Loading

Obituari: Mengenang Hasan Tiro (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 06/04/2010

AISYAH ingin mengucapkan selamat tinggal untuk abangnya. Sesaat sebelum jasad Teungku Hasan Muhammad Ditiro atau Hasan Tiro diturunkan ke liang lahat, ia minta dibolehkan menciumnya terakhir kali. Kain kuning penutup jenazah pun dibuka, Aisyah mencium wajah terbungkus kafan itu. Para lelaki di sekitar liang kemudian mulai bekerja, menurunkan dan membaringkan abangnya di sana.

Berkali-kali mereka adik-beradik berpisah dan yang terlama sepanjang tiga puluh tahun itu, setelah Hasan Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh dari negara Indonesia. Namun, sekarang dia dan lelaki yang dipanggilnya “Cut abang” ini berpisah selamanya.

Di pemakaman tak hadir Karim, anak abangnya yang belum pernah dia lihat. Karim tengah menjaga ibunya yang sakit di negeri yang juga tak pernah dia kunjungi.

Tiro meninggal dunia akibat infeksi jantung, gangguan pernapasan, dan leukemia, di usia menjelang 85 tahun.

Lebih seribu orang menyaksikan upacara pemakaman pemimpin tertinggi gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini , atau biasa mereka panggil “Wali”, di desa Meureu Lam Glumpang, Indrapuri. Para pelayat beragam usia dan latar belakang. Orang dewasa, anak muda, anak-anak. Penduduk kampung, aktivis, politisi, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya juga melihat bekas panglima GAM yang kini menjabat ketua Partai Aceh, Muzakkir Manaf. Gubernur Irwandi Yusuf tampak di antara rombongan duka.

Hari menjelang maghrib, pukul 18.30. Teriakan “Allahu Akbar” terdengar lantang, berkali-kali, mengiringi jasad Tiro bersatu dengan tanah. Sejumlah perempuan terisak. Ada yang saling menatap, lalu berpelukan.

Tiro dimakamkan di sebelah Teungku Cik Ditiro, yang terhitung kakeknya dari sebelah ayah. Di pintu masuk makam terlihat papan bertuliskan “MAKAM PAHLAWAN NASIONAL TGK CIK DITIRO”.

Tiro adalah doktor ilmu hukum lulusan Universitas Columbia, Amerika Serikat. Di masa kuliah dia bekerja sebagai staf bagian penerangan delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, pada 1954 dia mengumumkan dirinya sebagai duta besar Negara Islam Indonesia, membelot dari republik. Ketika itu dia memang orang kepercayaan Daud Beureuh, bekas gubernur militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo yang memberontak dan memproklamasikan Darul Islam di Aceh sebagai bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang dipimpin Sekarmaji Kartosoewirjo di tanah Jawa. Tiro memprotes perdana menteri Ali Sastroamidjojo, yang dituduhnya melakukan pembasmian etnis. Tiro menuntut penghentian serangan pemerintah Indonesia di basis-basis Darul Islam di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.

Setelah Beureuh menyerah dan para pengikutnya menerima tawaran bergabung dengan militer Indonesia atau di lembaga negara, Tiro tak mengikuti jejaknya. Dia mengajak sejumlah pengikut Darul Islam untuk berjuang bersamanya, tapi mengubah taktik perjuangan jadi lebih sekuler, tidak lagi berbasiskan Islam melainkan nasionalisme Aceh.

Pemerintah Indonesia berganti. Soekarno tak berkuasa lagi. Pada 1974, dia kembali ke Aceh setelah meninggalkan Aceh lebih dari 20 tahun. Di kepulangan yang berikutnya, pada 4 Desember 1976, Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh dan memimpin perjuangan bersenjata melawan pemerintah Indonesia. Dua tahun setelah itu, dia kembali meninggalkan Aceh dan memimpin perlawanan dari pengasingannya di Swedia.

“Tapi kalau ada yang menyebut Hasan Tiro itu pemberontak atau tak dukung RI (Republik Indonesia), itu orang yang tak tahu sejarah. Beliau orang pertama yang menaikkan bendera merah putih di Aceh, di Lamlo,” kata Teuku Zulfahmi, dalam pesan pendeknya lewat telepon seluler. Dia adik Cut Nur Asikin, bekas juru runding GAM yang dihukum 14 tahun penjara oleh pemerintah Indonesia. Cut Nur Asikin meninggal dunia di penjara Lhok Nga saat tsunami.

Ketika GAM mulai melemah akibat gempuran militer Indonesia, bencana tsunami melanda Aceh. Peristiwa ini mempercepat proses perdamaian antara pemerintah Indonesia dan GAM. Pada 15 Agustus 2005, di Helsinki, kedua pihak sepakat mengakhiri perang. Tiro pun pulang ke Aceh untuk pertama kalinya di bulan Oktober 2008.

Anak-anak kecil yang berdiri di sekeliling saya ikut mendoakan Tiro. Mereka mengangkat tangan dengan khusyu saat imam melafal Alfatihah.

Sebelum jenazah Tiro datang, saya berbicara dengan sejumlah perempuan di muka pos ronda, di tepi jalan desa, sekitar satu kilometer dari makam. Mereka menunggu mobil jenazah lewat. Sebagian ingin ikut menyaksikan pemakaman.

Hamna bercerita bahwa dia sedang berada di sawah ketika putrinya, Nurul, berlari-lari mengabarkan, “Tengku sudah tak ada, Tengku sudah tak ada, Mak!” Nurul baru saja menonton televisi yang menyiarkan kematian Tiro di rumah sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh.

“Bukan main sedihnya saya. Sudah tak ada lagi orang yang memperjuangkan negeri ini, memperjuangkan bangsa Aceh,” katanya, lirih.

Hamna tidak pernah bertemu Tiro secara langsung.

“Tapi di masa konflik, Meureu ini tempat yang gawat. Kalau orang-orang (tentara Indonesia) tu datang, tak peduli orang sedang makan, sudah… langsung dipukul terus dituduh GAM,” katanya.

Nurhayati lebih beruntung.

“Saya pernah melihat Tengku waktu Tengku ziarah ke makam Cik Ditiro, waktu dia pertama pulang Oktober itu. Wajahnya putih, bersih sekali,” tuturnya, dengan nada riang.

“Tapi saya sedih Tengku tak ada lagi. Sedih ingat waktu konflik. Kami di sini sangat susah, apalagi Tengku di sana pasti lebih susah lagi memikirkan di sini.” Suaranya sengau. Matanya langsung memerah, berkaca-kaca.

Nurhayati tengah menggendong anaknya yang masih balita. Dia tidak akan ikut ke pemakaman.

“Anak-anak masih kecil, nanti siapa yang menjaga. Biar mendoakan saja,” katanya.

“Tadi ada gempa, Kak. Mungkin bumi juga ikut berduka,” tutur Rita, yang baru tiga bulan tinggal di desa ini, ikut suami.

Sore tadi, gempa 5,8 skala richter memang mengguncang Aceh.

Tiga hari sebelum kematian Tiro, saya berjumpa salah seorang anggota pasukan pertamanya di Banda Aceh. Abdul Gani, berusia 65 tahun. Dia baru saja pulang dari menjenguk Tiro di rumah sakit.

“Wali sudah tak kenal orang lagi. Sudah pakai (masker) oksigen. Badannya diselimuti kain batik,” tuturnya. Dia melihat Aisyah, adik Tiro, duduk menunggui abangnya di kamar pasien.

Dia masih ingat perjalanan terakhirnya bersama Tiro ke hutan Jeunib. Dia masih ingat pesan Tiro.

“Kawan-kawan semua tinggal dalam hutan untuk menjaga harimau, itu cakap Wali. Menjaga harimau. Jadi labang (paku) Bangsa Aceh,” katanya.

“Di kantong Wali ada satu batu. Batu kecil seperti timah, tapi bukan timah. Wali bilang, emas ada, intan ada, bagaimana kayanya kita. Tapi diambil oleh Jawa. Itulah sebabnya kita berjuang,” lanjutnya.

Tapi Aceh tak jadi merdeka.

“Kalau Wali sudah tidak ada, Aceh pun tidak merdeka, biarlah saya pergi dari Indonesia,” katanya.

Areal pemakaman penuh orang. Para pelayat memenuhi jalan. Mobil-mobil diparkir di tanah kosong di sela-sela sawah. Dengan dimakamkannya Tiro di makam pahlawan ini, di samping seorang pejuang, kakeknya sendiri, menjadi peringatan bagi siapa pun bahwa tiap darah di Aceh yang menetes akibat kesewenang-wenangan akan membangkitkan perlawanan tanpa henti, turun-temurun. Bukan hanya dari keturunan Ditiro, tapi seluruh bangsa Aceh.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates