Loading

Resensi Buku: Rahasia Selma (oleh Avianti Armand)

Posted in Essay by Linda Christanty on 06/11/2010

Rahasia Selma, buku kumpulan cerita pendek Linda Christanty yang kedua, sesudah Kuda Terbang Maria Pinto, menyembunyikan sebelas rahasia pencerita andal.

Rahasia Selma adalah rahasia seorang penjelajah ruang dan waktu yang melintasi dimensi-dimensi itu dengan halus. Subtil. Tidak seperti tokoh dalam film The Time-Traveller’s Wife yang muncul dan menghilang secara mengejutkan, Linda merembeskan karakter-karakternya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain, seperti merah teh dalam air panas.

 

Sengaja atau tidak, ada 4 cerita, dari 11 dalam kumpulan ini, tentang anak-anak. Dalam "Pohon Kersen", isi laci meja Kakek–kuitansi pembelian barang, surat-surat, botol bekas berisi akar-akaran dan koleksi gigi Kakek–sama pentingnya dengan anak laki-laki yang tenggelam di laut. Pengalaman mencuri uang logam Kakek, sama pedihnya dengan pelecehan seksual.Kurangnya kehadiran orangtua tokoh cerita tak lebih memedihkan daripada matinya seorang penjual ikan.

Namun, ‘dunia anak-anak’ juga adalah sebuah metafor, ketika realitas dan bukan realitas punya batas yang tak jelas.

Dalam, “Babe”, monolog seseorang yang menyebut kekasihnya dengan Babe, ia menyusun sebuah dunia absurd, penuh kejanggalan. Pasangan suami istri yang kita tak yakin, pernah bertemu atau tidak. Hilangnya seorang anak yang kita tak tahu pasti, ada atau tidak. Pacar-pacar yang tersebar, dekat dan jauh. Dan ruang-ruang bicara yang membuat kita terombang-ambing dan terus bertanya, apakah ini realitas atau sekadar realitas virtual? Ruang-ruang maya yang telah jauh membajak hidup kita?

Rahasia Selma adalah rahasia peramu yang gemar bereksperimen. 

Perjalanan pulang "Kupu-kupu Merah Jambu" pun tidak pernah linear. Sembari menyusuri lorong berliku yang sempit dan jorok di pemukiman kumuh, kita diajak menyelami hidup yang berbelit dan rusuh. Sungai hitam, rumah bordil dengan dinding sewarna sayapnya, barak-barak kuli, pelanggan brutal yang menyiksanya, tangga reot dan mantan buruh pabrik pencinta tikus, dan ingatan akan guru agama yang mencabuli murid-muridnya.

Dalam "Mercusuar", Linda menggabungkan kehidupan seorang perempuan Cina yang sarat diskriminasi rasial, perilaku dan petualangan seksual yang ‘berbeda’, dan peristiwa Mei yang hanya tersirat. Mercusuar sendiri berperan memberi konteks terhadap momen dan tempat. Hasilnya: sebuah cerita yang sangat pahit.

Linda mencampurkan sebuah adegan percintaan dan kekhawatiran akan ayah yang menjelang maut dalam “Jazirah di Utara”. Dan menaburinya dengan metafor dan perumpamaan yang segar. Utara, tak sepenuhnya penjuru. Ia adalah lelaki yang dicintai dan seorang ayah yang sekarat. Ia adalah asal sekaligus sebuah tanah yang asing dan luas yang menyimpan banyak kejutan. Baling-baling pesawat terbang di gunung salju adalah perumpamaan untuk kondisi diri yang sedih–pasif dan cedera.

Cerita-cerita Linda juga menggambarkan sebuah lansekap dengan warna-warna yang diredam. Cenderung harmonis dan monokromatik. Tapi di balik itu kita tahu, ada sesuatu yang meresahkan dan mendesak-desak.  Akhirnya, Rahasia Selma adalah rahasia Linda Christanty, yang dengan baik membiarkan tiap ceritanya menyimpan sedikit ‘rahasia’– sesuatu yang belum selesai dan tak bisa kita pahami seutuhnya. Sesuatu yang akan menggayuti ingatan kita untuk waktu yang cukup lama. ***

 

*) tinggal di Jakarta. Ia kerap menulis catatan perjalanan dan ulasan arsitektur. Kumpulan fiksinya berjudul Negeri Para Peri (2009)

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates