Loading

Sirkus (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 05/28/2009

SIRKUS ini bukan atraksi hiburan. Seluruh gerak dan aksi tertuju pada satu sasaran: seekor siput mati dalam wujud dramatis dan mahabesar, teronggok menghadap laut berkabut yang diam. Gedung opera.

SIRKUS ini bukan atraksi hiburan. Seluruh gerak dan aksi tertuju pada satu sasaran: seekor siput mati dalam wujud dramatis dan mahabesar, teronggok menghadap laut berkabut yang diam. Gedung opera.

Pintu gerbangnya mulai diguncang-guncang dua pemuda Anarkis. Mereka marah gerbang dikunci. Mereka kucing hutan. Liar. Ganas. Kau pikir mereka sama seperti kucing kampung di rumahmu? Bengal dan galak ketika datang pertama kali, lalu ramah dan menjilat-jilat tanganmu setelah diberi makan berhari-hari. Optimisme itu seratus persen keliru untuk kucing jenis ini. Lihatlah, salah seekor kucing berupaya memanjat gerbang tinggi, cakar-cakarnya mencengkeram jeruji, lalu turun lagi. Miaoo… Taring-taring putih runcing tertanam di gusi merah jambu.

Lima ratus orang terkaya dunia tengah rapat di gedung itu. Untuk membicarakan Dunia Ketiga. “Untuk menjajah Dunia Ketiga!” teriak seseorang. Tapi apakah jumlah mereka tepat lima ratus? Tidak kurang atau lebih? Begitulah kata pamflet. Lima ratus. Angka genap terkesan palsu. Ganjil justru meyakinkan.

Pidato seseorang terdengar lantang dari megafon. Massa bersorak-sorai. Dua pria berakrobat di jalanan, mengenakan kostum Joker. Genderang ditabuh. Hiruk-pikuk. Polisi berkuda berbaris rapi, berjaga-jaga di perempatan.

“Hei, jangan mendekat ke sana. Ditendang kuda sangat tidak enak,” kata salah seorang dari tengah kerumunan. Siapa? Ia hanya melihat wajah-wajah bergeming. Rata-rata pucat.

Kandung kemihnya terasa gembung. Di mana toilet umum? Di sini begitu asing, kusut, dan acak. Di Melbourne, blok-blok lebih teratur. Ia sangat menikmati jalan kaki di sana. Dan masakan Yunani di restoran Stalactite… atau Stalagmite itu hmmm… benar-benar menyentak seleranya yang semula lesu, dari atas  maupun bawah. Kaya bumbu, kuat aroma.

Empat hari lalu, ia masih berada di kota itu, juga sempat menonton karnaval protes tanpa sengaja. Ketika itu Hiduh tengah mencoba telepon umum di tepi Swanston Street, didengarnya derap dan dengung yang makin lama makin dekat. Dimasukkannya koin ke saku, lalu bersicepat melongok ke arah jalan. Orang-orang berbaris. Mobil-mobil susah lewat. Semula disangkanya itu satu regu gerak jalan pelajar yang sedang latihan  untuk menyambut hari ulang tahun Ratu. Tapi dugaannya dibantah isi poster. Bebaskan pelarian politik! Ada-ada saja mereka. Pelarian jelas bukan orang bebas. Bisa lari saja sudah syukur.

Mereka menuntut pembebasan para pelarian perang yang disekap di penampungan. Jangan membayangkan kemurahan hati di tempat semacam itu. Penampungan = penjara. “Jangan berkeliaran tanpa paspor. Nanti kamu dijebloskan ke sana,” pesan Suzanne saat makan siang terakhir yang penuh gairah.

Suzanne benci politik, sebagaimana ia benci agama. Orang bertengkar dan saling membunuh karena agama. Ia tak mengenal para nabi secara dekat dan karena itu menolak mati demi perang mereka. Andaikata harus mati, ia ingin mati demi dirinya sendiri.

Ia dan Suzanne kombinasi sempurna, tapi hubungan mereka putus dua tahun lalu. Istrinya membaca surat-surat elektronik mereka. “Kita baru punya bayi pertama, kamu sudah selingkuh,” jerit sang istri, kalap. Botol susu melayang ke jidat. Orang tua berusaha jadi juru selamat. Cobalah berbulan madu lagi! Cobalah lebih sering bersama! Setelah itu anak kedua lahir, tapi tiada mengubah apa-apa. Ia tetap punya perempuan-perempuan, di mana-mana. Pengusaha, pegawai maskapai penerbangan, manajer hotel, penari, ibu rumah tangga, pemilik restoran… Apolitis, tapi penting untuk sekadar piknik. Lagipula ia punya prinsip seperti ini:  apa yang dilarang, itu yang dilanggar. Ketika kanak-kanak, ia juga sering lompat pagar atau jendela.

Dan ketika kanak-kanak ia sudah berani menolak tunduk. Ia sengaja berkurung di kamar saat guru mengaji datang, berkali-kali.

“Tidak boleh malas, biar masuk surga. Orang kafir masuk neraka dan di sana mereka cuma diberi makan buah pohon zarkum,” nasihat Bang Satar, guru mengaji yang budiman sekaligus sang pemandu surga.

“Pohon zarkum itu seperti apa?” Ia tercengang.

“Pohon zarkum, ya pohon zarkum. Cuma ada di neraka sana.”

“Rasanya seperti apa?”

“Pokoknya tidak enak dan hanya orang kafir makan buah zarkum.”

Sungguh aneh. Bang Satar berani menjamin rasa buah zarkum tidak enak, padahal melihat pohonnya saja belum.

Lain waktu ia protes pada ayah dan ibunya. Apakah tidak ada pohon lain yang lebih cocok untuk lambang partai? Setahu dia, pohon beringin itu angker, sarang jin, dan menghalangi matahari pagi yang kaya ultraviolet serta mengandung vitamin D itu menyiram tubuh manusia serta memperkuat tulang-belulang mereka. Perancang lambang partai ayah dan ibu tentu seorang dukun, yang gemar bersekutu dengan jin dan siluman, pikirnya, teringat film-film setan.

“Eh, jangan bilang begitu. Nanti kamu ditangkap,” kata ayah, yang baru dilantik jadi anggota dewan propinsi.

Dukung Venezuela. Dukung Chavez. Hidup Castro. Bush  Pembunuh.

Perempuan kurus, pirang, menyandang ransel di punggung, mondar-mandir membagi pamflet dan brosur. Ia merasa pernah mengenalnya. Tapi di mana?

Ia melambai pada perempuan itu. Mereka saling senyum, lalu beberapa pamflet berpindah tangan. Jari-jarinya terulur seperti menjemput buket bunga dari seseorang yang paling disukai dan bukan pacar. Udara dingin. Ia ingin dipeluk. Tapi perempuan itu malah pergi.

Pukul enam. Dan angin sangat kencang. Sebelum terperangkap di sini, ia  sudah berputar-putar di pelabuhan.  Ia menunggu seseorang.

Toko-toko berderet di seberang dermaga. Sepanjang sisi daratan. Sebagian besar tutup. Libur ulang tahun Ratu Victoria. Tapi ia menemukan sebuah pintu galeri terbuka. Collins & Kent; Fine Art.

Di meja itu tersedia sekotak buklet.  Diraihnya sehelai. Gambar-gambar lukisan Jan Voss, nama yang asing untuk pelancong tropis. Tiba-tiba ia melihat sekelilingnya begitu hijau. Ia memang belum makan siang ini.

Hijau. Semua menjadi hijau. Serba hijau.

“Kamu pucat sekali.” Teguran itu membuatnya tersengal.

Ia senyum terpaksa.

Dua lelaki di samping pria bertopi model sambrero itu memegang AK 47.

“Tolong bikinkah kopi susu untuk tamu kita,” ujar si panglima pada pengawalnya.

Darah terasa mengalir lagi.

Ia cuma pengacara nekad dan sok paham hak asasi. Suatu hari ia dicegat dua lelaki bersepeda motor saat menyetir mobil menuju kantor. Mobilnya diminta menepi. Salah seorang dari mereka mengeluarkan pistol, lalu masuk ke mobil dan menyuruh ia mengarah ke sebuah rute. Jalan berputar-putar, menikung-nikung. Di pinggir desa, mobil ditinggalkan. Mereka dijemput seseorang, dibawa ke bangunan kosong, bekas sekolah dasar  pemerintah.

“Saya cuma ingin tahu tentang hak asasi.” Lelaki itu tersenyum lebar. Sama sekali jauh dari bengis.

Sejak itu ia sering mengirim buku-buku ke hutan. Lama-kelamaan ia jadi penasihat andalan. Suatu hari sang panglima menunjuknya jadi juru runding.


*) versi pendek Drama (Koran Tempo, September 2006)




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates