Loading

Sastra Indonesia Kontemporer: Membakar Tuhan dan Ibu yang Terjun ke Laut (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 11/30/2015

Tentang empat sastrawan Indonesia dan karya-karya mereka yang menampilkan keberagaman pemikiran, tema, pengalaman dan kecakapan menulis yang baik, selain memperlihatkan bentuk-bentuk baru dalam bercerita selama satu dekade terakhir.

SEBUAH PENGANTAR

Meski tidak pernah ditulis dalam buku-buku sejarah resmi Indonesia, hampir setengah abad yang lalu Indonesia hari ini dibangun di atas sebuah kudeta militer. Pemimpin kudeta berdarah itu Suharto, seorang perwira Angkatan Darat. Dia dilantik menjadi presiden sesudah menggulingkan Sukarno, pejuang kemerdekaan, proklamator dan presiden pertama Indonesia. Dia lebih sopan dibanding Jenderal Pinochet yang pasukannya membunuh Presiden Allende di istana presiden di Santiago, karena dia hanya mengurung Presiden Sukarno yang sakit parah sampai mati di sebuah rumah di Jakarta.

Tapi Suharto lebih menakutkan ketimbang Kapten Moussa Dadis Camara yang melakukan kudeta lalu membiarkan tentaranya membunuh ratusan demonstran dan memperkosa perempuan dengan bayonet di sebuah stadion olah raga di Conakry, Guinea. Selain mengerahkan tentara untuk membunuh rakyat Indonesia, dia juga memanfaatkan konflik dalam masyarakat untuk menggerakkan pembunuhan-pembunuhan massal terhadap “orang-orang ateis” atau “orang-orang tidak beragama” dengan semangat Inkuisisi ala Spanyol dulu yang dilakukan di sebuah negara dengan populasi pemeluk Islam terbesar di dunia. Untuk menghindari penyebutan nama Suharto sebagai pelaku kudeta, sebagian orang Indonesia lebih suka mengkhayal: ada konspirasi di balik peristiwa 1965 dan dalang sebenarnya tidak terungkap. Seolah-olah dia memerintahkan pembunuhan tanpa sadar dan dalam pengaruh hipnosis makhluk angkasa luar.

Di tahun-tahun menjelang kudeta itu Indonesia dan Malaysia berkonfrontasi tentang perbatasan. Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman Putra ingin Kalimantan Utara menjadi bagian dari negara federasi Malaysia, sedangkan Presiden Sukarno menghendaki rakyat di tempat itu menentukan sendiri pilihan mereka, bukan bergabung dengan ‘negara boneka neokolonialis-neoimperialis’. Tapi Sukarno kemudian membantu rakyat di perbatasan untuk cenderung memilih Indonesia. Malaysia sebagai anggota persemakmuran Inggris mendapat dukungan penuh dari bekas tuannya Inggris dan tentu saja, Amerika Serikat, sekutu Inggris. Konflik ini bertambah rumit, karena pemerintah Tiongkok yang dekat dengan elite Partai Komunis Indonesia ikut campur dengan mendukung Sukarno. Dalam konteks global, Perang Dingin sedang berlangsung keras, sengit, dan gila. Meskipun perang terbuka tidak pernah terjadi antara Indonesia dan Malaysia, konfrontasi dua negara baru berakhir setelah Suharto berkuasa. Efek sampingnya adalah ideologi komunisme terlarang di Indonesia. Partai komunis dibubarkan, tidak boleh bangkit lagi selamanya. 

Pembunuhan-pembunuhan politik atas nama negara merupakan hal biasa di masa Suharto atau masa Orde Baru. Jenderal yang selalu tersenyum itu bertanggung jawab terhadap operasi-operasi militer dengan bermacam sasaran, di antaranya penembakan para pengangguran dan pemuda putus sekolah secara nasional sebagai ganti memberi mereka pendidikan dan pekerjaan yang layak, yang dikenal dengan istilah “penembakan misterius” atau “petrus”, pembunuhan jamaah pengajian di Tanjung Priok, Jakarta, dan di Talang Sari, Lampung, pembunuhan sepertiga rakyat Timor Timur di masa pendudukan militer Indonesia, pembunuhan puluhan ribu orang Aceh dan pemerkosaan terhadap lebih dari seribu perempuan Aceh di masa konflik bersenjata antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka selama 29 tahun, dan penghilangan paksa sejumlah aktivis demokrasi antara tahun 1997 hingga 1998.

Hujan penindasan menumbuhkan jamur perlawanan. Partai-partai oposisi dan organisasi-organisasi massa anti pemerintah berdiri. Media nasional dengan oplah terbesar serta paling berpengaruh di Indonesia, yaitu suratkabar Kompas, memuat berita aksi mahasiswa, petani ataupun buruh pabrik, meski sesudah itu para redakturnya ditelepon dan diancam markas besar Tentara Nasional Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta juga menyiarkan berita yang sama, meskipun setelah itu mereka harus menayangkan perwira militer memberi pernyataan resmi yang berbeda. Ketika Tabloid Detik, Majalah Tempo, dan Majalah Editor dibreidel serentak pada 21 Juni 1994, mahasiswa, seniman, aktivis politik, wartawan dan buruh turun ke jalan untuk mendeklarasikan solidaritas.

Bagaimana nasib sastra Indonesia di masa diktator militer Suharto? Para penulis tetap menulis. Kadang-kadang karya sastra yang memiliki muatan politik dapat lolos dari sensor. Seno Gumira Ajidarma menerbitkan Saksi Mata pada 1994, sebuah kumpulan cerita pendeknya tentang invasi dan tindak kekerasan militer Indonesia di Timor Timur. Setahun setelah terbit, Saksi Mata memperoleh penghargaan sastra dari pemerintah Indonesia. Karya-karya lain yang mengkritik pemerintah Suharto dimuat di sejumlah majalah mahasiswa dan media independen milik organisasi-organisasi oposisi. Oplah semua media itu terbatas, tapi peredarannya jauh lebih luas dalam skala yang masif berkat proses penggandaan yang dilakukan para pembaca untuk menyebarluaskannya. Gelombang informasi ini berlangsung tanpa henti dan menjadi bagian dari gerakan melawan kediktatoran.

Sajak-sajak Wiji Thukul, seorang penyair rakyat, rutin dibacakan dalam aksi-aksi massa. Sajak-sajaknya telah menjadi setara folklor dalam gerakan perlawanan di Indonesia. Sajak-sajak itu mengkritik keras pemerintah yang otoriter, pengusaha yang rakus dan militer yang kejam. Salah satu buku puisinya berjudul Mencari Tanah Lapang, diterbitkan di Belanda ketika Suharto masih berkuasa. Dia pengurus Partai Rakyat Demokratik, partai oposisi terpenting dan paling radikal di masa puncak Orde Baru. Tapi partai tersebut mengalami perpecahan hebat pasca Suharto. Beberapa kadernya bergabung dengan partai yang didirikan Letnan Jenderal Prabowo Subianto Djojohadikusumo, bekas pemimpin Komando Pasukan Khusus, yang dianggap terlibat penculikan aktivis di masa Suharto. Wiji Thukul dan tiga kader Partai Rakyat Demokratik diculik beberapa bulan sebelum Suharto mengumumkan pengunduran diri sebagai presiden. Mereka belum ditemukan sampai hari ini. Ketika itu Indonesia tengah dilanda krisis moneter yang parah, sedangkan demonstrasi yang menentang pemerintah telah berlangsung hampir setiap hari.

Bermacam cerita ditulis pasca Suharto, dari cinta sampai politik, dari seks sampai agama. Dalam lima tahun sejak reformasi, cerita-cerita bertema seks yang ditulis para perempuan penulis tiba-tiba mendominasi dunia penulisan di Indonesia dan pembicaraan di media massa, meski cerita-cerita bertema lain juga ada. Euforia itu dapat dimaklumi. Seks adalah salah satu perayaan kebebasan. Tapi karya-karya Pramoedya Ananta Toer, pejuang kemerdekaan nasional kami dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi sektoral Partai Komunis Indonesia, secara resmi tetap berstatus terlarang sampai hari ini. Enam tahun sesudah reformasi, Munir Said Thalib, seorang aktivis kemanusiaan, diracun atas perintah negara dan meninggal dunia di pesawat terbang rute Jakarta-Amsterdam. Pemerintah pasca Suharto sengaja membiarkan konflik dalam masyarakat berkembang dan berlarut-larut, sehingga intimidasi dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama meningkat di berbagai tempat di Indonesia akhir-akhir ini. Ketidakpuasan terhadap pemerintah teralih kepada sesama warga. Hukum tidak ditegakkan dengan adil.

Para penulis Indonesia yang akan saya bicarakan ini adalah mereka yang mengalami masa-masa penuh gejolak tadi. Tapi bukan hanya alasan itu yang membuat saya memilih mereka di antara ratusan penulis lain. Saya tidak menulis katalog, sehingga kriteria menjadi penting. Para penulis ini telah mencipta karya-karya yang menampilkan keberagaman pemikiran, tema, dan pengalaman mereka melalui kecakapan menulis yang baik, selain memperlihatkan bentuk-bentuk baru dalam bercerita selama satu dekade terakhir. Azhari Aiyub, AS Laksana, Zen Hae, dan Nukila Amal adalah nama-nama yang patut diketahui siapa pun yang berminat terhadap sastra Indonesia kontemporer. Karya-karya mereka menyuarakan dinamika hubungan antar manusia di sebuah negeri, yang juga terhubung dan menjadi bagian dari persoalan-persoalan umat manusia di mana pun.

MEMBAKAR TUHAN DAN IBU YANG TERJUN KE LAUT

Azhari Aiyub telah melalui dua tragedi, perang dan bencana alam. Dia lahir dan tinggal di Aceh, wilayah di ujung barat Indonesia, tempat Gerakan Aceh Merdeka pernah menuntut kemerdekaan untuk Aceh. Orangtuanya, adiknya dan seluruh sanak saudaranya hilang karena tsunami pada 26 Desember 2004. Ada atau tidak ada hubungan dengan tragedi itu, dia telah menentang kebenaran absolut tentang narasi penciptaan atau narasi tentang Tuhan dengan mencipta narasi lain atau kebenaran lain.

Dia memberitahu kita salah satu ciri Tuhan, yaitu mengidap kudis, sejenis penyakit kulit menular. Akibatnya banyak orang terlanda histeria lalu pergi ke berbagai tempat untuk mencari penderita kudis dalam “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurrudin”, satu dari serangkaian cerita Azhari mengenai penyerangan kesultanan Aceh terhadap kota Malaka, yang ketika itu dikuasai Portugis.

Cerita ini berlatar waktu akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. “Hamzah dari Fansur”, ceritanya yang lain, mengungkap kebiasaan seorang lelaki membawa sangkar burung yang diselimuti kain hitam ke mana pun pergi. Tiap kali ada orang yang ingin mengetahui isi sangkar itu, dia menjawab singkat, “Tuhan.” Suatu hari dia membakar sangkarnya. Tuhan dimusnahkan. Azhari telah mengubah Tuhan yang sakral menjadi Tuhan yang profan, yaitu makhluk berkudis, ataupun setara dengan benda-benda tidak berguna. Tidak semua orang di Aceh membaca cerita itu, tapi kantor Azhari diserbu massa pada akhir tahun 2011. Dia dianiaya lebih dari 50 orang dengan tuduhan telah melanggar syariat Islam atau perintah Tuhan. Penyebabnya? Salah satu penduduk kampung melihatnya hanya mengenakan celana pendek saat menerima tamu.

Tidak hanya perihal tuhan yang menarik dalam cerita-cerita Azhari. Dia mengisahkan peran manusia dalam arus politik dan perdagangan dunia di kota-kota pelabuhan. Tiap sosok memiliki sisi kelam dan agenda rahasia sebagai motif, lalu dia mengerahkan mereka membangun struktur cerita secara dinamis, dengan detail dan intensitas yang hanya sanggup dilakukan seorang penulis yang memiliki pengetahuan, kecerdasan, ketangkasan, kepekaan dan imajinasi yang luar biasa. Tokoh utama ceritanya bernama Si Ujud, putra syahbandar yang ingin membalas kematian keluarganya dengan membunuh sultan. Si Ujud sempat menjadi mata-mata sultan sebelum rahasianya terbongkar. Kematian Si Ujud dikisahkan dalam empat versi yang terdiri dari empat cerita terpisah.

Azhari menyuguhkan teka-teki dan siasat rumit yang menjulur dari benak-benak tergelap manusia, disertai apendiks, seolah-olah hasil penelitian ilmiah. Cerita-cerita Si Ujud merupakan epos yang terinspirasi oleh teks kuno Hikayat Malem Dagang. Dalam manuskrip itu, Si Ujud antagonis yang jahat dan angkuh. Azhari mengubah Si Ujud menjadi protagonis yang menjalani hidup penuh petualangan, mengalami intrik politik tak berkesudahan dan menghadapi kekejaman tiada tara yang mengancam jiwanya serta orang-orang terdekatnya di masa monarki absolut, di saat Lamuri diperintah Sultan Nuruddin.

Karya pertamanya terbit pada 2003, buku cerita pendek berjudul Perempuan Pala dan berisi 13 cerita yang mengisahkan perempuan di tengah situasi konflik di Aceh. Di buku ini para perempuan menjadi korban, penyintas atau pemberi inspirasi. Salah satu cerita, “Hikayat Asam Pedas”, menggambarkan perang telah merenggut harapan siapa pun tanpa ampun. Sebagai koki andal, Azhari fasih menjelaskan manfaat dan jenis-jenis bumbu yang ternyata menjadi pengantar untuk memasuki pusaran konflik dan tragedi dalam pengalaman seorang nenek yang gagal menyantap hidangan kesayangan. Nenek itu tengah menghayati proses memasak sambil membayangkan kelezatan masakannya ketika tiga lelaki datang untuk menangkapnya, gara-gara dia memperoleh ikan dari seseorang yang diduga mata-mata tentara. Dia bahkan tidak diizinkan mencicipi masakannya yang sebentar lagi matang.

Buku ini diterbitkan sebelum pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat beramai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, untuk mengakhiri perang mereka. Antropolog James T. Siegel memberi kata pengantar untuk edisi Bahasa Inggris Perempuan Pala yang murung tapi bertabur satir dan humor gelap ini.

Azhari juga menulis puisi, selain prosa. Pada 2005 dia menerima Free Word Award dari Poets of All Nation di Belanda. Selain mendirikan lembaga kebudayaan Komunitas Tikar Pandan pada 2003, dia pernah bekerja sebagai wartawan di Banda Aceh dan kini mengelola rubrik budaya Serambi Indonesia, suratkabar terbesar di Aceh.

Sejarah dan politik juga menjadi tema utama dalam karya-karya AS Laksana. Cerita-ceritanya menunjukkan bahwa masalah terbesar umat manusia berawal dari kegagalan komunikasi yang membuat mereka tidak mampu untuk saling berempati. Kegagalan-kegagalan itu membuahkan konflik. Bukunya Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu, berisi 20 cerita yang dibuka dengan riwayat kota Batavia (Jakarta masa lalu) di masa kekuasaan Murjangkung, sebutan rakyat Jawa untuk Jan Pieterszoon Coens, gubernur jenderal Hindia Belanda dan pendiri kota itu. Drama dalam cerita “Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut” dimulai ketika orang-orang pribumi di seberang benteng meludah. Sepercik ludah busuk mereka terlontar jauh hingga ke dalam benteng lalu mendarat di jidat Murjangkung. Perang baru berhenti setelah Murjangkung pergi ke alam baka akibat kolera. Pramoedya Ananta Toer menggugat sejarah yang ditulis penguasa dengan menulis sejarah dari perspektif rakyat yang melawan, tapi AS Laksana menggugat sejarah dengan mencampur fakta dan ironi. Keduanya sama-sama menolak narasi arus utama.

Buku pertamanya Bidadari yang Mengembara terbit pada 2004, lalu memperoleh anugerah Buku Sastra Terbaik versi Majalah Tempo. Pada 2013, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu meraih penghargaan yang sama dari majalah tersebut dan Lima Besar Khatulistiwa Literary Award (penghargaan sastra nasional yang penting di Indonesia). Dia dulu wartawan di tabloid Detik hingga tabloid itu dibreidel pemerintah Suharto pada 1994 dan sekarang menulis kolom tetap “Ruang Putih” di suratkabar Jawa Pos, yang dikenal sebagai kolom suratkabar terpopuler di Indonesia.

AS Laksana mengutip legenda, dongeng ataupun kisah tertentu dalam kitab suci dengan tujuan membantahnya. Dalam “Otobiografi Gloria”, narator cerita adalah bayi yang dibunuh oleh kakeknya sendiri. Paman sekaligus ayah Gloria, nama arwah bayi itu, tidak punya pekerjaan dan suka mabuk-mabukan. Dia mati dieksekusi ‘penembak misterius’, sebuah operasi militer di masa Suharto yang mengemban misi khusus membasmi gali (singkatan dari gabungan anak liar, sebutan untuk para pengangguran dan pemuda putus sekolah). Ibu Gloria merahasiakan nama lelaki yang telah menghamilinya, sementara orangtuanya tidak percaya bahwa dia hamil dalam keadaan perawan seperti Maria Magdalena ketika mengandung bayi Jesus.

Kisah terakhir dalam buku ini, “Peristiwa Kedua, Dalam Sebuah Komidi Putar”, membuat para pembaca Indonesia teringat presiden Suharto, yang hidupnya diliputi mitos. Asal-usulnya tidak jelas, sehingga AS Laksana menciptakan biografi untuk tokoh ini. Seorang pembantu yang sudah tua tanpa sengaja diterima bekerja di rumah anaknya sendiri yang tidak mengenalinya. Mereka bercinta, sehingga nenek itu hamil dan melahirkan anak sekaligus cucu yang kelak menjadi pemimpin. Di Indonesia pernah beredar cerita bahwa Suharto dilahirkan dari skandal pembantu rumah tangga yang menjalin hubungan khusus dengan majikannya. Penyebaran cerita skandal ini dapat dianggap sebentuk resistensi dari kalangan rakyat terhadap kekuasaan absolut, yang memakai topeng moral dan kehormatan agar disegani. Suharto selalu menyetarakan dirinya dengan raja-raja Jawa. Saat skandal tersebar, maka kekuasaan memiliki titik lemah untuk dijatuhkan. Kita juga masih ingat cerita skandal mengenai kalung berlian Marie Antoinette, permaisuri Louis XVI, yang beredar di kalangan rakyat Perancis. Puncaknya, rakyat yang membenci keserakahan monarki Perancis menjatuhi Marie hukuman mati dengan guillotine.

Semua cerita AS Laksana berisi humor gelap dengan lapisan-lapisan kisah yang jalin-menjalin untuk kemudian menyatu dalam komposisi yang solid. Cerita-ceritanya adalah kritik terhadap ideologi harmoni, yang dulu dipraktikkan pemerintah Suharto dalam mengatur negara dan bahkan, mengatur unit terkecil dari negara, yaitu keluarga. Rakyat harus patuh pada penguasa yang menjadi pelindung atau pengayom. Istri wajib merawat anak-anak dan mendukung karier suami sebagai kepala keluarga. Keselarasan ini semu belaka. AS Laksana menampilkan nilai-nilai yang jungkir balik atau kekacauan dalam relasi harmoni itu, sedangkan kasih sayang yang tulus seorang adik terhadap kakak misalnya, justru ditampilkan dari sudut pandang orang gila dalam “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”.

Tapi ketika Nukila Amal menerbitkan novel pertamanya Cala Ibi pada 2003, dia tidak hanya menuturkan sejarah sebuah keluarga. Dia telah membuat Indonesia Timur tidak lagi berstatus periferi dalam lansekap politik nasional kami yang sejak Suharto berkuasa hanya terpusat di Pulau Jawa. Nukila, yang pernah bekerja sebagai pembuat roti di Jakarta, mengembalikan wilayah itu menjadi pusat cerita dalam novelnya, setelah lama berhenti menjadi magnet bagi kapal-kapal asing pemburu rempah-rempah di masa silam dan salah satu saksi penting dari era kapitalisme perdagangan.

Novel ini mengurai tarik-menarik antara dunia modern dan tradisional, kehidupan urban dan dinamika kampung halaman, dampak iklan dan tafsir mimpi, kedamaian dan perang, yang merentang dalam riwayat empat generasi. Cala ibi, nama lain untuk burung gereja dalam bahasa Ternate, salah satu pulau di kepulauan Maluku, adalah novel yang sangat puitis. Seekor burung bebas terbang dan hinggap, sehingga menyaksikan banyak peristiwa atau mendengar percakapan antar manusia untuk dituturkan. Penggunaan jukstaposisi dalam novel ini menunjukkan pencapaian baru di dunia sastra Indonesia, yakni prosa yang bersifat puisi: Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary.

Selain Cala Ibi, dia menerbitkan buku cerita pendek Laluba pada 2005. Cerita utama buku ini, “Laluba”, mengisahkan seorang perempuan yang terjun ke laut untuk menyelamatkan janin dalam rahimnya ketika kampungnya diserang orang-orang bersenjata. Kerusuhan antar pemeluk agama telah mencapai Maluku Utara tak lama sesudah pemerintah Suharto berakhir. Janin yang tumbuh itu dinamai Laluba, sesuai keinginan suaminya, yang juga tak selamat dari serangan tersebut. Ini kisah yang indah dan menyentuh tentang ibu yang memilih tenggelam bersama bayinya yang belum sempat dilahirkan, juga cinta yang mendalam sepasang suami istri:

Senyap sekali. Hangat. Sinar matahari sampai ke dalam sini, menerangi air cerah biru. Biru berbayang, mengelabu. Berganti kelabu hijau. Kian menghijau. Ikan-ikan kecil datang berputar, berkitaran tak heran. Di belakang mereka mengambang bayang-bayang, terbang. Pria-pria. Putih pucat, biru, ungu. Mereka menatap kita tak berkedip, tak berbicara, hanya rambut, jemari dan pakaian mereka yang melambai. Terumbu-terumbu karang yang malang... Ah, aku dapat melihat ayahmu, Nak. Ia mendatangi kita, melayang di antara pria-pria. Lihat rambutnya, berkibar seperti surai kuda, bajunya meliuk seperti ganggang. Ia memandangmu dengan wajah bening dan senyum seluas awan, kau, yang masih meringkuk malu-malu....

Laluba meraih Penghargaan Sastra Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, pada 2010, sedangkan Cala Ibi masuk Sepuluh Besar Khatulistiwa Literary Award 2003.

Nukila juga menaruh minat khusus pada kuliner, sebagaimana Azhari. Cerita pendeknya “Smokol”, mengisahkan pemuda yang senang menyiapkan hidangan istimewa untuk menjamu para tamunya. Cerita ini memperoleh penghargaan Cerita Pendek Pilihan Harian Kompas pada 2008. Aroma kesedihan dalam “Hikayat Asam Pedas” Azhari bertukar menjadi kegembiraan dalam “Smokol”, kosa kata dari bahasa Ternate untuk waktu makan di antara sarapan dan makan siang.

Ternyata makan buah durian menjadi momentum berharga dalam hidup penyair Zen Hae, seperti pengalaman kebanyakan orang Indonesia. Buah tropis berduri berbau menyengat berdaging tebal lunak dengan kombinasi rasa pahit-manis yang ganjil ini sangat ditakuti orang-orang Eropa, tapi membuat penghuni kawasan Asia Tenggara tergila-gila. Melalui “Hantu Pemakan Durian” yang dimuat dalam buku puisinya Paus Merah Jambu, Zen mengajak kami mengenang kembali kebersamaan atau masa silam yang indah, ketika tinggal di kampung atau di pinggiran kota, saat menunggu pohon-pohon durian berbuah. Sajak ini medium untuk melawan lupa. Buah durian matang jatuh sendiri dari pohon dan biasanya di malam hari, sehingga kegelapan malam juga menggugah imajinasi penunggu durian runtuh untuk membayangkan peristiwa tertentu, seperti hantu-hantu yang bangkit dari makam-makam tua. Misteri, rahasia, kenangan, dan keinginan untuk menautkan diri pada masa lampau menjadi ciri-ciri puisi Zen. Konsekuensinya adalah dia mencampur mitos, tahayul dan cerita rakyat dengan simbol-simbol dunia modern.

Dia telah menulis puisi di media massa sejak tahun 1995, tapi buku puisinya Paus Merah Jambu baru terbit pada 2007. Buku ini meraih Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2007 dan dinobatkan sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah Tempo di tahun yang sama. Zen tidak hanya menulis puisi. Buku cerita pendeknya Rumah Kawin terbit pada 2004. Dia pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta sebelum bekerja di Komunitas Salihara, Jakarta.

Zen sering dijuluki ‘penyair Betawi terakhir’. Julukan ini tentu saja ironi. Barangkali masih akan ada penyair-penyair Betawi sesudah dia, tapi faktanya orang-orang Betawi makin tergusur dari Jakarta yang dulu “desa” mereka. Tanah-tanah mereka hilang akibat perluasan kota dan bahkan dimulai berabad-abad lalu, saat gubernur jenderal Murjangkung menguasai Batavia, dalam cerita AS Laksana. Kehilangan tanah adalah kehilangan pohon durian, kalong merah bata, makam leluhur, cerita purba, riwayat para pendahulu dan apa saja yang pernah berada di situ. Tanah adalah akar budaya dan jati diri. Zen menggunakan perumpamaan yang jenaka untuk memanggil apa yang telah hilang atau pergi itu—maka kalian yang pernah terusir kupanggil pulang dengan rindu tiga sisir dan cinta lima nampan.

“Hantu Pemakan Durian” tidak sekadar nostalgia. Puisi ini menyuarakan upaya untuk menggali, menemukan kembali, dan menata ulang warisan sebuah bangsa atau komunitas. Memori individu yang menjadi bagian dari memori kolektif menyediakan sarana untuk menyusun atau melengkapi bagian-bagian yang hilang atau yang sengaja dihilangkan. “Hantu Pemakan Durian” juga kiasan dari orang-orang yang mengalami perubahan ruang hidup. Hantu tradisional telah tersingkir oleh hantu-hantu urban yang tidak lagi bergentayangan di kebun durian atau sungai, tapi di kafe atau apartemen.

Pola ‘menggali dan menemukan’ melalui ingatan terulang dalam puisi “Naga”. Subjek lirik puisi ini seekor naga yang sembur apinya mendidihkan samudera. Dia rela dianggap anumerta selama berabad-abad dan dihidupkan hanya dalam dongeng demi melindungi tuannya. Suatu hari dia ingin kembali ke alam nyata, tapi tuannya tidak ingin melihatnya lagi. Zen memberi riwayat yang berbeda untuk makhluk legenda dari Tiongkok yang populer di negara-negara Asia Tenggara ini.

“Naga” yang murung dan gelap berlanjut pada “Juru Peta” yang gelap dan sureal.

Setelah merasa jemu tinggal di benua yang hanya seukuran sarang burung, seseorang ingin menemukan kamar rahasia pembunuh kaisar. Dia membuat peta yang tidak biasa, dengan menghubungkan tiap kota bukan dengan jalan, jalur kereta api atau pesawat terbang, tapi dengan ingatan akan kepulangan. Zen menulis puisi ini untuk Jorge Luis Borges, sastrawan Argentina yang meninggal pada 1986 dan dipuja sejumlah penulis Indonesia, yang justru dikritik sastrawan dan wartawan Uruguay Eduardo Galeano yang wafat pada 13 April 2015 lalu. Galeano menyebut Borges seorang rasis, pemuja diktator militer Jenderal Videla, dan tukang cerita sejarah aib universal yang tidak bereaksi apa pun terhadap aib negerinya sendiri.

Mengingat atau mengenang, upaya yang terus muncul dalam puisi Zen, dengan mengungkap ‘masa kanak-kanak’ yang membekas dan menjadi ibu bagi semua kenangan kita:

Seorang yang mirip kekasihnya terbaring tenang di dalam es itu, membayangkan piknik musim panas dan perjalanan melingkar ke sebuah telaga, sedang ia seekor arapaima gigas yang menanti bongkahan es itu meleleh agar terhapus rajah di sekujur tubuhnya. agar gembira menara-menara gereja yang pernah menggemakan nyanyian kudus masa kanak-kanaknya. agar kembali pulang seorang penguasa yang disesatkan di gurun tanpa bintang. 

Kebenaran yang disembunyikan demi menghindari tragedi justru mendatangkan tragedi. Juru peta yang telah meminjam rupa pelayan rahasianya untuk menghindari musuh akhirnya dibunuh oleh pemburu yang mencari sang tuan, yakni dirinya sendiri.

Keempat penulis ini dapat menjadi lebih besar di masa mendatang, menjadi raksasa sastra kami. Tapi mereka juga dapat hilang sama sekali dari pengaruh kata-kata oleh berbagai sebab. Menulis tidak semata-mata merayakan kesenangan, melainkan pilihan dan kesempatan untuk bertindak.***

Jakarta, Maret 2015



*Diterjemahkan Anett Keller dalam Bahasa Jerman untuk "Handbuch Indonesien" (Horlemann Verlag, 2015)




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates