Loading

Perempuan dan Politik (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 02/28/2014

Sebagian dari momentum politik dunia ditandai oleh tragedi. Namun, hal itu tidak menyurutkan rasa tertarik saya kepada politik. Saya tidak melihat politik sebagai sesuatu yang jahat, berbisa dan semata-mata kelam, melainkan sesuatu yang dinamis, penuh harapan, dan menentukan kehidupan banyak orang.

POLITIK merupakan pembicaraan sehari-hari dalam keluarga kami sejak saya masih kanak-kanak. Kakek saya sering memaparkan analisisnya tentang perang dan konflik di berbagai negara, sedangkan saya menyimaknya dengan antusias. Orangtua saya menamai adik perempuan saya, Indira, nama depan perdana menteri India, Indira Gandhi. Menurut Ayah saya, perempuan yang hebat adalah yang menjadi pemimpin dan mengatur negerinya. Ternyata adik saya tidak tertarik berkecimpung di dunia politik. Ia sarjana di bidang sains. Setelah dua tahun bekerja di sebuah perusahaan, ia menikah dan mencurahkan perhatiannya kepada keluarga.

Berita-berita kematian para negarawan atau politisi atau pembunuhan politik menjadi salah satu pemicu kesedihan dalam keluarga kami. Ketika saya berusia delapan tahun, perdana menteri Italia Aldo Moro diculik oleh Brigade Merah Italia, sayap bersenjata Partai Komunis Italia. Setelah dewasa, saya baru mengetahui bahwa Moro berusaha menjembatani hubungan politik antara partainya Partai Kristen Demokrat dan Partai Komunis Italia. Penculikannya pun dihubungkan dengan upaya menggagalkan tindakannya itu, pertarungan dalam tubuh elite partainya dan tentu saja, keterlibatan organisasi paramiliter yang didanai Amerika. Maklumlah, ketika itu Perang Dingin masih menggila. Dua hari setelah Moro diculik, saya berulang tahun. Ibu saya membuatkan kue tart besar yang dilapisi krim dari gula dan mentega. Berita televisi terus-menerus menyiarkan penculikan dirinya. Suatu hari gambar Moro ditayangkan. Ia kelihatan kurus dan kuyu. Saya berharap ia dibebaskan. Tetapi ia dibunuh penculiknya. Pada 1984, Indira Gandhi, yang nama depannya menjadi nama adik saya, dibunuh dua pengawal pribadinya.

Sebagian dari momentum politik dunia ditandai oleh tragedi. Namun, hal itu tidak menyurutkan rasa tertarik saya kepada politik. Saya tidak melihat politik sebagai sesuatu yang jahat, berbisa dan semata-mata kelam, melainkan sesuatu yang dinamis, penuh harapan, dan menentukan kehidupan banyak orang. Syaratnya, ia berada di tangan yang benar dan tidak mementingkan diri sendiri, sehingga kekuasaan menjadi legitimasi untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. Kalau orang jujur terlalu sedikit di pemerintahan, maka jumlahnya harus diperbanyak. Karena itu, ada yang menganggap perempuan lebih cocok menjadi pemimpin, dengan sifat mengayomi dan merawat.

Ketika Megawati Soekarno diharapkan banyak orang untuk menjadi presiden, saya ikut antusias. Ia kelak menjadi presiden perempuan pertama Indonesia. Pada tahun 1996, beberapa hari sebelum peristiwa 27 Juli itu, saya berada di tengah kerumunan massa dan menyaksikan ia berpidato di muka kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia, di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ia berdiri di panggung, meneriakkan, “Merdeka!” dengan suara melengking. Tidak ada kesan wibawa. Isi pidatonya tak membakar semangat. Poster besar Soekarno terpampang di belakangnya, menegaskan dirinya sebagai keturunan sang proklamator dan mengajak massa yang merindukan sosok ayahnya dapat mempercayai dirinya. Selain itu, dengan ditemani poster sang ayah, rasa percaya diri pasti menguat.

Saya tidak ingat semua drama di masa Megawati menjabat presiden, kecuali beberapa hal yang cukup penting. Di masa pemerintahannya situasi di Aceh makin parah. Setelah pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani The Cessation of Hostilities Agreement (Perjanjian Penghentian Permusuhan) pada 9 Desember 2002, Megawati malah memerintahkan militer untuk bersiaga. Padahal COHA dilaksanakan agar perundingan kedua pihak yang berseteru dapat berjalan lancar. Para perunding dari GAM ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Di masa akhir pemerintahannya, Munir, pejuang hak asasi manusia, meninggal diracun di atas pesawat jurusan Jakarta-Amsterdam.

Pemerintahannya membuat orang kecewa, tetapi ada yang memikirkan penyebab kegagalan itu, bahkan mengaitkannya dengan situasi yang lebih luas. Membuka ruang politik atau memberi kuota di parlemen untuk perempuan tidak dapat dipisahkan dengan memberi pendidikan politik dan memberdayakan sang calon pemimpin ini. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa iklim politik kita secara umum terpolusi oleh gaya pemerintahan lama yang sudah mengakar selama 32 tahun itu. Siapa pun yang berkuasa, apa pun jenis kelaminnya, akan masuk dalam pusaran yang kurang lebih sama: korupsi, kolusi dan nepotisme. Tiga kata yang dulu sering kita dengar dan sekarang terdengar kuno. Namun, praktiknya belum berakhir.***

*dimuat pertama kali di Majalah Baccarat Indonesia, edisi Maret - April 2014




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates