Loading

Surat kepada Fidel, Pemerintah Amerika dan Para Pemimpin Sunni (Oleh Linda Christanty)

Posted in Notes by Linda Christanty on 02/27/2011 | 46 Comments

Bung Fidel,

Satu-satunya nama pemimpin negara sosialis yang akrab di benak saya sejak saya bisa mengeja huruf-huruf hanya Anda dan tentu saja, saya tidak melupakan sahabat Anda, Ernesto ‘Che’ Guevara. Apakah itu juga karena Anda sangat lama berkuasa? Di Indonesia, Che sempat jadi idola anak-anak muda progresif penentang rezim Soeharto yang bertahta selama 32 tahun dan sewenang-wenang.

Belum lama ini kawan saya juga mengirim surat pada Anda. Kami punya sejumlah kesamaan pendapat, tapi juga perbedaan. Dia memberi semangat pada Anda, tapi saya akan mengkritik Anda. Semangat dan kritik itu tak akan saling beradu, melainkan jadi tonikum yang berguna bagi kelangsungan sosialisme di Kuba dan dunia.

Bung, angin perubahan telah bertiup di gurun Afrika Utara sampai Timur Tengah atau jazirah Arab. Angin itu melanda Tunisia, Mesir, Aljazair, Maroko, Bahrain, Libya… dan mungkin akan terus menyapu wilayah lain.

Libya… hmmm… hmmm… Muammar Qadhafi yang menyatakan diri telah menerapkan sosialisme di Libya ternyata telah menyelewengkannya. Dulu dia mendongkel Raja Idrus yang lemah dan hanya memegang tasbih di tangan itu untuk menerapkan sistem sosialisme yang progresif dan katanya berguna bagi keadilan, kemajuan dan kesejahteraan rakyat jelata. Dia mengganti sistem monarki jadi sosialisme. Tapi faktanya baru saja dia memberikan tampuk kekuasaannya pada putranya, menandai peralihan kekuasaan secara turun-temurun yang terjadi dalam monarki. Qadhafi telah memerintah selama 30 tahun. Kekayaannya di Inggris mencapai 285 triliyun rupiah. Saya tidak tahu apakah dia gemar menabung sejak kecil, tapi kalaupun benar, tidak akan sebanyak itu jumlahnya. Itu baru di Inggris saja. Bung, empat ratus orang mati belum lama ini akibat protes mereka terhadap penggulingannya.

Saddam Hussein di Irak yang dihukum gantung atas campur tangan negara Amerika itu juga menyatakan mempraktikkan sosialisme. Sama halnya dengan Qadhafi, Saddam juga mengakhiri monarki di Irak. Dia mendongkel Raja Faisal. Sama seperti Qadhafi, Saddam memberi wewenang luar biasa dalam pemerintahan dan militer kepada putra-putranya. Ya, ya, tentu saja, fitnah tentang adanya senjata pemusnah massal itu kita sama-sama tahu. Tapi di luar itu dia juga bukan pemimpin sosialis yang dapat jadi teladan, bukan?

Bung, sebagai seorang sosialis sejati tentu harus sejalan antara teori dan praktik. Belum terlambat untuk menyiapkan suatu pemilihan umum demokratis yang tetap dijiwai nilai-nilai sosialisme, dengan memberi kesempatan kepada kader-kader terbaik bangsa Kuba untuk mencalonkan atau dicalonkan sebagai pemimpin. Mereka yang terbaik akan membawa kemajuan di Kuba pasca kepemimpinan Anda.

Jangan sampai Anda tergelincir di jalan sejarah dan fakta justru memperlihatkan ternyata tak ada bedanya sosialisme dengan otoritarianisme dan fascisme.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh hai para pemimpin Sunni,

Dulu Anda selalu menyalahkan keturunan Nabi Muhammad untuk menjadi pemimpin dan menolak kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun. Kepada Anda yang mengklaim Sunni sebagai mazhab adiluhung, lihatlah bagaimana Anda telah mendukung dan mengekalkan puncak peradaban Sunni ala berhala, yaitu berwujud Kerajaan Dinasti Saud bani Anaza di Arab Saudi!

Selama 14 abad mahkamah sejarah telah berlangsung, di mana kontestan yang diadili adalah Sunni dan Syiah, dua mazhab yang susah akur dan bahkan saling bunuh.

Coba kita lihat ke Iran. Faktanya, puncak peradaban Syiah hari ini dipimpin oleh seorang presiden, seorang ajam yang berjas dan berdasi. Dia dipilih melalui mekanisme demokratis. Keturunan Nabi Muhammad yang ada di Iran hanyalah simbol berbentuk lembaga “ayatollah”.

Lihatlah puncak peradaban Sunni, yang merupakan inti dari dunia Arab, di tempat Islam justru dihina. Dinasti Saud mendirikan kerajaan mereka di muka makam Nabi dan para sahabatnya! Tak ada demokrasi yang diajarkan Muhammad. Pergantian kekuasaan terjadi turun-temurun. Tapi Anda semua hanya diam.

Semoga Allah SWT membangkitkan Sayyidina Umar bin Khatab dari dalam kuburnya untuk meluruskan Bani Anaza dengan pedang terhunus demi mengembalikan ajaran Muhammad.

Nah, apakabar Amerika? Negara Amerika sering disebut sebagai puncak peradaban demokrasi di dunia. Artinya, pemerintah Amerika adalah penjaga api demokrasi agar menyala abadi. Tapi bagaimana mungkin dalam menerapkan demokrasi yang maknanya saja “mengikuti suara terbanyak” , Anda justru menjalankan praktik yang sebaliknya.

Faktanya terlihat ketika Dewan Keamanan PBB menetapkan resolusi untuk penyelesaian masalah Palestina pada 18 Februari lalu. Resolusi itu menegaskan bahwa pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jerusalem Timur harus dihentikan dan tindakan itu ilegal serta dianggap sebagai pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina. Bunyi resolusi itu sangat tegas. Empat belas negara anggota Dewan Keamanan PBB dan 130 negara anggota PBB setuju. Hanya satu negara anggota Dewan Keamanan PBB yang menolak dan menggunakan hak vetonya, yaitu Amerika. Bayangkan saja satu suara Anda mengalahkan ratusan suara. Apakah itu demokrasi?

Sungguh Anda mempermalukan Thomas Jefferson dan Abraham Lincoln, mempermalukan bapak bangsa Anda sendiri. Semoga Abraham Lincoln bangkit dari kuburnya untuk menjewer orang-orang di Kongres agar mengerti tugas-tugasnya.

Tugas sejarah bangsa Amerika yang dideklarasikan pada 4 Juli 1776 Masehi itu adalah untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan ke seluruh dunia, bukan untuk memperjuangkan nilai-nilai Ariel Sharonisme.

 

Salam dari Aceh,

Linda

 

 





Please Leave a Comments:



Linda Christanty is an author and journalist. Her essay Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste (Militarism and Violence in Timor Leste) won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. Her collection of short stories, Kuda Terbang Maria Pinto (Maria Pinto's Flying Horse), won the Khatulistiwa Literary Award in 2004. Linda's novel Tongkat Sultan (Sultan's Stick) addressed the 30-year conflict in Aceh, and socio-political status of the post-Tsunami Aceh peace process that followed. From Java to Atjeh, her latest book (non-fiction), talks about syaria law, political conflict, ethnic nationalism and homosexuality. Linda is now living in Banda Aceh, Aceh province. She is chief editor of Aceh Feature.

My New Book

Rahasia Selma

Rahasia Selma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2010)

Klik disini untuk melihat review buku Rahasia Selma

Latest Updates

My New Book

Dari Jawa Menuju Aceh

Dari Jawa Menuju Atjeh : Kumpulan Tulisan Tentang Politik, Islam dan Gay
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2008)

Klik disini untuk melihat review buku Dari Jawa Menuju Atjeh