Loading

Orang-Orang dalam Perjalanan (oleh Nurhady Sirimorok)

Posted in Essay by Linda Christanty on 06/05/2013

Apa yang dilakukan sebuah cerita dengan menempatkan tokoh-tokoh seperti itu di tempat semacam itu? Mengapa Linda Christanty melakukannya dalam kumpulan cerita Seekor Anjing Mati di Bala Murghab?

Orang-orang itu tak sedang di rumah. Mereka dalam perjalanan, di dalam atau ke luar negeri. Mereka mengunjungi bar atau ke rumah kawan, melancong atau mengikuti kongres internasional, membangun turbin, meneliti, atau menyelundupkan ganja. Sebagian besar bepergian seorang diri, dan nyaris seluruhnya belum pulang. Salah satu dari mereka “baru saja turun dari kereta, menjauhi pintu selatan stasiun dan membaur dengan mereka yang berjalan ke tempat tujuan berikutnya.” ("Sihir Musim Dingin") Seperti tokoh lain, ia masih punya urusan, harus bertemu orang lain di “tujuan berikutnya”. Di sela sibuk perjalanan, mereka menemukan kesempatan untuk merenung, atau memancing pembaca melakukannya.

Nyaris seluruh tokoh utama di buku ini belum pulang di akhir cerita, untuk ‘menyelesaikan’ alur cerita. Kadang narasi terus bergerak hingga kalimat terakhir, ketika plot masih terurai. Pembaca digoda menyambungnya sendiri: apa yang terjadi ketika sang tokoh pulang atau melanjutkan perjalanan? Agaknya ini bukan tanpa sebab. Di sebagian besar cerita perjalanannya, Linda tampak menempatkan plot di ‘latar belakang’ untuk menyajikan situasi, semangat atau pendapat kolektif sebuah kelompok masyarakat atau bangsa di masa tertentu.

Dalam cerita "Pertemuan Atlantik" misalnya, lewat tuturan dan dialog para tokoh tersaji sebuah perbandingan situasi politik beberapa negara di bawah rezim penindas, dan kondisi setelahnya. Linda mempertemukan mereka dalam sebuah konferensi internasional. Sejumlah cerpen di buku ini tampak lebih menonjolkan ‘gagasan penulisan’. Sementara tokoh dan tempat menjadi petunjuk untuk mengakses gagasan tersebut. Dan plot? Ia cuma kereta angkut, kadang dihentikan di tengah jalan. Kita seperti dituntun untuk zoom-out dari penokohan, alur atau latar tempat demi menangkap gagasan penciptaan.

Tokoh-tokoh dalam buku ini muncul dengan profesi yang jelas: penyelundup ganja, peneliti, insinyur, staf ornop, hingga pekerja galeri. Atau, posisi-sementara mereka punya kaitan kuat dengan cerita, seperti pelancong atau pengunjung bar. Profesi mereka pun termasuk langka dalam cerpen Indonesia mutakhir, yang bila menampakkannya, didominasi politisi, seniman, guru, pekerja informal, atau seniman. Tokoh-tokoh itu menjadi demikian bukan hanya karena satu peristiwa tertentu. Serangkaian peristiwa, yang tak melulu traumatis, bisa membentuk seseorang. Di banyak cerpen Indonesia mutakhir, kita cenderung berjumpa tokoh-tokoh sakit jiwa, ringan atau berat, karena peristiwa (kekerasan) domestik, atau bila disebabkan kejadian publik terbatas pada kekerasan tertentu. Karakter seseorang ditempa oleh banyak kelokan peristiwa, termasuk bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari di ruang publik.

Erika dalam "Kisah Cinta", misalnya, bekerja sebagai staf galeri sekaligus menjadi 'pemuja keindahan tubuh'. Pekerjaan Erika menuntutnya tampil dengan cara tertentu, bergaya hidup dan bergaul dengan kelompok sosial tertentu—yang membuat kematiannya sulit terungkap. Sebaliknya, sebagai pemuja keindahan tubuh, ia memilih pekerjaan yang mengizinkan kecenderungannya. Mana yang duluan tidaklah penting. Yang jelas, profesi punya ikatan kuat dengan kondisi atau kecenderungan pribadi seseorang. Pilihan pekerjaan adalah salah satu ekspresi publik terpenting seseorang. Linda menceritakan aspek ini secara relasional dengan mencoba menjawab pertanyaan: bagaimana seseorang berprofesi tertentu memandang dunia dan dibentuk olehnya? Untuk itu, sebagian besar tokoh dibuat berbicara jujur mengenai pandangan agama, politik, dan kebangsaan mereka; berikut koinsidensi dan relasinya dengan kondisi psikologis seperti kecemasan, kekesalan, penyesalan, suara tawa, bobot tubuh dan seterusnya. Sehingga mereka tidak tampak sebagai sosok sophisticated yang melek segala macam bentuk toleransi; atau sebaliknya, tak punya pendapat samasekali. Mereka pun bukan tokoh-tokoh stereotipikal yang kerap muncul di film Indonesia. Dengan kualitas semacam itulah para tokoh Linda bergaul dalam dunia publik. Pergaulan mereka pun tak selalu dibatasi tapal negara.

Tokoh-tokoh mundane itu bepergian ke luar negeri, menunjukkan beragam bentuk pergaulan manusia antar-bangsa. Mulai dari perjumpaan sekilas di bar, beberapa malam di konferensi, mengembangkan hubungan menjadi sahabat hingga berpacaran bertahun-tahun. Cerita-cerita ini bukan tentang skandal elit diplomat atau pemimpin negara, tapi mengenai orang biasa. Linda pun berhasil menghindari kecenderungan narsistik dalam cerita-cerita perjalanan orang Indonesia. Ceritanya bukan melulu tentang Indonesia. Dalam "Jack dan Bidadari", Jack, seorang pria pengunjung kedai, memberondong pelayan kedai dengan cerita tentang kehidupan pribadinya. Ia melakukan interaksi sosial di ruang publik mencoba meringankan beban psikologisnya. Ini salah satu gejala alienasi versi Durkheim, yang di AS sudah diamati para sosiolog sejak akhir abad ke-19. Tokoh-tokoh itu bukan sedang mengumpulkan cerita, potret dan belanjaan yang membuat pemirsa dalam negeri ternganga. Bukan tengah mengejar cita-cita, mimpi, apalagi harus sukses. Bukan pelesiran menikmati pemandangan indah luar negeri untuk sejenak melupakan segala masalah di Indonesia.

Cerita-cerita Linda pun bukan narasi survival tentang menaklukkan berderet tantangan hidup atau kerasnya alam di negeri orang. Mereka tidak sedang lari dari atau menyelesaikan masalah. Tetapi hanya menjalani salah satu bagian dari hidup, menjalani profesi. Perjalanan mereka, di dalam maupun luar negeri, mengungkap beragam perihal yang lebih luas. Mengajak kita mengenali persoalan publik dunia. Mulai dari dampak berkuasanya rezim di Afganistan, gejala alienasi di Amerika Serikat, ruang-ruang kontak multi-etnis di Maroko, cuaca ekstrim dan model interaksi bisnis di Jepang; atau dampak relasi perang dan ganja di Aceh. Hingga, dalam bentuk lebih subtil, tentang kerinduan akan gerakan sosialisme di Jerman. Ketika mereka pulang, kita bisa bayangkan, masalah mereka masih terus menggantung. Tokoh Zakaria dalam cerpen "Zakaria" masih akan terus hidup dalam suasana tegang di tengah konflik bersenjata di Aceh. Ia membantu kakak perempuannya mendapatkan uang dengan menjual ganja untuk secara diam-diam mensuplai para kombatan, sementara suami kakaknya adalah seorang polisi. Dan ia harus menjaga rahasia itu.

Tokoh Aku dalam "Seekor Anjing Mati di Bala Marghab", malah ingin pulang untuk menghilangkan ketegangannya dengan 'menonton film komedi dan makan popcorn'. Ia terjebak dalam ketegangan di Afganistan karena perusahaannya memenangkan kontrak pembangunan turbin di wilayah konflik. Sebuah ‘bisnis perang’ menggiurkan. Sebagai staf kontraktor yang sama, bila merujuk Shock Doctrine-nya Naomi Klein, ia mungkin akan terus menjalani lakon serupa di daerah konflik lain. Bisa jadi inilah yang dilakukan Linda dengan meletakkan tokoh-tokoh profesional di ruang antar-bangsa. Ia berkisah tentang bagaimana para tokoh, yang karena profesinya, menjumpai beragam watak masyarakat dunia dan terlibat di dalamnya. Mereka bukan sekadar pemirsa atau konsumen dalam pergaulan dunia. Orang Indonesia bepergian, atau membaca cerita perjalanan, tidak hanya untuk memuaskan dahaga pelesiran ke luar negeri. Linda sepertinya sedang membangun sebuah sanggahan: antitesis dari kecenderungan cerita perjalanan yang kini menjamur di Indonesia.***

 

Nurhady Sirimorok, esai-esainya tersebar di berbagai media. Salah satu karyanya adalah Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia (INSISTPress, 2008) yang oleh sejumlah pengamat dinyatakan sebagai salah satu kritik sastra terbaik di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Pada 1999, Nurhady bersama M Aan Mansyur, Ari Hasriady, dan kawan-kawan lainnya, meng-inisiasi dan mendirikan Ininnawa_sebuah komunitas di Makassar yang menaungi empat organisasi, yaitu Biblioholic, Penerbit Ininnawa, Sekolah Rakyat Petani Payo-payo, dan Active Society Institute (AcSI).

Di penghujung 1999, dia menyelesaikan studi di jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada 2007, dia merampungkan studinya di bidang Rural Livelihood and Global Change di Institute of Social Studies, Den Haag, Belanda. Saat ini, Nurhady aktif sebagai anggota Dewan Pendidikan dan Pengembangan INSIST, dan anggota dewan redaksi INSISTPress.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates