Loading

Makan Malam (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 05/30/2009

KAMI makan malam bersama, aku dan Ibu. Ya, makan malam saja kami bersama. Sarapanku selalu terburu-buru. Jalanan macet di pagi hari. Kantorku lumayan jauh dari tepi kota ini. Aku selalu bergegas. Ketika aku berangkat, Ibu masih tidur. Aku makan siang di kantor. Ibu makan siang di rumah. Makan malam adalah ritual kami, ibu dan anak. Makan malam adalah waktu kami bersama, tak bisa diganggu-gugat. Kami selalu makan malam berdua. Ibu memasak sendiri makanan yang disajikan. Sup ikan. Tempe goreng. Gado-gado. Aku makan dengan lahap dan Ibu akan memandangku dengan senyum puas. Musik juga mengalun. Kali ini Bach, kemarin Chopin. Padahal, aku suka Satie.

KAMI makan malam bersama, aku dan Ibu. Ya, makan malam saja kami bersama. Sarapanku selalu terburu-buru. Jalanan macet di pagi hari. Kantorku lumayan jauh dari tepi kota ini. Aku selalu bergegas. Ketika aku berangkat, Ibu masih tidur. Aku makan siang di kantor. Ibu makan siang di rumah. Makan malam adalah ritual kami, ibu dan anak. Makan malam adalah waktu kami bersama, tak bisa diganggu-gugat. Kami selalu makan malam berdua. Ibu memasak sendiri makanan yang disajikan. Sup ikan. Tempe goreng. Gado-gado. Aku makan dengan lahap dan Ibu akan memandangku dengan senyum puas. Musik juga mengalun. Kali ini Bach, kemarin Chopin. Padahal, aku suka Satie.

Tiap makan malam usai, kami duduk di beranda belakang. Aku dan Ibu sama-sama merokok. Asap tembakau yang putih mengepul, berputar, atau bergulung, melayang di udara, kemudian lenyap. Kadangkala ia menampar wajahku atau wajah Ibu sebelum ditelan udara dingin yang mengisapnya. Kadangkala, kami juga mengisap ganja. Di antara biusnya, kulihat sepasang mata Ibu yang terpejam. Ibu kelihatan damai dengan mata terpejam, seperti bayi tidur. Tetapi, Ibu menyebalkan kalau tidur betulan. Dengkurnya menggergaji gendang telingaku.

Di meja kecil yang membuat kami berseberangan, tersedia dua cangkir capuccino hangat. Di sela percakapan, kami akan menyeruput isi cangkir itu bersama-sama atau bergantian. Ibu kemudian melihat ke dalam mataku dan berbisik, “I love you, honey.” Hmm … aku berjingkat dari kursi untuk mengecup pipi Ibu yang wangi bedak padat. Wajah Ibu bersemburat. Sekilas kubelai rambut Ibu. Helai-helai uban telah memberi aksen di rambutnya, laksana sapuan penyepuh perak metalik beku.

Malam ini Ibu agak dingin. Kalimat ‘I love you’ cuma terdengar sekali. Sepasang matanya menerawang. Ibu melamun. Ketika Ibu melamun, aku seolah ditinggalkan sendiri dan bukan bagian dari dirinya lagi. Ketika Ibu melamun, ia bersembunyi dalam kamar yang tak bisa kumasuki. Dulu sering kulihat Ibu melamun, kemudian makin berkurang, dan akhirnya, tak pernah lagi. Sekarang Ibu kembali pada kebiasaan lama. Ada apa?

“Dia akan pulang ke sini,” kata Ibu, datar.

“Siapa?”

“Lelaki itu.”

“Oh ….”

Aku tak melanjutkan pertanyaan. Ibu sudah menguncinya dengan jawaban singkat yang umum. “Siapa yang nanti akan menjemputnya?”

“Maksud Ibu?”

“Maksudku, apa kita akan menjemput dia bersama-sama atau salah satu dari kita?”

“Ya, Ibu saja. Aku ‘kan nggak kenal dia. Lucu saja kalau aku yang jemput.”

Ibu terdiam. Kumatikan rokok di asbak. Ibu malah mengambil batang kedua, membakarnya dengan api pemantik, mengisap dalam-dalam lalu mengembuskan asap lewat celah bibir dan rongga hidung. Wussss …. Aku tertawa kecil.

“Kenapa, honey?”

“Ibu mirip kuda nil mendengus. Air keluar dari hidung. Tapi kali ini asap.”

“Ah, imajinasimu itu keterlaluan.”

Kali ini Ibu menyeruput capuccino.

“Aku belum pernah cerita tentang dia?” Ibu tiba-tiba memandangku, lurus-lurus.

“Lelaki itu?”

“Ya.”

“Untuk apa? Itu ‘kan urusan Ibu.”

Tiba-tiba ia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. Kami saling diam, saling pandang. Aku menunggu kata-kata Ibu, tapi Ibu malah menghela napas.

“Kenapa? Ibu punya masalah? Cari saja yang lain, kalau dia bikin masalah,” kataku, bersemangat.

“Masalah bersama dia, sudah lama.”

“Kalau begitu, putuskan saja. Aku nggak mau melihat Ibu sedih.” Aku cemas.

“Yang satu ini tidak semudah itu. Karena kami punya sejarah.”

“Sejarah bisa dihapus.”

“Yang ini tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Dia ayahmu.”

“Ayah? Ibu bilang, aku diambil dari bank.”

Ibu menyeringai getir, lalu mengusap-usap kepalaku, lembut. “Kamu minta cuti kantor saja sehari. Kita jemput dia di bandara dua hari lagi.”

AYAH, kata yang ganjil. Kata yang tak kupahami ini membuatku sering menjadi bahan olok-olok teman kecil. Mereka menyebutku anak pohon bambu. Guru Bahasa Indonesia di sekolah pernah bercerita tentang Mandudari, bayi perempuan yang ditemukan di semak bambu. Mandudari tidak berayah, tapi beribu. Ia tidak beribu manusia, tapi bambu. Mandudari ada dalam kisah perwayangan. Tetapi, aku bukan anak pohon bambu. Aku anak Ibu. Dalam satu hal, aku sama seperti Mandudari, tidak punya ayah. Aku hanya hidup berdua dengan Ibu.

Teman-temanku mempunyai ayah. Kadangkala lelaki itu menjemput mereka di sekolah. Ayah dan anak tertawa-tawa, bercakap riang. Kadangkala, aku merindukan Ayah. Namun, rindu yang membingungkan, seperti menginginkan sesuatu yang tidak pasti, seperti kanak-kanak yang menangis tanpa sebab di tengah malam, seperti galau yang panjang.

Rumah kami juga pernah kedatangan lelaki, dua kali. Tapi itu bukan Ayah. Dua kali untuk dua pria. Itu kunjungan yang kuketahui. Teman-temanku malah berkata, Ibu sering pergi ke hotel dengan sepuluh pria, berganti-ganti.

Pria-pria Ibu tak pernah bicara padaku. Mereka duduk di ruang tamu, tertawa-tawa, kemudian pergi lagi bersama Ibu, entah ke mana. Mungkin ke hotel. Ketika aku mulai remaja, Ibu tak pernah lagi membawa lelaki ke rumah.

Teman-teman di sekolah menyebut Ibu: perempuan panggilan. Kata Ibu, pria-pria itu adalah pekerjaan. Aku sempat cemburu pada mereka, tapi kemudian tidak lagi. Saat aku tamat sekolah menengah pertama, Ibu mengirimku ke lain kota untuk melanjutkan sekolah. Aku tinggal di asrama siswa. Pertemuanku dengan Ibu hanya berlangsung di saat-saat libur.

Kadangkala Ibu mengunjungiku. Kami berjalan-jalan melihat kota, naik becak atau andong. Kami makan di restoran dan belanja macam-macam keperluan wanita. Menyenangkan.

Setelah tamat perguruan tinggi, aku kembali ke rumah kami. Baru kali ini aku sungguh-sungguh memperhatikan Ibu. Ia tampak lelah. Ia berkali-kali ke dokter, tapi tak mau diantar. Sakitnya tak pernah sembuh. Sakit pada tubuh bisa diobati. Sakit pada hati sampai mati. Aku ingat lagu ini. Dulu Bi Iyem, pembantu kami, suka menyanyikannya sambil memasak atau menyapu rumah.

“Sebaiknya kamu bertemu Ayahmu,” kata Ibu, dengan suara serak, sehari sebelum lelaki itu datang.
Ibu sakit lagi. Tubuhnya demam.

“Mengapa dia meninggalkan kita?” Kemarahan menggumpal di tenggorokan.“Nanti kamu tanyai dia. Mengapa? Pertanyaan itu juga yang ada di kepalaku selama lebih dari tiga puluh tahun ini. Mengapa?” Air mata meleleh di pipi Ibu yang mulai kelihatan kendur.

Bila sakit, Ibu senang mendengar gending Jawa. Aneh juga. Selera Ibu jadi berubah mendadak begini. Ibu bagai terseret dalam alunan gending. Gending menjadi ombak. Ibu menjadi perahu. Mereka bergulung-gulung dan saling hempas di laut lepas. Kulihat mata Ibu berkaca-kaca.

DULU Ayahmu suka menembang, kata Ibu. Suaranya merdu. Di malam hari ketika Ibu mengandung aku, Ayah suka menembang. Suaranya jernih. Aku pernah dininabobokan Ayah dan itu membuat perasaanku tenteram. Seperti apa wajah Ayah, Bu?

Ibu tak menyimpan potret Ayah. Tetapi dia terekam di sini, Ibu menunjuk dadanya. Bahkan, untukku pun tak bisa dibagi.

Ayah tengah melawat ke luar negeri menjelang keributan besar terjadi. Sebelum menghilang dalam hening yang lama, Ayah mengirimi Ibu sepucuk kartu pos bergambar gedung-gedung tua di Moskwa. Ada sebuah universitas yang dicita-citakan Ayah sebagai tempatku kuliah nanti. Patrice Lumumba. Padahal, aku masih meringkuk dalam rahim Ibu, belum tahu akan lahir hidup atau mati.

Suatu pagi buta, setelah siaran radio berkali-kali menyiarkan berita kudeta, serombongan orang mendatangi rumah dan mencari Ayah. Ibu sedang hamil 5 bulan. Mereka mengobrak-abrik ruang kerja Ayah, mengambil buku-buku dan dokumen lalu membakarnya. Keesokan hari, saat langit masih gelap, Ibu meninggalkan rumah itu dan pergi ke kampung nenek.

Fitnah-fitnah mulai gencar. Banyak orang dibunuh. Mayat-mayat mengambang di sungai. Ibu memutuskan kembali ke kota. Hidup harus berlanjut. Aku sudah lahir dan butuh susu. Setelah itu kehidupanku seperti berhenti, kata Ibu. Pria-pria silih-berganti.

“Aku sudah tahu,” kataku, pedih, seraya memeluk Ibu.

“Kita lama kehilangan kontak dengan Ayahmu. Minggu lalu aku dapat telepon dari istri seorang teman, yang bilang Ayah masih hidup dan ingin pulang.”

MAKAN malam kali ini kami bertiga. Aku, Ibu, dan Ayah. Tak ada musik klasik. Ibu membeli makanan terbaik dari restoran mahal. Namun, suasana menjadi ganjil. Ibu dan Ayah tak berani saling pandang. Aku seakan monyet yang terjebak.

Wajah pria di hadapanku tirus, putih, dengan rongga mata dalam. Uban sudah memenuhi kepala. Jasnya kebesarannya. Suaranya gemetar, mirip rintihan. Inilah Ayahku. Bagaimana aku menghadapi pria ini?

Kami makan tanpa suara. Denting sendok garpu saling bersahut.

Setelah makan malam, Ayah memberiku sehelai syal biru.

“Kamu bisa mengenakannya untuk bepergian,” kata Ayah, bergetar. Tetapi, aku tak biasa mengenakan syal untuk penampilan sehari-hari. Ini negeri tropis. Panas.

“Oh, ya … terima kasih, Om … eh, Yah.” Aku memanggilnya “Om”!

Ibu langsung mengusap-usap punggungku. Tenang, bisiknya.

“E, aku ingin mendengar e … Ayah bercerita,” kataku.

“Cerita apa? Aku belum punya cerita.”

“Oh, ya sudah. Kalau begitu menembang saja.”

“Hmm … suaraku nggak bagus lagi. Dan sekarang lagi nggak pengen nembang.”

Kulirik Ibu yang tertunduk diam.

“Ayah berencana tinggal di sini?”

“Belum tahu. Mungkin nggak. Di sana aku juga punya kehidupan.”

Entah kenapa, aku ingin menangis.

“Jadi, kenapa pulang?”

Ia memandangku. Tulang-tulang rahangnya mengeras.

“Aku mau selesaikan urusan dengan Ibumu.”

Malam itu mereka berbicara di beranda. Aku mendekam dalam kamarku, mengisap ganja. Layar komputer menyala. Desain majalah yang harus selesai besok kubiarkan terbengkalai. Aku malas.

Apa yang akan dibicarakannya dengan Ibu? Mengapa aku disingkirkan dari pembicaraan mereka? Aku tiba-tiba merasa pedih.

Sejam kemudian, kurang lebih, terdengar derit pintu kamarku. Ibu datang dengan mata sembab.

“Kenapa?”

“Dia sudah punya dua anak di sana. Datang ke sini cuma untuk minta maaf pada kita. Dia merasa bersalah padamu dan minta maaf,” kata Ibu, mendekapku.

Kami berpelukan. Aku dan Ibu. Ayah meninggalkan rumah malam itu juga. Katanya, ia akan menginap di hotel. Setelah itu ia akan berkeliling ke kota-kota di Jawa, mencari teman dan saudara-saudara. Malam itu aku tidur bersama Ibu. Aku meringkuk dalam pelukannya. Aku merasa ingin kembali memasuki rahimnya dan tinggal di sana.

AKU dan Ibu masih makan malam bersama. Namun, kali ini aku yang memasak untuk kami. Aku juga menyuapi Ibu. Chopin, Bach, Beethoven, Schubert … silih-berganti. Kami akan selalu berdua. Kesehatan Ibu makin memburuk. Ia sudah jarang berbicara padaku. Aku selalu berbicara padanya tentang bermacam hal. Minggu lalu, ia kubawa ke dokter. Sakit pada tubuh bisa diobati. Sakit pada hati sampai mati. Ayah, kata itu makin sayup dan tak terdengar lagi ….

 

Pertama kali dipublikasikan di Koran Tempo, 2005.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates