. Setelah membawa saya menyusuri Riverside yang indah dan meminta saya berpotret dengan burung-burung merpati yang hinggap dan beterbangan di situ, “Biar ada kenang-kenangan”, katanya, Ban Mao bercerita tentang masa Khmer Merah berkuasa.

“Orang meninggal dibunuh (dengan memperagakan tangan memenggal kepalanya) atau mati kelaparan,” katanya.

Dia pernah selama 15 hari tak makan. Kadang-kadang dia memperoleh semangkuk nasi atau lebih tepatnya, bubur dengan banyak air. “Tapi semangkuk kecil.” Ban Mao tertawa, getir.

Suatu kali Ban Mao pergi dengan delapan temannya keluar desa mereka, menyelamatkan diri dari pasukan Pol Pot. Hanya dia sendiri yang hidup sampai hari ini. Delapan temannya mati dan sekali lagi dia memperagakan cara mereka mati dengan gaya memenggal kepalanya sendiri dengan tangan.

Pol Pot meninggal dunia pada 1998 dalam tahanan rumah yang dijatuhkan komandan militernya, Ta Mok, setelah dia mengeksekusi menteri pertahanannya Son Sen berikut anggota keluarga sang menteri.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates