Loading

Seloyang Pizza di Shinjuku (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 02/23/2011

MALAM itu sejumlah orang asyik mengunyah camilan di satu restoran di Shinjuku, salah satu distrik Tokyo. Makanan hangat, begitu juga ruangan. Di sini orang-orang bebas dari gigitan suhu delapan derajat, yang seringkali disertai angin kencang. Bulan Februari, bulan terdingin di Jepang tahun ini.

“Pizza Jepang,” kata Akio Ueno, yang saya panggil Ueno san, menunjuk ke piring yang diletakkan pelayan di meja, menyilakan saya makan.

Bentuk pizza ini tidak bundar seperti pizza Italia, melainkan panjang pipih seperti tubuh ular penyek yang telah dipotong kepala dan buntutnya. Lumayan garing dikunyah. Segar dan asam di lidah.

Kami berempat. Saya, Takeaki Hori, Ueno san, dan Davin Setiamarga. Hori san berusia sekitar 60-an. Pembawaannya riang. Gaya berbusananya elegan. Ia antropolog dan profesor tamu di sebuah universitas di Praha, Cekoslowakia. Tiap bulan September, ia terbang ke sana. Ia teman baik Vavlac Havel, mantan presiden negeri itu. Ia kemudian bercerita tentang penelitiannya bertahun-tahun lalu. Ia menganalisis perubahan sosial dan budaya masyarakat di Papua New Guinea setelah industrialisasi.

Saya teringat bagaimana perubahan juga terjadi di Indonesia, ketika anak-anak muda desa merantau dan bekerja di pabrik-pabrik di kota. Tak jarang lahan kebun atau rumah orang-orangtua mereka juga digusur perusahaan tambang atau manufaktur itu.

Anak-anak muda tersebut tidak harus mengejar ular, tikus, belalang, burung, atau membasmi hama, seperti generasi orangtua mereka, atau menunggu panen berbulan-bulan untuk memperoleh uang. Mereka bekerja dalam ruang tertutup, tidak perlu khawatir dengan hujan atau panas, tapi tak boleh bicara satu sama lain. Mereka memperoleh uang per minggu atau per dua minggu. Tentu saja, harga pakaian atau sepatu merek terkenal yang mereka buat tak terjangkau upah mereka yang kecil. Tapi mereka bisa membeli tiruannya di pasar.

Merekalah generasi penggerak masyarakat industri sekaligus korbannya. Perubahan cara hidup ini juga membuat orang merindukan kesamaan-kesamaan yang menghangatkan. Mereka mulai mengelompokkan diri dalam identitas tunggal berdasarkan etnis atau daerah asal. Anak-anak muda desa yang merantau ke kota itu terbagi atas kelompok-kelompok daerahnya. Ada kelompok Palembang, kelompok Purwokerto, kelompok Banyumas, dan sebagainya. Mereka pun menyelenggarakan arisan, makan bersama, saling berbagi cerita seputar pabrik atau teman, dan kadang-kadang berkesenian.

“Makan, makan… Biar gemuk. Mau pesan apa lagi,” kata Ueno san, tertawa.

Ueno san berpenampilan sederhana dan sebaya Hori san. Ia seperti seorang ayah, begitu perhatian dan sibuk menanyakan “Mau makan apa?”. Ueno san direktur Shogakukan, sebuah penerbitan di Jepang. Ia kemudian bercerita tentang asal-usul industri boneka Bandai pada kami.

Suatu hari seorang lelaki bernama Sato membuat robot-robotan dari kayu dan menjualnya di Asakusa, di taman dekat kuil. Ketika itu tahun 1970-an. Sato kemudian mencari akal agar ia tak perlu terlalu lelah memahat robot-robot kayu itu satu per satu. Ia membuat cetakannya, lalu mengganti bahan kayu dengan plastik. Produksi jadi lebih banyak, tenaga manusia lebih hemat. Lama-kelamaan berdiri pabrik, lalu boneka itu populer dan mendunia. Ueno san mengenal Sato secara pribadi. Ueno san kemudian menyambung kisahnya dengan asal-usul boneka Licca, Barbie ala Jepang.

“Rumah boneka Barbie itu kan tinggi buat ukuran anak-anak Jepang, jadi mereka kepayahan kalau menjinjingnya. Akhirnya diciptakan Licca, lebih kecil ukurannya,” kisahnya.

Dari cerita Ueno san, kapitalisme ternyata pernah dimulai dengan gagasan sederhana dan tidak kedengaran jahat: bagaimana orang berkarya untuk hidup dan bagaimana karya itu kelak dinikmati berbagai kalangan. Namun, ia menjadi kejam saat menginginkan keuntungan yang terus-menerus dan berlipat ganda dengan pengeluaran minim: tenaga buruh diperas dan diupah murah.

Di kursi sebelah saya, Davin berbicara bahasa Jepang sangat fasih. Cepat sekali. Ia asal Bandung, Jawa Barat, keturunan Tionghoa, dan sudah hampir 10 tahun tinggal di Tokyo. Usianya 29 tahun. Logat Sundanya sangat kental. Saat bicara bahasa Indonesia, kosa kata Sundanya bertaburan di tiap kalimat. Tahun depan, ia akan meraih gelar doktornya dari jurusan Biologi Molekuler Kelautan di Universitas Tokyo. Sewaktu S2, Davin meneliti ikan.

“Bagaimana mengkloning gen ikan,” katanya.

Usut punya usut, anak perempuan Hori san kuliah di jurusan yang sama.

“Nanti main ke rumah, ya,” kata Hori san pada Davin.

Ueno san juga menyatakan siap menerima Davin kalau ia mampir ke rumahnya untuk makan-minum. Ueno san mungkin teringat putranya yang menghabiskan sepertiga hidupnya di Indonesia dan menikah dengan perempuan Indonesia. Berbeda dengan putra Ueno san yang menikahi perempuan Indonesia, Davin menyatakan tak bakal sanggup menikahi perempuan Jepang.

“Masalahnya teh begini, setinggi-tingginya karir perempuan Jepang, kalau mereka menikah dan berumah tangga, mereka langsung berhenti bekerja. Nah, suaminya yang akan menanggung semua kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan si istri. Urang pasti nggak akan sanggup. Gaji saya itu cuma cukup untuk beli buku dan sedikit bersenang-senang. Saya tidak mau mengorbankan semua itu demi apa yang namanya perkawinan,” katanya, bersungut-sungut.

Di Jepang, perempuan yang berkarir rata-rata memilih tidak menikah. “Mereka juga merasa sayang mengorbankan karir, apalagi sudah di posisi yang cukup mapan di kantor atau perusahaan. Perempuan usia 40-an di sini, rata-rata single,” kata Davin.

Topik pembicaraan kami meloncat-loncat seperti bajing, atau gasing, saking cepatnya topik yang satu bertukar ke topik lain. Hori san menyatakan ia antiglobalisasi. Namun, sepanjang malam itu ia tidak pernah menjelaskan alasannya. Yang jelas, ia tidak menolak makan pizza, roti khas Italia yang mendunia dan hadir di hadapan kami dalam versi setempat ini.

Di sebuah toko mainan berlantai lima di Shinjuku, saya teringat cerita Ueno san saat melihat Licca dan membeli beberapa robot Bandai untuk para keponakan saya. Toko itu masih buka sampai larut malam. Davin membantu saya memilih Pokemon, T-Rex dan beberapa ekor Dinosaurus.***

Februari 2008




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates