Loading

Makam Keempat (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 07/16/2009

PAULA datang ketika lampu-lampu ruang telah padam. Tubuhnya memancarkan sinar putih. Lembut. Berpijar. Kuletakkan kotak cerutuku di meja dan bangkit perlahan dari kursi malas untuk menyambutnya. Namun, ia memunggungiku, meluncur di lantai, kemudian menghilang tepat di tengah lorong menuju dapur. Dan lantai licin yang kupijak tiba-tiba berperekat. Aku tertahan di atasnya, mirip tikus terjebak di perangkap berumpan. Kusaksikan Paula sirna. Kedua tanganku yang bersiap memeluknya tertahan di udara, menggantung kaku. Ia meninggalkan ruang lengang tanpa aroma. Ia meninggalkan aku. Datang dan perginya bagai tuah dari tongkat sihir, terbit dari tiada dan lenyap ke dalam tiada. Dibiarkannya kami menunggu selama sepuluh musim.

PAULA datang ketika lampu-lampu ruang telah padam. Tubuhnya memancarkan sinar putih. Lembut. Berpijar. Kuletakkan kotak cerutuku di meja dan bangkit perlahan dari kursi malas untuk menyambutnya. Namun, ia memunggungiku, meluncur di lantai, kemudian menghilang tepat di tengah lorong menuju dapur. Dan lantai licin yang kupijak tiba-tiba berperekat. Aku tertahan di atasnya, mirip tikus terjebak di perangkap berumpan. Kusaksikan Paula sirna. Kedua tanganku yang bersiap memeluknya tertahan di udara, menggantung kaku. Ia meninggalkan ruang lengang tanpa aroma. Ia meninggalkan aku. Datang dan perginya bagai tuah dari tongkat sihir, terbit dari tiada dan lenyap ke dalam tiada. Dibiarkannya kami menunggu selama sepuluh musim.

Ketika belum terbiasa dengan cara datang dan pergi Paula, aku sering berteriak-teriak memanggil namanya dan berharap ia berbalik serta menatapku. Tak sekalipun ia menggubris. Kedua telinganya bagai tersumbat besi tempaan. Tubuhnya meluncur lurus ke muka, sebelum lebur dalam udara. Namun, aku masih berharap.

Paula selalu datang ketika hanya pijar lampu bacaku yang menyala dan membuat gradasi cahaya, ketika temaram di sekelilingku benar-benar hilang di ujung lorong gelap-gulita.
Aku menyebut namanya, dengan tekanan dan perasaan beragam; haru, senang, cemas, putus asa. Namun, suara serak ini hanya dijawab oleh gemanya sendiri, diikuti desah napasku yang berat, letih. Setelah itu malam mendesakkan sebuah penyelesaian: aku harus tidur dan meninggalkan kursi malasku yang tegak lurus dengan lorong sebelum istriku muncul menjemput. Sayang sekali, aku bukan orang yang patuh, meski kutahu berjaga semalaman memicu asmaku kambuh. Aku lebih suka membiarkan istriku datang, bahkan sengaja menunggu. Ia selalu membujuk dengan berbisik, lalu menuntunku ke kamar kami. Bisikannya tak pernah kusimak, tapi kedatangannya menuntutku beranjak dari sini. Kalian akan melihat sepasang rongsokan manusia berjalan tertatih-tatih, menyerupai zombie. Di depan mataku, pintu kamar kami telah terpentang lebar. Cahaya lampu benderang. Wangi melati samar tercium (istriku selalu menabur kuntum-kuntum melati yang dipetiknya di kebun di empat sudut kamar kami. Ini kebiasaannya sejak kami baru menikah). Dulu aku sering marah melihat pintu kamar terbuka. Nyamuk-nyamuk pasti menyerbu masuk dan Elia—istriku—akan tergopoh-gopoh menutup pintu. Aku semalaman pasti gelisah, menggaruki sekujur tubuh yang gatal-gatal. Lagipula, aku pantang mengoles krim anti-nyamuk di kulit. Wanginya membuat mual. Aku juga tak suka bau racun serangga, karena membuat tenggorokan kering dan dadaku sesak. Elia lalu mengutuk dirinya semalaman dan aku menyela, ‘sudahlah’ berkali-kali, sambil terus menggaruk-garuk mirip tingkah kera berkutu. Sekarang aku pasrah saja. Ya, ya, nyamuk juga perlu nutrisi. Elia kini lebih tenang.

Setelah rebah tubuhku di kasur, lampu kamar dipadamkan Elia. Ia tidur memunggungiku. Aku memunggunginya. Ada ruang sempit menyela di antara tubuh kami, bagai jalan sunyi tanpa sorot lampu dan dengkung katak berkantung leher.

Sebentar kemudian terdengar dengkur halus Elia yang berirama, sedang mataku terbuka lebar, nyalang. Kubiarkan nyamuk-nyamuk mendarat di pipi atau menggigiti jari-jari kaki.

Dengung binatang pengisap darah itu menemaniku. Ingin kunyalakan cerutu, tapi Elia benci bau tembakau dalam kamar.

CAHAYA matahari masuk lewat lubang-lubang udara di atas pintu dan jendela, menerangi kamar yang gelap. Aku buru-buru bangun dan membasuh muka dengan air dingin dari baskom aluminium. Elia tak lagi kulihat di tempat tidur. Selimutnya telah terlipat rapi. Ia berangkat ke pasar pagi-pagi ketika ikan dan kerang masih segar. Elia kurang suka ikan yang diawetkan dengan es. Dagingnya jadi hambar. Elia pintar memasak lauk-pauk dari laut. Kami sudah lama tak makan daging binatang berkaki empat, juga berpantang minum arak. Orangtua seperti kami harus banyak menahan diri. Kalau ingin umur panjang, jangan makan serakus babi, pesan ibuku.

Kuletakkan handuk muka di sisi baskom, lalu berjalan ke pintu. Aku akan memeriksa toko tembakau kami. Inilah pekerjaan rutinku: membuka dan menutup toko. Seharusnya aku membuka toko pukul tujuh tadi. Sekarang sudah pukul setengah delapan. Aku tidur nyenyak macam kerbau setelah cukup sukar memejamkan mata.

Aku melangkah di lorong itu. Dingin Tepat di tengahnya Paula menghilang semalam. Pintu menuju toko terletak di dinding kiri. Kuputar gagang tembaga. Terpaan udara ruang terasa hangat.

Toples-toples kaca berisi berjenis tembakau berderet dalam rak kayu. Ada yang campuran. Ada yang murni. Rasanya beragam. Di desa ini orang-orang seusiaku senang mengisap tembakau rajangan yang dibungkus kertas marning. Bagiku, sigaret terasa kurang tajam.

Aku juga menjual cerutu bermutu sedang sampai mahal. Pembelinya tak sebanyak tembakau rajangan, tapi selalu ada. Toko ini pula yang telah menghidupi keluargaku, termasuk membiayai kuliah Paula di Jawa. Aku ingin ia menjadi pengusaha besar, bukan pemilik toko kecil sepertiku. Kubiarkan ia meraih ilmu setinggi langit.

Biarkan bangau terbang, kata ibuku. Namun, air tanah yang kau minum rupanya menentukan jalan hidupmu. Paula memilih jalannya sendiri. Tetapi, mengapa harus jalan itu? Elia sempat menyalahkanku. Katanya, aku terlampau sering membacakan kisah-kisah silat Kho Ping Hoo pada anak kami dan sepak-terjang pendekar yang hebat membuat kanak-kanak terpikat, membekas sampai dewasa. Benarkah?

Kudengar derit pintu samping. Langkah-langkah kaki. Batuk kecil. Elia sudah kembali. Aku tak ingin ia melihatku tercenung di sini. Aku pun malas membuka toko. Kuputuskan menengok kamar Paula. Barangkali, putriku sudah duduk membaca atau menulis di sana.

Suatu malam, ia pernah mengejutkan aku dan Elia. Kami mendengar suara-suara dari atas loteng. Bersama-sama kami mendaki tangga dan diam-diam menempelkan telinga di daun pintu. Terdengar laci-laci meja ditarik dan kertas-kertas disibak, kemudian dirobek-robek. Apakah ibuku sedang berbenah? Setahuku ibu selalu hadir tanpa suara. Bukan, bukan, ibu, bisikku. Elia juga sependapat. Ibu datang dalam sunyi, katanya.

Kami menguatkan hati untuk mengetuk pintu. Tiga kali. Tiga ketukan untuk permulaan. Tak berapa lama muncul raut mungil putriku. Istriku menangis. Aku terpaku. Kata Paula, ia sengaja pulang diam-diam dan masuk ke rumah lewat pintu samping yang tak dikunci (istriku kadang-kadang ceroboh. Lagipula di desa kecil ini, tak pernah ada orang yang kehilangan, kilahnya). Mengapa harus pulang diam-diam, tak minta dijemput? Dari mana ongkos pulangmu? Bulan lalu, kamu sudah pulang. Perasaanku tak enak. Paula menatap aku dan ibunya silih-berganti. “Aku sedang dikejar-kejar orang,” ujarnya, pelan. Kubalas dengan bergurau, “Dikejar pacar?” Wajah Paula justru menegang. “Kalau ada orang asing ke sini dan menanyakan aku, katakan saja Papa dan Mama tak kenal,” jawabnya, datar.

Tak kenal bagaimana? Kamu adalah putriku, anak kami satu-satunya. “Aku juga tak akan menyebut-nyebut nama kalian kalau ada apa-apa,” balasnya, tak acuh. Istriku segera memperoleh firasat buruk. “Kamu melakukan apa, Nak?” Bibir Elia bergetar. Malam itu Paula tak mau bicara. Ia hanya menggeleng atau menunduk. Pagi-pagi ia meninggalkan rumah, menyeberang naik kapal pertama. Istriku menangis seharian. Aku sangat berharap putriku mau bicara. Tetapi, Elia melarangku memaksa Paula. Jangan kasar padanya. Ia putri kita satu-satunya. Baiklah. Aku juga tak mau disebut diktator. Para kaisar biasanya diktator. Aku bukan kaisar, kataku. Elia protes lagi. Jangan kau bawa-bawa kisah-kisah silat itu. Ya, sudah. Aku memilih diam.

KAMAR Paula terletak di loteng, menghadap matahari terbenam. Dari tepi jendela ini anakku leluasa memandang ke halaman belakang yang berisi tiga makam. Makam tertua adalah makam ayahku. Berbeda dengan makam-makam pada umumnya, tak ada jasad yang terbaring di situ. Ayah hilang di laut ketika kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut Arafuru. Ibu kemudian meminta orang menggali makam, lalu mengubur barang-barang kesayangan ayah sebagaimana tradisi orang-orang Tionghoa. Tak begitu jelas apa yang dicari ayah dalam perjalanan maut itu. Ibu mengatakan ayah hendak berniaga.

Namun, salah seorang sepupuku membuka rahasia. Ayahmu punya anak dan istri di pulau lain, katanya. Para pedagang sama seperti pelaut, mencatat kedatangan pada tubuh perempuan, bisik sepupuku itu.

Makam ayah dan ibu disela makam Yan Yan, anjingku yang mati tua. Paula kecil sering menabur bunga-bunga di atas ketiga makam tersebut. Suatu hari, ia berlari ke rumah dan memeluk erat ibunya. Ada apa, Nak? Paula tak mau bicara, meski berulang kali Elia membujuk. Di malam hari tubuhnya panas tinggi. Aku dan istriku panik. Dokter hanya memberi obat pereda panas. Anak Anda ini tak tahan pada perubahan cuaca, kata dokter. Ketika itu tengah musim pancaroba. Keesokan hari, suhu tubuh Paula normal lagi. Beberapa hari kemudian, Paula bercerita melihat perempuan mengenakan cheongsam merah marun keluar dari makam neneknya dan terbang ke langit. Aku percaya itulah ibuku, yang mengenalkan diri pada sang cucu. Berkali-kali Paula melihat perempuan cantik ber-cheongsam muncul. Ia menampakkan diri di lorong menuju dapur, ruang makan, atau halaman belakang. Ia meluncur di lantai, duduk di kursi, atau bertengger di dahan pohon kenanga. Paula mulai terbiasa dengan kehadiran ibuku dan merindukan neneknya tiap waktu. Aku dan istriku sering mendengar Paula bercakap-cakap dengan seseorang. Ketika kami melihat ia hanya sendirian, kami maklum. Putri kami sedang bercengkrama dengan neneknya. Derai tawa Paula terkadang mampir di pendengaranku, meski ia tak ada. Aku percaya ibuku menjaga cucunya sampai ke seberang pulau. Perasaan tersebut menenangkan hati.

Kamar Paula kosong bertahun-tahun. Tamu keluarga kami jarang menginap. Bila ada yang menginap, mereka memilih menggelar kasur atau tikar di ruang tamu. Setahun sekali, saat Paula kembali untuk berlibur, kamar itu berpenghuni lagi. Kamar Paula dibersihkan istriku tiap hari, seolah ia masih tinggal bersama kami. Seprei di ranjang tetap dipasang. Buku-buku di lemari tertata rapi. Boneka-boneka Paula tak satu pun beranjak dari rak mainan. Harum cairan pencuci lantai selalu tercium.

Kulihat jendela sudah terbuka. Udara segar mengalir ke dalam. Aku berjalan ke jendela, melihat ke halaman belakang. Tiga makam. Aku sedang berencana menambah sebuah makam lagi di sana, tetapi tak tega menyampaikan niat itu pada Elia.

MAKAM tersebut harus dibangun agar kami berhenti menunggunya pulang. Aku dan Elia selalu menunggu Paula. Ia menemuiku pada malam-malam sepi, tapi tak pernah bicara. Ia tak benar-benar ada.

Dalam percakapan telepon terakhir, Paula mengatakan tiga hari sebelum perayaan Natal ia sudah sampai di rumah. Istriku menjahit sebuah gaun dengan potongan sederhana untuknya. Sejak kanak-kanak Paula tak suka gaun berenda. Hanya membuat badanku gatal, Papa, katanya, bersungut-sungut. Aku tersenyum mengingat kelakuan putri kami. Ia kini sudah dewasa. Apakah ia sudah punya pacar? Suatu kali ia mengagetkanku dengan pernyataan seram. Papa jangan harapkan aku menikah, karena pernikahan itu cuma cocok untuk orang-orang kaya. Hah? Dulu Papa dan Mama menikah dengan modal dengkul, Paula. Ia terdiam sebentar, kemudian menggamit lenganku. Dengarkan Papa, bisiknya, aku dan teman-teman sedang berupaya agar setiap orang bisa hidup makmur dan aman. Kalau itu sudah tercapai, aku akan kawin. Aku terbahak-bahak. Kamu bukan tukang sulap, Nak. Ia terkekeh-kekeh.

Namun, putriku tak pernah datang pada hari ketiga, kedua, pertama, sebelum Natal, bahkan bertahun-tahun sesudahnya. Ia tak menepati janji pada orangtua.

Aku meneleponnya pada malam pertama ia ingkar. Ia tak ada di asrama. Sudah lama, ia pindah dari sini, kata suara perempuan di seberang. Berapa lama? Hampir setahun. Ooh …. Aku menyusulnya ke Jawa, mencari ke kampus. Ia sudah lama mengundurkan diri, Pak, kata seorang dosen, bernada enggan. Di mana kau, Nak?

Elia mengeluarkan titah. Aku tak boleh pulang sebelum anak kami ditemukan. Kolom-kolom kriminal suratkabar kutelusuri. Berita-berita televisi kudengar. Kamar-kamar mayat tiap rumah sakit kudatangi. Putri kami tak ada. Aku kembali setelah tiga bulan mengelana, menyusuri jejak putri kami. Akhirnya, Elia percaya Paula memang hilang. Untunglah ia taat beragama, sehingga kehilangan putri kami dianggapnya kehendak Tuhan.

Dua tahun kemudian, seseorang yang mengaku teman baik Paula meneleponku dan mengabarkan ia hilang. Kami sudah tahu! bentakku. Dari orang tersebut aku memperoleh pengetahuan baru. Putri kami mengajak orang-orang melawan kaisar lalim. Kuungkapkan hal itu pada istriku. Ia menjerit dan mencakarku. Kau yang hasut dia untuk jadi pendekar! Istriku kembali galau. Kita harus mencarinya, kata Elia, dengan airmata bercucuran. Mencari ke mana? Ke mana saja, asal masih di dunia ini. Baiklah.

Sebuah majalah menyebutkan putriku mungkin disekap di sebuah benteng.

SEBUAH benteng. Aku teringat kisah putri berambut panjang yang disekap di sebuah benteng. Paula kecil kurang menyukai kisah itu dan menyuruhku membacakan buku dongeng yang lain. Entah bagaimana mulanya, kubacakan petikan karya Kho Ping Hoo untuk Paula. Ia terkesima. Mata kanak-kanak yang bening itu tak berkedip. Ia jatuh cinta pada tokoh-tokoh pendekar. Ia membayangkan dirinya pendekar berpedang sakti, anggun, cantik, keras hati, suka menolong.

Kini ia disekap di benteng. Pendekar sakti disekap dalam benteng. Seharusnya ia bisa meloloskan diri. Seharusnya.

Kudatangi wilayah yang ditulis majalah itu, ditemani Elia. Kami pandangi bukit cadas, batang-batang bambu, semak-semak. Di mana mereka menyekap putriku? Tak ada benteng. Sebuah informasi lain kuterima: benteng itu terletak di bawah tanah. Andaikata, aku cacing tanah, mungkin sudah kuketahui letaknya. Orang-orang membantu kami mencari benteng. Mereka mulai menggali siang-malam. Namun, tak ada benteng. Paula benar-benar lenyap.

SIANG itu aku menyambut jam makan dengan perasaan aneh. Elia memanggang ikan hiu. Aku tak mau makan daging hiu. Siapa tahu putri kami dimakan hiu. Kata orang-orang, Paula dibuang ke laut dan mungkin dimakan hiu. Elia menghidangkan hiu panggang di meja makan, tapi aku cuma menyentuh sayur bening sawi. Air mata menggenangi sepasang mataku. Ada apa, tanya Elia. Tangisku makin keras. Ada apa, ia bertanya lebih lembut. Putri kita ada dalam hiu ini, bisikku, tersendat-sendat. Ia langsung tersedak, beranjak dari kursi, menangis di tepi bak cucian. Tak berapa lama ia kembali, meraih piring ikan di meja, lalu menuang isinya ke tong sampah.

Di malam hari, aku memutuskan bicara pada istriku tentang Paula. Aku tak mau lagi menunggu putri kami setiap malam. Aku ingin Paula tenang. Aku ingin kami menjalani hidup tenang tanpa dia. Biarlah, anak kita bersama ibu, kataku. Istriku mengangguk pelan.

SEBUAH makam baru berdiri di sebelah makam ibu. Istirahatlah, Nak. Pendekar pun butuh istirahat. Tiba-tiba dahan-dahan Kenanga berderak. Bunga-bunga berjatuhan. Kurasakan tangan istriku yang dingin dalam genggaman. Ibu sudah menerima anak kita, bisiknya, lega.

Pagi ini kami sudah berpakaian rapi. Kukenakan setelan terbaik dan sepatu kulit bersemir. Kupandangi Elia yang makin tua dan murung dalam gaun terusan hitam. Begitu hitam, seperti burung-burung gagak yang berkaok-kaok di benakku. Air mataku meleleh. Elia menatapku. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi gagal. Sebentar lagi kami akan pergi ke gereja, berdoa. Ini Natal kelima tanpa Paula.


*) Cerita pendek ini terdapat di buku Kuda Terbang Maria Pinto (Kata Kita, 2004).




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates