Loading

Percik Api di Timur (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 02/02/2012

Berbagai dinamika dalam masyakat modern memicunya, mulai dari kasus agraria hingga pertentangan dengan kepentingan feodalisme yang berujung pada politisasi agama dan etnis.

DARI halaman penginapan ini saya memandang pulau di seberang sana, Halmahera. Laut yang memisahkannya dengan Pulau Ternate berwarna abu-abu, luas, begitu tenang, dan saking tenangnya, seperti hamparan satu daratan tersendiri.

Alfred Russel Wallace, seorang ahli taksonomi asal Inggris, dulu menyebut Halmahera, Gilolo, dalam bukunya The Malay Archipelago. Pulau besar yang nyaris tak dikenal waktu itu. Ternate, Tidore dan Bacan merupakan gugus pulau yang mengitari Halmahera di bagian baratnya. Tapi hampir dua setengah abad kemudian, Halmahera, punya banyak kisah yang membuatnya tidak dilupakan lagi.

Udara pagi bertambah dingin, karena gerimis. Bulan Juni bulan yang basah. Hujan turun hampir sepanjang hari di Ternate, ibukota Maluku Utara. Luas kota ini 547 kilometer persegi atau hampir sebanding dengan Isle of Man yang luasnya 572 kilometer persegi dan jadi bagian Britania Raya di laut Irlandia, atau sedikit lebih kecil dibanding Singapura, dengan luas wilayah 697 kilometer persegi dan tercatat sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Jumlah penduduk Ternate mencapai 187.671 jiwa pada 2010 dan turun jadi 180.671 jiwa pada 2011. Penyebabnya? Pemekaran provinsi dan perpindahan warganya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.

Saya sedang menunggu peserta kelas menulis datang. Kebanyakan anak muda usia 20-an. Kemarin sore saya meminta mereka mewawancarai orang-orang di kota, pasar dan pelabuhan, lalu menulis ceritanya untuk kami bahas bersama Mereka bekerja sebagai wartawan suratkabar dan radio. Selain dari Pulau Ternate sendiri, beberapa peserta datang dari Pulau Tidore, Jailolo di Halmahera dan yang terjauh dari Pulau Bacan. Mereka ke Ternate menumpang perahu motor, transportasi warga antar pulau di provinsi ini.

Pada abad ke-18 dan abad ke-19, lalu-lintas laut di Ternate dan Tidore juga berhubungan erat dengan perdagangan rempah-rempah dunia. Kedatangan orang-orang Eropa, seperti Belanda, Portugis dan Inggris, yang semula untuk transaksi-transaksi niaga dan tak jarang dengan menyengsarakan rakyat tapi menguntungkan para sultan—seperti yang dilakukan Belanda—juga menghasilkan persilangan budaya, termasuk pengaruhnya dalam bahasa setempat. Pasukan kesultanan Ternate bahkan punya istilah untuk jabatan-jabatan tertentu, yang dipengaruhi bahasa Portugis, seperti kapita, panyira dan morinyo.

Dari ketinggian, saya melihat beberapa perempuan buru-buru mendaki tebing jalan, lalu berlari-lari menghampiri saya. Mereka riuh mengabarkan tentang tulisan yang belum selesai, setengah selesai atau tidak ada sama sekali, lengkap dengan alasan masing-masing.

Di kelas, para peserta juga menceritakan pengalaman mereka selama konflik antar warga berlangsung di sini.

Dulu pulau-pulau di bagian utara, seperti Ternate, Tidore, Bacan dan Halmahera masuk dalam provinsi Maluku, bersama Pulau Ambon dan pulau-pulau di bagian tengah, maupun tenggara. Setelah pemekaran provinsi, pulau-pulau di utara bergabung dalam provinsi baru Maluku Utara. Konflik pecah di tengah rencana pemekaran provinsi. Pemicunya, kasus tanah yang melibatkan orang Kao dan orang Makian di Halmahera Utara.

“Konflik Kao-Malifut itu merembet ke Ternate,” tutur Hardina. Setengah wilayah Malifut berada di sebagian tanah orang Kao dan dihuni orang Makian.

Pada 1975 pemerintah memindahkan orang-orang Makian dari Pulau Makian ke Halmahera, karena gunung berapi di pulau itu akan meletus. Di peta, Makian adalah pulau kecil yang terletak di bawah Tidore. Wallace menyebut dalam bukunya bahwa gunung di Makian pernah menyemburkan lahar panas dengan hebat pada 1646.

Orang-orang Makian kemudian membangun kembali kampung-kampung mereka di wilayah Jailolo dan Kao, dua kecamatan di Halmahera. Kelak tempat itu dinamai Malifut. Mereka juga memperbaiki taraf hidup dengan mementingkan pendidikan dan akhirnya, berperan aktif dan dominan dalam pemerintahan.

Pada 1999 orang-orang Makian meminta pemerintah mensahkan Malifut sebagai kecamatan baru. Tetapi orang-orang Kao tidak terima. Sejak awal orang-orang Kao sudah keberatan tanah mereka dialihkan secara paksa pada para pengungsi Makian. Tanah itu juga merupakan tanah adat orang-orang Kao. Pemerintah Indonesia di masa Orde Baru tidak mempedulikan hak-hak masyarakat adat yang telah diatur dalam undang-undang dasar negara dan hak-hak itu bersifat komunal. Alasannya adalah demi pembangunan, kemajuan dan demokrasi. Sebagian alasan itu dapat dipahami. Meskipun alasan sejatinya mengakar pada karakter politik Orde Baru, yakni mengubah demografi, menguatkan sistem Orde Baru dan kendalinya terhadap akses sumber daya alam di Indonesia. Setelah pemerintah Suharto berakhir, maka pergolakan terjadi di daerah yang sudah memiliki potensi konflik semacam ini.

Ada lima desa Kao yang akan masuk dalam kecamatan Malifut. Ketegangan antar warga pun diperuncing oleh bermacam hal, termasuk protes orang Kao bahwa orang Makian mencuri tanah mereka dengan menggeser batas-batasnya dan sebaliknya, orang Makian menuduh orang Kao mengganggu mereka beribadah di masjid atau bekerja di kebun, yang diungkap Christopher R. Duncan dalam tulisannya “The Other Maluku: Chronologies of Conflict in North Maluku” dan diterbitkan Jurnal Indonesia pada Oktober 2002. Orang Makian beragama Islam, sedang mayoritas Kao beragama Kristen. Pertumpahan darah akhirnya tak terhindari.

Sementara itu, di saat bersamaan, kerusuhan antar agama, Islam versus Kristen, tengah membakar Ambon.

Sultan Ternate Mudaffar Syah yang menjabat ketua Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat II Maluku Utara saat itu memutuskan berangkat ke Kao. Orang-orang Kao dikenal sebagai pendukung kesultanan Ternate, basis lama kerajaan. Sebelum dipindahkan Belanda ke Ternate pada 1778, kesultanan Ternate pernah berpusat di Tobelo, yang bertetangga dengan kecamatan Kao sekarang ini. Tentu saja, tindakan Mudaffar dianggap orang Makian sebagai dukungan politik terhadap Kao.

“Sultan ingin melindungi non-Muslim, karena tugas sultan adalah melindungi rakyat Muslim maupun non-Muslim,” lanjut Hardina.

Masalah tidak berhenti. Orang Makian lantas menyerang orang Kao, lalu orang Kao membalas lebih sengit lagi. Pada 25 Oktober 1999 seluruh warga Makian mengungsi ke Ternate akibat serangan tersebut. Setelah orang Makian pergi, orang Kao membakar desa-desa mereka, dan menurut penelitian Duncan, mereka tidak merusak satu masjid pun.

Api konflik pindah ke Ternate. Para pengungsi Makian mulai menyerang mahasiswa Kao dan orang-orang Kristen. Belum cukup sampai di sini, tiba-tiba muncul surat edaran yang membuat situasi makin panas, yang tidak hanya tersebar di Ternate, tapi juga Tidore. Isinya tentang rencana menggusur orang Makian dari Halmahera dan membiarkan orang Kristen berkuasa. Surat edaran itu seolah-olah ditujukan gereja di Maluku kepada kepala gereja di Tobelo, Halmahera. Gereja membantah telah mengeluarkan surat semacam itu, tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang Muslim di Tidore menyerang dan membunuh kepala Gereja Protestan Maluku di Tidore, Reverend Risakota, di depan polisi yang tak mampu berbuat apa-apa.

“Di awal 2000 saya tinggal di Kota Baru, Ternate. Waktu itu saya ingat ada selebaran yang mengatakan orang Kristen akan menyerang orang Muslim. Ada orang yang melindungi saya, memberi ikat kepala putih. Tapi mereka juga yang menyerang saya. Saya harus lari ketika menyadari rumah dilempari batu,” kisah Ronny, yang setelah konflik mereda pindah ke Tidore. Ronny beragama Kristen.

Di Ternate, Sultan Mudaffar Syah mengerahkan ribuan Pasukan Dewan Adat untuk menghadapi orang-orang Makian yang terus mengembuskan dan memanfaatkan isu Islam versus Kristen ini. Orang-orang Makian didukung sejumlah massa dari Tidore.

“Dua kubu Muslim berkonflik, sehingga keadaan makin rumit, yaitu Pasukan Dewan Adat melawan warga pendatang,” kata Hardina, lagi.

Pendatang, artinya orang-orang Makian dan Tidore.

“Di Ternate, konflik yang parah bukan Muslim dengan Kristen. Tapi Pasukan Adat melawan Pasukan Putih, yang mayoritas pendatang.

Pasukan Putih ini memakai baju putih,” tukas Ina. “Ada algojo dari Pasukan Kuning (nama lain untuk Pasukan Dewan Adat, yang mengenakan pakaian kuning). Tapi di daerah Moya, tentara yang membunuh orang-orang Kristen,” sambung Eca.

Anak laki-laki pemilik salah satu penginapan di Ternate bercerita pada saya bahwa Pasukan Dewan Adat terdiri dari orang-orang sakti. “Ada yang saya lihat sendiri bisa terbang ke atas pohon,” katanya.


RUSUH di Ternate dan Tidore merembet ke Halmahera, Bacan, sampai Morotai. Tak ada yang menyangka bahwa kasus tanah atau masalah argaria yang melibatkan orang Kao dan orang Makian di Halmahera Utara, sekarang berubah dan berkembang jadi konflik antar agama yang melanda Maluku Utara. Terlebih lagi Laskar Jihad yang terlibat dalam kerusuhan di Ambon telah mendarat di Halmahera dan ambil bagian dalam kerusuhan ini. Laskar Jihad lahir di akhir Januari 2000. Tujuannya, menyelamatkan umat Islam di Maluku dan memerangi Kristen. Ketuanya, Ja’far Umar Thalib. Pada 2002, Ja’far akhirnya ditangkap polisi dengan tuduhan membakar emosi massa di Ambon, selain menghina pemerintahan Megawati Soekarno.

Banyak desa hangus. Sekitar 2.800-an orang meninggal dunia akibat konflik di Maluku Utara.

Hal ini mengingatkan saya pada konflik agama dan etnis di Balkan, di negara yang dulu bernama Yugoslavia, saat orang Serbia yang Kristen Ortodoks membunuh orang Bosnia yang Muslim dan orang Kroasia yang Katolik. Penyebabnya sama sekali bukan kebencian terhadap agama tertentu, melainkan dendam dari masa lalu.

Orang-orang Serbia yang mayoritas di pemerintahan federasi Yugoslavia membenci orang-orang Kroasia yang memihak Nazi Jerman di Perang Dunia II. Kaum fasis Krosia membantai sekitar 1,7 juta jiwa atau 10 persen dari keseluruhan penduduk Yugoslavia waktu itu. Tapi dendam Serbia kepada orang-orang Bosnia bersumber pada masa yang lebih jauh lagi, yaitu penaklukan oleh kesultanan Turki Usmani. Pasukan Turki Usmani menghancurkan Serbia Raya, dengan mengalahkan pasukan Raja Lazar, pada 28 Juni 1389 di Kosovo dan ekspansi Turki tersebut dalam sejarah terkenal sebagai peristiwa “Padang Burung Hitam”. Setelah itu pasukan Turki mengislamkan orang-orang Bosnia—yang saat itu berpenduduk campuran etnis Bosnia dan Albania—dengan melawan Serbia Raya yang memeluk Kristen Ortodoks. Kelak Kosovo pun merdeka melalui keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.

Di bawah rezim komunis Josip Broz Tito, orang-orang yang saling membenci tadi dipaksa hidup bersama.

Secara geografi, letak Kroasia berdekatan dengan Austria, Hungaria, Italia, dan Jerman di atasnya. Etnis beragama Katolik ini didukung negara-negara Barat, berbeda dengan Bosnia yang tak punya pendukung dan terkepung di tengah-tengah.

Negara federasi Yugoslavia hancur berkeping, tepat di saat perekonomiannya sedang menanjak maju. Slovenia dan Macedonia merdeka lebih dulu, tetapi tanpa pertumpahan darah. Berbeda ketika Kroasia, disusul Bosnia menyatakan merdeka. Tindakan tersebut disambut dengan pembantaian oleh negara. Di lain pihak, orang Kroasia tak suka orang Bosnia, yang dulu pernah berkuasa dan menjadi tuan mereka. Dalam perang Bosnia yang berlangsung dari 1992 sampai 1995 itu, orang Kroasia juga membantai orang Bosnia.

Edib Bukvic, duta besar pertama Bosnia Herzegovina untuk Indonesia dan sekarang duta besar Bosnia Herzegovina untuk republik Islam Iran, berkata bahwa awalnya persoalan di Yugoslavia bukan konflik agama dan etnis. Bukvic adalah veteran perang Balkan dan menjabat wakil perdana menteri Bosnia Herzegovina saat konflik itu terjadi. Sebelum perang, kata Bukvic, orang Bosnia bukan pemeluk Islam yang fanatik. Tetapi ketika pemerintah Beograd menghadapi protes mereka dengan kekerasan, saat terjadi benturan, etnis Bosnia menentukan satu ideologi yang bisa menyatukan mereka—yang disebut teknik kategori—dan mendapat dukungan, yaitu Islam, agar mereka juga memperoleh dukungan dari negara-negara Islam.

Turki, Iran, Arab Saudi, Pakistan, Libya, Malaysia, dan Indonesia termasuk negara-negara yang membantu Bosnia dalam perang Balkan. Kelak Amerika Serikat berinisiatif melakukan intervensi militer dalam konflik Bosnia tanpa mengikutsertakan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara dan persetujuan PBB. Pasukan Serbia-Bosnia dibom. Beograd, ibukota Yugoslavia, juga dibom oleh militer Amerika Serikat. Akibat pengeboman itu kedutaan besar Tiongkok di Beograd ikut jadi sasaran dan sempat tercetus rencana aliansi India-Tiongkok-Rusia untuk membentuk poros menandingi kekuatan Barat. Amerika Serikat dalam posisi sulit dan dilematis saat itu; menjadi musuh negara-negara Islam atau orang-orang Muslim di seluruh dunia, atau menjadi musuh Serbia-Bosnia. Sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia kontemporer, seluruh umat Islam bersatu mendukung Bosnia. Kelompok Syiah dipimpin Iran, kelompok Wahhabi dipimpin Arab Saudi, dan Kelompok Islam Sunni dipimpin Turki yang sekuler.

Suharto, presiden Indonesia di masa itu, bahkan melakukan misi terbang langsung ke Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina, untuk memberi semangat pada pasukan Bosnia.

Menurut Bukvic, orang tak bisa berada di tengah-tengah dalam konflik semacam ini. Orang harus menentukan bergabung di pihak mana untuk bertahan. Dalam perang Bosnia, tidak ada kejahatan yang tidak melibatkan banyak orang. Tetapi akhirnya dipilih siapa yang paling bertanggung jawab dan harus dihukum agar kejahatan semacam itu tak terulang lagi. Dalam perang Bosnia, semua etnis terlibat melakukan kejahatan. Tetapi etnis yang paling banyak menjadi korban konflik itu adalah etnis Bosnia. Hampir 300 ribu jiwa mereka musnah

Meskipun kini negara Bosnia Herzegovina telah terbentuk, Haris Silajdzic, yang menjabat perdana menteri Bosnia Herzegovina di masa perang tersebut masih memproteskan keberadaan republik Srpska, yakni negara etnis Serbia dalam negara Bosnia Herzegovina dan hampir menguasai setengah wilayah negara itu. Amerika Serikat telah mencegah berdirinya sebuah negara Islam yang kuat di Eropa dengan segera mendesakkan perjanjian damai Dayton dan menjadikan pembentukan republik Sprska sebagai salah satu solusi konflik. Silajdzic ingin republik Srpska melebur dalam negara federasi Bosnia-Herzegovina, bukan menjadi negara dalam negara.

Tindakan Silajdzic tersebut mirip dengan situasi di awal kemerdekaan Indonesia ketika Sukarno membubarkan Republik Indonesia Serikat yang merupakan negara buatan penjajah kolonial Belanda itu untuk membentuk negara kesatuan.

Bosnia Herzegovina merupakan tempat sumber alam yang strategis di negara federasi Yugoslavia dulu dan memiliki industri persenjataan serta pengolahan bahan-bahan kimia penting.

Ternyata orang-orang Serbia juga bukan umat Kristen Ortodoks yang taat sebelum konflik pecah. Dalam bukunya The Sign of the Cross: Travels in Catholic Europe, Colm Toibin, sastrawan dan wartawan Irlandia, mengungkap hal tersebut melalui percakapannya dengan seorang pastor Fransiskan, Tomislav Pervan. Menurut Pervan, tak sampai 10 persen orang Serbia yang dibaptis di gereja-gereja Kristen Ortodoks. Banyak dari mereka bahkan tidak beragama. Tetapi katanya, gereja Ortodoks sendiri yang justru punya hubungan dekat dengan pemerintah. Saat Toibin menanyakan apakah itu berarti gereja Ortodoks ada di balik perang atau merestui perang, Pervan menjawab bahwa ada sejumlah tindakan yang bersumber pada Perjanjian Lama dan gagasan pembersihan etnis itu berasal dari sana, dari Kisah Yosua, yang menuturkan janji Tuhan terhadap bangsa Israel tentang “tanah yang subur” yang “mengalir susu dan madu di dalamnya”.

Kisah-kisah di dunia cukup kaya menyajikan cerita tentang tanah dan kekerasan. Kisah yang lebih modern diwakili oleh pembantaian terhadap orang Armenia di bawah kekuasaan Turki dalam dekade pertama abad ke-20, kemudian ekspansi teritorial Nazi di Eropa dan juga Kekaisaran Jepang di Asia ketika merebut Manchuria pada Perang Dunia II.

Berbeda dengan Yugoslavia yang mayoritas warganya memeluk Kristen Ortodoks, mayoritas orang di Indonesia beragama Islam.

Eca bercerita bahwa dia sempat ikut satu perjalanan jurnalistik ke Halmahera pada 2005. Rombongan wartawan bertolak dari Ternate ke Kao-Malifut, Tobelo, dan Galela.

“Keadaan Kao-Malifut sebelumnya damai, kata warga. Babi dan anjing berkeliaran tak masalah. Islam dan Kristen bertetangga dengan baik. Warga tidak tahu pemicu konflik itu. Warga Muslim dan Kristen saling melindungi. Mereka tidak tahu massa yang membunuh itu datang dari mana. Ada massa tak dikenal datang dan warga bilang tidak tahu siapa mereka. Selain mereka juga bilang, ada yang penduduk sini,” lanjutnya.

SORE itu, Jumat, 7 Juni 2007, setelah kelas menulis usai, saya pergi ke kedaton kesultanan Ternate. Bendera berlambang kepala banteng gemuk berkibar di halaman muka kedaton, bendera Partai Demokrasi Indonesia –Perjuangan (PDI-P).

Saya menunggu Syahrinnisad di pendopo belakang. Fadriah Suaeb, seniman setempat, telah membantu saya memperoleh kesempatan untuk bertemu kakak sulung Sultan Ternate ini.

Dua perempuan hilir-mudik di halaman belakang. Mereka bersanggul, mengenakan kebaya dan kain sarung. Seorang lagi duduk bersimpuh di teras, abdi kedaton yang siap menunggu perintah. Tak berapa lama Syahrinnisad muncul di ambang pintu, melangkah ke arah kami. Dia mengenakan daster kuning bermotif bunga-bunga putih. Kaki-kakinya berbalut kaos kaki putih yang dipadukan dengan sandal krem. Tas putih diselempangkannya di tubuh. Penampilan Syahrinnisad sama sekali tidak seperti putri-putri kerajaan yang saya bayangkan.

Usianya sudah 76 tahun. Pipi-pipinya sudah kendor. Gigi-giginya tidak lengkap lagi. Kacamata bertengger di hidungnya. Syal merah jambu membungkus kepalanya, dengan gaya yang mengingatkan saya pada penampilan Ibu dan bibi-bibi saya di masa lalu ketika piknik atau tamasya. Ujung-ujung syal berbentuk segitiga itu diikat di bawah dagu, tapi kali ini tak ada kacamata hitam berbingkai lebar sebagai pelengkap aksi. Di jari manis tangan kirinya melingkar cincin emas, tidak berukir dan tidak berhias batu permata.

Kami duduk di kursi kayu berukir yang terawat, coklat mengilat oleh pelitur, berlapis bantalan-bantalan kuning. Sebuah alat pengatur suara berada di dekat kami, yang biasanya digunakan untuk acara-acara tertentu. Di seberang sana tampak lambang kesultanan, patung garuda berkepala kembar. Di dada garuda emas itu ada ukiran hati berwarna merah dan cakar-cakarnya mencengkeram lempengan yang bertuliskan “LIMAU GAPI”.

Dia mulai bercerita tentang namanya. Tutur katanya lancar.

“Nama ini adalah pemberian Ayah saya. Kakek saya menamai saya Aisyah,” katanya.

Dia punya dua adik. Dua-duanya laki-laki. Adiknya yang kedua telah meninggal dunia. Adiknya yang bungsu jadi raja.

“Saya menempuh pendidikan enam tahun di sekolah Belanda. Di tahun 1945 itu tidak ada SMP, sehingga saya masuk MULO. Tapi kemudian dikejar Jepang, lalu kami lari ke Morotai,” tuturnya.

Kesultanan Ternate sangat dekat dengan pemerintah kolonial Belanda, sehingga jadi sasaran empuk pasukan Tenno Heika atau sang putra Dewa Matahari.

“Di sana ada tentara Jenderal Mac Arthur (Doughlas MacArthur, komandan perang Amerika untuk Perang Pasifik), yang kemudian mengirim saya sekolah ke Australia. Saya berangkat ke Australia pada April 1945. Di Australia kemudian saya sekolah di Kweekschool Santa Maria 2,5 tahun, terus melanjutkan ke sekolah B1, semacam IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), 2,5 tahun,” kenangnya.

Rini suka menulis dan membaca. Dia mulai menulis pada 1970 ketika membuka Sanggar Maluku Utara di Jakarta.

“Saya pesan buku-buku dari Belanda. Sering ikut seminar Maluku Utara. Itu yang membuat saya makin tahu tentang Maluku,” katanya.

Ketika kerusuhan terjadi pada 1999 itu, lalu kedaton diserang, Rini sedang berada di Jakarta.

“Tapi waktu saya datang, saya kumpulkan cerita dari sana-sini,” ujarnya.

“Provokasi,” jawabnya, saat saya menanyakan pendapatnya tentang penyebab kerusuhan.

“Mula-mula dari Ambon. Pada waktu itu Pak Harto (presiden Suharto) lengser keprabon. Pada masa Pak Harto, tentara-tentara dimanja sampai dengan lurah juga dimanja. Mereka ini ‘kan ikut jatuh bersama Pak Harto. Jadi mereka mulai menghasut. Di sana orang Islam dikeluarkan dari Ambon. Di sini orang Kristen yang diusir,” lanjutnya.

“Nama Sultan diseret, disebut provokator. Jadi waktu itu mereka, orang Kristen dan Cina, dikejar-kejar, lalu mereka dilindungi di sini. Sultan melindungi mereka. Tapi waktu itu keadaannya memang kacau. Waktu itu ada pemilihan bupati, ditambah lagi ada masalah dengan hak tanah, kemudian ada isu bahwa ibukota akan dipindahkan ke Halmahera Tengah. Ada macam-macam hal, tumpang-tindih,” katanya.

Syahrinnisad kemudian bercerita tentang perbedaan kesultanan di Jawa dan di Ternate.

“Kami tidak mengenal sistem kasta. Dalam bahasa Ternate, Toma kiye ma tubu jou se ngofa ngare (di atas gunung hanya engkau dan aku). Kesetaraan. Karena itu, kami tidak punya singgasana. Nita, istri adik saya (Mudaffar Syah), membawa dua singgasana dari Yogyakarta, bikinan Jepara. Dia nggak tanya-tanya dulu. Kalau di Yogya ada pengaruh Hindu. Mereka tidak bicara kasta. Tapi raja-raja Jawa itu dalam praktiknya tetap menerapkan sistem kasta. Makanya di Ternate ini namanya kedaton, artinya kedatuan. Di Jawa, keraton, yang artinya keratuan,” ujarnya.

Hari itu saya tidak boleh masuk ke ruang dalam kedaton, karena sedang ada upacara, yaitu membaca doa dan berdzikir. Kesultanan menghargai keberagaman rakyatnya dan persilangan budaya yang telah berlangsung lama.

“Di ruang dalam, di bawahnya ada kuburan orang pertama yang datang ke Ternate. Sejarahnya panjang. Dia orang Cina. Dia sudah di-Islam-kan. Namanya Jaffar Sidiq. Artinya (namanya), ‘dia mengatakan yang benar’. Orang pertama yang datang ke Ternate adalah orang Cina. Arsitektur istana terpengaruh budaya Cina. Kesultanan Ternate ini dipengaruhi Cina, Arab, Portugis, Spanyol dan Belanda. Kita merayakan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid dan juga Asyura, yang menunjukkan pengaruh Syiah,” katanya.

“Waktu saya datang dari Jakarta ke kedaton ini, tahun 1976, saya melihat ada naga merah menghadap ke depan, pengaruh Cina,” lanjutnya, seraya menunjuk ke arah pintu yang menuju rumah induk.

Rini juga menyatakan bahwa orang tengah mencari kitab berjudul The Land of Moo.

“Ini menceritakan sejarah Ternate yang dulunya ada daratan yang tenggelam. Ada ahli yang mencarinya sampai ke Pasifik,” ujarnya, seraya menulis judul kitab itu di buku catatan saya.

Iseng-iseng saya mencari informasi tentang kitab itu.

The Land of Moo rupanya mengurai tentang ras-ras manusia purba yang pernah ada di dunia dan tempat mereka hidup. Ras ketiga disebut Lemuria, yang memiliki beberapa sub-ras, termasuk Za-Moo dan Moo-Za-Moo. Bangsa Lemuria dulu tinggal di Benua Lemuria yang tenggelam dan sekarang kita kenal sebagai Samudra Pasifik. Mereka digambarkan sebagai monster yang menjadi manusia, hidup sekitar 5 juta tahun lalu.

“Apa rahasia punya daya ingat kuat?” tanya saya.

“Sering membaca dan menulis, itu membuat tidak pikun, karena ada interest,” sahutnya, menyerahkan kembali buku catatan saya.

Posisi kaum bangsawan mengalami perubahan dan tidak lagi sepenting di masa sebelum negara Indonesia berdiri. Raja atau sultan dipilih secara turun-temurun atau garis darah, sedangkan sistem demokrasi membuka ruang pada siapa pun yang mampu dan dipilih orang banyak untuk jadi pemimpin.

“Sekarang orang yang loyal pada Sultan tidak sebanyak dulu dan itu memang benar,” kata Rini.

Sultan Ternate Mudaffar Syah mencoba mengembalikan kejayaan feodalisme kesultanan Ternate dengan berbagai cara, agar tetap memiliki akses dan kendali terhadap kekuasaan di dunia modern. Dulu dia ikut Partai Golongan Karya atau Golkar, lalu pindah ke Partai Demokrasi Kebangsaan yang didirikan Ryaas Rasyid dan Andi Malarangeng dan kemudian beralih mendukung PDI-P yang dipimpin Megawati Soekarno. Setelah itu, dia hengkang ke Partai Demokrat dan ujung-ujungnya, keluar lagi. Sekarang ini dia berada dalam Dewan Perwakilan Daerah. Ketika undang-undang pembentukan provinsi Maluku Utara mencantumkan bahwa ibukota provinsi itu akan dipindahkan dari Ternate ke Sofifi di kepulauan Halmahera, hal itu otomatis membuat Sultan Ternate menjadi kehilangan kesempatan untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan di pusat kekuasaan Maluku Utara dan mempengaruhi masyarakatnya. Sofifi kebetulan berada dekat Malifut dan Kao. Sementara orang-orang Makian yang menguasai pemerintahan Maluku Utara tidak menyukai tindakan sultan yang dianggap mempolitisasi keadaan dengan kedatangannya ke wilayah orang-orang Kao. Sultan Ternate dianggap sebagai salah satu penyebab meruncingnya konflik antara orang Makian dan orang Kao yang tengah berlangsung di Halmahera waktu itu. Konflik pun merembet hingga ke Ternate dan memanas. Akibatnya Sultan Tidore Djakfar Syah pergi ke Ternate dan mencoba ikut menghentikan konflik agar tidak menjadi fatal, karena sebagian orang Tidore ikut menyerbu kedaton Ternate dan bertempur melawan Pasukan Kuning, yang tak lain dari pasukan Kesultanan Ternate. Pertempuran berlangsung selama lima hari. Mudaffar Syah akhirnya menyerah dan sebagai tanda menyerah, dia mencopot jubah sultannya dengan disaksikan pejabat sementara (pjs) gubernur Maluku Utara Sulasmin dan Sultan Tidore Djakfar Syah di kedaton Kesultanan Ternate.

Di sini pula terjadi kemiripan konflik di Maluku Utara dengan konflik Balkan. Seperti pasukan Kesultanan Ternate yang melawan orang-orang Makian dan Tidore, pengusaha kaya-raya dan kepala daerah di Bosnia Barat bernama Fikret Abdic memimpin pasukannya yang terdiri dari orang-orang Muslim untuk berperang di sisi pasukan Serbia-Bosnia yang Kristen dan didukung pasukan Yugoslavia untuk menggempur pasukan Muslim Bosnia dalam konflik Bosnia. Abdic malah memerdekakan wilayahnya sendiri dan menjadikannya sebagai bagian dari wilayah Serbia-Bosnia, yang kini disebut republik Srpska. Abdic ingin memiliki otoritas penuh di Bosnia Barat, yang tidak akan didapatkannya kalau bergabung dalam federasi Bosnia dan membuat Bosnia Barat hanya akan menjadi sebuah daerah dengan otonomi terbatas. Sementara di republik Srpska, dia mendapat posisi yang lebih menguntungkan, yaitu sebagai sekutu yang setara dan menjadi kepala negara Bosnia Barat.

Ketika keluar dari kedaton pada pukul 18.01, saya melihat bendera berlambang banteng gemuk itu sedang diturunkan dari tiangnya.


TELEVISI tengah menyiarkan bentrok antar warga kampung di Ambon pada siang, 11 September 2011. Rudi Fofid berdiri terpaku menatap layar televisi di lobi hotel di Jakarta Pusat. Baru saja dia menerima kabar dari adiknya di Ambon bahwa tulang-belulang ayah mereka yang menjadi korban konflik antar agama dan etnis 12 tahun lalu telah dipindahkan dan dimakamkan dekat makam ibunya. Tetapi kini orang-orang mulai ribut lagi. Dia cemas sejarah berulang.

Rudi masih ingat kejadian pada Selasa, 19 Januari 1999.

Dia siap-siap berkunjung ke rumah Zairin Salampessy, temannya yang tinggal di perbatasan Mardika-Batumerah. Ketika itu Hari Raya Idul Fitri. Zairin seorang Muslim. Dia menelepon Rudi dan memastikannya untuk datang, karena Ibu Zairin sudah menyiapkan soto kambing untuk disantap beramai-ramai.

Zairin menelepon lagi lima menit kemudian. Kali ini meminta Rudi membawa kamera, karena ada bentrok antar warga Mardika dan Batumerah, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tak berapa lama Rudi menerima telepon dari temannya yang lain, yang mengabarkan sekaligus menanyakan apakah benar ada gereja dibakar di Batumerah.

Rudi menelepon Zairin, menanyakan hal ini. Menurut Zairin, tak ada gereja yang dibakar. Tetapi rumah tetangganya telah berasap. Itulah rumah pertama yang dibakar dalam kerusuhan Ambon.

Ternyata isu gereja dibakar langsung menyebar ke mana-mana. Konflik antar kampung Mardika-Batumerah berubah jadi konflik Islam dan Kristen atau oleh warga dikenal sebagai konflik Salam dan Serani.

Setelah itu Zairin kembali menelepon Rudi. Dia minta dicarikan taksi gelap. Orang-orang berikat kepala putih hendak menyerbu rumahnya.

“Setahun setelah konflik Ambon, di Malut (Maluku Utara) konflik semua, kecuali di Pulau Bacan. Sultan Bacan waktu itu datang langsung dari Jakarta ke Bacan, bicara dengan umat Islam dan Kristen. Katanya, ‘Di tempat lain boleh konflik, tapi kita tidak akan terjebak.’ Sampai Januari 2000 (konflik) belum meledak di (Pulau) Bacan. Padahal di Maluku sudah berasap. Lalu datanglah Megawati Soekarno ke Ambon pada Januari 2000 sebagai presiden. Dari Ambon, dia ke Ternate. Waktu Megawati ke Ternate itulah Bacan berasap,” tuturnya.

“Ada kekuatan yang mengganggu pemerintah pusat untuk menggagalkan visi Megawati, bahwa perjalanannya tidak ada gunanya. Pada Januari 2000, suasana di Bacan, sebelum konflik, orang Islam membantu orang Kristen mengungsi ke Manado. Orang Islam mengantarkan ke kapal, membantu perbekalan, saling berpelukan, pelepasannya dengan suasana haru. Ribuan orang mengungsi. Orang mengungsi dalam suasana belum berkobar, karena orang Islam berkata, 'Pergilah mengungsi. Kalau Laskar Jihad datang, kami tidak bisa menghadang dan kami diwajibkan ikut.' Ini cerita orang-orang Kristen yang selamat dan yang mengurus Ayah saya,” lanjutnya.

Ayah Rudi, Paulus Fofid, adalah bekas kepala kampung di Wayamega, Bacan. Dia bekas serdadu KNIL dan pernah bertugas di Aceh.

“Ayah saya memimpin pensiunan atau purnawirawan TNI/Polri (Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia). Mereka pensiunan yang masih kuat (fisiknya), datang dari Maluku Tenggara ke Malut untuk bertani. Kampung kami itu baru dibangun tahun 1976. Di situ Ayah saya membangun masjid. Dia coba membuat kubah. Tapi bikin kubah itu susah. Jadi Ayah saya pergi ke Ternate dan bawa kubah masjid dari sana naik kapal. Dia bilang,”Orang muslim ini kasihan mereka. Mereka harus sembahyang di masjid. Biar dibikinkan masjid dan ada kubahnya. Kalau kita ini bisa di mana saja, tinggal susun-susun bangku, jadilah,” tutur Rudi.

Keluarga Rudi beragama Katolik.

Sebelum api kerusuhan berkobar di Pulau Bacan, Paulus meminta tolong pada syahbandar (kepala pelabuhan) untuk mengungsikan para perempuan dan anak-anak lebih dulu dengan kapal.

“Kabar Laskar Jihad akan datang sudah sampai ke telinga semua orang. Ayah saya selalu bilang ke syahbandar dan orang banyak yang mengajaknya pergi, ‘Ini rumah saya, masak saya keluar dari rumah saya. Saya ini selama hidup tidak pernah punya masalah dengan orang Islam, apalagi dengan Laskar Jihad. Mereka tidak bersalah pada saya. Saya tidak pernah salah dengan mereka.’ Begitu kata Ayah saya,” lanjutnya.

Kakak perempuan Rudi, Merry, baru saja lulus dari akademi kebidanan di Makassar. Dia menelepon Rudi dan mengabarkan akan menjemput ayah mereka untuk membawanya mengungsi.

“Karena bapak itu kepala batu, katanya. Kakak bilang, dia mau memaksa bapak keluar dari situ. Kakak sampai di Ternate dan dia bilang, tidak ada orang Kristen lagi di sana. Dia sempat foto-foto gereja, , lalu dia pergi ke Bacan. Jaraknya semalam dari Ternate. Malam pergi, pagi sampai,” kata Rudi.

Begitu tiba di Bacan, Merry dan Betty, kakaknya yang lain, segera menyiapkan diri untuk mengungsi. Mereka memberikan bermacam barang ke tetangga-tetangga Muslim di kampung. Mereka hanya akan membawa pakaian secukupnya dan surat-surat berharga saja.

Pada 28 Januari 2000, Laskar Jihad benar-benar datang ke Wayamega. Takbir itu sudah terdengar kurang lebih 500 meter dari kampung tersebut. Orang-orang mulai mengungsi ke hutan. Dua jam lagi, sebelum orang-orang berpakaian putih itu tiba, warga meminta Paulus dan dua anak perempuannya ikut mengungsi. Paulus mendadak berubah pikiran.

“Buat apa ke hutan? Kalau mati, saya mau mati di rumah ini, kata Ayah. Usia Ayah saya waktu itu 88 tahun. ‘Saya sakit reumatik dan kalau saya ke hutan, reumatik saya kumat, repot kalian. Kalian semua pergi semua, pergi,’ pinta ayah saya kepada dua kakak saya. Ada orang datang dan minta kakak-kakak saya pergi. Tapi mereka menolak pergi. Apa jadinya kita kalau pergi tinggalkan Bapak? Kita jadi orang gila kalau bapak sampai meninggal, kata kakak-kakak saya,” kenang Rudi.

Seminggu kemudian, Rudi mendapat kabar bahwa jenazah ayah dan dua kakak perempuannya telah ditemukan dalam keadaan terpotong, tertembak dan terbakar, di luar rumah.

“Orang-orang Muslim di kampung kami kemudian menggali kubur seadanya dan menguburkan mereka,” katanya.

Terlepas dari konflik itu, menurut Rudi, di Maluku Utara, Tengah, Tenggara, ada banyak etnis dan secara politik pun bisa saling bersaing. Perbedaan-perbedaan budaya juga nyata dan berpotensi untuk disulut jadi masalah.

Tidak hanya di Maluku Utara, bentrok antar warga atau antar kampung juga biasa terjadi di Jawa masa kini dan masa lalu. Masalah timbul, karena ada warga yang mencuri ternak atau mengganggu pengaturan irigasi. Persoalan-persoalan khas kampung itu tercantum dalam laporan para pejabat Belanda memasuki era tanam paksa di Jawa, antara 1830 sampai 1870.

Asap konflik akan tampak jelas, karena ia membubung tinggi dan terus membubung ke langit hingga dapat disaksikan dari tempat-tempat jauh. Sementara api masalah justru berada dalam kehidupan warga sehari-hari dan berkobar ketika pemerintah tidak menegakkan hukum dengan adil.

Rudi menjabat wakil pemimpin redaksi harian Suara Maluku. Dia bekerja di suratkabar tersebut sejak 1993. Tubuhnya kurus. Penampilannya lebih mirip seniman. Rambut gondrong keriting. Dia mengenakan setelan kaos oblong dan celana jins. Cara bertuturnya lancar. Kalimat-kalimatnya teratur. Dia bercerita seperti menulis.

“Umat kita lima tahun sekali mengikuti ajang politik dan tiap lima tahun sekali digiring ke fanatisme kelompok dan agama. Apalagi kami dari Maluku Tenggara (Tual, Kei), yang di situ kami hidup di tengah kultur Katolik. Di Maluku Utara, kita hidup di tengah kultur Muslim. Di Ambon, sangat Prostestan,” katanya.

Tapi di lain pihak, Rudi berpendapat bahwa kontak-kontak lintas etnis sudah terjadi sejak dulu. Tanpa membentuk negara pun orang sudah membutuhkan hal itu dengan sendirinya, bahkan hubungan itu mungkin lebih luas dari Indonesia sekarang ini. Kalau misalnya tidak ada kemerdekaan atas nama Indonesia, mungkin wilayah-wilayah ini akan membentuk sendiri wilayah yang lebih luas dari negara ini, katanya.

“Negara merupakan alat bantu atau manajemen modern. Kesultanan-kesultanan adalah manajemen lama, yang dalam sistem yang demokratis itu tidak bisa. Tapi yang penting apa yang ada dikelola untuk kesejahteraan umum. Yang penting membuat orang merasa bahwa hidup itu berharga dan mempunyai masa depan.”

 

Catatan: Wawancara dengan Edib Bukvic dilakukan Tubagus Budhi Firbany untuk membantu saya melengkapi tulisan ini. Pada 1999 Budhi menulis tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Drazen Erdemovic untuk kajian hukum internasional. Drazen seorang mantan atlet karateka nasional Yugoslavia yang membuat organisasi milisi untuk membantai orang-orang Bosnia. Dia orang Kroasia kelahiran Bosnia. Kelak milisi Drazen ini disubordinasikan dalam kesatuan pasukan federal Yugoslavia dan dia jadi komandan unit detasemen Sabotase X. Pasukannya membantai sedikitnya 1500 etnis Bosnia. Dalam pengakuannya di Mahkamah Internasional, Drazen, mengatakan telah membunuh 70 orang Bosnia dengan tangannya sendiri. Perang Bosnia berlangsung dari 1992 sampai 1995.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates