Loading

Retno Marsudi: Bekerja dengan Hati (oleh: Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 11/04/2014

Sebelum menjabat Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, ia adalah Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Pers Belanda menjulukinya 'perempuan kecil bernyali besar'.

SUASANA di pusat kota terasa lengang. Sebuah trem melintas di jalan utama yang sunyi. Pagi ini, 18 Januari 2014, suhu udara 7 derajat Celcius. Musim dingin mulai menyelimuti Eropa. Di taman di kawasan Lange Voorhout, Den Haag, pohon-pohon tampak kelabu. Daun-daun di ranting-rantingnya telah gugur. Bangunan kuning cerah yang berada di seberang taman, bagai kemeriahan yang tiba-tiba hadir di tengah cuaca muram. Di atas pintu masuknya yang berhias mahkota itu, tertera sebaris nama dengan huruf-huruf besar berwarna emas, “Hotel Des Indes”. Dalam pesannya untuk saya, ia mengusulkan kami bertemu di coffee shop hotel tersebut pukul 10 pagi. Sejak pertama kali dibuka pada 1881, hotel yang tadinya merupakan istana seorang baron ini menjadi tempat kesayangan para bangsawan dan diplomat asing. Pemugarannya secara menyeluruh terjadi pada tahun 2005 dan 2006, dengan melibatkan Jacques Garcia, arsitek Prancis terkemuka yang juga merancang Hotel Nomad di New York.

Retno Lestari Priansari Marsudi, duta besar Indonesia untuk kerajaan Belanda, telah menunggu saya di coffee shop. Ia datang lebih dulu. Setelan blus batik dan celana panjang tampak serasi di tubuhnya. Rambutnya yang pendek tertata rapi. Hari ini ia tidak mengawali hari dengan berolah raga, pergi ke pasar atau naik sepeda seperti biasa. Jadwalnya tengah padat. “Siang nanti bicara di pertemuan diaspora Indonesia, setelah itu ada pertemuan dengan Dirjen Promosi Pariwisata Kemparekraf (Kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif),” tuturnya.

Merah dan kuning menjadi warna interior yang dominan di ruang bergaya kolonial dan Dutch Indies ini. Kursi-kursi juga berlapis kulit dua warna, kuning dan merah. Meja-meja bulat terbuat dari kayu yang dicat coklat. Ruang terasa hangat, klasik dan mewah.

Dalam sejarah diplomasi Indonesia, Retno adalah duta besar perempuan pertama Indonesia untuk kerajaan Belanda. Pendahulunya 20 laki-laki dan sebagian berlatarbelakang militer. Kedutaan besar Indonesia di Belanda merupakan salah satu kedutaan terbesar Indonesia di dunia dengan atase teknis yang cukup lengkap dan jumlah keseluruhan staf sekitar 70 orang. Sebelum bertugas diBelanda, Retno menjadi duta besar Indonesia untuk kerajaan Norwegia dan republik Eslandia. Ia memulai tugasnya di negara-negara itu pada usia 42 tahun, di usia yang sangat muda untuk kalangan diplomatik. Pada Desember 2011, ia menerima anugerah Order of Merit dari Kerajaan Norwegia dan menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh anugerah tersebut.

Ia juga mengisahkan persepsi keliru orang luar terhadap Indonesia dan hal itu sering dikaitkan dengan tidak berjalannya pemberdayaan perempuan. Ia bertutur, “Indonesia sering disebut sebagai negara Islam. Indonesia bukan negara Islam, tetapi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Gender mainstreaming juga sudah diadopsi pemerintah Indonesia. Saya merupakan contoh berjalannya gender mainstreaming di Indonesia. Sekarang 50 persen diplomat kita adalah perempuan. Mereka itu pintar-pintar. Percaya diri. Bahasanya juga bagus. Dan saya sangat bangga terhadap mereka.”

Di pagi hari ia bangun pukul tiga atau empat. Setelah salat tahajud, ia memeriksa Blackberry-nya dan menyapa anak-anaknya, “Sampai mereka menjawab,‘I am fine, Mom’, baru saya bisa menjalankan hidup saya.” Putra sulungnya, Dyota Marsudi, ekonom yang bekerja di sebuah perusahaan konsultasi Amerika, sedangkan putra bungsunya, Bagas Marsudi, masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ia kini membagi hidupnya antara Jakarta dan Den Haag, dengan cuti kerja 12 hari dalam setahun. Suaminya, Agus Marsudi, seorang arsitek lulusan Delft University, di negeri tempat Retno kini bertugas.

“Dia adalah malaikat,” ujarnya, tentang sang suami. Mereka berpacaran selama 7 tahun dan menikah selama 26 tahun. Ketika cuti, ia dan suaminya kadangkala mendaki gunung. “Tantangan sebagai diplomat itu adalah profesi ini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Kalau dinas memerlukan, you have to be there. Ini memerlukan komunikasi yang baik sejak awal dengan pasangan. Kalau menghadapi masalah, dia jadi konsultan saya. Meskipun kata-katanya itu biasa saja, tapi kalau dia yang mengatakan, itu berbeda,” katanya.

Masa yang bertantangan tinggi bagi Retno terjadi waktu ia menjabat direktur jenderal untuk Amerika dan Eropa di kementerian luar negeri (2008-2012) dan bertanggungjawab terhadap hubungan Indonesia dengan 92 negara. Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Eropa (6 jam) dan Amerika (12 jam) membuat komunikasi yang harus dilakukan menjadi tak mengenal waktu. Ia mengenang saat itu, “Kalau saya menerima telepon dari sana sini pada malam hari atau dini hari, suami saya pindah kamar, karena tidak bisa tidur. Saya sudah 28 tahun jadi diplomat dan dia tidak pernah mengeluh.”

Ia dibesarkan dalam keluarga Jawa yang menghargai kemandirian perempuan. Sosok teladannya tak lain dari ibunya sendiri. Ia masih ingat nasihat sang ibu, “Kata Ibu saya, perempuan harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Jadi perempuan harus kokoh. Ketika terjadi sesuatu dalam keluarga, anak-anak biasanya akan lari kepada ibunya.”

Pada 1986 ia memulai kariernya. Ia pernah menjadi staf bidang Penerangan di Kedutaan Besar Indonesia di Canberra, kepala seksi di Direktorat Kerjasama Ekonomi Multilateral, lalu menjadi kepala bidang ekonomi di Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, kepala bidang isu lingkungan di Direktorat Kerjasama Ekonomi Multilateral, Direktur Kerjasama Intra Kawasan Amerika dan Eropa serta pernah pula menjabat Direktur Eropa Barat. Ia menamatkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1985, lalu belajar hukum Uni Eropa di The Hoogse Haagse School di Den Haag dan hak asasi manusia di Oslo University.

Membaca berita dari Jakarta dan Belanda termasuk dalam rangkaian rutin kegiatan pagi Retno. Setelah itu ia pergi ke gym dan berolah raga selama 1,5 jam sambil menonton berita di televisi Belanda, CNN, Euronews, dan Al Jazeera. Di malam hari, sebelum tidur, ia membaca berita lagi tentang Indonesia. Akhir pekannya adalah hari-hari bersepeda. “Saya pernah naik sepeda dari Rotterdam ke Wassenaar, tempat tinggal saya, selama 4 jam. Berhenti minum kopi di Delft, lalu jalan lagi.” Ia mengatakan bahwa ia tak bisa hidup tanpa berolah raga, “Hukumnya wajib.”

Belanda merupakan tempat penugasan luar negeri yang disukainya walaupun tidak sedikit tantangan di sini, “Hubungan sejarah Indonesia yang sangat panjang dengan Belanda menjadikan kita harus mampu mengelola hubungan dengan cermat sehingga kita bisa maju ke depan dan bermanfaat bagi rakyat kedua negara. Diplomat itu selalu diajarkan untuk mencoba mempositifkan hal yang sulit sekalipun.” Pers Belanda menjulukinya 'perempuan kecil bernyali besar'.

Saya pun teringat polemik serta ketegangan seputar rencana dan batalnya pemerintah Indonesia membeli tank-tank Leopard dari pemerintah Belanda dua tahun lalu. Sejumlah politisi di parlemen Belanda menentang penjualannya dengan menjadikan kasus pelanggaran hak asasi manusia masa lalu di Indonesia sebagai alasan, sementara beberapa politisi di parlemen Indonesia juga tidak mendukung pembeliannya karena menganggap tank-tank tempur itu tidak cocok untuk kondisi geografi Indonesia. Suratkabar Indonesia memberitakan hal ini, juga surat kabar Belanda. Retno menjelaskan pendapatnya tentang peristiwa itu, “Dalam hubungan antar negara, dapat terjadi dinamika. Kita harus mampu mengelola dinamika tersebut sehingga tidak merugikan kepentingan yang lebih besar.” Apa yang disebutnya “dinamika” tadi berkembang ke arah yang optimistis. “Kedua negara sepakat untuk terus maju membangun hubungan yang lebih baik, lebih kuat dan saling menghargai,” katanya.

Ia kemudian menceritakan hubungan bilateral kedua negara dan merasa puas dengan kunjungan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, ke Indonesia pada 19 hingga 22 November 2013, dengan membawa sekitar 200 orang pengusaha. Kunjungan ini merupakan kunjungan bisnis terbesar dalam sejarah hubungan Indonesia-Belanda.

“Dunia diplomatik adalah dunia simbol. Kunjungan perdana menteri Belanda, Mark Rutte, ke Indonesia waktu itu merupakan single destination, yang memiliki makna tersendiri dalam dunia diplomatik,” kisah Retno.

Puncak dari kunjungan itu, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan Comprehensive Partnership atau Kemitraan Komprehensif, yang akan menjadi acuan untuk meningkatkan hubungan bilateral di masa depan.

Baginya, menjalankan tugasnya di Belanda ibarat pulang kampung. “Karena sebelumnya pada 1997 sampai 2001, saya menjabat kepala bidang ekonomi di sini.” Ia juga merasa beruntung, karena sekarang teman-teman Belandanya yang mengenalnya dulu telah menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Mereka sangat membantu memberikan akses dalam pelaksanaan misinya di Belanda.

Kini ia tengah menggencarkan diplomasi kuliner. Ia hendak menjadikan Belanda sebagai outlet promosi makanan Indonesia, “Kita mempromosikan makanan Indonesia yang otentik dengan menggunakan bumbu-bumbu dari Indonesia. Artinya, ada unsur promosi perdagangan di situ. Sebab makanan Indonesia adalah makanan kedua yang paling disukai oleh orang Belanda. Ada 1.600 tokodan restoran Indonesia di sini.” Menurut Retno, 10 persen dari penduduk Belanda terhubung dengan Indonesia, “Artinya 1,7 juta orang Belanda terkoneksi dengan Indonesia. Dokter-dokter gigi teman saya orang Indonesia, guru dansa saya dulu juga orang Indonesia. Hal ini menunjukkan jumlah orang Indonesia yang cukup tinggi dan mereka juga memiliki profesi yang beragam sehingga dapat membantu melayani kebutuhan orang Indonesia yang hidup di Belanda.”

Dalam menjalankan diplomasi, Retno bersandar pada hati. Katanya, “Ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita harus mencoba memposisikan diri sebagai orang itu dan memahami cara berpikirnya. Tunjukkan sikap ramah dan berkawan namun tegas dalam bersikap. Dengan sikap seperti itu, komunikasi akan dapat lebih mudah terjalin.”

Adakah isu yang membuatnya tak dapat berkompromi? “Isu disintegrasi. Keutuhan wilayah negara merupakan harga yang tidak dapat ditawar. Kalau kita bicara masalah kesejahteraan sebuah wilayah, kita bisa. Tetapi kalau melepaskan diri (dari Indonesia), tidak akan ada kompromi,” jawabnya.

Kami berpisah di coffee shop itu, berdiri dan bersalaman. Dingin dari luar tak terasa dalam ruang hangat ini, yang menyimpan sejarah masa lalu dan menyaksikan masa kini.*** 

*)Dimuat di Majalah Dewi edisi Maret 2014

**) Retno Marsudi kini menjabat Menteri Luar Negeri di Kabinet Kerja Presiden Jokowi




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates