Loading

Orang-Orang Tiro (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 07/31/2009

DI ruang tamu berkumpul sejumlah pria. Mereka duduk bersila di lantai. Sebelum kaki saya melangkah ke sana, Fatimah binti Ali buru-buru berbisik, “Pakai kerudung, pakai kerudung. Di situ ada orang tua.” Fatimah dan beberapa perempuan tengah bercakap-cakap dan bersenda gurau di ruang makan. Semula saya bergabung dengan mereka.

DI ruang tamu berkumpul sejumlah pria. Mereka duduk bersila di lantai. Sebelum kaki saya melangkah ke sana, Fatimah binti Ali buru-buru berbisik, “Pakai kerudung, pakai kerudung. Di situ ada orang tua.” Fatimah dan beberapa perempuan tengah bercakap-cakap dan bersenda gurau di ruang makan. Semula saya bergabung dengan mereka.
 
Seorang lelaki 60-an, berpeci hitam, dan berbaju koko tengah asyik bicara di ruang tamu. Di hadapannya, Sarjani Abdullah,  mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Pidie, tertegun menyimak kata-katanya. Dulu saya mengira seorang panglima perang berperawakan tegap dan seram. Tetapi Sarjani jauh dari kesan itu. Perawakannya sedang, kulit sawo matang, mengenakan kemeja merah bata dan pantalon hitam. Dia mirip orang yang biasa kamu temui di jalan atau pasar. Bisa mencuri perhatian, bisa juga tidak. Di sebelah Sarjani, duduk Tengku Maatmuda, salah seorang anggota Komite Peralihan Aceh. Tak berapa lama sang tuan rumah, Tengku Muhammad Mustafa Ditiro, muncul di ambang pintu dan langsung duduk di samping lelaki 60-an itu.

“Senang mendengar cerita-ceritanya,” ujar Mustafa pada saya, dengan suara rendah.

“Beliau saja yang diwawancarai. Kalau kami ini ‘kan baru kemarin (berjuang),” kata Maatmuda.

“Ya, benar,” tukas Sarjani.

“Tidak tahu nama bapak ini? Wah, ini pejuang angkatan pertama,” kata Maatmuda pada saya.  
Lelaki tua itu kemudian merogoh saku celananya, mengambil dompet dan mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) merah putih. Dia menyodorkan kartu tersebut pada saya. Namanya tertera di situ: Tengku Darul Kamal. 

“Tapi orang biasa memanggil saya Dang Darul.”

Dia lahir tahun 1944 di desa Lhok Rhem, kecamatan Saledi, kabupaten Pidie. 

“Ini KTP asal-asalan. Saya sebetulnya lahir tahun 1942,” katanya, lalu terbahak. 

Kamal pertama kali berjumpa Tengku Hasan Muhammad Ditiro atau lebih populer dengan sebutan Hasan Tiro pada 1971. Tiro pemimpin tertinggi GAM dan digelari Wali Nanggroe oleh para pendukungnya. 

Tahun itu merupakan tahun kepulangan Tiro yang pertama setelah lama merantau di Amerika. Kamal masih kuliah di Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry ketika itu. Sesekali dia datang mengunjungi Tiro untuk mendengar kisah-kisahnya. Dia dan Tiro masih satu silsilah. Ibu Hasan Tiro adalah adik kakek Kamal. 

Tiro banyak bertutur tentang kejayaan Aceh di masa lalu, bukan tentang kehebatan Amerika. 

“Dia juga menulis buku berjudul Aceh Bak Mata Donya. Kalau dalam bahasa Indonesia, Aceh di Mata Dunia.”

Saya belum pernah membaca buku itu.

Kami hanya sebentar berbincang di ruang tamu. Saya dan Kamal kemudian memutuskan pindah ke ruang makan untuk melanjutkan wawancara, menghindari hiruk-pikuk dari halaman dan gemuruh hujan di luar. 

Mustafa ikut bersama kami. Sekali lagi dia berkata pada saya, “Saya senang mendengar ceritanya tentang masa-masa dulu.”  Yang lain  tetap tinggal di ruang tamu. Para perempuan yang sedang berbincang di ruang makan langsung bubar, satu-satu.

“MENURUT  dia (Hasan Tiro), Aceh harus merdeka. Tidak ada jalan lain,” kata Kamal, mengenang pendirian Tiro.

“Masalahnya kalau sebesar ini negara, katanya, tidak mungkin bisa dikendalikan. Lapar di sini, mogok di sini, ada saja kejadian, sedangkan Amerika yang cukup lihai, harus membuat negara-negara bagian, kecuali dibuat macam komunis, baru bisa, kalau nggak, nggak mungkin bisa, katanya. Jalan keluarnya: harus pisah, ” lanjut Kamal.

Enam tahun setelah kepulangannya yang pertama, Hasan Tiro kembali lagi ke Aceh pada 30 Oktober 1976 dan langsung menuju hutan. Saat itu Kamal sedang berada di Sabang, Pulau Weh. Dia tengah bekerja sebagai tenaga honorer untuk memperbaiki administrasi desa.  Suatu hari dia pulang kampung, lalu mendengar kabar tentang Tiro dari teman-temannya.

Rasa ingin tahu dan rindu bercampur di benak Kamal. Dia pun nekad menjumpai Tiro di Gunung Tjokkan pada April 1977. Tapi dia tak sendirian. Dia ditemani sahabat karibnya, Tengku Syeh Ibrahim. 

Di Pintu Satu, satu-satunya jalan menuju gunung itu, mereka bertemu sekitar sepuluh pria yang ternyata mempunyai tujuan sama: bertemu Tiro. 
Setelah berjam-jam jalan kaki, menerobos hutan,  menyusuri sungai, akhirnya rombongan ini berhenti di gubuk penjaga padi. Mereka sepakat istirahat di situ sebelum melanjutkan perjalanan.

Menjelang pagi, seorang perempuan desa datang dan memberitahu mereka bahwa ada letusan senjata dari arah Pintu Satu. Tak berapa lama setelah itu muncul lelaki yang mengabarkan sudah banyak mobil di Pintu Satu. Rumah-rumah penduduk tengah digeledah.

“Rupanya di antara rumah yang digeledah itu termasuk rumah Geusyik Uma. Geusyik Umar. Tapi di Aceh, orang tak menyebutkan huruf ‘r’, jadi Umar disebut Uma. Geusyik, kalau di Jawa, seperti lurah. Geusyik Uma ini adalah orang yang paling setia pada Tengku Hasan (Tiro). Jadi dia dikasih senjata, dikasih pistol. Jadi waktu rumah dia disergang, dia nembak. Itulah peluru pertama GAM yang ditembakkan,” kisah Kamal.

Hasan Tiro mencatat peristiwa tersebut dalam bukunya,  The  Price of Freedom; The Unfinished Diary. 

Meski blokade tentara cukup rapat,  Umar berhasil melarikan diri ke gunung. Dia meninggal ditembak tentara Indonesia pada 1992 setelah Daerah Operasi Militer (DOM) yang bersandi “Jaring Merah” diberlakukan di Aceh. Usianya 70 tahun saat itu.

“Semua anaknya sudah dihabisi (oleh tentara Indonesia), kecuali yang lari ke Swedia dan satu lagi anak bungsunya yang masih ada di sini.”

Ketika Kamal dan teman-temannya tiba di markas Tiro, dia melihat sudah ada 15 laki-laki di situ. Tak semua bersenjata. Hanya enam orang memegang senapan merek Springfield. 

Namun, Kamal tak mau disebut mantan gerilyawan, meski tiga tahun dia bergabung dengan pasukan pertama Tiro. Dia sama sekali tak pernah mengokang senjata atau menembak musuh. Kerjanya cuma memutar spin mesin cetak. Memproduksi selebaran. 

Javanese, Go Home! Itulah judul selebaran yang paling banyak dicetak Kamal. 

“Disebar ke PT Arun, paling banyak ke sana. Sebab PT Arun itu ‘kan pintu masuk orang luar, jadi agar orang luar segera tahu apa yang terjadi di sini. Setelah dipak, ada orang yang bawa ke sana.  Selain itu, diitempel di jembatan-jembatan, di mana-mana,” katanya, tertawa.

Perseroan Terbatas (PT)  Arun Liquefied Natural Gas (LNG) terletak di Lhokseumawe, kabupaten Aceh Utara. Perusahaan yang mengolah gas alam ini dibuka pada 1974. 

Aceh Utara kaya akan sumber daya alam. Selain  PT. Arun LNG, ada tiga pabrik besar berdiri di sana, yaitu Pabrik Pupuk Iskandar Muda, Pabrik Asean Aceh Fertilizer, dan Pabrik Kertas Kraft Aceh. 

Rupanya untuk melindungi aset-aset ekonomi inilah pemerintah Suharto mengirim puluhan ribu tentara non organik ke Aceh.
Pada 1980 terjadi kontak senjata antara militer Indonesia dan GAM. Kamal tertembak dan ditangkap.

“Seorang komandan tentara itu datang pada saya dan bertanya, ‘Ada berapa pucuk senjata kalian? Indonesia ada banyak sekali, ada tank, ada macam-macam. Bagaimana mungkin bisa dilawan?’ Saya bilang, kemenangan perang bukan pada senjata, tapi pada mental yang pegang senjata. Saya bilang Jepang paling kuat senjatanya, tapi mentalnya sudah hilang karena dibom. Amerika itu superpower, tapi Amerika lari dari Vietnam, karena mentalnya sudah nggak ada lagi.”
Dia dipenjara selama tiga tahun di Penjara Kedah, Banda Aceh. Selepas dari penjara, Kamal mendirikan pesantren. Kurikulum yang diajarkan sesuai dengan kurikulum pemerintah Indonesia.  Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris… Tak ada mata pelajaran tentang cara berontak pada Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

Tetapi masa tenang itu tidak panjang. Pada 1990 Kamal dijebloskan ke sel lagi. Kali ini di penjara Lhok Nga. Pasalnya, seorang legislator Aceh yang ingin bergabung dengan GAM di Malaysia tertangkap tentara. Dia menyebut-nyebut Kamal sebagai penghubung.

Tuduhan terhadap Kamal tak terbukti, tapi dia harus mendekam setahun di bui. Setelah bebas, Kamal memutuskan jadi petani seperti orang-orang kampungnya.  Pesantren tutup, karena para santri sudah angkat kaki.

Pada 1998 gubernur Aceh Samsudin Mahmud mengutus Kamal pergi ke Swedia bersama sebuah tim yang diketuai pedagang Aceh, Noer Naemat. 
Tugas tim ini menemui Tiro, lalu mengajaknya berunding tentang masa depan Aceh.  Tapi Tiro enggan menerima mereka.

“Hasan Tiro tahu saya datang. Katanya boleh ketemu, tapi tak boleh pulang lagi.  Ha ha ha ha…. Tengku Hasan Tiro itu wali negara, tapi yang mengirim kami ini ‘kan daerah, bukan dari pemerintah di Jakarta… jadi betul saya kira dia nggak mau bicara,” katanya.

UKURAN ruang makan itu tak terlalu sempit sebenarnya, 2,5×3 meter persegi. Tapi sebuah meja makan besar mendominasi ruang dan  tiada menyisakan cukup celah untuk duduk nyaman di salah satu kursi. 

“Politik itu jahat. Saya ndak suka,” kata Mustafa.  Suaranya perlahan. Tapi tegas.

Meski letak ruang makan agak ke dalam, gelak tawa dan bermacam gaduh dari ruang lain atau halaman tetap mengganggu. Suara Mustafa makin tipis dan timbul-tenggelam. Derai hujan yang turun deras di luar sana sering mengandaskannya. 

Pagi itu, 10 April 2006, Mustafa menjadi tuan rumah. Tamu-tamu datang dari berbagai penjuru Aceh, seperti Sigli, Banda Aceh, Langsa, Peureulak, dan Pase. Rumahnya di desa Treuseb, kecamatan Tiro, Pidie, laksana sebutir gula dikerubungi ribuan semut. 

“Misalnya, saya ingin kedudukan seseorang, saya akan melakukan apa saja supaya bisa menggeser orang itu. Politik itu seperti itu. Jahat.”  Dia menatap saya lurus-lurus. Kopiah putih di kepala Mustafa kontras dengan kulitnya yang hitam legam. 

Meja makan di hadapan kami sesak. Piring-piring berisi kari sapi. Tumpukan nasi bukulah, nasi bungkus daun pisang khas Aceh. Gelas-gelas. Bercak kuah tumpah di taplak. 

Seperangkat alat pencuci tangan aluminium menarik perhatian saya. Bentuknya Unik. Teko berisi air  bersih bertumpu di atas kaleng bulat pipih yang berfungsi sebagai penampung air kotor.

“Dari Malaysia,” kata Juraiza, istri Mustafa, menyebut asal benda tersebut. Dia sibuk melayani tamu, mondar-mandir membawa baki, keluar masuk rumah.
Bau sedap masakan meruap dari meja dan pintu dapur yang terbuka. Laki-laki dan perempuan lalu-lalang dekat kami. Kadangkala satu atau dua perempuan datang menyimak pembicaraan, senyum-senyum, lalu pergi. Mereka tak pandai berbahasa Indonesia. Mereka adalah orang desa yang membantu menyiapkan hidangan untuk sekitar 10 ribu tamu. Pada hari ini, bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi, diadakan kenduri di Treuseb untuk menyambut masa damai di Aceh.
Mustafa adalah kerabat dekat Hasan Tiro. Kakek Mustafa dan ibu Tiro kakak-beradik kandung. 

“Tapi seumur-umur saya belum pernah sekalipun ketemu dia,” kata Mustafa.

Usia Mustafa 45 tahun. 

Mustafa bersedia terlibat dalam kenduri perdamaian ini, karena sejumlah orang datang meminta bantuannya, “Ya, orang GAM, orang-orang kampung, semua.”
Pemikiran maupun pandangan politik Tiro kurang dipahaminya. Pertalian di antara mereka lebih pada hubungan darah. Namun, konsekuensinya membuat hidup Mustafa berkali-kali di ujung tanduk. 

Istri Mustafa kini berdiri di sisi meja. Sesekali dia menimpali ucapan sang suami. Juraiza bertubuh agak gemuk, murah senyum. 

“Tiap tentara datang dan mereka pulang, Bapak pasti langsung demam,” ujar Juraiza, mengenang masa darurat militer di Aceh.

Mustafa tersipu. Dia memang tak sanggup mendengar kata-kata kasar. 

“Yang mereka tanyakan apakah saya punya hubungan dengan Hasan Tiro. Apakah dia ada menghubungi saya. Saya jawab, kalau iya kenapa, kalau tidak, kenapa. Mereka ndak menjawab, langsung menanyakan hal lain,” kenangnya. 

Dia merasa tindakan aparat berlebihan. Dia cuma seorang guru mengaji anak-anak. Tempat mengajarnya pun tak jauh-jauh. Di mushola di pekarangan rumahnya sendiri. 

Mushola tersebut berbentuk rumah panggung kayu dan berdiri pada tahun 1214 hijriah atau 1814 masehi. Hampir 200 tahun lalu. Pendirinya kakek buyut Mustafa, Tengku Muhammad Amin Ditiro, seorang ulama. 

Makam Muhammad Amin dan pengikutnya tepat di samping mushola. Para tamu berduyun-duyun ziarah serta berdoa di situ. Sehelai kain belacu putih menyelubungi keranda yang diletakkan di atas makam ulama itu. Makam para pengikutnya rata dengan tanah, ditandai batu-batu nisan hitam. 

“Masalah di seberang sungai sana, tapi yang kena di sini,” kata Mustafa lagi, tersenyum. Rumah keluarga Hasan Tiro memang dipisahkan sebatang sungai dengan rumah Mustafa.

LELAKI setengah baya itu sibuk menyambut tamu. Di dekatnya berdiri mantan panglima GAM wilayah Pidie, Sarjani Abdullah.  Ketika pandangannya membentur mata saya, dia bertanya, “You speak English?” 

Saya menjawab, “Saya dari NKRI.”

Dia tertawa, lalu mengajak saya ke rumah di seberang mushola. 

“Perempuan di rumah. Laki-laki di luar sini,” katanya, ramah. 

Seorang lelaki, sekitar 70an, bersetelan jas dan sarung, tiba-tiba menubruk dan memeluknya. Dia mengusap-usap punggung lelaki tersebut. Si lelaki kemudian menjauh, menghampiri sebuah kerumunan, lalu memeluk seseorang. Menangis. 

“Siapa dia?” tanya saya.

“Saya ndak tahu, ndak kenal. Banyak yang begitu. Mungkin terharu.”

Kami memasuki beranda rumah. Perempuan tua-muda, anak-anak laki maupun perempuan, duduk bersila di lantai. Makan. Minum. 
Saya bertemu Fatimah binti Ali di situ. Dia bertubuh besar, bersuara alto. Dia ramah dan senang bicara. Fatimah asal Beureunun, berjarak sekitar tujuh kilometer dari Treuseb. Sejak masa kanak-kanak, dia sudah bercita-cita jadi guru. Saat main sekolah-sekolahan dia pun dipanggil ‘ibu’ oleh teman-teman kecilnya. 

Dia kini memimpin Sekolah Dasar Pulo Tambo.  Jumlah muridnya 150 orang. Tapi dua tahun lagi dia pensiun. Sebagai kepala sekolah, Fatimah punya banyak tugas.
“Haaa… ya jadi pesuruh juga, kadang-kadang beli kopi, kadang-kadang mengajar… kalau nggak ada guru, ya jadi guru… kalau nggak ada yang beli kopi, ya beli kopi… bikin kopi untuk semua. Haaha…“

Fatimah terdiam sebentar ketika saya bertanya anak bangsa mana yang ingin dicerdaskannya. Perempuan-perempuan di situ ikut diam.

“Kita ini mencerdaskan anak didik kita, bagaimana negara kita nanti, begitulah yang kita ajarkan,” katanya. 

Di masa konflik, guru-guru di Pulo Tambo tetap mengajar. Murid-murid pun tidak ada yang membolos. 

“Guru punya tanggung jawab besar pada anak-anak didik, jadi apa pun yang terjadi harus memperhatikan anak-anak. Tembakan-tembakan sering terdengar, tentara juga pernah datang, tapi untunglah mereka tidak melakukan kekerasan kepada kami dan anak-anak,” tutur Fatimah. 

Namun, air mata Rasidah, istri kepala desa Treuseb, terus berlinang. Setelah isaknya agak reda, dia mulai bicara. Dalam bahasa Aceh. Saya tak paham sepatah kata pun. Seseorang menerjemahkan untuk saya.

“Bagaimana pengalaman waktu konflik?”

“Saya takut sekali. Banyak rumah dibakar. Suami saya berusaha lari, tapi dikejar tentara. Suami saya diancam, ditembak, tapi dia selamat. Tentara datang dengan truk, sepeda, dan jalan kaki, berseragam. Tapi ada yang diambil (tentara), termasuk adik ipar saya yang kemudian meninggal.” 

“Apakah yang ibu inginkan sekarang ini?”

“Kedamaian, hidup tenang, tak ada lagi kekerasan. Aman, bisa cari rezeki. Kalau ingat kejadian dulu, langsung keluar air mata saya. Saudara diambil di depan mata.” Dia mulai terisak lagi. 

Rasidah ingin merdeka dari Indonesia bila tentara masih semena-mena seperti dulu. 

TENGKU Darul Kamal merasa masa yang benar-benar damai di Aceh masih jauh. 

Benaknya masih diliputi sangsi.

“Mungkin pemerintah Indonesia ada niat baik, tapi kadang-kadang yang di lapangannya ini… Ya, tapi orang-orang GAM juga begitu ‘kan? Ha ha ha…  Garisnya bisa lain dari yang di atas. Yang di lapangan bisa lain dengan apa mau yang di atas. Contohnya kaki kita, bisa tersepak batu. Itu kan bukan kehendak dari kepala kita. Ha ha ha…”  

Menurut Kamal, penerapan syariah Islam di Aceh juga bukan jaminan bagi perdamaian di Aceh.

“Masalah Gerakan Aceh Merdeka bukan sekadar soal syariah. Masalahnya adalah perekonomian dan banyak lagi. Saya kira, masalah pentingnya bukan soal penerapan syariah. Masalah yang terpenting adalah soal di Aceh ini serahkan pada orang Aceh yang mengurus. Biar orang Aceh yang mengurus Aceh. Jadi nanti mereka sendiri yang menentukan apa mau pakai syariah Islam atau bagaimana, terserah mereka,” tuturnya, serius.

Sejurus kemudian, Kamal berkata lagi, “Kalau soal Islam, dari zaman dulu Aceh memang tak bisa dipisahkan dari Islam. Contohnya begini: kalau ada orang yang bilang orang Aceh kafir, bisa dicincang dia, meski orang yang dibilang kafir itu nggak pernah sembahyang… Hahahaha….”

Ada satu pertanyaan penting di benak saya, “Apa betul GAM anti orang atau bangsa Jawa?”

“Lebih pada budayanya. Budaya Jawa itu ‘kan inggih… inggih. Kalau orang Aceh ndak… meskipun itu komandan, dia bisa tertawa dengan komandannya. Kalau tentara Jawa ‘kan ndak bisa begitu… Jadi kedisiplinan semacam itu, macam feodal itu ndak ada di Aceh. Tapi kalau orang Jawa kita lihat. Kalau bayar gaji aja di perkebunan ‘kan kuli duduk di lantai.”  Kamal terkekeh-kekeh.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar Indonesia, membenci apa yang disebutnya “Jawanisme”. Mentalitas “menjilat ke atas, menginjak ke bawah” inilah yang dimiliki kaum elit Indonesia. Para kepala desa di Jawa bekerja sama dengan tentara pendudukan Jepang untuk mengirim ratusan orang desa jadi romusha (kerja paksa). Di masa kolonial, para bangsawan menerima sogokan atau kompensasi dari penjajah Belanda untuk ikut menindas rakyatnya. Sementara rakyat harus patuh seperti budak pada tuan atau pemimpin mereka.

Kini Kamal lebih banyak menghabiskan hari-harinya di masjid Seulimum, Lam Jeruk, Pidie. Dia menjadi imam di situ. Dia mendirikan organisasi untuk mengejar babi hutan yang merusak sawah dan kebun penduduk.

“Namanya Letbui. Let artinya kejar dalam bahasa Aceh. Bui artinya babi.”

Kenangannya pada Tiro tetap lekat, meski sudah 26 tahun berpisah. Raut wajah Kamal berubah-ubah seiring kisahnya. Senyum, tawa, murung, merenung-renung, sedih. Dia terhanyut ke masa lalu. Apa kesannya yang paling dalam tentang Tiro? 

“Pembersih, betul-betul pembersih, apa saja… tiap pagi sudah makan gosok gigi, mau tidur gosok gigi, dan sama kita pun diajarkan gitu. Sudah gosok gigi, jangan makan lagi katanya. Orang Aceh terlalu kotor katanya, sebentar-bentar makan. Jadi gigi nggak pernah dibersih, padahal itu ajaran Nabi Muhammad. Sangat sunat, tapi kok tidak ada yang diamalkan itu,” tutur Kamal. 

Hasan Tiro belum juga kembali ke Aceh, meski pemerintah Indonesia dan GAM sudah menandatangani kesepakatan damai di Helsinki pada 15 Agustus tahun lalu. Tiro meninggalkan Aceh pada 1979, tiga tahun setelah dia mengumumkan kemerdekaan Aceh dari negara Indonesia. Dia menjadi warganegara Swedia, tinggal dan memimpin sebuah pemerintahan eksil di negeri itu.


TERLINTAS di benak saya untuk menemui adik perempuan Tiro di hari itu juga. Dia satu-satunya kerabat terdekat Tiro yang masih hidup. Namun, dia tidak hadir di rumah Mustafa. Seseorang mengatakan bahwa Aisyah binti Muhammad Hasan tinggal di desa lain. Hampir dua tahun setelah itu, saya baru bisa mengunjungi rumah Aisyah di desa Mali, kecamatan  Mutiara, Pidie.  Jarak Treuseb ke Mali sekitar lima kilometer.

Maimun, mantan anggota pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Pidie, menemani saya mencari rumah Aisyah. Beberapa kali kami salah jalan, karena Maimun tak hapal rute ke rumah Aisyah kalau melewati jalan kota atau jalan umum. Maimun biasa menggunakan “jalur gerilyawan”, melewati jalan setapak, desa, hutan dan gunung, dengan berjalan kaki.

Maimun berusia 26 tahun. Tutur katanya sopan dan suaranya lembut. Tujuh tahun dia bergabung dengan GAM sampai Perjanjian Helsinki ditandatangani.

Rumah Aisyah hanya berjarak 10 meter dari jembatan gantung Mali. Panjang jembatan itu sekitar 20 meter dengan tinggi 10 meter. Tepat di bawahnya mengalir sebatang sungai, berbatu-batu.

Jembatan Mali jadi tempat bersejarah bagi Maimun. Pada tahun 2003, dia dan empat temannya dikepung tentara Indonesia dari dua arah di situ. Maimun dan seorang temannya selamat, karena langsung terjun ke sungai dan berlari menjauh ke arah desa sebisa-bisanya. Namun, dua teman yang lain meninggal di tempat.

Setelah pemerintah Indonesia dan GAM sepakat damai, Maimun menganggur.

“Ada beberapa teman yang sudah tak sabar dan berkata, ‘ya sudah kita ambil senjata saja.’ Ya, untuk berbuat apa saja, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka sudah tidak tahan lagi. Saya menyabarkan mereka  dan diri saya. Tengku Hasan (Tiro) dulu berjuang dan berkorban untuk merdeka dari Indon (Indonesia) dengan tujuan mulia. Saya tidak mau mengotori perjuangan kami,” tuturnya.

Dia juga tak sepeser pun menerima dana reintegrasi. “Dikorupsi panglima sagoe kami. Tapi biarlah,” katanya, pelan. Sagoe merupakan wilayah setingkat kecamatan.

Setelah setengah jam mencari jalan yang benar, akhirnya kami sampai di muka rumah Aisyah.

Pintu gerbang rumah terbuat dari besi. Rumah gaya modern dengan sentuhan tradisional di bagian tertentu itu tampak sunyi. Anak-anak tangga di beranda depan ditutupi sebuah pintu untuk menghindari tamu tak diundang atau kucing dan ayam naik ke atas. Beranda rumah lumayan luas, berlantai semen. Bermacam pokok bunga dengan kelopak-kelopak merah-kuning bermekaran menghias halaman.

Tak berapa lama pintu samping terbuka. Dua perempuan muncul di ambang pintu. Ibu dan anak. Aisyah mengenakan jilbab putih, berbaju panjang biru motif bunga-bunga kuning dan berkain batik. Putri bungsunya,  Hilmi, masih mengenakan seragam guru warna coklat kekuningan dan berjilbab kuning.

Aisyah kini berusia 80 tahun.

“Cut Abang lebih tua dua atau tiga tahun dari saya. Tidak lebih dari itu,” katanya, dalam bahasa Aceh.

“Cut Abang” adalah panggilannya untuk Hasan Tiro. Artinya, kalau Aisyah lahir pada tahun 1927, maka Tiro lahir pada tahun 1924 atau 1925.

Tahun lahir Tiro jadi perdebatan sejarawan dan peneliti, karena banyak versi. Dalam buku karangannya, The Price of Freedom, Tiro mencantumkan tahun 1930 sebagai tahun lahirnya. Di paspor Swedianya tertera tahun 1925. Sementara dalam buku pertama yang ditulisnya, Demokrasi untuk Indonesia, Tiro menyebut 1923. Ada pula yang mengatakan Tiro lahir pada tahun 1928. Jawaban Aisyah telah mempersempit spekulasi ini. 

Aisyah dan Tiro saudara seayah, lain ibu. Tengku Muhammad Hasan menikah dua kali. Dari pernikahannya dengan Tengku Pocut Fatimah, dia memperoleh dua anak laki-laki, yaitu Tengku Zainal bin Muhammad Hasan dan Tengku Hasan Muhammad Ditiro atau populer sebagai Hasan Tiro. Setelah sang istri meninggal dunia, Muhammad Hasan menikah lagi dan memperoleh seorang anak perempuan yang dinamainya Aisyah.

“Ayah meninggal ditabrak kereta. Waktu itu umur saya baru dua tahun. Kereta api sedang disambung gerbong-gerbongnya. Ayah sedang jalan dan tidak melihat lok kereta datang, lalu ditabrak,” kisah Aisyah.   

Namun, berbicara dengan Aisyah tak mudah. Pertanyaan-pertanyaan harus diucapkan dengan suara keras dekat telinganya, agar dia bisa menyimaknya dengan baik.

“Telinga bisa mendengar suara, tapi berdengung. Dokter di Medan bilang, penyakit ini sudah naik ke otak,” kata Aisyah.

Semula dia tak menyadari bahwa perjuangan abangnya penuh risiko.

“Belakangan saya bertanya-tanya, mengapa orang ditangkap, rumah dibakar,” ujarnya.

“Tentara datang, marah-marah. Mi (Umi, panggilan untuk ibu) dimarahi,” tukas Hilmi.

“Cut Abang tidak pernah cerita perjuangan. Kalau ketemu dia menanyakan kabar kampung saja, menanyakan tentang saudara-saudara, sudah mulai berkebun atau belum. Soal biasa,” tutur Aisyah.

Aisyah tak ingat kapan terakhir kali bertemu Tiro. Dia hanya ingat peristiwanya saja.

“Cut Abang ndak  pernah pulang setelah pengibaran bendera GAM itu. Nggak ada kirim apa pun. Sedikit pun nggak pernah kirim apa-apa untuk adiknya ini. Kabar tidak ada. Surat tidak ada, telepon pun tidak. Tapi waktu kecil, Cut Abang selalu menyisakan jajanannya untuk saya. Sepulang sekolah, kalau dia beli kue, pasti dibawanya pulang untuk saya. Kami sekolah di SRI (Sekolah Rakyat Indonesia). Waktu kecil kami main sama-sama. Cut Abang pintar di sekolah. Bagus sekali akhlaknya. Dari kecil, dia sudah rapi (cara berpakaiannya),” tutur Aisyah.

Dia juga mendengar dari orang lain bahwa Tiro sudah berkeluarga di Amerika.

“Dengan orang Amerika dan punya anak satu. Tapi saya tidak pernah kenal,” katanya, tertawa.

Tiba-tiba Aisyah terdiam, kemudian memandangi saya dan bertanya, “Teringat saya, tidak kembali orang (Hasan Tiro) di luar itu. Tapi yang lain-lain sudah kembali. Mengapa dia tidak pulang? Mengapa? Apakabar dia sekarang? Apakah sakit, apakah sehat?”

Ada nada sedih dan rindu.

“Saya tahu Cut Abang di sana (Swedia), tapi tidak tahu apa kerjanya di sana. Kalaupun saya rindu kepadanya, sia-sia, dia tidak akan pulang. Mungkin Cut Abang takut pulang, karena ada dendam-dendam lama dari masa lalu,” lanjutnya, lagi.

Apakah teman-teman Tiro dari Swedia pernah mengunjunginya? Dia menyebut Zaini Abdullah baru saja mengunjunginya beberapa hari lalu.

“Katanya Cut Abang sehat-sehat di sana. Tapi rupanya sakit dan sakitnya lebih parah dari saya. Saya kira, dia sakit-sakit biasa seperti saya.” Aisyah lalu tercenung. Dia baru tahu Tiro pernah terkena stroke dari berita majalah yang kami sampaikan kepadanya.

Bagaimana dengan teman-teman Tiro di Aceh?

“Muhammad (Usman Lampoh Awe) pernah datang, tapi macam siblit (kilat; hanya sebentar),” katanya.

Kami bercakap-cakap di ruang tamu pada 27 Desember 2007 itu, duduk di mebel abu-abu. Tiang-tiang di ruang tamu tampak bengkok. Saya mengira tiang-tiang jadi bengkok karena menahan beban berat dan itu berarti malapetaka. Ternyata batang kayu mane memang tak ada yang lurus, tapi kuat dan tahan rayap.

Putri Aisyah, Hilmi, mengajar di Madrasah Istidayah Negeri Tanjung Bungong. Enam tahun lagi dia pensiun. Usianya 55 tahun.

Selain mengajar di sekolah, Hilmi juga mengajar membaca Alquran untuk anak-anak. Sejak kecil Hilmi sudah mengajar mengaji.  “Keturunan Mi,” katanya, tertawa, mengingat Aisyah dulu juga mengajar anak-anak mengaji.

Tempat belajar di beranda depan. Tak dipungut bayaran. Tetapi baru-baru ini Departemen Agama memberi honor untuk guru mengaji seperti Hilmi.

“Enam bulan, Rp 300 ribu,” katanya, tertawa.

Suaminya telah 15 tahun tak pulang dan menetap di Malaysia. Selama 15 tahun sang suami pun tak pernah berkabar.

“Dia trauma,” kata Hilmi, merujuk kepada situasi Aceh di masa konflik.

Ketika saya berpamitan, Aisyah malah menyuruh saya makan. Dia dan putrinya kemudian mengantar saya sampai ke tempat mobil diparkir, ke tanah kosong di muka rumahnya.
   
“Kalau Hari Raya tahun ini sudah kemari, Hari Raya tahun depan harus mampir ke sini. Doakan biar telinga Mi sembuh,” kata Aisyah kepada saya. Dia masih berdiri di tanah lapang itu hingga mobil kami  melaju.


SAYA selalu ingat kepada Mustafa dan pemikirannya yang sederhana. Tak semua orang memahami makna perang hampir 30 tahun ini, tapi merasakan dampaknya.

Sebelum meninggalkan Treuseb pada 10 April 2006 itu, saya melihat Mustafa berdiri tegak di ambang pintu mushola. Pandangannya mengarah ke kejauhan. Orang-orang naik turun tangga, berjalan melewatinya. Dia tetap bergeming.

Tak jauh dari situ, di halaman Madrasah Istidayah Negeri Tiro, berdiri tenda-tenda yang diisi sejumlah tamu undangan. Warga juga memenuhi teras sekolah. Sepanjang jalan penuh manusia. Ribuan jumlahnya. Yang menarik perhatian saya adalah banyak sekali orang tua. Kakek-kakek duduk termangu di tepi jalan. Isi hati  mereka sukar ditebak. Sedihkah? Atau gembira? Mereka telah menjadi saksi konflik puluhan tahun.  

Lima ratus meter dari madrasah, di tempat sejumlah mobil berhenti, sebuah Kijang patroli parkir mencolok di sisi kanan jalan. Seorang polisi berpakaian sipil merekam semua orang yang datang dengan handycam. Dia bahkan menguntit orang-orang yang menarik perhatiannya. Tak peduli panas terik. Dia terus merekam.

Saya segera menurunkan kerudung saya, berjalan cepat.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates