Loading

Mengenang Kartini di Dunia Kontemporer Kita* (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 04/20/2015

Mengenang Kartini adalah juga mengenang kembali ayah saya, yang dulu memberikan buku kumpulan surat-surat pribadinya Habis Gelap Terbitlah Terang, ketika saya masih di sekolah dasar.

SURAT-surat yang disunting Armijn Pane itu berasal dari terjemahan surat-surat Kartini dalam Bahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht, dan diterbitkan Balai Pustaka. Ayah membelinya di sebuah toko buku di Jakarta.

Gambar ilustrasi perempuan bersanggul dan berkebaya yang menghias sampul muka buku tersebut tentu sangat kuno dibanding sosok ibu saya di akhir dekade 1970-an, yang mengenakan sepatu bertumit tinggi, ikat pinggang dari bahan kulit, gaun yang rapi nan elegan dan kaca mata Ray-Ban dari Baush & Lomb untuk melindungi matanya dari terik matahari ketika bermobil. Tren mode dapat berubah-ubah dan tidak jarang merefleksikan keadaan sosial yang menandai sebuah zaman, sedangkan surat-surat Kartini telah ikut membentuk zaman itu sendiri ketika kata “emansipasi” tidak lagi terlarang bersenyawa dengan kata “perempuan”. Ibu dapat bekerja di luar rumah adalah juga dampak dari bola salju perjuangan Kartini.

Surat-surat Kartini dan para sahabatnya kemudian menginspirasi saya untuk berkorespondensi dengan sejumlah sahabat pena di berbagai kota Indonesia yang alamat mereka saya peroleh dari daftar pemenang teka-teki silang di sebuah majalah anak-anak, dengan tujuan merintis jalan menjadi “seorang pejuang dengan kata-kata”, seperti julukan Ayah untuk perempuan yang hari lahirnya diperingati tiap tanggal 21 April. Alhasil, setiap minggu Ibu pergi ke kantor pos dekat kantornya untuk mengirim surat-surat saya kepada mereka. Saya juga berkhayal suatu hari surat-surat kami dibukukan. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Surat-surat saya tidak berisi pemikiran yang cemerlang mencengangkan, melainkan cerita-cerita konyol dan remeh-temeh.

Habis Gelap Terbitlah Terang membuat kita menelusuri kembali situasi dan pemikiran perempuan Jawa yang hidup dalam kurun waktu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dia cerdas, kritis, peduli pada sesama, memiliki pandangan melampaui masanya dan gemar bertukar pikiran dengan bermacam orang, tapi berhadapan dengan budaya dan tradisi feodal, yang tidak mengizinkan perempuan menentukan dan mewujudkan kehendak sendiri, sedangkan di saat bersamaan kolonialisme Hindia Belanda tengah menjadi kekuatan yang juga memanfaatkan kaum feodal sekaligus menjadi tuan bagi mereka. Meskipun Kartini meninggal dunia lebih dari 100 tahun lalu, tapi perempuan di Indonesia belum sepenuhnya bebas dari sisa-sisa feodalisme. Kolonialisme bahkan berkembang ke bentuk baru yang canggih dan lebih kuat, neokolonialisme. Praktiknya masih terentang di antara Asia dan Afrika, di wilayah-wilayah kaya penyedia mineral dan hasil alam, yang terus bergolak dalam konflik dan perang.

Hampir tiga dekade setelah saya membaca Habis Gelap Terbitlah Terang, Pramoedya Ananta Toer, pejuang kemerdekaan nasional dan sastrawan terkemuka Indonesia yang menjadi musuh negara Orde Baru, menyunting serta mengulas surat-surat Kartini dalam sebuah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Buku ini diterbitkan Hasta Mitra pada 1997. Buku yang ditulis Pramoedya adalah biografi politik Kartini.

Ketika membaca Habis Gelap Terbitlah Terang, saya masih kanak-kanak. Sebagian isinya saya sudah tidak ingat. Ketika membaca Panggil Aku Kartini Saja, saya sudah dewasa dan menyimaknya dengan berbekal pengetahuan, wawasan dan pengalaman hidup. Buku ini menampilkan sosok Kartini dengan lebih terang. Berkat ayahnya, bangsawan yang menjadi bupati di Jepara dan mengabdi sebagai birokrat kolonial, dia dapat bergaul dengan orang-orang Belanda dan bahkan, pernah bertemu penggagas Politik Etis, C. Th van Deventer. Tapi politik ‘balas budi’ itu adalah pemikiran tentang perlunya menyejahterakan nasib rakyat di negeri jajahan setelah menyiksa mereka dengan Tanam Paksa, bukan untuk mengakhiri penjajahan.

Kartini menyadari bahwa antara dia dan para tamu atau sahabat keluarganya itu ada pertentangan yang tak terdamaikan. Mereka dari sisi bangsa penjajah, sedangkan dirinya bangsa yang dijajah.

Dia mengkritik tajam praktik kolonialisme dan rasisme dalam surat bertanggal 12 Januari 1900 untuk sahabatnya Estella H. Zeehandelaar atau biasa disapanya Stella, anggota Social Democratische Arbeiders Partij atau Partai Buruh Sosial Demokrat di Belanda.

Banyak, amat banyak di antara mereka boleh kami sebut sahabat karib kami. Tiada lain sebabnya, hanyalah karena kami berani berdaya upaya menjadi cerdas dan maju, hampir-hampir sama dengan mereka. Dengan cara yang halus sekali mereka membuat kami merasakan hal itu. “Saya orang Eropah, kamu orang Jawa” atau dengan kata lain “Saya memerintah, kamu saya perintah… Oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan orang Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya.

Namun, kata”Jawa” di sini tidak lagi dapat diartikan semata-mata etnis atau bangsa Jawa, melainkan dalam konteks yang lebih luas yaitu bangsa yang dijajah, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang Jawa memang paling diperbudak dan menderita di masa kolonial Belanda. Kata “Jawa” di dunia global hari ini bahkan dapat berarti rakyat Palestina atau rakyat di negeri mana pun yang masih hidup terjajah.

Bagaimana dengan rasisme? Praktiknya tak pernah pudar. Kasus penembakan brutal di kantor tabloid satir Charlie Hebdo awal Januari lalu di Paris telah dipicu oleh praktik rasisme di Perancis. Saking lumrahnya praktik itu, orang-orang di sana biasa menjadikan lelucon segala hal yang berhubungan dengan orang-orang Perancis keturunan Arab atau Aljazair, lalu menyamarkan penghinaan tersebut dalam frase ‘kebebasan berpendapat’ atau ‘kebebasan berekspresi’.

Sampai akhir hayatnya, Kartini tak pernah berhenti menyuarakan cita-citanya. Dalam surat pertamanya untuk Stella yang menanggapi pengumumannya mencari sahabat pena di Holandsche Lelie, sebuah majalah perempuan di Belanda, kita tidak hanya menangkap sikap pembela hak-hak perempuan yang bersemangat, tapi juga pejuang kemanusiaan:

Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap… gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia…

*) Dimuat suratkabar Jawa Pos, 21 April 2015. 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates