Loading

Para Pencerita (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 02/22/2010

KOPER COKLAT itu masih di tempatnya yang dulu, di samping pintu dapur. Kulitnya tidak lagi mengilat,  telah mengelupas di sana-sini, bersalut debu. Dua lempeng kuncinya yang terbuat dari aluminium pun sudah berkarat. Itu koper Hasril, abangnya.  Fahmi tak paham mengapa koper itu ditinggalkan Hasril di rumah ini. Letaknya pun tak lazim. Bukan di kamar tidur, tapi dekat dapur. Semua penghuni rumah bahkan ikut menerlantarkan koper tersebut di saat wujudnya jauh lebih baik dari sekarang. Lagipula tak seorang pun di kampung mereka yang bepergian membawa koper seperti Hasril. Ia mengelana lebih jauh dibanding siapa pun. Ia menyeberangi lautan dan benua.

Dulu Fahmi mengira abangnya tak akan pulang lagi. Surat-suratnya untuk ibu pun makin jarang. Ia sering mendengar ibu mengeluh pada saudara atau tetangga dekat mereka tentang rasa rindunya pada Hasril, si sulung. Terpaut dua tahun dengan Hasril adalah Cut Nas, kakaknya yang nomor dua. Setelah itu Cut Rum, si nomor tiga, dan ia sendiri yang lahir sebagai si bungsu. Usianya dan Hasril terpaut jauh. Dua belas tahun.

Suatu hari ia mendengar ibu, kakak-kakak, dan bibinya membicarakan rencana kepulangan Hasril. Ia turut senang, meski tidak pernah dekat dengan abangnya itu. Ia ingin menyimak kisah-kisah yang dibawa Hasril dari tanah rantau. Dua bulan sebelum Hasril pulang, seisi kampung sudah mengetahui rencananya.

Hampir delapan tahun abangnya tinggal dan bekerja di Amerika. Hasril akan pulang untuk menikah. Ketika ia kembali, rumah mereka siang-malam didatangi orang kampung dan sejumlah pemuda dari kampung tetangga. Mereka tidak minta oleh-oleh, hanya ingin mendengar cerita Hasril dari belahan bumi yang lain.  Namun, tiga hari sesudah pesta penikahan, abangnya kembali ke tanah rantau dengan membawa sang istri. Hasril tidak betah berlama-lama di kampung. Ia mendengar bisik-bisik tukang masak di dapur bahwa perut abangnya sudah tidak sanggup lagi menerima pedas kuah plieu dan legit ketan srikaya.

Cut Nas senyum-senyum saja. “Abang pulang cepat, karena dia harus cepat masuk kerja,” katanya, membela Hasril.

Cut Nas mengatur pernikahan Hasril dari awal hingga akhir, dari hulu sampai hilir. Cut Nas menyelidiki tiap keluarga yang memiliki anak perempuan lajang, memilih calon yang dianggapnya tepat untuk sang adik: santun, pandai mengurus rumah, dan rajin beribadah.

“Lebih baik Hasril menikah dengan orang kampung kita. Kalau menikah dengan orang sana, sudah pasti dia tidak akan pulang lagi,” ujar Cut Nas, suatu hari.

Anggapan Cut Nas tidak terbukti, setidaknya sampai hari ini. Kepulangan Hasril untuk menikah jadi kepulangannya yang terakhir.

Fahmi bahkan tidak mengenal rupa anak-anak abangnya. Terakhir kali Hasril berkirim surat pada ibu, saat bayi pertamanya lahir. Potret bayi gemuk berambut jarang itulah yang dibingkai dan dipajang ibunya di dinding ruang tamu, dibangga-banggakan pada sanak-saudara yang datang.


IA MEMANDANG ke arah taman dari ambang pintu dapur ini, setengah melamun. Taman di tengah rumah orangtuanya menjelma kebun semak dan perdu. Ranting dan dahan pohon-pohon telah tumbuh liar, merentang bagai jari-jari yang panjang dan kaku.  Kotoran kambing berserak di tanah. Dan di bekas kolam ikan mujair itu ia melihat bayi-bayi katak berenang dalam air coklat kehijauan seperti agar-agar.

Rumah pusaka ayah dan ibunya kini tinggal rangka. Dinding-dinding sudah tak ada. Sebagian tiang kayu berlubang-lubang, dimakan ngengat.

Seekor kupu-kupu kuning terbang dari arah taman, menuju ruang demi ruang, mendahului langkahnya menuju bekas kamar ibu dan ayah, kamar saudara-saudaranya, kamar tamu….

Di muka pintu kamar tamu ia tertegun-tegun.  Dulu ada ranjang besar dari besi di dalamnya. Kasur kapuk di ranjang itu tidak pernah dilapisi seprei, kecuali saat tamu menginap. Di atas ranjang tersebut ia berbaring di antara tubuh para pencerita,  mendengar celoteh  mereka yang tak henti-henti.

Sesekali ada yang berteriak, “Hei, ada anak kecil!” ketika melihat mulut bocahnya menganga.. Setelah itu sepasang tangan lembut-sejuk menutup kedua telinganya. Tangan kakaknya, Cut Nas. Tangan ibu, berat dan kasar berparut-parut.

Keasyikan bercerita sering membuat mereka lupa pada bagian yang terlarang untuk kanak-kanak. Bila mereka tertawa, ia akan ikut tertawa. Ketika seseorang menangis, ia dapat merasakan kepedihan di hatinya. Kadangkala ia juga menangis saat teringat kisah sedih itu dua atau tiga hari kemudian.

Ketika ayah berbulan-bulan  meninggalkan rumah, ia menemukan sebabnya dari percakapan para perempuan ini. Ayah sudah menikah lagi, kata mereka. Ia melihat ibunya menangis berhari-hari, tapi menyiapkan makanan dan keperluan ayah seperti biasa saat lelaki itu kembali.

Tidur dengan mereka tidak hanya membuatnya menyadari kekuatan kata-kata dan sihir rahasia terpendam, juga menanggung gatal-gatal di kepala. Kutu-kutu rambut mereka terbang, berloncatan, bermukim, dan berbiak di kepalanya dengan riang-gembira, seperti pencari emas menemukan tambang baru.

Ia punya satu rahasia tentang kutu-kutu tadi. Belum pernah diceritakannya pada ibu, kakak-kakaknya, bibi, apalagi Wak Nur.

Siang itu ia hendak mencicipi kari sapi Wak Nur yang terkenal lezat,  santapan kesayangan keluarganya. Sendok sayur dari batok kelapa telah siap di tangan kanan. Piring kecil porselen di tangan kiri. Belum sempat daging empuk serta kuah gurih tersebut tertuang ke piring, kutu-kutu telah mendahuluinya bertindak sebagai tuan.

Hawa panas tungku menendang kutu-kutu keluar dari belukar rambut, berebut mencari dingin. Namun, binatang-binatang malang ini justru hijrah ke tempat keliru: neraka jahanam dalam kuali.
Kutu-kutu terjun bebas ke kuali berisi kuah mendidih, lalu ditelan cairan jingga kental harum itu sebagai serpih bumbu. Beberapa ekor sempat merayap turun ke keningnya, bagai para pendaki tersesat menuruni tebing terjal, lalu kocar-kacir kembali ke semak rambutnya yang rimbun-kusut.

Wak Nur sibuk keluar-masuk dapur mengangkat piring-piring kotor ke dekat sumur dan sesekali berteriak gusar kepadanya, “Hei, hei… Fahmi, jangan dekat-dekat api,” tanpa mengetahui peristiwa yang menjijikkan baru saja terjadi. Enam tahun usianya saat itu.

Kutu-kutu berangsur lenyap begitu kebiasaan tidurnya bersama para perempuan berkurang. Namun, pengalaman berada di antara mereka yang berceloteh, tertawa terbahak-bahak, berbisik-bisik, saling mencela di antara kalimat yang sembur-menyembur di udara diiringi ludah masing-masing yang memercik-mercik bagai rintik gerimis pagi atau petang itu sungguh berkesan dan tak tergantikan dengan mainan apa pun yang dibeli ibu di pekan.

Siang itu ibunya tak ada di dapur. Ia lalu mencari ibu ke mana-mana. Di kamar, di ruang depan, di kebun belakang, di sumur… Ia menangis. Cut Nas tak menyahut ketika ia menanyakan ibu. Semua orang tampak bersekutu. Mereka menggeleng, atau diam. Kakaknya malah sibuk mengambil piring, menyendok nasi dan lauk-pauk, lalu menyuapinya makan. Wak Nur mondar-mandir mengangkat panci dan piring-piring bersih dari sumur ke dapur. Lama-kelamaan ia asyik mengunyah dan berhenti menangis.

Para perempuan berkumpul di sore hari, duduk-duduk di bangku di bawah pohon jambu air di halaman belakang. Ia langsung berlari ke tengah mereka, melompat ke pangkuan bibi. Rasanya ada yang kurang tanpa ibu.  Kali ini mereka justru membicarakan ibu, yang pergi mengunjungi kakek dan neneknya di kampung lain. “Ibu ingin berpisah dari ayah,” bisik Cut Nas.

Dua kakaknya, Cut Nas dan Cut Rum, sibuk berunding tentang siapa yang akan ikut ayah dan siapa yang akan tinggal bersama ibu. Ia lebih suka ikut ibu. Ayah tidak pernah mengajaknya bermain dan selalu pergi. Namun, situasi yang mereka bayangkan urung terjadi. Tak berapa lama ibu pulang ke rumah. Setelah itu ia meladeni ayah, seperti biasa. Hanya ada satu perubahan: ibu tidak pernah lagi bicara pada ayah. Mereka tinggal serumah, tapi tidak saling bicara. Jumlah istri ayah pun terus bertambah, menyamai jumlah anak ayam mereka di kandang: selusin.

Kata Wak Nur, istri yang melawan suami akan jauh dari pintu surga, begitu pula anak yang tak patuh pada orangtua. Bibi menyatakan bahwa ia tidak akan mau diperistri lelaki macam ayah dan surga adalah rahasia Allah, bukan urusan manusia. “Ya, ya, benar, ada di Quran,” cetus Cut Rum, kakaknya yang nomor dua. Wak Nur terdiam, lalu bersuara lagi, “Tapi menurut hadis, berdosa kalau lebih dari tiga hari tidak mau bertegur sapa dengan orang.”

Lama-kelamaan ayah makin jarang pulang. Setiap hari ibu, bibi, Wak Nur, dan kakak-kakaknya membuat penganan untuk dijual.

“Ayah tidak memberi kita uang belanja, Nak. Uang sekolah Bang Hasril di Banda harus ibu yang tanggung juga. Ampon Fahmi jangan minta uang jajan lagi ya. Makan kue yang ibu buat saja, Nak,” kata ibu.

“Ayah juga menjual perhiasan-perhiasan ibu, termasuk pemberian nenek,” bisik Cut Nas, mencegahnya merengek minta dibelikan mainan baru.

Ia pun sering makan kue sisa. Nagasari bikinan ibunya sungguh legit dan gurih. 
Jumlah para pencerita makin berkurang di ranjang kamar tamu. Ibu dan bibi jarang hadir. Ibu sering bepergian, entah ke mana.

“Ke orang pintar. Biar ayahmu betah di rumah,” ujar Wak Nur, tiap ia mencari ibu.

Bibi?

“Sudah, jangan ditanya-tanya. Makan terus boh rom rom itu,” tukas Wak Nur, menyodorkan sepiring kue bulat hijau berisi gula merah.

ORANG-ORANG bersenjata mendobrak pintu depan malam itu. Mereka mencari ayahnya dan bibi. Ibu memeluknya erat-erat di kursi tamu. Kedua kakaknya berpelukan dan bertangis-tangisan.
Mereka membentak-bentak ibu. Ayah tidak ada di rumah. Ia bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kali melihat ayah. Ibu tidak tahu ayah di mana. Bibi juga tak ada. Orang-orang bersenjata kemudian keluar rumah, menuju kandang ayam. Mereka mengambil semua ayam betina maupun jantan, kecuali anak-anak ayam. Riuh-rendah suara ayam bersaing dengan degup jantung ibu.

Keesokan harinya, para pencerita berkumpul lagi di ranjang besar, tanpa bibi.

“Bibimu beberapa kali memberi nasi dan lauk-pauk dari dapur untuk laki-laki itu,” tutur Wak Nur.

“Tidak mungkin orang lapar ditolak,” tukas ibu.

“Lelaki siapa?” tanya Cut Nas.

“Pacar bibi,” sahut Cut Rum.

“Pantas saja bibi tidak mau dinikahkan nenek dengan haji kaya itu. Rupanya bibi sudah ada yang punya,” kata Cut Nas, tertawa-tawa.

“Dia biasa menemui bibi di kebun pisang, Kak.” Cut Rum, menjulurkan lidahnya.

“Hei, jangan jadi bahan tertawaan dan bicara keras-keras. Dinding-dinding ini punya telinga, Nak,” tegur ibu.

Di balik dinding yang menurut ibunya bertelinga ini dulu ada kebun pisang. Sekarang kebun telah berubah jadi hutan. Fahmi hanya mendengar desau angin. Ditatapnya bukit di kejauhan sana. Lelaki itu menuruni bukit dalam keadaan lapar, pikirnya.

Bibi tidak ada di rumah nenek. Ibunya mulai cemas. Ia mendatangi pos tentara di kampung mereka, menanyakan adiknya. Mereka menyatakan tidak mengenal bibi dan tidak pernah menangkap siapa pun.

Bibi tidak pernah kembali ke rumah. Tapi ibu sama sekali tidak mencari ayah. Ketika ayah pulang ke rumah, ibu malah tidak berbicara sepatah kata pun.

PEMUDA PUJAAN Cut Nas tinggal di seberang rumah ini. Berperawakan tinggi langsing, berkulit kuning bersih. Abas namanya, pemilik vespa kuning menyala. Orangtua Abas berjualan alat-alat jahit. Mereka membuka toko di tepi jalan raya. Mesin jahit, benang, gunting, jarum, kancing baju, resleting…. dijual di situ. Tiap hari Abas membantu orangtuanya menjaga toko.

Gara-gara tergila-gila pada Abas, Cut Nas ingin semua orang di rumahnya pandai menjahit. Dengan begitu, ia bisa menawarkan diri membeli alat-alat jahit yang mereka butuhkan. Ia jadi punya alasan untuk bertemu pujaan hati.

Namun, di mana-mana, di dunia ini, cinta pertama memang hanya untuk dikenang dan harus mengalah kepada cinta berikutnya. Bisa dengan jalan damai atau perang. Bisa dengan sukarela atau penaklukan. Cinta pertama Cut Nas tamat secara paksa. Ayahnya lebih senang ia menikah dengan Abas yang lain; seorang duda beranak satu, keturunan uleebalang.

“Teuku Abas itu orang bako,” kata ayah.

Orang mapan. Cut Nas tidak akan terlantar di masa depan.

Di tahun-tahun awal pernikahan mereka, cinta lama Cut Nas kepada pemilik vespa itu ternyata belum pudar. Kekecewaan pada suami jadi tumpahan minyak tanah pada nyala api yang seharusnya telah padam untuk Abas yang satu ini. Dua kali ia mengajak Abas Vespa melarikan diri. Lelaki itu menolak terang-terangan. Naluri dagang Abas mengalahkan bisikan cintanya.  Ia memilih mewarisi toko ketimbang istri orang.

Suami Cut Nas  berkali-kali mengajak perempuan menginap di losmen mereka, dekat pasar ikan itu. Berkali-kali pula Cut Nas memergoki perbuatan Teuku Abas. Batas kesabarannya  perlahan runtuh. Ia sudah tak tahan.

Suatu hari ia mengejar kekasih suaminya, dengan rencong di tangan. Korban jiwa tak ada, karena ia tak rela masuk bui gara-gara perempuan simpanan. Ia hanya ingin melampiaskan sakit hati, menakut-nakuti perempuan berambut merah semir itu. Namun, adegan seperti tadi tak cuma sekali. Rumah tangganya mirip permainan kucing-tikus, gaduh dan jauh dari tenang. Ia pun minta cerai. Berkali-kali.
Fahmi sering mendengar abang iparnya  membalas tuntutan kakaknya. Lelaki itu menyebut kata yang sama dengan nada lebih tinggi dan melengking: cerai, cerai, cerai! Namun, ia hanya pemberani dalam kata-kata. Sampai tujuh anak mereka lahir,  suami-istri tersebut masih seranjang juga. Teuku Abas enggan melepas istrinya.

“Kak, untuk apa lagi tambah anak? Masalah makin tak selesai,” cetus Fahmi, suatu hari. Tiap kali menghadapi masalah, Cut Nas selalu bercerita padanya.

Tapi orangtua mereka berbeda paham. Orang-orang tua selalu menganggap kelahiran anak bisa merekatkan pernikahan yang menjelang retak atau sudah retak. Tapi pernikahan kakaknya tak hanya retak. Ibarat batu, sudah terbelah dan terserak-serak.

Cut Nas sudah menguatkan hati untuk berpisah dari suaminya. Namun, ia terbentur perkara agama. Perempuan bukan pihak yang bisa menjatuhkan talak. Perpisahan atau kebersamaan ditentukan laki-laki. Ia harus menunggu sampai Teuku Abas mati selera terhadapnya, mencampakkannya laksana sampah ke krueng yang hitam-pekat dan bau. Tentu saja, kemungkinan itu tipis sekali. Nasibnya pasti lebih buruk dari sampah. Teuku Abas lebih suka menyimpannya di gudang, sebagai barang rusak.

Suatu kali Cut Nas coba-coba mengambil jalan pintas. Ia minum obat nyamuk cair. Orang serumah kalang-kabut melarikannya ke rumah sakit, sedang Teuku Abas pingsan di ruang tamu. Seminggu, dua minggu, sampai sebulan, Teuku Abas tampak setia dan jinak serupa anak kucing. Sesudah itu, sebuah mobil pikap berisi sepuluh orang di bak belakang merayap di halaman losmen. Cut Nas menyongsong tamu-tamunya dengan riang. Ia mengira mereka hendak menyewa kamar-kamar. Lelaki di sisi pengemudi memperkenalkan dirinya sebagai wiraswasta dari Medan. Ia mencari istrinya yang dilarikan Teuku Abas.  Di bak belakang itu para tukang pukul yang siap menjadikan Teuku Abas umpan tinju.

Malam itu Teuku Abas pulang bersiul-siul. Pertanda hati riang. Belum sempat ia melepas sepatunya di belakang pintu, Cut Nas langsung melontarkan kata “cerai”. Teuku Abas langsung pingsan, karena terkejut.  Badan tambunnya membutuhkan lima orang untuk mengangkutnya ke labi-labi yang siap melaju ke rumah sakit terdekat. Cut Nas khawatir darah tinggi sang suami menyerang otak dan membuat lelaki durjana ini lumpuh mendadak, sehingga ia terpaksa merawatnya seumur hidup.

Ternyata Teuku Abas tak harus menginap di rumah sakit. Ia cepat siuman. Menurut dokter, ia bebas darah tinggi. Tapi jantungnya lemah sekali.
Begitu dilihatnya wajah-wajah rombongan pengantar di seputar ranjang pasien, Teuku Abas terharu dan melontarkan ajakannya yang terkenal itu: makan mi di restoran. Beramai-ramai mereka pun makan mi kepiting. Ajakan ini biasanya mengakhiri pertengkarannya dengan sang istri akibat ulahnya sebagai si mata keranjang.

“Kalau gencatan senjata, kenapa selalu harus dengan makan mi? Apa tak ada makanan lain, yang lebih enak dan mahal,“ ujar Fahmi, mengenang sifat pelit abang iparnya.

Namun, Cut Nas berbeda dengan ibunya. Ia tidak memilih diam. Ia hanya menunggu kesempatan bertindak. Suatu malam ia mengenakan pakaian hitam-hitam, mengendap-ngendap ke losmennya sendiri, mendekati salah satu pintu. Ia mendengar bisik-bisik para pegawai tentang suaminya yang nekad membawa perempuan lagi.

Ditendangnya pintu sekuat tenaga, diiringi lengking marah bercampur sakit hati yang begitu panjang. Di sudut kamar itu, seorang perempuan meringkuk dan menggigil, memeluk bantal. Teuku Abas terbaring telanjang di ranjang dan tak pernah bangun lagi.

Sesudah peristiwa itu Cut Nas pindah ke kota lain bersama tujuh anaknya, membuka losmen baru, dan terus menjanda. Sesekali Fahmi datang berkunjung. Cut Nas masih selalu hangat dan gemar bercerita. Tiada peristiwa dahsyat yang mampu mengubah watak aslinya.  Cut Rum merantau ke Jakarta, berdagang mi dengan suaminya. Sudah empat anak mereka. Laki-laki semua. Wak Nur dan ibunya sudah tak ada lagi. Bibi hilang sampai kini. Namun, ia masih selalu merindukan para pencerita ini. Selalu merindukan mereka.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates