Loading

Saya dan Islam (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 07/30/2010

LELAKI itu terkesima ketika mengetahui saya seorang muslim. Ia bergabung dengan klub koresponden asing di Hong Kong, seorang Inggris yang saya lupa namanya dan hadir dalam diskusi saya tentang Islam dan dunia modern.  Ia kemudian bertanya apa nama keluarga ayah saya dan ketika saya menjawab, “Abdul Malik,” ia berkata, “Ooh…” seraya menunjukkan ekspresi lebih takjub lagi.

 

Nama saya sering menimbulkan salah paham di kalangan orang-orang yang menganggap seorang muslim biasanya bernama Arab.

Sebagian orang lupa bahwa penyebaran Islam telah melampaui jazirah ia dilahirkan dan penghuni wilayah atau negeri barunya bukan lagi orang-orang Arab. Meski saya juga tidak protes ketika adik perempuan saya menamai putra pertamanya Muhammad Faturrahman, atau adik laki-laki saya menamai putra bungsunya Muhammad Habiburrasul.

Banyak pula yang menyangka saya beragama Katolik atau Protestan gara-gara unsur “Christ” dalam nama saya, yang kelak mereka hubungkan dengan Yesus Kristus, sang juru selamat dari Nazareth itu, atau umat Islam menyebutnya Isa Almasih, nabi dan rasul sebelum Muhammad. Secara fisik, saya bahkan lebih mirip orang-orang Cina di Hong Kong atau orang Jepang ketimbang orang-orang Arab, yang beberapa nama mereka memang tercantum dalam silsilah keluarga kami.

Nama dan wujud saya terkadang memicu kejadian lucu.

Ketika belajar di sekolah menengah atas di Bandung, saya memilih mata pelajaran agama Islam, lebih karena semua teman saya yang beragama Islam juga memilih mata pelajaran ini. Tapi saya tidak pernah mendapat giliran membaca Alquran.  Tiap kali giliran saya tiba, guru kami langsung menunjuk murid yang lain untuk membacanya. Guru agama kami, perempuan paruh baya yang selalu menutup kepalanya dengan selendang dan mengenakan baju kurung itu, mungkin menganggap saya mualaf, baru masuk Islam, sehingga ia memilih tak menyiksa saya untuk melafal kalimat dalam bahasa yang tak pernah kami pakai sehari-hari itu. Tapi bagaimanapun ia harus memberi nilai untuk mata pelajaran agama di buku raport saya, sehingga ia perlu tahu sejauh mana kemampuan saya. Setelah ia mengetahui Islam adalah agama saya, ia malah bingung dan berkata, “Tapi kenapa nama kamu Christanty?” Sumber masalahnya ada pada ayah saya yang mengagumi petenis kelas dunia Chris Evert. Tambahan “Tanty” itu memang hanya sebagai penyedap nama. Nah, nama depan saya dipungut ayah dari nama putri presiden Amerika Lyndon B Johnson, yang menurutnya cerdas dan patut dikagumi. Namun, setahu saya merek mesin jahit di rumah kami juga “Linda”.

Ketika saya masih kanak-kanak, saya memahami Islam sebagai kekuatan untuk melawan sihir. Ayat-ayat Alquran dipercaya mampu mengusir ruh-ruh jahat.

Bibi saya, sepupu ibu saya, putri tunggal kakak nenek saya, yang biasa kami panggil “Mak Unggal” sering kesurupan. Ayat-ayat Alquran terdengar lebih banyak di telinganya karena kebutuhan khusus itu.

Mak Unggal bukan lagi Mak Unggal yang kami kenal tiap kali ia kesurupan. Ia akan tertawa-tawa, marah-marah dan suara Mak Unggal yang kami kenal berubah jadi suara nenek tua yang menakutkan.

Saya sangat menyukai Mak Unggal, karena ia pintar masak, terutama empek-empek, yaitu penganan dari adonan daging ikan dan sagu yang digoreng atau direbus. Selain itu, ia ramah dan gemar bercerita tentang apa saja.

Suatu hari Minggu saya mendesak ibu dan ayah saya untuk berkunjung ke rumah Mak Unggal, yang berjarak dua jam perjalanan bermobil dari kota kami. Ayah menyetir, ibu duduk di sebelahnya, sedang saya dan adik-adik bertumpuk di jok belakang dengan membayangkan empek-empek bikinan Mak Unggal. Sepanjang jalan saya dan adik-adik saya menyanyi riang, mengikuti lagu-lagu pop berbahasa Inggris yang diputar ayah, antara lain lagu Bobby Vinton. I love how you love me, whenever you kiss me, I love the way you always treats me tenderly….yuuu… lyyyyyyy… lop, lop miiiiiiiii….

Oh, ya, sebelum menghidupkan mesin mobil, ayah akan berdoa selama kurang lebih 15 menit. Ia membaca bermacam surat. Kata ayah, doa-doa itu untuk membuat perjalanan kami lancar dan dilindungi Allah.

Begitu kami sampai di halaman rumah Mak Unggal, orang-orang tampak ramai keluar-masuk rumah. Saya buru-buru menerobos ke dalam, karena rasa ingin tahu.

Mak Unggal terbaring di ruang tengah, menceracau dan sesekali membentak-bentak. Ia kesurupan lagi. Pak Unggal, suami Mak Unggal, duduk di sisi istrinya dan komat-kamit membaca ayat-ayat Alquran. Saya kecewa, karena Mak Unggal tidak akan masak empek-empek hari itu.

Ketika Mak Unggal mulai berteriak-teriak diselingi tawa kerasnya, saya dan adik-adik saya langsung kocar-kacir masuk ke salah satu kamar dan bersembunyi di bawah ranjang besi. Kami semua terbatuk-batuk, karena ternyata kolong ranjang itu tidak pernah disapu dan banyak sekali debu.

Pak Unggal dan orang-orang di sekeliling Mak Unggal hanya terperangah ketika Mak Unggal tiba-tiba bangun dan berlari ke arah pohon jambu di halaman. Gerakan Mak Unggal begitu gesit. Semua orang panik, sedang Mak Unggal secepat kilat memanjat pohon itu dan bertengger di dahan tertinggi. Orang-orang lantas menghambur ke bawah pohon jambu dan berteriak-teriak menyuruhnya turun, tapi ia tak peduli. Akhirnya tetangga Mak Unggal memanggil  ustadz yang cukup terkenal untuk mengusir ruh nenek tua dari tubuh Mak Unggal kami yang tercinta. Nama ustadz tersebut Abang Suhaili bin Abang Aziz, yang tak lain dari adik ipar ayah saya. Su Abot, begitu kami biasa memanggilnya, adalah imam masjid di kampungnya.  Su Abot langsung komat-kamit membaca doa-doa. Berjam-jam kemudian Mak Unggal mulai lelah dan orang-orang pun sibuk menurunkannya dari pohon jambu.

Namun, Mak Unggal masih sering kesurupan sampai kini. Usianya hampir 70 tahun. Bila ia tiba-tiba menghilang dari rumah, anak dan cucunya akan memeriksa pohon-pohon di halaman atau kebun tetangga. Mak Unggal pasti ada di situ. Ibarat pesawat terbang, bandara Mak Unggal ada di pohon. Ia sanggup memanjat secepat monyet, tapi celakanya tidak bisa turun sendiri. Anak atau cucunya akan membantu Mak Unggal kembali menginjak bumi.

Indira atau Tata, adik saya, pernah mengidap sakit aneh waktu kecil. Kakinya bersisik seperti ikan Garapu. Orangtua kami membawanya ke dokter berkali-kali, tapi sakitnya tak kunjung hilang, malah makin menjadi. Sopir ayah saya, Mang Tan, berinisiatif mengobati Tata. Menurut Mang Tan, Tata terkena basak ular nasi, penyakit yang disebabkan kibasan ular nasi yang kebetulan melintas di depannya atau persentuhannya dengan jejak ular itu di tanah.

Mang Tan membacakan ayat tertentu dalam Alquran dan dicampur pula dengan mantera. Tata sembuh seketika.

Mang Tan bertubuh tinggi besar. Kulitnya hitam berbulu. Sepasang matanya selalu merah. Tapi tutur katanya sopan dan lemah-lembut. Mang Tan memiliki beberapa istri, yang di rumah kami kebiasaan lelaki beristri banyak ini dianggap hal tak terpuji. Istri terakhir Mang Tan adalah cucu raja siluman buaya, Akek Rukam. Menjelang ajalnya, Akek Rukam yang berwujud manusia masuk ke sungai dan berubah jadi buaya selamanya.

Mang Tan yang sakti tiada berkutik di depan istrinya. Ia pernah dilempar keluar jendela rumah mereka oleh sang istri saat mereka bertengkar. Putri pertama Mang Tan dengan istrinya yang ganas ini dinamai Cahaya Neraka.

Sejak kecil saya dan adik-adik harus belajar mengaji. Orangtua kami mendatangkan guru mengaji ke rumah. Saya tidak suka belajar mengaji, karena guru mengaji kami tak mampu menjelaskan isi ayat-ayat Alquran itu. Akhirnya ibu saya yang mengajari saya membaca Alquran, tapi jawaban ibu juga tak memuaskan ketika ditanya.

Ayah saya secara bergurau pernah hendak menambahkan nama “Siti” di muka nama saya, karena ada yang memberitahunya bahwa sikap membangkang dan keras kepala itu bersumber pada nama saya yang tak Islami atau tepatnya tak berbau Arab sama sekali. Tentu saja, saya menolak. Saya sudah merasa nyaman dan keren dengan nama ini. Yuk Mimi, tetangga kami yang anaknya sakit-sakitan juga diminta seorang ustadz untuk mengubah nama anaknya dari Dezky jadi Safruddin. Kata si ustadz, anak Yuk Mimi keberatan nama. Entah apa maksudnya. Tapi Dezky yang kelak jadi Safruddin itu tetap saja sakit-sakitan.

Kakek saya dari sebelah ibu tergolong taat beragama. Dulu ia mempunyai banyak sekali azimat warisan keluarga. Ketika ibu menikah dengan ayah, kakek memberi semua azimat tersebut pada ayah saya. Berat keseluruhan barang-barang bertuah itu sekitar tiga kilogram. Ayah saya hanya memakai satu saja pemberian kakek, yaitu cincin bermata jingga warisan keluarga kakek secara turun-temurun. Cincin itu dipakai ayah sampai ia meninggal dunia dua tahun lalu. Sebagian azimat kakek dibuang ayah ke sungai, sebagian lagi dibuang ke laut. Kakek tidak marah, karena ia sendiri tidak memakai lagi semua azimat tadi. Kakek kelak ikut Muhammadiyah, sekte kaum Wahabi di Indonesia. Namun, ia sama sekali tidak mendukung negara Islam, meski ia juga memprotes pemerintah Orde Baru sepanjang hidupnya. Kakek memilih Muhammadiyah, karena aliran ini melarang orang menyelenggarakan acara doa dan makan minum untuk orang yang sudah meninggal dunia. Biaya acara tersebut kadang memberatkan orang yang masih hidup. Keluarga orang yang berduka itu harus menanggung dua beban sekaligus: ekonomi dan kesedihan. Kakek menentang adat-istiadat yang menyulitkan hidup manusia.

Ajaran Muhammadiyah antara lain menolak bid’ah dan kemusyrikan. Bid’ah adalah praktik yang melebih-lebihkan ibadah, sedang musyrik merupakan tindak pemujaan terhadap selain Allah.

Namun, mereka banyak melakukan ketidakkonsistenan dalam beragama. Orang-orang Muhammadiyah di Yogyakarta, misalnya membiarkan para sultan yang beragama Islam dan tetangga mereka di Kauman itu memuja Nyai Roro Kidul, yang juga dianggap sebagai istri gaib seluruh sultan Yogya. Mereka menentang orang berziarah kubur di Pagaruyung atau orang Dayak menyembah batang kayu, tapi sama sekali tidak menentang praktik kemusyrikan yang dilakukan di depan mata mereka sendiri.

Double standard policy jadi bagian dari politik kepentingan, juga teknik bertahan hidup.

Agama itu ibarat pakaian. Orang berhak memilih pakaian yang sesuai untuknya. Sebab manusia pun difitrahkan berbeda sejak lahir, berbeda jenis kelamin, berbeda budaya, berbeda suku dan bangsa. Jadi penaklukan dunia yang mengatasnamakan satu agama sama sekali melanggar fitrah tersebut.

Kakek saya tak pernah meninggalkan shalat lima waktu dan tiap hari Jumat ia selalu pergi ke masjid. Entah kenapa tiap kali mendengar orang menyebut “hari Jumat” saya seolah mencium parfum kakek, sampai hari ini. Jangan kalian bayangkan parfum kakek saya bermerek Salvatore Ferragamo atau Hermes. Parfumnya dibeli di pasar dekat rumah.

Di hari Jumat kakek selalu memakai parfum andalannya itu, mengenakan kemeja, kain sarung dan jas!  Saya tidak pernah melihat kakek memakai sorban atau memanjangkan jenggotnya seperti orang-orang Arab.

Tapi sebagian besar orang lupa bahwa Islam sebagai agama dan budaya Arab tempat agama tersebut lahir adalah dua hal yang berbeda.  Islam adalah agama untuk siapa saja yang percaya, sedangkan busana, kesusastraan, gastronomi dan musik Arab adalah budaya suatu bangsa yang tak serta-merta berkaitan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Setelah waktu-waktu shalat, rumah kami selalu dipenuhi suara merdu orang mengaji Alquran. Kakek, ayah dan ibu saya mengaji setiap hari, kecuali nenek yang rabun dan tidak sanggup melihat huruf-huruf lagi.

Sebelum kakek meninggal dunia, ia berpesan agar saya menyayangi ibu dan ayah serta jangan berkata kasar pada orangtua. Berkali-kali ia menunjukkan ayat tentang sikap anak terhadap orangtua. Ia juga berkata agar selalu berbuat baik pada sesama tanpa memandang agama dan bangsa, karena perbuatan jahat maupun baik akan dibalas di dunia ini, sedang surga dan neraka adalah rahasia Allah.

Islam jadi menakutkan ketika suatu hari saya menemukan selebaran tentang hari kiamat.

Saya masih di kelas lima sekolah dasar waktu itu. Selebaran tersebut tiba-tiba berserak di halaman sekolah.  Murid-murid yang lain juga memungut dan membacanya.

Selebaran itu mengutip kisah juru kunci makam Nabi Muhammad, yang menyatakan bahwa barangsiapa melihat benda menyerupai sebutir telur besar di langit, itulah pertanda kiamat segera tiba.

Saya benar-benar panik. Setiba di rumah, saya memperlihatkan selebaran itu pada ibu saya, yang  menenangkan saya dan berkata, "Jangan mempercayai isi selebaran seperti ini. Hanya Allah yang Maha Mengetahui."

Rupanya  hal itu merupakan ulah orang-orang yang mencari nafkah dari agama. Tidak berapa lama, beberapa lelaki tampak menjual buku-buku agama dari rumah ke rumah. Banyak orang yang kemudian menyebut diri mereka sendiri sebagai ustadz serta-merta menyelenggarakan pengajian dan menghimpun orang untuk bersedekah, mengelola acara menangis bersama, menghimpun orang-orang yang putus asa dan kesepian ini dalam kasih Ilahi.

"Semakin banyak orang yang mencari makan dari agama, maka penyimpangan dari ajaran Islam akan terus terjadi," kata adik saya, Budhi.   

Di Aceh, lembaga bernama wilayatul hisbah atau polisi syariat berdiri setelah tsunami dan menjadi lapangan pekerjaan baru. Inti dari fundamentalisme agama justru tidak  berhubungan dengan agama itu sendiri, melainkan kepentingan ekonomi dan politik pihak tertentu atau sekian banyak pihak.

Islam di Aceh, misalnya, kini terkesan sebagai monster, bukan agama penyejuk jiwa. Para pendukungnya seakan bisa melakukan apa saja termasuk tindak kekerasan terhadap siapa pun yang berseberangan pemahamannya dengan mereka tentang Islam. Namun Irwandi Yusuf, gubernur Aceh yang mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu, menolak menandatangani qanun jinayat yang mensahkan praktik hukum rajam di Aceh. Usut punya usut, syariat Islam di Aceh ini ternyata tidak termasuk dalam tuntutan perjuangan GAM. Ia  telah diupayakan penerapannya di masa Darurat Militer di Aceh, ketika parlemen Aceh masih dikuasai para legislator dari partai-partai Islam nasional yang berbasis di Jakarta. Orang Aceh menyebut syariat Islam di Aceh sebagai “bikinan Jakarta”.  Tentu saja, tidak seperti kue yang biasa Anda makan, yang para pembuat, proses pembuatannya atau toko yang menjualnya bisa diketahui dengan mudah, Anda harus mengurai begitu banyak cerita, simpangan, dan dialektikanya ketika bicara soal kue istimewa yang satu ini.

Seorang keponakan ayah saya tiba-tiba jadi pemimpin tarekat dan hal itu mengejutkan keluarga kami. Bang Aton sama sekali bukan orang yang religius sebelumnya. Kini ia punya perkumpulan tarekat dan sejumlah pengikut fanatik di Pangkalpinang, Pulau Bangka.

Barangsiapa yang jadi pengikut tarekat ini bisa bertemu ruh-ruh para nabi dan berdialog dengan mereka, tentu dengan Bang Aton sebagai perantara. Namun, latihan kebatinan ini sama sekali tidak mempengaruhi hubungan sosialnya dengan manusia lain di luar perkumpulan tarekatnya dan juga tidak mengganggu ketertiban masyarakat. Ia juga tetap menyambut tangan saya ketika bersalaman, tidak seperti satu dua lelaki berjenggot atau yang tidak berjenggot yang menganggap bersalaman itu sebagai pintu maksiat dan menganggap kafir orang yang tidak segaris dengan mereka. Ia juga tidak pernah menyatakan Islam yang dipraktikkannya adalah yang paling benar, lalu menyatakan halal darah mereka yang berbeda pandangan. Jadi saya tidak mempersoalkannya. Ia sama sekali tidak bergabung dengan Front Pembela Islam atau FPI.

Di malam tertentu Bang Aton dan pengikutnya akan masuk ke dalam satu ruangan dan mematikan semua lampu atau bergelap-gelapan agar bisa bercakap dengan ruh Nabi Muhammad secara batin.

Interpretasi terhadap ajaran Islam rupanya bukan milik sekelompok orang atau para ulama saja, setidaknya itu yang terjadi dalam ruang lingkup keluarga kami. Mak Sol, saya juga meminjam namanya untuk cerpen saya “Pohon Kersen” di kumpulan cerita Rahasia Selma, bibi saya yang lain, telah membuat adik-adik saya jadi pembunuh berdarah dingin di masa kecil mereka. Mak Sol menyampaikan pada mereka ajaran guru mengajinya di kampung tentang ciri-ciri binatang kafir dan binatang beriman.

Menurut guru mengaji Mak Sol, cecak itu wajib dibunuh. Pasalnya, sewaktu Nabi Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar, dikejar orang-orang Quraish dan terpaksa bersembunyi di sebuah gua, cecak tiba-tiba bersuara sebagai pertanda adanya manusia di dalam gua tersebut. Padahal laba-laba terus membuat sarang dan burung merpati tetap bertelur seakan tak ada manusia yang mengganggu siklus kehidupan mereka.

Kata guru Mak Sol, pembunuhan cecak di bulan Ramadhan akan membuat pahala sang pembunuh berlipat ganda. Alhasil saya menyaksikan adik-adik saya membunuh cecak di dinding dan di langit-langit rumah dengan gelang karet. Nyamuk-nyamuk pun merajalela.

Tentu saja, cecak makhluk yang tak berakal dan perbuatannya tidak bisa dinilai benar atau salah. Cecak juga tidak beragama, sehingga tidak bisa digolongkan sebagai kafir.

Namun, kelucuan dalam menafsirkan ajaran Islam ini tidak hanya berlangsung di sekitar keluarga kami.   Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia atau MUI mengeluarkan fatwa mengharamkan kopi luwak. Alasannya, biji kopi itu dikeluarkan bersama kotoran luwak. Kopi jadi halal, menurut MUI, bila kopi dicuci sampai kotoran luwak hilang. Ternyata kisah-kisah ala cecak ini pun masih terjadi di saat saya dewasa.***

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates