Loading

Sihir Musim Dingin (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 09/15/2009

DI SALAH satu jalan di Shibuya, angin bertiup kencang. Suhu delapan derajat Celsius. Sampah-sampah kertas dan plastik berserak, beterbangan di jalan. Ketika itu ia baru saja turun dari kereta, menjauhi pintu selatan stasiun dan membaur dengan mereka yang berjalan ke tempat tujuan berikutnya.

DI SALAH satu jalan di Shibuya, angin bertiup kencang. Suhu delapan derajat Celsius. Sampah-sampah kertas dan plastik berserak, beterbangan di jalan. Ketika itu ia baru saja turun dari kereta, menjauhi pintu selatan stasiun dan membaur dengan mereka yang berjalan ke tempat tujuan berikutnya.

Ia ingin cepat-cepat tiba di kamar hotel, mandi air hangat, menonton berita televisi dari satu-satunya saluran berbahasa Inggris, dan mengirim surat elektronik ke beberapa teman dekat.

Angin terus menggedor-gedor papan reklame di bagian atas toko-toko di tepi jalan itu dan menimbulkan bising yang mengkhawatirkan, seolah-olah jadi peringatan bahwa apa yang tegak bakal ambruk menimpa orang-orang yang lalu-lalang di bawah sini. Angin menembus mantelnya. Di antara sesama pejalan kaki lain, ia bergegas, sesekali berlari kecil, terbawa rasa khawatir, gelagapan menghindari dingin. Papan reklame itu sedang mengintai-ngintai kesempatan untuk meluncur tepat ke tubuhnya dan siapa pun.

Di pengujung musim dingin, lima tahun lalu, ketika angin kencang seperti sekarang ini, ia sedang memanggang roti di dapur. Pokok raspberry, strawberry, tomat, dan zaitun dalam pot-pot kecil di balkon apartemennya bergetar ditiup angin. Berkali-kali ia mondar-mandir antara dapur dan balkon, benar-benar cemas, tapi enggan memindahkan pot-pot itu ke dalam. Seseorang yang disangkanya masih pulas di kamar tiba-tiba memanggilnya, minta dibawakan secangkir teh andai ia tak keberatan. Ia juga diminta memutar lagu apa saja, agar tempat ini tidak terkesan murung.

Sekarang ia justru bisa mengingat semua kejadian di pagi itu sampai ke hal-hal kecil, seperti taplak meja yang ketumpahan bubuk cabai dan ikan-ikan hias di akuarium yang belum diberi makan dan digodanya dengan iseng-iseng menempel jari telunjuknya di kaca. Ikan-ikan mengikuti gerak jari bagai jarum-jarum melekat di batang magnet. Dan seseorang itu sudah lama pergi.

Ia hampir saja menabrak pagar pembatas jalan, karena mengelakkan sepeda yang meluncur cepat ke arahnya.

Keiko menjulukinya si pencemas. Dari hal kecil sampai besar membuatnya cemas. Suatu hari ia dan Keiko makan malam di restoran. Mereka duduk berhadapan. Ia begitu gelisah tiap melihat Keiko menggerakkan sumpitnya untuk mengambil makanan dari tiap mangkuk yang disuguhkan pelayan, karena letak cangkir teh begitu dekat dengan tangan Keiko. Mangkuk terong goreng. Mangkuk ikan. Mangkuk saus kedelai. Matanya ikut bergerak mengikuti arah sumpit Keiko. Ia khawatir Keiko akhirnya menyenggol cangkir itu. Cangkir jatuh ke lantai, lalu pecah berserak. Serpihnya tajam. Lama-kelamaan Keiko menyadari kekhawatirannya, kemudian menggeser cangkir itu agak ke tengah meja. Ia menghela napas lega.

Menunggu berjam-jam di bandara merupakan hal biasa baginya. Ia lebih suka melihat pesawat yang akan membawanya terbang itu tengah membongkar muatan, mengisi bahan bakar, atau bahkan tidak melakukan apa-apa, asal ia yakin bahwa ia tidak ketinggalan pesawat yang itu. Di atas pesawat ia tetap saja cemas. Buku petunjuk pendaratan darurat hanya berisi langkah-langkah penyelamatan di laut. Apakah ia masih sempat mengembangkan pelampung di saat panik ketika pesawat terjun bebas dengan kecepatan tinggi? Ia menganggap petunjuk itu lebih banyak unsur penghiburan ketimbang manfaat teknisnya.

Tahun lalu, di atas Okinawa, sayap pesawat terbang yang membawanya dari Bandara Naha menuju Haneda disambar petir dua kali. Pesawat terhuyung-huyung macam orang mabuk Awamori. Dengan jelas ia melihat kilatan api di ujung sayap, karena ia duduk dekat jendela. Tak cuma sekali, tapi dua. Ketika bunyi "duk" terdengar saat kilatan pertama terlihat, pramugari bicara dalam dua bahasa, Jepang dan kemudian, Inggris. Pramugari minta penumpang memasang sabuk pengamanan dan tetap tenang di kursi. Saat bunyi "duk" kedua terdengar, pramugari hanya bicara dalam bahasa Jepang. Ia melihat para penumpang yang mayoritas orang Jepang tergopoh-gopoh meraih buku petunjuk pendaratan darurat di kantong kursi. Ia pikir, "Wah, ini benar-benar gawat." Anehnya, reaksi tubuhnya biasa-biasa saja. Jantungnya berdetak normal. Ia bahkan tak merasa ngeri. Teman di sebelahnya, perempuan Filipina, langsung komat-kamit sambil memegang rosario. Ia senyum-senyum sendiri. Betapa lucu manusia di saat genting. Betapa mereka jadi kehilangan keindahannya. Kocar-kacir. Rusuh. Jelek. Ia justru tenang di saat semua orang panik. Ia cemas hanya ketika membayangkan bahaya.

Apa saja membuatnya khawatir. Manusia, hewan, tumbuhan. Kata Keiko, seharusnya ia menjalani operasi melumpuhkan saraf cemasnya dan dokter mencangkok lebih banyak saraf gembira di tubuhnya. Apa bisa?


IA JADI senyum-senyum sendiri. Kenangannya dengan Keiko banyak sekali. Ia teringat saat ia ingin cepat sampai di tempat pertemuan dengan direktur salah satu lembaga kebudayaan di Akasaka. Ia berjalan setengah berlari. Keiko terbirit-birit membuntutinya dari belakang. Tiba-tiba sebelah tumit sepatu Keiko patah. Mereka pun jadi kalang-kabut mencari lem ke toko terdekat. Gerutuan cemasnya bertaburan sepanjang kegiatan Keiko memperbaiki sepatu itu. Keiko pasti jengkel sekali, tapi diam saja. Dalam pertemuan itu ternyata ia tidak harus bicara sepatah kata pun. Tiga undangan lain sudah cukup menyita perhatian si direktur dalam acara ramah-tamah tak sampai 15 menit. Akhirnya, ia dan Keiko menuju restoran di seberang kantor lembaga tadi dan makan tanpa banyak bicara, menukar rasa letih dengan menelan semangkuk ramen dingin yang sebetulnya tak ia sukai. Keiko suka ramen dingin, sedang ia ingin mi dengan kuah panas dan harum bumbu. Namun, ia mencoba menikmati kegemaran Keiko untuk menebus sikapnya yang menjengkelkan.

Tak lama kemudian, Keiko menjelaskan racikan bumbu saus ramen tersebut. Dari sari tulang babi. Ia langsung terhenyak, sesak napas dan mual. Ia telah menelan berkas binatang itu! Di rumahnya semua orang tak makan daging babi. Tapi ia menelannya barusan. Ya, ampun. Ia mau muntah. Ia sendiri tak paham apa yang membuatnya ingin muntah dan panik. Ia bukan orang taat. Wujud babi gemuk di kandang, dikelilingi kotoran, dan rakus melahap apa saja itulah yang terbayang di benaknya, bukan ancaman ayat-ayat. Tapi ayam dan bebek juga bukan kaum pembersih. Semua binatang, kecuali yang dibawa tidur, tentu punya rekor buruk dalam hal kebersihan. Ia langsung menuju kamar mandi restoran.

Ia jadi merindukan Keiko. Terakhir kali ia bertemu Keiko lima tahun lalu. Keiko ketika itu menyatakan baru saja putus dengan pacar 13 tahunnya. Dan ia sendiri justru tengah memulai hubungan dengan seseorang.

Setidaknya dua kali ia mengirim e-mail kepada Keiko, tapi tidak satu pun dibalas. Ia juga menelepon Keiko sekali dan nomor itu sudah tidak aktif lagi. Rasa-rasanya, ia sering bertemu orang-orang yang menyenangkan dan kemudian mereka menghilang begitu saja seperti gas perut menguap di udara; meninggalkan bau, tanpa wujud. Bau = kenangan. Wujud = kabar atau berita.

Tiga burung gagak dengan bulu-bulu hitam pekat bertengger di pagar besi di muka toko serba ada yang berseberangan dengan hotel itu, sebuah bangunan berbentuk setengah silinder yang permukaannya memantulkan bayangan gedung lain dan lanskap kota.

Dua ekor gagak menoleh serentak ke arahnya lalu acuh lagi, sedang yang seekor lagi terbang dan hinggap di atas tempat sampah di dekat pintu toko dan dengan cekatan membuka tutupnya dengan paruh. Seketika ia melihat seseorang yang mirip seseorang yang dikenalnya mendorong pintu toko. Ia mempercepat langkahnya. Begitu ia sampai di muka pintu yang telah menutup kembali itu segera dihirupnya berkas aroma yang dikenalnya, parfum yang sama dari masa silam.

Namun, diurungkannya niat menyusul masuk. Sebab ia selalu tahu bahwa apa yang mirip pasti bukan yang sejati. Ia pernah nyaris semaput melihat bayi tidur di kereta dorong di muka pertokoan di Harajuku. Wajah bayi mungil itu mirip orang dewasa yang dikenalnya. Sungguh aneh. Teman-temannya mengatakan bahwa itu pertanda ia amat merindukan orang yang wajahnya mirip bayi itu. Rasa-rasanya, benar. Ketika itu angin pun sama kencangnya dengan sekarang, membuat ia benar-benar tak bisa berjalan tegak. Setelah perasaannya kalang-kabut melihat bayi itu, ia mampir di restoran dan terpaksa mengantre 15 menit untuk membeli semangkuk sup kubis udang. Di sini kubis terasa manis dan ia jadi tergila-gila. Padahal ia dulu benci kubis. Perut kenyang akhirnya membuat perasaannya jauh lebih tenang.

Menghilangkan kenangan terhadap seseorang tidak lebih sulit ketimbang menghilangkan kenangan tentang orang tersebut yang justru hadir dalam bentuk-bentuk ganjil dan ahistoris, yang diciptakan alam semesta ini. Kadang kala ia yakin hal itu bukan kebetulan. Bayangkan.... wajah lelaki dewasa persis wajah bayi dalam kereta. Alam semesta ini pada satu titik akan mengikuti apa yang kamu rasakan dan pikirkan. Pusat alam semesta ini adalah dirimu sendiri, dalam batas-batas tertentu.

Namun, ia juga pernah mengibaratkan pikiran dan perasaan manusia seperti gudang di rumahnya; sepeda butut, sapu ijuk, generator rusak, tumpukan koran dan majalah lama, setandan pisang yang sedang diperam, sekardus susu bubuk instan, dan segala macam benda campur-aduk. Karena itu, ada orang-orang yang gemar menjernihkan pikiran dengan jalan-jalan atau piknik. Barangkali kegiatan tersebut sama dengan aksi cuci gudang.

Akhirnya, ia menyeberang jalan dan melangkah cepat-cepat ke pintu hotel. Pintu terbuka otomatis. Di lobi dilihatnya lagi seseorang yang mirip seseorang yang dikenalnya. Lelaki itu tengah merangkul pasangannya. Jangan-jangan, itu benar-benar dia! Ia mengubah langkahnya, berbelok ke arah restoran, menguntit mereka. Ia mencoba menguping pembicaraan mereka. Bahasa Spanyol! Hmmm. Ia senyum-senyum sendiri, menyadari kekonyolannya, memutar tubuhnya dan melenggang ke lift. Ia benar-benar sinting. Dalam lift, ia hanya sendirian dan tertawa sepuas-puasnya sampai pintu lift terbuka di lantai 17.


LAMPU di pesawat telepon di kamarnya berkedip-kedip. Ada pesan dari seseorang. Ia menelepon resepsionis. Mereka punya sesuatu untuknya di lemari pendingin! Sesuatu dari siapa? Oh.... Yoko. Ia mengira itu Keiko. Ia ingin sekali bertemu dengannya.

Sekitar sejam sesudahnya, Yoko menelepon lagi dan berkata bahwa jeruk-jeruk kecil (yang belum diambilnya dari lemari pendingin di lobi) itu dari kebun ibunya di Nagasaki. Jeruk yang agak besar itu ia beli dari pasar buah, begitu pula apel.

Selama beberapa hari di sini, kamarnya hampir jadi toko swalayan. Penuh bingkisan makanan: kopi, biskuit, permen, keripik, buah-buahan. Ada sejenis permen yang sungguh dibencinya. Legit dan keras minta ampun. Mungkin perlu waktu seminggu untuk mengisap-isapnya sampai habis.

Malam itu ia menghias kelopak matanya dengan pemulas mata ungu yang dibelinya di swalayan depan hotel dua hari lalu. Murah meriah. Wajahnya lebih misterius ketimbang selama ini. Kadang kala ia ingin menjadi warna ungu, menyembunyikan bercak atau kotoran lebih baik dari warna putih, karena hitam terlalu gelap. Ia akan makan malam dengan beberapa teman penulis. Konferensi akan berakhir besok.

Di restoran orang-orang duduk berdesakan. Kursi-kursi kayu yang diatur begitu rapat membuat tubuh mereka saling menyentuh. Lelaki Kaukasia menjelang tujuh puluh tahun itu duduk di sebelahnya. Ia berkisah tentang teman hidupnya yang orang Turki dan putranya yang ia ajari meluncur dengan papan ski sambil menyanyi dari tebing setinggi seratus meter.

Di ujung sana profesor biologi itu bercerita tentang seks bebas di Samoa. Ia pernah bercinta di gudang dengan seorang perempuan setempat ketika ia masih dua puluhan. "Kalau di pantai, akan kemasukan pasir," katanya. Semua orang terbahak-bahak.

Di sudut sana seorang lelaki menyendiri. Ia berusia delapan belas ketika ikut gerakan sipil menentang perang Vietnam. Ia pernah menyelundupkan tentara Amerika yang desersi dari Hawaii ke Kanada. Ia menulis soal sake dan berkeliling seluruh Jepang dan harus berlibur di Meksiko untuk memulihkan livernya. Ia bisa bicara bahasa kucing. Ada gambar kucing di kartu namanya. Ia menikah dan memiliki seekor kucing.

Jantungnya hampir melompat. Seseorang berdiri di ambang pintu restoran, baru datang. Tatapannya menyapu seisi meja, menyapa mereka yang duduk berkumpul. Memandanginya.

Sekejap ia merasa bersalah pada Keiko. Lelaki itu pelan-pelan menghampirinya, memberi pelukan hangat dan berbisik, "Selamat kembali, Hana." Wangi parfumnya masih sama.

Selama lima tahun sejak kedatangannya yang pertama, mereka berdua begitu dekat. Ia telah merebutnya dari Keiko.

Mereka kemudian duduk terpisah. Lelaki itu mengerdipkan sebelah mata. Setelah makan malam ini mereka akan menghabiskan malam yang lebih panjang lagi.

Semua orang mabuk dan tertawa-tawa.

Si profesor biologi bertanya kepadanya, tiba-tiba, "Apakah kamu menikah?" Ketika ia menggeleng, lelaki itu menghadiahinya sebuah pelukan. Semua orang tertawa. Lelaki itu juga tertawa. Tapi ia merasa sepi dan dingin.


*) Linda Christanty membagi waktunya antara Jakarta dan Banda Aceh. Kumpulan cerpennya, Kuda Terbang Maria Pinto (KataKita, 2004), dan kumpulan esainya, Dari Jawa Menuju Atjeh (KPG, 2009).




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates