Loading

Penjajahan yang Buruk dan Perdamaian dengan Masa Lalu (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 02/02/2014

Pidato Linda Christanty dalam pembukaan diskusi festival sastra Winternachten bertajuk “De Grote Vervreemding: Oost-West 1945-1950” di Den Haag, 18 Januari 2014.

TIAP penjajahan adalah buruk. Hanya orang bodoh yang berpikir bahwa penjajahan punya sisi baik dan sisi buruk. Pemikiran semacam itu membuat kita terjebak membenarkan pembunuhan atau pembantaian manusia demi alasan yang kita anggap lebih penting. Pemikiran semacam itu membuat kita maklum bahwa penjajahan merupakan titik keseimbangan dalam interaksi antarbangsa. Pemikiran semacam itu membuat kita menganggap tiap kekejaman punya tujuan baik demi keseimbangan dunia. Ketika semua orang memiliki kesimpulan semacam itu, maka hukum tidak lagi diperlukan dan keadilan mustahil ada. Pencaplokan wilayah menjadi hal biasa dan jerih-payah Hugo Grotius, bapak hukum internasional atau hukum laut, untuk membuat peta interaksi antarbangsa yang lebih bermartabat menjadi sia-sia.

Dari sejarah, kita mengetahui bahwa selama 800 tahun Al Andalus atau Andalusia (wilayahnya dulu meliputi Spanyol, Portugis dan sebagian Prancis Selatan) menolak tunduk kepada kekuasaan Islam. Karena itu, orang-orang Spanyol melakukan penaklukan kembali atau reconquista. Padahal penguasa Islam tidak melakukan kekerasan terhadap penduduk negeri yang ditaklukkannya. Padahal para bangsawan Mor-Islam dan Spanyol-Kristen sudah melakukan kawin campur. Mengapa? Karena tidak ada keadilan dalam penjajahan. Maka orang-orang Andalusia menolak tunduk kepada penjajah mereka. Ketika itu Andalusia adalah pusat peradaban Islam.

Kekuasaan Islam di Kordoba jatuh ke tangan Fernando de Castilla pada 1236, sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berhasil ditaklukkan Afonso II pada 1249. Benteng Islam terakhir di Granada jatuh ke tangan orang-orang Kristen pada 1492.

Pembalasan ini berlanjut. Setelah menemukan Tanjung Harapan, Vasco da Gama menaklukkan kerajaan Islam Goa di India dan menjadikannya koloni kerajaan Portugal. Alfondo de Albuquerque menaklukkan kekuatan Islam di Malaka dan menemukan jalan ke Nusantara. Penaklukan ini menandai era penjajahan Barat di Nusantara.

Awal dari penjajahan ini adalah pembalasan dendam terhadap penjajahan Islam di masa lalu, dengan kejam dan tanpa ampun.

Di Afrika Selatan, Hindustan (kini India, Pakistan, Bangladesh) dan Indo-China, kolonialisme Barat menghancurkan kekuatan Islam. Rute kematian dan darah tersebut dibuka dengan semboyan ‘gospel’, ‘gold’ dan ‘glory’. Hasilnya? Pemusnahan suatu bangsa oleh bangsa lain.

Tragedi dunia itu mengiringi sejarah keluarga kami. Kakek saya, Sultan Agung Tirtayasa dari Banten, dulu pusat kerajaannya paling dekat dengan pusat VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) di Batavia. Antara Kesultanan Banten dan VOC hanya dipisahkan sungai atau kali Angke. Sebelah timur kali Angke adalah VOC, sedangkan sebelah baratnya adalah Kesultanan Banten. Orang-orang Banten awal mulanya tak mempermasalahkan tanah mereka dirampas VOC, di masa kekuasaan gubernur jenderalnya yang legendaris dan akhirnya mati sakit perut itu, Jan Pieterszoon Coen. Tetapi VOC tidak pernah puas. VOC menggeser perbatasannya hingga masuk sejauh 40 kilometer ke dalam wilayah Kesultanan Banten, hingga mencapai sungai Cisadane. Perbuatan VOC tersebut mirip cara pemerintah Israel menggeser perbatasannya dengan Palestina sebelum tahun 1967, hingga masuk ke wilayah Palestina di Jerusalem Timur. Kini tiga wilayah Palestina, Tepi Barat, Jalur Gaza dan Jerusalem Timur, berada dalam wilayah Israel.

Keluarga kami terpecah dan bermusuhan. Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Gusti yang berambisi menjadi sultan meminta dukungan VOC untuk memberontak terhadap ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa. Pada April 1684 dia dilantik Belanda sebagai Sultan Banten ke-7, dengan nama penobatan Sultan Abu Nazar Abdul Qohhar, dan digelari Sultan Haji, karena dia sudah dua kali naik haji ke Mekah sebelum dilantik jadi sultan. Ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa, menghabiskan sisa hidup sebagai tawanan perang di kastil Batavia dan wafat setelah dipenjara selama sembilan tahun oleh VOC, musuh besar yang dibencinya seumur hidup. Adiknya, Pangeran Purbaya, dibuang oleh VOC selama 14 tahun ke Nagapattinam, Tamil Nadu, India Selatan.

Tetapi jangan menyebut saya rasis.

Saya tidak pernah membenci orang-orang Belanda secara individu ataupun sebagai sebuah bangsa, tapi saya tak pernah berpihak kepada siapa pun yang menjajah bangsa lain.

Kakek saya yang lain adalah Ratu Bagus Muhammad Urip Johannes Camphuys. Dia cucu Pangeran Purbaya, putra Sultan Agung Tirtayasa, sekaligus cucu gubernur jenderal Belanda Johannes Camphuys.

Penjajahan adalah buruk. Bukti-bukti itu tak bisa dipungkiri.

Sekalipun satu ras dan satu agama, Belgia dan Belanda yang tadinya satu negara berpisah pada tahun 1830. Belgia memerdekakan diri. Mengapa? Karena orang-orang Belgia merasa dijajah. Padahal orang-orang Belanda tidak pernah memaksa orang-orang Belgia menanam cengkeh atau pala seperti yang dialami orang-orang Maluku dan tidak ada pelayaran Hongi yang membantai manusia dan pohon di Maluku terjadi di Belgia.

Setelah VOC bangkrut di Hindia Timur, pemerintah Belanda mengambilalih kepemimpinan di wilayah jajahannya. Situasi berubah ketika tentara Jepang yang berpura-pura menjadi “saudara tua” bagi orang-orang Indonesia mengalahkan penjajahan Belanda. Pada 8 Maret 1942, pemerintah Belanda secara resmi menyatakan kalah kepada tentara Jepang dan menandatangani Perjanjian Kalijati.

Jepang segera menunjukkan watak aslinya: ingin menjajah Indonesia. Tetapi masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak lama. Jepang menyerah kepada Sekutu sesudah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom.

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. Belanda tidak menerima kenyataan ini. Belanda mendompleng pasukan Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia lagi. Di lain pihak, Sekutu mengakui hak Indonesia untuk menjadi negara merdeka. Buktinya? Sekutu membuat perjanjian soal penanganan tawanan perang Jepang dan interniran Sekutu dengan Indonesia, meskipun perjanjian ini merupakan fait accompli terhadap perjanjian London pada 24 Agustus 1945, yang isinya Inggris mengakui hak Belanda atas bekas jajahan Jepang di Hindia Belanda yang sudah ditaklukkan Sekutu.

Belanda menyerang Indonesia pada 15 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 dan menyebut serangan-serangan itu sebagai Aksi Polisionil atau tindakan pemerintah yang sah dalam menangani ancaman dari penjahat atau siapa pun yang mengganggu stabilitas dalam negerinya. Tetapi Indonesia menyatakan serangan itu sebagai Agresi Militer terhadap sebuah negara merdeka dan berdaulat, bernama Indonesia. Ketika itu Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bagi Belanda, kemerdekaan Indonesia berlangsung pada 27 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan di Amsterdam.

Perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia ini berlangsung sangat lama dan baru berakhir beberapa tahun lalu ketika menteri luar negeri Belanda menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2005 atas undangan pemerintah Indonesia. Dalam hukum internasional, kehadiran menteri luar negeri Belanda itu disebut “pengakuan diam-diam”, yaitu suatu tindakan hukum yang menunjukkan bahwa negara yang melakukannya sudah mengakui suatu keadaan yang sudah terbentuk dan menyetujuinya. Dengan kata lain, “pengakuan diam-diam” itu menegaskan bahwa apa yang dilakukan pemerintah Belanda pada 15 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 adalah serangan terhadap sebuah negara berdaulat dan melanggar hukum internasional.

Kedatangan saya di Belanda untuk pertama kali ini bukan untuk membangkitkan mimpi buruk bagi orang-orang Indonesia dan Belanda, tapi menjadi sebuah kedatangan perdamaian bagi masa lalu. Dan untuk keluarga saya, Kesultanan Banten, saya pun sudah memaafkan seluruh penderitaan yang terjadi di masa lalu atas nama mereka.***

Den Haag, 18 Januari 2014




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates