Loading

Perempuan Penjaga Perdamaian (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism, Notes by Linda Christanty on 04/01/2011

RUANG kelas di satu sekolah menengah ini telah dipenuhi 35 murid. Semuanya perempuan. Usia mereka beragam. Dua puluhan, 30-an, 40-an, 50-an, 60-an… Bahkan dua nenek juga hadir dalam kelas. Ada pula ibu muda yang mendekap bayinya sambil menyusui. Beberapa membawa serta anak-anak yang masih balita. Tapi tidak ada tangis bayi atau jerit kanak-kanak dalam ruang.

Para perempuan, ibu dan nenek duduk tertib. Mereka berpakaian rapi, mengenakan setelan baju panjang dan kerudung. Bibir kedua nenek itu tampak merah bata oleh gincu.

Mereka siap belajar menulis. Buku catatan dan bolpen tampak di atas meja.

Sekolah ini terletak di kecamatan Bener Meriah, Aceh Tengah. Satu ruang kelas sengaja dipinjam Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Aceh (Kontras Aceh) untuk melatih para ibu menulis. Saya diminta mengajar di kelas tersebut.

Aceh Tengah juga dijuluki “dataran tinggi Gayo”, terkenal sebagai daerah penghasil kopi di dunia. Gerai kopi macam Starbuck juga menjual kopi Gayo. Di sini udara sejuk masih terasa sampai siang hari. Di pagi hari saya lebih memilih mandi dengan air hangat. Sekitar setengah jam berkendaraan dari Ibukota Takengon, ada tempat yang disukai pelancong: Danau Laut Tawar. Danau yang begitu luas dengan bukit dan sawah hijau terhampar membuat perasaan tenang dan mata sejuk.

Pada 1942 kakek saya Tubagus Abdul Malik bin Ismail bin Zainuddin Talib menjejakkan kakinya di Tanah Gayo setelah memberontak terhadap tentara pendudukan Jepang di Palembang. Setelah Tuk Malik, saya jadi orang kedua dalam keluarga kami yang menjejakkan kaki di sini.

Ketika konflik bersenjata masih berlangsung antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM, daerah yang indah dan harum kopi ini terkena imbasnya. Masyarakat yang terdiri dari suku Gayo, Aceh dan Jawa tidak hanya jadi korban, melainkan terseret dalam pusaran konflik. Suku Jawa dianggap mendukung tentara Indonesia, sedang suku Aceh dianggap mendukung GAM. Suku Gayo dianggap mendukung suku Jawa.

Hal itu tercermin dalam kelas. Para peserta tidak saling membaur dan lebih suka duduk mengelompok berdasarkan kedekatan suku.

Setelah memperkenalkan diri, saya minta mereka mengenalkan diri.

Saya kemudian bertanya, “Apa gunanya menulis? Apa gunanya bercerita?”

Ada yang menjawab untuk berbagi pengalaman. Ada pula yang malah bertanya, “Iya, ya, apa gunanya?” Berkebun menghasilkan panen, memasak menghasilkan makanan. Tapi menulis menghasilkan apa? Bukankah setelah kelas ini berakhir, kami tidak jadi wartawan dan kembali lagi ke kebun atau sibuk dalam kerja rumah tangga?

Seorang dari mereka menyahut agar dari cerita itu orang-orang mengetahui kebenaran di masa konflik dulu.

Pernyataan ini membuat kelas gaduh.

Saya kemudian bertanya, “Siapa yang mau bercerita tentang pengalaman di masa konflik?”

Ternyata semuanya ingin bercerita.

Saya menyilahkan satu orang bercerita dan selanjutnya mereka boleh bercerita secara bergiliran. Saya menyimak dengan sabar.

“Baru kali ini kami bebas bercerita, tanpa rasa takut,” kata seorang ibu.

Ada rumah dibakar, ada orang dibakar. Nada marah terdengar dalam cerita, begitu pula suara tersendat dan isakan sedih. Setelah itu kelas kembali gaduh. Mereka mulai saling menyalahkan.

Saya membiarkan kelas gaduh. Lama-kelamaan para perempuan di kelas ini lelah sendiri. Kelas kembali sunyi, lalu mereka mulai menatap saya.

Ketika saya menanyakan apa sebabnya konflik terjadi, tidak seorang pun tahu dengan pasti. Seorang ibu berkata bahwa GAM anti orang Jawa. Tapi dia juga tidak tahu apa sebabnya.

Pemicu konflik di Aceh sebenarnya sederhana. Sejumlah orang Aceh merasa alam mereka begitu kaya, tapi kehidupan banyak warga begitu miskin. Hasil eksplorasi gas dan minyak tidak sampai pada rakyat biasa. Sebagian besar diangkut ke pusat kekuasaan di Pulau Jawa. Rasa kecewa dan tidak menjadi “tuan” di rumah sendiri ini kelak menjadi alasan GAM untuk meraih dukungan warga. GAM juga menggunakan kekuatan bersenjata untuk memerdekakan Aceh. Negara Indonesia menganggap tindakan GAM mengancam persatuan dan kesatuan negara. Namun, kesepakatan damai antara dua pihak yang bertikai berlangsung di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Konflik secara resmi berakhir. Tapi dampak yang ditinggalkannya belum hilang.

Salah seorang ibu berkata bahwa tuntutan GAM ada benarnya. Sebab tanpa ada GAM pun terlihat kurangnya perhatian pemerintah pusat terhadap daerah. Tapi suku Jawa tidak layak jadi sasaran. Pemerintahan Indonesia di Pulau Jawa tidak berdasarkan suku, katanya. Ada lagi yang berkata bahwa dia selama ini menganggap semua orang Aceh adalah GAM.

Akhirnya peserta kelas menulis ini sepakat bahwa konflik yang mereka bahkan tak terlibat langsung telah membuat mereka saling bermusuhan dan terpecah-belah. Menceritakan pengalaman tersebut secara tertulis membuat anak-cucu dan bahkan dunia mengetahuinya, sehingga tidak lagi terulang hal yang sama.

Pada 21 Mei 2009, di hari terakhir kelas menulis ini para peserta menjadi dekat satu sama lain. Mereka saling membaur dan tertawa. Maemunah, nama salah seorang nenek, menyanyikan lagu Gayo untuk saya sebagai tanda perpisahan.

“Lagu ini biasa dinyanyikan untuk mengiringi anak perempuan yang akan menempuh hidup berkeluarga,” katanya.

Suaranya merdu sekali. Dia menyanyi penuh perasaan. Semua orang terharu.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar para ibu dan perempuan ini mendeklarasikan kampung cinta damai. Perempuan dari tiga suku mengucap ikrar dan melepas burung merpati. Mereka berjanji akan membangun kampung-kampung cinta damai yang lain.***

*) tulisan ini dimuat di majalah perempuan Marie Claire Indonesia, edisi April 2011

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates