Loading

Syarifah Maryam Alkaf dan Si Buntung (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 08/10/2010

SYARIFAH Maryam Alkaf adalah salah satu dari sedikit perempuan pemberontak dalam keluarga besar kami. Nama panggilannya, Seun, nama satu wilayah di Yaman atau dulu dikenal sebagai Handramaut. Tapi beberapa orang dalam keluarga kami masih menyebutnya dengan nama lengkap “Syarifah Maryam”. Saya dan adik-adik saya memanggilnya, Mak We (tua) Un.

Ia menikahi Bak (ayah) Tam, keponakan nenek saya (kalau saya menyebut "nenek saya" atau "kakek saya" itu artinya nenek dan kakek saya dari sebelah ibu). Bak Tam atau Raden Rustam masih terhitung kerabat kesultanan Palembang. Raden Ismail, ayah Bak Tam, adalah pejabat kolonial Belanda di Mentok, Bangka. Bak Tam dan adik-adiknya fasih berbahasa Belanda.

Mak We Un, istri Bak Tam, berkulit putih, berhidung mancung. Alis dan rambutnya hitam tebal. Wajahnya seperti perempuan-perempuan Arab yang hilir-mudik di bandara Doha atau Dubai itu. Tapi ia tidak mengenakan gamis (baju terusan panjang) seperti mereka. Ia juga tidak memakai jilbab, cadar apalagi burka. Di satu potret masa mudanya, Mak We Un bahkan beraksi dengan rok mini dan blus tanpa lengan. Saya tidak ingat model rambut Mak We Un, tapi seingat saya beberapa bibi saya di masa itu menata rambut mereka model a go go, pendek dan disasak tinggi.

Bak Tam tampan dan tinggi langsing, dengan cara berjalan yang penuh percaya diri bercampur angkuh layaknya bangsawan di Jawa atau di Eropa dalam film-film. Secara fisik, mereka memang pasangan serasi.

Namun, pernikahan Mak We Un dan Bak Tam tidak direstui ayah Mak We Un, Habib Alkaf. Meskipun Bak Tam berdarah biru, tapi masih kurang tinggi derajatnya untuk menikahi keluarga para habib, keturunan Nabi Muhammad. Lagipula Bak Tam tidak memiliki istana dan singgasana. Kesultanan Palembang telah runtuh jauh sebelum dua sejoli ini bertemu dan saling jatuh cinta.

Orang-orang tua dalam keluarga kami menganggap para syarifah harus menikahi lelaki dari kakek moyang yang sama, agar darah keturunan Nabi Muhammad tidak tercemar dan garis keturunan pun terus berlanjut, agar nashab kelak tidak terputus.

Habib Alkaf, yang penyayang itu, tidak bisa berbuat apa-apa ketika putrinya melarikan diri dari rumah, membawa barang-barang seperlunya ke rumah sang kekasih. Dua sejoli ini tidak terpisahkan lagi.

Akhirnya Mak We Un menikah dengan Bak Tam. Mereka dikaruniai enam anak. Tiga di antaranya tidak sempurna dan itu dianggap akibat tulah Mak We Un.

Bang Yoi, anak kedua mereka, bertubuh tinggi dan tampan. Ia berkulit putih, berhidung mancung seperti layaknya lelaki Eropa, tapi matanya besar sebelah. Tika, anak ketiga, bertubuh cebol dan orang Bangka menyebutnya "kebencet". Kaki dan tangannya pun lebih pendek dari ukuran normal. Ia juga sangat cerewet, terlalu gemar mencuci di sungai dan langganan tinggal kelas. Hero, si bungsu, punya telinga kecil sebelah, mirip telinga tikus.

Namun, kakek saya tidak setuju anak-anak itu cacad akibat Mak We Un durhaka pada ayahnya. Bisa jadi akibat obat-obatan tertentu yang dimakan Mak We Un atau ia menanggung beban pikiran yang berat saat mengandung anak-anaknya. Kakek saya juga berbeda prinsip dengan orang-orang tua lain. Ia punya pikiran lebih terbuka tentang keturunan. Baginya, derajat manusia tidak semata-mata ditentukan garis keturunan, melainkan kerja keras dan pilihan hidup. Orang-orang malas dinilainya sangat tidak punya derajat dan memalukan.

Suatu hari, adik saya Budhi, berkeliling mengunjungi kerabat kami sampai ke Jambi, tanah asal kakek. Seperti kakek kami, Budhi senang menyambung tali silaturrahmi keluarga, mengunjungi sanak famili di pelosok-pelosok. Kelak di Jambi, ia akan memperoleh resep menguji keaslian seorang habib.

Sebelum kita sampai ke soal resep tadi, izinkan dulu saya bercerita soal silaturrahmi.

Menurut riwayat Nabi Isa atau Yesus Kristus—nabi dan rasul sebelum Muhammad—silaturrahmi akan memperpanjang umur dan mempermudah rezeki. Riwayat ini cukup masuk akal. Dengan banyak teman, orang mudah tertawa dan melupakan kesedihan, dan peluang-peluang usaha pun berasal dari pergaulan. Namun, Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir Ibn Abi Shalih Al-Jaelani, sulthanul aulia atau pemimpin para wali asal Jaelan, Baghdad, menyatakan bahwa amat terlarang untuk bersilaturrahmi dengan orang-orang yang dzolim, sangat terlarang menginjakkan kaki di rumah-rumah mereka.

Di masa Soeharto hidup banyak orang bersilaurrahmi ke Cendana dan saya bersyukur tidak pernah datang ke sana. Saya juga tidak pernah mencoba bertandang ke rumah bekas atasan saya yang menutup kantor kami di Aceh dulu dengan sewenang-wenang, lalu menuduh orang lain korupsi sementara laporan keuangan justru menunjukkan ia telah menggunakan uang program Aceh untuk kebutuhan pribadinya. Saya telah menjalankan amanat Syeh Abdul Qadir Jaelani.

Ketika kakek pergi untuk urusan silaturrahmi, nenek selalu meletakkan kain sarung atau kemeja kakek yang sudah dipakainya di sisi bantal saya atau adik-adik. Tujuannya agar kami adik-beradik tidak merindukan kakek dan terdemam-demam. Sungguh ritual yang aneh.

Saya dan adik-adik memang pernah demam secara bergiliran. Kami dibawa ayah dan ibu ke dokter, tapi menurut dokter, tidak ada infeksi atau hal yang mengkhawatirkan. Dokter juga bingung apa penyebab sakit kami. Begitu kakek pulang ke rumah, kami semua segar-bugar. Mendengar suara kakek saja sudah membuat kami gembira.

Dalam rangkaian silaturrahminya di Jambi, Budhi mendengar seorang kerabat berkata, "Tempeleng saja orang yang mengaku dirinya habib dan setelah itu minta maaf telah menempelengnya. Kemudian pulanglah ke rumah. Kalau si penempeleng ini tidak bisa tidur malam dan merasa kepalanya seakan mau pecah sampai pagi, itu artinya korban penempelengan tersebut memang habib asli, bukan habib gadungan".

Tapi adakah yang berani menempeleng Habib Rizieq, pentolan Front Pembela Islam atau FPI itu?

Ada kisah habib yang berkesan bagi saya dan adik-adik saya semasa kami kecil, terutama kisah tentang Habib Mustafa Alaydrus dan anjing Raja Tambora.

Mustafa Alaydrus mengusir anjing Raja Tambora yang masuk ke masjid. Ia tidak menyakiti binatang itu, melainkan hanya menghalaunya. Tiba-tiba Raja Tambora mengundang Mustafa bersantap bersama. Mustafa makan daging yang disuguhkan sang raja. Ketika jamuan makan usai, Raja Tambora memberitahu Mustafa bahwa apa yang dimakannya barusan adalah daging anjing. Raja Tambora juga mengejek Mustafa, "Masak seorang habib tidak tahu itu daging anjing."

Mustafa tidak menggubris kata-kata Raja Tambora, lalu kembali ke rumahnya. Raja Tambora rupanya belum berpuas hati menganiaya Mustafa. Ia kemudian menyuruh sejumlah orang menculik Mustafa, lalu membawanya ke kaki gunung Tambora.

Di kaki gunung itulah Mustafa dibunuh. Kepalanya dipecahkan dengan batu. Darahnya mengalir. Gunung Tambora pun meletus. Lahar gunung itu menenggelamkan tiga kerajaan sekaligus: Pekat, Sanggar dan Tambora. Sisa-sisa peninggalan tiga kerajaan ini terkubur dalam lumpur setebal puluhan meter. Kisah yang sama dapat Anda baca dalam sejarah kerajaan Bima.

Saya sedih mendengar kisah tentang Mustafa Alaydrus, bukan karena yang dibunuh seorang habib, melainkan kebiadaban tidak boleh terjadi terhadap siapa pun dan atas nama apa pun.

Adik perempuan Bak Tam bernama Rosmala. Kami memanggilnya Mak Nga (tengah) An. Di rumah kami, ibu masih menyimpan potretnya semasa lajang, berdua dengan Mak Nga. Mereka duduk di atas batu karang, di pantai Tanjung Kelian, dengan latar belakang mercusuar, jari-jari kaki mereka sebagian menyusup dalam pasir dan jelas terlihat matahari tengah bersinar garang. Keduanya berkacamata hitam dan mengenakan skaf motif kembang-kembang. Mereka mengenakan gaun terusan pendek dengan kerah model Sabrina. Sungguh gaya! Ketika itu ibu belum menikah dengan ayah, sedang Mak Nga masih berpacaran dengan lelaki asal Purwakarta, Jawa Barat, yang kelak saya panggil Pak Sudi, karena nama panjangnya Sudiarsa.

Mak Nga rajin membuat kue dan berbagai masakan. Kue di rumah Mak Nga saat Idul Fitri lebih banyak jenisnya dibanding kue di rumah kami. Tapi kue bikinan Mak Nga tidak begitu enak, biasa-biasa saja rasanya. Saya senang bertamu ke rumah Mak Nga bukan karena kue-kuenya, tapi cerita-ceritanya yang seru dan kadangkala mencengangkan.

Inilah salah satu cerita Mak Nga yang paling berkesan bagi saya dan adik-adik saya.

Suatu malam Mak Nga diajak saudara jauhnya untuk pergi ke Sungai Kranggan. Sungai ini terletak di Kampung Baru. Kelak nama Kampung Baru diganti Soekarno, presiden pertama Indonesia, dengan Sinar Menumbing. Soekarno pernah dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Pulau Bangka dan tinggal di rumah pengasingannya di Gunung Menumbing.

Mak Nga menemani saudaranya itu pergi ke sungai dengan berbekal senter. Saya tidak ingat lagi nama perempuan ini, yang menenteng seplastik telur ayam kampung. Mak Nga juga tidak diberitahu apa yang akan mereka lakukan di sungai itu. Mak Nga masih memegang petuah orang-orang tua agar tidak banyak bertanya, terutama bila menuju tempat–tempat tertentu.

Mereka menembus malam, menyusuri tepi sungai yang gelap. Tak berapa lama saudara Mak Nga mulai memanggil-memanggil seseorang, "Buntung, Buntung….!"

Yang dipanggil tak muncul juga. Perempuan itu memanggil-manggil lagi, berulang-ulang, "Buntung, Buntung… tidak usah malu. Ini bukan orang lain juga (tertuju pada Mak Nga)."

Tiba-tiba dari dalam sungai menyembul kepala seekor buaya. Bagian ekornya buntung. Matanya sebesar mangkok bakso. Barangkali ia tidak segera muncul dari dalam sungai, karena malu orang yang tak dikenalnya melihat ia cacad.

Mak Nga terpukau bercampur takut, tapi ia diam saja menyaksikan pemandangan di hadapannya.
Buntung pun menuju tepi sungai, mendekati daratan, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Gigi-gigi yang besar tajam terlihat di moncong yang menganga. Saudara Mak Nga memasukkan seplastik telur ke rongga mulut Buntung, tapi tidak melepasnya. Ia membaca Al Fatihah dan bermacam surat, setelah itu menarik kembali seplastik telur dari mulut Buntung.

Buntung pun mengatupkan moncongnya, lalu merayap ke dalam sungai dan menghilang.
Telur-telur yang telah didoakan dan dimasukkan dalam mulut buaya tadi untuk mengobati anak-anak kecil yang demam dalam keluarga mereka.

Nenek Buyut perempuan tersebut dulu melahirkan anak kembar, manusia dan buaya. Saudara Mak Nga ini keturunan dari pihak manusia, sehingga Buntung terhitung kakeknya.

Dalam kisah-kisah Melayu, manusia yang melahirkan buaya sama sekali bukan hal aneh. Pak Kok, mertua sepupu saya, Bang Heri, secara rutin mengunjungi saudara kembarnya yang juga seekor buaya. Ia tinggal dalam sungai selama dua minggu.

Mitologi Yunani juga bercerita tentang Minotaur, makhluk setengah banteng, setengah manusia. Minotaur lahir dari hubungan Pasifae, permaisuri Minos, Raja Kreta, dengan banteng persembahan suaminya sendiri untuk Dewa Poseidon. Gara-gara Minos menyembunyikan banteng pesembahan itu, Poseidon mengutuk Pasifae jatuh cinta pada banteng tersebut . Penduduk kota Athena harus mempersembahkan tujuh pemuda dan tujuh gadis untuk Minotaur tiap tahun agar mereka tak diserang monster ini.

Berbeda dengan Minotaur yang kejam, Buntung justru berhati mulia. Ia rela berenang dari tempat yang jauh menuju tepi sungai Kranggan di malam hari untuk mengobati keturunan saudara kembarnya yang sakit.

Sebagian orang menduga bahwa manusia melahirkan binatang akibat perbuatan mahkhluk gaib seperti jin. Namun, itu baru dugaan. Intinya adalah agama dan ilmu pengetahuan ternyata sama-sama memiliki keterbatasan hingga saat ini, belum sanggup menjelaskan sebagian besar rahasia alam.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates