Loading

Panglima Hasan dan Haji Mahmud (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 08/10/2010

SALAH satu guru mengaji saya waktu kecil bernama Ustadz Zakaria, yang tak lain keponakan kakek saya sendiri. Kami memanggilnya Pak We (tua) Zakaria. Ia dan anak perempuannya yang sulung, Rugayah atau kami memanggilnya Yuk Yah, bergantian mengajari saya dan adik-adik mengaji. Adik-adik saya berkali-kali khatam, sedang saya berkali-kali bolos dalam tiap putaran.

Sewaktu kecil, Pak We Zakaria sangat dekat dengan kakeknya yang amat terkenal, Panglima Hasan Badi, salah seorang panglima perang dari Panglima Amir, yang melawan penjajah kolonial Belanda di Bangka pada pertengahan abad ke-19.

Ayah nenek buyut ayah saya (sangat rumit menjelaskannya dalam kalimat singkat dan mudah dipahami), Batin Tikal, juga ikut dalam perang Panglima Amir ini. Dulu Amir pejabat kolonial Belanda. Ia berkuasa atas dua kampung, Mendara dan Mentadawai. Tetapi hanya setahun ia bekerja, Amir pun dipecat Belanda. Hal itu pula yang membuat Amir memberontak terhadap Belanda pada 1848. Berbeda dengan Amir, Batin Tikal tak pernah jadi pejabat kolonial Belanda. Ia diangkat sebagai Batin Pasirah oleh Sultan Muhammad Bahauddin, ayah Sultan Mahmud Badaruddin II dari Kesultanan Palembang. Wilayah Batin Tikal merupakan wilayah merdeka terakhir di Pulau Bangka sampai 1851. Ia berperang berkali-kali dari tahun 1797 sampai tahun 1851, melawan perompak Lingga, tentara Inggris, tentara Belanda dan para saingannya, para bupati, batin, depati, demang dan tumenggung. Setelah perang habis-habisan pada 1851, ia dijebak untuk berunding dengan Belanda yang diwakili Tumenggung Kertanegara, Abang Muhammad Arifin dan komandan militer Belanda Mayor Becking di Sungai Selan. Setelah itu ia dan para pengikutnya dibuang ke Manado, Sulawesi Utara.

Kisah keluarga kami ini juga ditulis Erwiza Erman, seorang peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dalam bukunya Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung. Ia pernah datang ke Bangka dan mewawancarai adik saya, Budhi, dan ayah saya. Sebagian dokumen sejarah keluarga kami tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden di Negeri Belanda.

Lanturan saya ternyata begitu panjang, tetapi penting untuk menjelaskan duduk perkara. Nah, sekarang kita kembali pada sang tokoh utama, Hasan Badi.

Badi' artinya pincang dalam bahasa Bangka, sehingga Hasan Badi' artinya Hasan Pincang. Dan ia memang pincang. Timur Lenk, penakluk terbesar Mongol yang legendaris setelah Jenghis Khan itu, juga pincang, seperti Hasan Badi. Lenk, dalam bahasa Mongol, artinya 'pincang'. Ibunda Timur Lenk tak lain dari cucu Jengkhis Khan, sedang ayahndanya bangsawan Turki-Persia. Timur Lenk seorang muslim bermazhab Syiah. Tapi uniknya Samarkand, negeri yang diperintah Timur Lenk, justru jadi pusat pengembangan Islam Sunni mazhab Hanafi. Imam Bukhari dan Imam Muslim, dua tokoh terpenting perawi hadits Sunni hidup di negeri ini.

Hasan Badi brewok, bertubuh tinggi besar, hitam dan berbulu seperti gorila. Ia tidak pernah sakit seumur hidup, kecuali satu kali. Saking saktinya, senjata logam tidak bisa memotong rambutnya. Ia harus bercukur dan memangkas rambutnya dengan pecahan beling. Ia juga tak pernah mematut diri di cermin, karena bayangannya tak akan memantul di permukaan cermin. Hasan Badi harus berkaca di air. Entah ilmu apa yang membuatnya punya kesaktian semacam itu.

Hasan Badi memiliki sebuah pondok kebun di kaki gunung Maras dan beternak ayam di situ. Ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di pondok tersebut ketimbang di rumahnya di kampung. Padahal Gunung Maras dianggap gunung paling angker di Pulau Bangka. Namun, Hasan Badi yang pemberani tidak peduli. Lagipula, ia pernah jadi panglima perang dan masih merasa seorang panglima. Panglima perang pasukan terakhir Panglima Amir.

Di masa perang melawan Belanda, Hasan Badi tidak gentar melihat tembakan meriam 30 pon dari kapal uang Onrust milik Belanda. Ia bahkan tenang-tenang saja menghadapi serangan "kepala gana", yaitu tentara-tentara bayaran dari Ghana, Afrika Barat, yang dikirim Belanda. Tentara-tentara Afrika ini terkenal kejam dan ganas. Orang-orang Bangka kemudian menjadikan frase ini sebagai kosa kata dalam khasanah bahasa Bangka. Kepala gana dalam bahasa Bangka kini berarti "pemberani, kejam, ganas, pemimpin perusuh".

Suatu kali Pak We Zakaria yang masih kanak-kanak diajak kakeknya menginap di pondok kebun tadi.

Tiba-tiba ayam-ayam Hasan Badi yang ramai di kandang tidak bersuara lagi. Begitu diperiksa, kandang ayam telah kosong-melompong. Entah siapa yang mencuri ayam-ayam itu.

Tak berapa lama terdengar suara orang bersiul. Baru kali itu Pak We Zakaria melihat wajah kakeknya pucat pasi. Suara siulan kini terdengar di sekeliling pondok. Hasan Badi memerintahkan cucunya masuk pondok dan berkelumbus dalam kain sarung. Ia juga ikut naik ke pondok bersama cucunya.

"Apa pun yang terjadi jangan keluar dan tetap berkelumbus," katanya, pada sang cucu kesayangan.

Sebelum Pak We Zakaria menutupi seluruh tubuh kecilnya dengan sarung, ia sempat melihat sang kakek mengeluarkan sebuah pedang Sundang dari kotak kayu. Panjang pedang itu sekitar 55 sentimeter. Pedang Sundang dari Kesultanan Sulu, Filipina, yang tidak pernah dikeluarkan Hasan Badi dari kotak penyimpanannya sejak perang Dipati Amir melawan Belanda berakhir. Pedang inilah yang menandakan ia seorang panglima perang.

Setelah itu Hasan Badi menusuk-nusukkan pedangnya ke celah-celah dinding pondok untuk menghalau mahkluk yang bersiul, yang disangkanya akan menerobos ke dalam rumah sewaktu-waktu.

Siulan mendadak sepi. Hasan Badi pun turun dari pondok sambil menghunus pedangnya dengan waspada.

Apa yang ia saksikan kelak membuat Hasan Badi terpukau.

Di hadapannya tampak mahkluk yang selama ini sering dibicarakan orang, tapi hanya sedikit saja yang beruntung melihatnya secara langsung. Cindai! Makhluk ini seperti singa dengan tubuh sebesar kuda. Bulunya tebal seperti yak, lembu jantan Mongol, yang ekornya dipakai sebagai panji-panji balatentara Mongol saat berperang. Berbeda dengan yak, warna bulu cindai merah mengilat.

Singa gunung ini mengaum keras, menerjang, menggores lengan Hasan Badi dengan cakar-cakarnya yang tajam. Hasan Badi pun menusukkan pedangnya ke tubuh cindai dengan gagah berani. Cindai terluka dan lari tunggang-langgang.

Akibat goresan kuku cindai di tubuhnya, Hasan Badi demam atau orang Bangka menyebutnya "gelugut". Itu pertama dan terakhir kalinya Hasan Badi sakit.

Ketika ia meninggal dunia dan tentunya bukan karena sakit, melainkan usia tua, jenazahnya dimakamkan di Bakem, di perkebunan kelapa sawit yang pemiliknya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, tapi sangat takut terhadap Hasan Badi, meski sudah jadi mayat.

Dua adik saya, Budhi dan Rico, menyimpan kuku-kuku cindai. Tapi mereka tidak memperolehnya dari Panglima Hasan Badi, melainkan dari pendekar pembunuh cindai Akek Muh. Namun, kuku-kuku cindai yang disimpan kedua adik saya ini berasal dari cindai remaja yang berat badannya sekitar 80 kilogram saja.

Selain Hasan Badi, keluarga kami juga punya beberapa orang sakti, antara lain seorang ulama di Tiang Tara bernama Haji Mahmud. Paman kami ini terkenal penyabar. Berbeda dengan Hasan Badi yang langsung menghunus pedang menghadapi cindai, Haji Mahmud menahan diri untuk berkelahi dengan sesama makhluk Allah sampai menemukan alasan yang tepat.

Suatu hari cindai memakan ayamnya satu kandang. Haji Mahmud hanya istighfar.

Cindai merasa penasaran dengan sikap Haji Mahmud ini. Hari berikutnya cindai mencoba masuk rumah untuk memakan Haji Mahmud!

Kali ini Haji Mahmud tak lagi menghadapi cindai dengan kesabaran dan ayat Alquran, tapi dengan moncong senapan Winchester-nya.

Ia menunggu cindai mendekat sampai mereka berhadap-hadapan, lalu diledakkannya peluru senapan itu tepat di bawah mata cindai yang tak tahu diri itu. Singa gunung tersebut mengaum kesakitan, lalu lari tunggang-langgang tak tentu arah. Penduduk kampung menemukan cindai yang telah jadi bangkai sekitar dua kilometer dari rumah Haji Mahmud.

Senapan Winchester terkenal sebagai senapan pembunuh bison di Amerika di masa Wild Wild West. Namun, jangan samakan Haji Mahmud dengan Buffalo Bill, orang kulit putih, jago tembak dan pembantai bison di Amerika Utara. Dengan senapan Winchester-nya, Buffalo Bill membuat bison hampir punah. Ia menyongsong ribuan bison yang datang seperti air bah itu dan dalam waktu singkat, tembakan senapannya membuat kawanan bison hanya tinggal ratusan.

Semula Buffalo Bill bersahabat karib dengan Sitting Bull, kepala suku Indian Sioux yang terkenal di zamannya. Tapi persahabatan ini berakhir, karena Sitting Bull menentang aksi Buffalo Bill membantai bison.

Bagi Sitting Bull, bison rahmat dari Tuhan untuk dimakan. Pembunuhan bison untuk kebutuhan makan sehari-hari tidak akan memusnahkan populasinya. "Tapi orang kulit putih membunuh untuk menunjukkan kehebatan mereka," ujar Sitting Bull.

Haji Mahmud, seperti halnya Mahatma Gandhi, terkenal dengan prinsip melawan tanpa kekerasan, tapi ketika terdesak ia akan melawan musuh dengan gagah berani dan hal itu juga membedakannya dengan Gandhi.

Di masa Haji Mahmud remaja, penjajah kolonial Belanda menerapkan heerendiensten atau kerja paksa, yakni tugas memelihara jalan, jembatan, memikul tandu tuan kongsi, membawa dan mengirim barang-barang, surat dan lain-lain. Haji Mahmud menolak kerja paksa, sehingga ia ditangkap dan dibawa untuk disidang oleh hoofd jaksa, jaksa kepala, di Pangkalpinang. Dua opas (pesuruh) mengawal Haji Mahmud ke Pangkalpinang.

Di tengah jalan Haji Mahmud minta mereka berhenti sebentar. Ia haus dan ingin minum. Kedua opas pun haus, sehingga mereka mengabulkan permintaan Haji Mahmud.

Dekat situ tampak sebuah sumur. Haji Mahmud, diikuti para opas, berjalan ke sumur itu. Seember demi seember air diminum Haji Mahmud. Opas mulai bingung, karena Haji Mahmud tidak juga berhenti minum dan tetap haus.

Air sumur pun kembali ditimba, lalu diminum, lalu ditimba lagi dan diminum lagi oleh Haji Mahmud. Akhirnya air sumur pun habis.

Karena ngeri bercampur bingung, opas menyuruh Haji Mahmud pulang dan tak jadi membawanya ke Pangkalpinang. Kebenaran kisah ini dapat ditelusuri di kampung Tiang Tara, terutama dari orang-orang tua di sana.

Ada satu kisah lagi yang menunjukkan kesabaran Haji Mahmud.

Suatu hari Haji Mahmud mandi di sungai. Tiba-tiba seekor buaya remaja, yang kurang lebih sepanjang dua meter, menyambar lengannya.

Buaya kurang ajar ini bergantung di lengan Haji Mahmud. Apa yang terjadi? Gigi-gigi buaya lepas seluruhnya dan tertinggal di lengan Haji Mahmud.

Buaya pun kabur dengan rasa malu, karena ia kini ompong dan entah kapan gigi-giginya akan tumbuh lagi.

Setelah gigi-gigi yang melekat di lengannya rontok dan jatuh ke sungai, tak sedikit pun tampak luka di bekas gigitan buaya itu pada Haji Mahmud.

Kisah-kisah ini mempengaruhi hidup saya dan adik-adik saya ketika kami dewasa. Saya merasa lebih seperti Panglima Hasan Badi, yang cepat bereaksi terhadap segala keadaan. Seorang adik saya mengikuti falsafah hidup Haji Mahmud. Tapi keduanya, Hasan Badi maupun Haji Mahmud, memberi teladan yang sama: kesewenang-wenangan dan ketidakadilan harus dilawan.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates