Loading

Panglima Amir dan Ayamnya (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 11/05/2014

Awal mula punahnya ayam terbesar di Pulau Bangka.

Ini kisah lain dalam sejarah Bangka dan perbincangan keluarga kami. Tentang Panglima Amir. Ia diangkat sebagai administratur oleh penjajah kolonial Belanda dan sekarang namanya diabadikan menjadi nama bandar udara di Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka Belitung.

Setelah diangkat selama setahun menjadi pejabat kolonial menggantikan ayahnya, Bahrin, Amir dipecat karena dianggap tidak punya kemampuan menjalankan tugas-tugas administrasinya dengan baik oleh Belanda. Setelah itu Amir menjadi pengangguran selama 18 tahun. Tidak ada catatan detail tentang apa yang dilakukannya untuk menyambung hidup. Ketika ayahnya meninggal dunia, Amir menuntut kepada pemerintah kolonial agar pensiun seumur hidup yang diterima ayahnya dialihkan kepada dirinya. Pemerintah kolonial menolak permintaan Amir itu dan beberapa permintaan pribadinya yang lain. Akhirnya Amir tak bisa diam lagi dan memutuskan untuk melawan Belanda. Ia bergabung dan memberontak bersama Batin Tikal, kakek kami, yang justru mempunyai tujuan lain dalam pemberontakannya, yakni menentang kolonialisme Belanda dan mempertahankan daerah kekuasaannya sebagai wilayah merdeka terakhir di Pulau Bangka dari kekuasaan kolonial. Akibat pemberontakan tersebut, Batin Tikal dibuang ke Manado, Sulawesi Utara, pada tahun 1852. Ia dipenjarakan di Fort Niew Amsterdam, benteng Belanda di kota tersebut. Benteng Niew Amsterdam telah diratakan dengan tanah pada tahun 1959 dan di atasnya kini berdiri sebuah mal. Makam Batin Tikal tidak pernah ditemukan sampai hari ini. Sementara Amir dibuang ke desa Aermata, kecamatan Tanah Merah atau Kampung Arab, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada tahun yang sama. Setelah kematiannya, ia dimakamkan di desa itu juga. Namun, dalam buku sejarah Bangka hari ini, terdapat kekeliruan besar, yaitu memposisikan Amir sama dengan Batin Tikal, yang melawan penjajah Belanda secara konsisten dan dengan motivasi yang sangat berbeda dari Amir.  

Sejak muda Amir dikenal sebagai orang yang tidak mau dikalahkan dan ia memiliki seekor ayam jantan kesayangan. Ayam ini termasyhur di seluruh Pulau Bangka, pulau penghasil timah terbesar di Asia Tenggara, sebagai ayam yang tidak wajar saking besar dan gagahnya. Sang ayam bertinggi sekitar satu meter. Orang Bangka menyebutnya ayam Maras, karena memang berasal dari Gunung Maras, bukit tertinggi di provinsi Bangka Belitung. Tetapi yang jadi persoalan, ayam Maras pada umumnya tidak sebesar ayam Amir. Rata-rata ayam jantan Maras sebesar ayam jantan Merawang, yang juga dianggap ayam khas Pulau Bangka. Ayam Merawang adalah keturunan ayam yang dibawa bala tentara Kubilai Khan, kaisar Mongol yang mengirim ekspedisi penghukuman ke Pulau Jawa untuk membalas penghinaan Raja Singasari, Prabu Kertanegara, yang telah membuat cacad utusan sang kaisar. Dalam perjalanan pulang ke daratan Tiongkok, tentara Kubilai Khan mampir di Bangka dan ada yang tetap tinggal ketika mereka pergi, yaitu beberapa ekor ayam dan beberapa anggota pasukan. Sampai sekarang ayam Merawang jadi maskot Pulau Bangka atau produk unggulannya.

Ayam Maras Amir tentu membuat iri banyak pendekar, petualang, pemuka masyarakat dan panglima. Di antara para panglima, ada satu panglima yang tidak pernah mau mengakui kehebatan dan keunggulan Amir, yaitu seorang panglima lanun. Hal ini membuat Amir tersinggung dan merasa perlu menunjukkan keunggulannya kepada lanun tua tersebut. Amir meminta izin kepada ayahnya, Bahrin, untuk memberi pelajaran kepada lanun lapuk bermata satu yang tak tahu diri ini. Bahrin terkejut begitu mendengar rencana putranya, karena sang lanun adalah orang yang sudah dikenal Bahrin sejak masih di perairan Riau dan Selat Malaka sebagai lanun yang disegani dan ditakuti banyak orang, juga dihormati Panglima Raman yang tak lain dari ayah angkat Bahrin sendiri sebagai lanun tersohor di seluruh perairan Riau, Selat Malaka, Laut China Selatan sampai Teluk Benggala.

Panglima Raman, dalam sejarah Melayu, dianggap sebagai pelindung utama Tengku Muda Muhammad Yang Dipertuan Muda Riau yang merangkap sebagai Tumenggung Johor dalam perseteruan politik antara bangsawan Johor dan bangsawan Bugis di tengah intrik serta perebutan kekuasaan di Kesultanan Riau-Lingga-Pahang-Johor. Panglima Raman berayahkan seorang saudagar Bugis-Wajo dan beribukan putri pemimpin suku Sekanak, suku laut dari kepulauan Tarempak, dekat Siantan, Riau. Tetapi dalam sejarah keluarga kami, Panglima Raman adalah musuh besar kakek saya, Batin Tikal. Panglima Raman mengerahkan pasukan lanun menyerbu Pulau Bangka, merampas tambang-tambang timah, membakar dan menghancurkan kampung-kampung, dan menjadikan rakyat sebagai budak. Di masa ini pula seorang pedagang budak dari Makassar dan berdarah Bugis-Wajo nan kejam, Punggawa Sengkang, menangkap orang-orang Bangka untuk dijadikan budak, seperti mengejar dan menangkap ayam. Dari laporan resmi Thomas Horsfield kepada Thomas Stamford Raffles terungkap bahwa hanya sekitar 10 persen penduduk Bangka yang tinggal dan menghuni pulau itu pasca peristiwa mengerikan tersebut. Horsfield adalah dokter dan peneliti Amerika yang kelak menjadi kurator East India Company Museum di London, sedangkan Raffles menjadi gubernur jenderal Inggris yang berkuasa di Nusantara setelah pasukan Inggris mengalahkan pasukan gabungan Belanda-Perancis yang dipimpin gubernur jenderal Belanda Jan Willem Janssens pada 18 September 1811.

Sahabat kakek saya, Depati Pakuk, dibunuh Panglima Raman dalam serbuan yang dipimpinnya. Kakek saya kemudian menggempur pasukan bajak laut Lingga yang dipimpin Panglima Raman ini di daerah Kurau. Dari darat Batin Tikal memimpin penyerbuan ke Kurau, sedangkan pasukan Kesultanan Palembang yang dipimpin putra sultan Palembang, Raden Jakfar, menyerbu dari arah laut. Pertempuran di Kurau begitu mengerikan, sehingga melahirkan istilah yang populer dalam kosa kata bahasa Bangka hingga hari ini, “ancok kurau”, yang artinya, keadaan hancur lebur. 

Tentang Bahrin, ada satu cerita tersendiri. Pada saat Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi Sultan Palembang dan menjelang penyerbuan Inggris ke Kesultanan Palembang, Bahrin yang sudah dewasa meninggalkan Lingga, melalui Muntok di Pulau Bangka, menuju Kesultanan Palembang. Ia meminta menghadap sultan dengan membawa surat dari ayah angkatnya, Panglima Raman. Dalam suratnya itu Panglima Raman menyatakan bahwa Bahrin adalah putra Anggur, penguasa Dipak yang dibunuh oleh pasukan Kesultanan Palembang gara-gara ketahuan menggelapkan timah Sultan Palembang, bekerja sama dengan dirinya. Panglima Raman menjelaskan bahwa Bahrin masih bayi dan dibawanya untuk dirawat setelah kematian Anggur. Panglima Raman juga menyatakan bahwa dirinya yang bersalah atas kejadian di masa lalu itu dan Bahrin yang masih bayi tidak terlibat. Sultan Palembang mengampuni Bahrin dan mengangkatnya menjadi batin di daerah Jeruk. Sejak itu ia dikenal sebagai Batin Jeruk, bukan Depati Jeruk atau Depati Bahrin, gelar yang keliru dan tercantum dalam buku sejarah Bangka hari ini.

Pada tahun 1828, Bahrin dan Amir, putranya, menandatangani perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda yang isinya menyatakan mereka anak-beranak tunduk di bawah naungan kolonial. Sejak itu Bahrin mendapat imbalan berupa uang pensiun seumur hidup dan tinggal di daerah Merawang. Amir, putranya, diangkat menjadi administratur kolonial yang berkuasa di dua desa, Mendara dan Mentandai, sebelum ia kemudian dipecat karena dianggap tidak mampu menjalankan tugas administrasinya. 

Sebelum Amir bergabung dengan pasukan Batin Tikal untuk tujuannya, ayahnya Bahrin juga pernah melakukan hal yang sama. Bagaimana Bahrin sampai berteman dengan Batin Tikal, yang melawan kolonialisme Belanda di Bangka dan Palembang, yang juga musuh bebuyutan ayah angkatnya Panglima Raman?  Batin Tikal waktu itu menunjukkan keberanian dan kehebatannya dengan membunuh Residen Bangka-Belitung M.A.P Smissaert dan memenggal kepalanya, lalu ia menembus blokade berlapis pasukan Belanda yang dipimpin Admiral Wolterbeek di Selat Bangka dan Sungai Musi untuk masuk ke benteng Kuto Besak yang merupakan benteng Kesultanan Palembang dan menyerahkan langsung kepala residen Belanda itu kepada Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai tanda persekutuan rakyat Bangka yang dipimpinnya dan Kesultanan Palembang yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II. Fakta ini tercantum dalam berbagai manuskrip dan dokumen sejarah, termasuk manuskrip yang ditulis oleh Raden Ahmad, cucu Pangeran Prabu Nata Menggala dan cicit Sultan Mahmud Badaruddin II. Dari garis ibunya, Raden Ahmad juga adalah keturunan Tumenggung Kertanegara I Abang Muhammad Arifin, yang justru merupakan musuh Batin Tikal. Manuskrip asli yang ditulis Raden Ahmad disimpan di Universitas Leiden, Arsip Nasional, dan diserahkan keturunannya kepada Bupati Bangka Barat. Dalam manuskrip ini juga tertera keterangan tentang putra Bahrin, Amir, yang disebut gelandangan dan perusuh, yang atas dasar kepentingan pribadinya kemudian melawan Belanda. 

Pada saat perang melawan penjajah Belanda di Palembang yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II, Bahrin berpihak kepada sang sultan seperti halnya Batin Tikal. Berdasarkan penjelasan dalam buku Timah Bangka dan Lada Mentok yang ditulis Mary F. Somers Heidhues, Bahrin ikut bergabung dengan pemberontakan Batin Tikal di Bangkakota akibat perselisihannya dengan Belanda dalam perkara pencurian timah yang dilakukannya. Selain itu, Sultan Ahmad Najamuddin II yang didukung Bahrin tidak lagi berkuasa sejak Inggris mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Ia membutuhkan pelindung baru bagi kepentingannya. Buku itu juga mengutip laporan seorang pejabat Belanda yang pernah berkunjung ke rumah Bahrin di Mendara dan menyatakan Bahrin senang berjudi. Tetapi ketika Kesultanan Palembang dihapuskan Belanda secara resmi akibat kekalahan dalam perang, Bahrin menyatakan tunduk dan berbalik menyokong kekuasaan kolonial. Tindakannya itu bertolak belakang dengan Batin Tikal yang memilih untuk tidak tunduk dan terus melakukan pemberontakan terhadap Belanda sampai akhir hayatnya. 

Kembali ke persoalan Panglima Amir, pendek kata, Bahrin tidak merestui rencana konyol putranya terhadap lanun tua bermata satu itu. Amir tentu saja tak menghiraukan saran ayahnya. Maklumlah sejak lahir, ia sudah menunjukkan keistimewaan. Ia lahir sebagai bayi ajaib dengan gigi-geligi yang sudah lengkap. Dengan kata lain, ia sudah unjuk gigi sejak dalam kandungan, gara-gara ibunya Dakim mengidam ingin memakan batu Bukit Sambung Giri sewaktu mengandungnya. 

Siasat pun dilancarkan. Amir memancing lanun tua untuk pergi berdua masuk ke pedalaman yang sepi, menyusuri sungai ke arah hulu dengan sampan. Ia berencana melucuti kekuatan lanun tua dengan taktik mengajaknya mandi di sungai, dengan harapan sang lanun menanggalkan seluruh azimat dan senjatanya. Dengan alasan keamanan, Amir mempersilakan sang lanun untuk mandi lebih dulu dan ia berjaga-jaga untuknya, seolah-olah hendak mengantisipati sergapan pasukan Belanda. Amir ingin lanun tua mandi selama mungkin dengan alasan bahwa si lanun sudah berdaki, kotor, bau dan tidak pernah mandi sejak menginjakkan kaki di Pulau Bangka. Perlu Anda ketahui, lanun sejati tidak pernah mandi sebagai pantangan ilmu kesaktiannya. Begitu sang lanun menyelam tanpa curiga, Amir mengeluarkan pedang tajam dari sampan. Ia langsung menebang pohon kayu pelawan yang berdiameter sepelukan manusia dewasa atau sekitar 40 sentimeter untuk menghantam ubun-ubun sang lanun saat muncul dari dalam air. Lanun tua, polos, tetapi berkepala batu dan tidak pernah merasa bersalah ini akhirnya muncul di permukaan air setelah lama menyelam sambil membersihkan daki di tubuhnya dengan batu dan pasir sungai. Amir segera menyambutnya dengan hantaman pohon. Hantaman itu membuat lanun tenggelam sampai masuk ke dasar sungai yang berlumpur. Akibat pukulan tersebut kayu pelawan ikut hancur berkeping-keping. Setelah itu Amir menarik napas lega dan membatin, “Dasar tua bangka, bujang lapuk, taipau (sok, sombong), tak tahu diri, bau, dekil, jelek, botak. Ah, rupanya, cuma sebegitu saja kesaktian seorang lanun sejati.” 

Amir bersiap-siap naik sampan untuk pulang setelah menyelesaikan misinya dengan sukses. Tiba-tiba muncul kepala sang lanun dari dalam air. Ia meminta Amir membantu mengorek kotoran di telinganya yang tidak pernah dibersihkan sepanjang hidupnya dan tidak hanya itu saja, ia juga minta kotoran di matanya yang tinggal satu dan rabun itu untuk dibersih. Ia meminta Amir menggunakan senjata tajam untuk melaksanakan permintaan khusus ini. Amir terkejut sekaligus gembira mendapat kesempatan emas untuk memberi pelajaran terakhir pada sang lanun. Ia menggunakan keris untuk membersihkan telinga dan mata lanun tua dari kotoran-kotoran menahun sekuat tenaga. Hal ini mengakibatkan kerisnya hancur-lebur. Setelah itu Amir menyerah, menghentikan kegiatannya karena kelelahan. 

Lanun tua kemudian menyuruh Amir mandi dan menyatakan bahwa sekarang gilirannya untuk menjaga Amir dari sergapan mendadak pasukan Belanda. Tentu saja, Amir menolak. Setelah itu, lanun tua mendesak untuk membersihkan kotoran mata dan telinga Amir sesudah yang bersangkutan mandi. Lagi-lagi, Amir menolak. Lanun tua tak menyerah. Amir terdesak. Ia tak punya pilihan kecuali minta maaf dan menyesali perbuatannya. Lanun tua tak menerima begitu saja permintaan maafnya. Namun, Amir tetap saja meminta maaf. Akhirnya lanun tua bosan mendengar anak muda menghiba-hiba padanya. Ia bersedia memaafkannya dengan satu syarat: Amir harus menyiapkan gulai ayam dengan tangannya sendiri dan yang akan digulainya adalah ayam jantan Maras kebanggaannya. Amir menolak tegas dan menyatakan bahwa ketimbang ayamnya harus digulai untuk memberi makan lanun, lebih baik nyawanya saja sebagai ganti. 

Lanun tua yang bijaksana mengajak Amir pulang dan menemui Bahrin untuk meminta saran. Anak dan ayah dipersilakannya berunding tentang apa atau siapa yang harus diserahkan sebagai syarat pemberian maaf. Bahrin setuju ayam digulai ketimbang anaknya mati. Kali ini Amir terpaksa patuh pada saran ayahnya. Dengan berat hati ia memotong dan menggulai ayamnya sendiri untuk disantap lanun. Rupanya kepongahan yang melebihi batas dapat menjerumuskan seseorang dalam masalah besar. Sejak itu pula tidak pernah ada lagi ayam jantan Maras sebesar dan setinggi ayam Amir, karena sang ayam belum sempat kawin dan menghasilkan keturunan tetapi sudah keburu digulai.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates