Loading

Linda Christanty dan Potret Suram Kenyataan (oleh Hapis Sulaiman)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 06/12/2010

Usai Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan Tentang Politik, Islam dan Gay (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009), Perempuan kelahiran Bangka, yang menetap di Aceh dan menjadi pemimpin redaksi Aceh Feature ini tampil lagi dengan 'curhat’-nya yang baru melalui kumpulan cerita yang ditajuki Rahasia Selma (Gramedia Pustaka Utama, 2010). Apa dan bagaimana Rahasia Selma? Ini hasil wawancara jarak-jauh saya dengan Linda Christanty.

Kenapa memilih Rahasia Selma sebagai judul buku ini?

Judul ini diusulkan oleh penerbit. Saya setuju saja.

 

Tokoh anak perempuan dan perempuan sebagai sosok dewasa (ibu dan sebagainya), digambarkan begitu suram-dalam polah, pemikiran, bahkan tak jarang juga sebagai korban. Sebaliknya, laki-laki banyak Anda gambarkan sebagai sosok superior dengan keputusan-keputusan mereka yang 'menindas' perempuan. Ada yang ingin Anda sampaikan?

Sebagian besar cerita saya memang suram, begitu pula tokoh-tokohnya. Tapi, mereka berjuang melawan masalah atau keadaan dengan caranya masing-masing, dengan segenap kemampuan mereka saat itu. Tokoh anak perempuan dalam "Pohon Kersen" misalnya, adalah korban kekerasan seksual. Pelakunya orang yang dia kenal. Peristiwa itu terjadi di rumahnya sendiri.

Hasil penelitian yang kita baca di majalah atau surat kabar pun menyebutkan bahwa kebanyakan pelaku pemerkosaan atau kekerasan seksual terhadap anak-anak justru orang yang mereka kenal. Akibatnya, jarang ada tuntutan hukum terhadap si pelaku, karena hal itu dianggap membuka aib keluarga. Selain tekanan psikologis, korban maupun keluarga korban juga mengalami tekanan sosial, seperti rasa malu.

Melalui cerpen ini, saya juga ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan keluarga yang riang dan hangat mungkin ada lapisan kelam dan murung yang tak tampak. Kehidupan kita sehari-hari juga begitu. Tapi yang penting adalah bagaimana tiap orang mengatasi masalah-masalahnya, menyembuhkan dirinya, tidak hancur berkeping, dan menjelma pribadi yang lebih tangguh. Tokoh anak perempuan ini ada dalam proses tersebut.

Tokoh "Kupu-Kupu Merah Jambu" adalah seorang waria. Dia terlibat prostitusi. Sejak kecil dia mengalami tindak kekerasan dalam keluarga. Sejak dia masih kecil identitas seksualnya yang berbeda juga dilecehkan. Tidak hanya itu, guru mengajinya bahkan menghukum para murid (laki-laki maupun perempuan), termasuk tokoh cerpen ini, yang gagal menghapal ayat-ayat Alquran, dengan memaksa mereka melakukan hubungan seksual. Kisah ini tidak jauh dari kenyataan sehari-hari. Televisi Indonesia juga pernah menyiarkan ulah ustadz yang melecehkan atau meniduri murid-muridnya. Belum lama ini saya juga membaca di surat kabar tentang para pastur yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak, tapi Paus di Roma tidak bertindak tegas. Saya baca di International Herald Tribune.

Semua ini realitas dalam masyarakat. Kekerasan terhadap anak, homofobia, agama menjadi alat pihak tertentu untuk menindas yang lemah, pelanggaran hak asasi manusia. Itu fakta yang terus terjadi sampai hari ini. Ada hal yang tidak benar, sinting, dan terus menggerogoti dunia tempat kita tinggal. Bagaimana kita mengubahnya jadi lebih baik, misalnya? Minimal, saya membuat pembaca berpikir tentang ini.

Tokoh utama dalam "Kupu-Kupu Merah Jambu" kemudian terpaksa membunuh pelanggan yang mencoba menyiksanya dengan lebih kejam. Sebab, hanya itu cara yang bisa dilakukan seseorang dalam dunia tanpa belas kasihan yang tergambar di cerpen tersebut. Saya tidak menganjurkan kekerasan sebagai jalan keluar bagi pembaca saya menyelesaikan masalah mereka, tapi dalam logika cerita ini, si tokoh melakukannya untuk mempertahankan diri.

"Jazirah di Utara", meskipun tampak sebagai kisah cinta biasa, justru mengetengahkan begitu banyak dikotomi dan relasi kuasa: Islam-Barat, kesetaraan-partriarki, rasional-irasional, dan kenyataan-mitos. Tokoh utama cerita ini perempuan, berjilbab, dari keluarga yang sangat taat beragama dan keturunan Nabi Muhammad, dari pihak ayahnya. Si lelaki yang jadi pasangannya berkebangsaan Prancis, seorang Katolik, keturunan imigran Aljazair di Prancis dan keluarganya selama dua generasi bekerja sebagai buruh pabrik. Mereka, dua manusia ini, pun bertemu.

Ternyata dalam perbedaan-perbedaan itu si perempuan justru menemukan sejumlah kesamaan keadaan dan persepsi mereka tentang dunia. Keduanya aktivis hak asasi manusia. Si perempuan juga melakukan pemberontakan atau bahkan revolusi terhadap nilai-nilai yang dianut keluarganya selama ini. Tentu saja hal itu tak mudah. Tapi dia kemudian menjadi dirinya sendiri, dengan pilihan hidupnya sendiri.

Saya menceritakan hal-hal yang biasa terjadi dalam masyarakat kita. Lelaki yang terkesan superior dalam cerpen-cerpen saya, itu juga gambaran umum dalam masyarakat kita. Tapi dalam sejumlah cerpen saya, laki-laki dan perempuan juga sama-sama korban situasi tertentu, misalnya korban dari sistem politik yang otoriter ("Ingatan") atau cinta yang membingungkan ("Kesedihan"). Hubungan lelaki dan perempuan juga tak selalu hitam-putih, atau superior versus inferior.

Dalam cerpen "Kesedihan", tergambar hubungan yang mendalam dan rumit antara dua orang yang sudah berpisah tapi masih tinggal bersama.

 

Ada alasan tersendiri menampilkan potret kaki berkaus kaki hijau dengan sandal hitam sebagai sampul buku?

Penerbit yang menawarkan desain itu. Tepatnya, Mirna Yulistianti yang merancang gambar sampul itu untuk saya. Dia bilang, sampul muka dua buku saya yang sebelumnya agak suram. Saya tidak begitu paham desain. Tapi saya menangkap maksud Mirna. Kuda Terbang Maria Pinto didominasi warna hitam. Sampul buku saya Dari Jawa Menuju Atjeh bahkan membuat orang tak bisa membaca judulnya dengan jelas dan nama saya sebagai penulisnya tenggelam dalam gambar ukir-ukiran di situ. Mirna ingin orang juga menoleh pada buku ini saat dipajang bersama begitu banyak buku lain. Kalau sampul buku saja sudah tidak menarik, orang akan malas membukanya, meski isinya mungkin sangat menarik dan penting disimak.


Dengan segala kesuraman yang ditampilkan dalam cerita-cerita di sejumlah buku Anda, sebenarnya apa atau bagaimana definisi kebahagiaan dan kenyamanan hidup menurut Anda, utamanya untuk perempuan?

Bagi saya, kebahagiaan itu adalah ketika saya menyelesaikan tulisan dengan baik, ketika saya berkarya, juga ketika saya akhirnya berhasil menjalankan keputusan-keputusan hidup saya secara independen. Saya termasuk orang yang beruntung, meski untuk menjadi diri saya di hari ini, saya juga harus berjuang keras. Definisi kebahagiaan tiap orang pasti berbeda. Saya tidak ingin menggurui.

 

Meghabiskan banyak waktu di Aceh—Bekerja di sana, adakah latar tempat, tradisi, dan budaya Aceh mempengaruhi cerita-cerita Anda?

Ya, ada tiga cerpen saya dalam kumpulan ini yang berkaitan dengan Aceh, yaitu "Drama", "Jazirah di Utara", dan "Para Pencerita". Cerpen "Drama" mengisahkan seorang pengacara, mata keranjang, yang terlibat gerakan perlawanan. Tokoh-tokoh saya tidak pernah hitam-putih. Tokoh ini memasok buku bacaan untuk panglima perang di hutan. Ia sebenarnya orang yang punya peran penting dalam mengatur hal-hal di belakang layar. "Jazirah di Utara", sudah saya ceritakan dalam jawaban sebelumnya. "Para Pencerita" mengetengahkan soal konflik Aceh dan hukum agama dari sudut pandang orang-orang biasa.

 

Soal pribadi, bagaimana Anda mendeskripsikan pribadi Anda dalam 3 kata?

Lucu, kritis, pantang menyerah.

 

Adakah hobi, kegemaran, atau aktivitas santai yang menyenangkan—di luar baca tulis—yang Anda lakukan di saat senggang?

Saya suka traveling dan itu memperkaya pengalaman saya dalam memahami manusia dan situasi di berbagai tempat. Ketika saya pergi ke suatu tempat, saya tidak akan bertanya di mana tempat belanja yang paling asyik lebih dulu. Saya pasti bertanya bagaimana keadaan politik, bagaimana perekonomian warga di negeri itu. Seperti apa budaya setempat. Bagaimana perkembangan seni dan sastranya. Itu terjadi secara spontan, di mana pun saya berada. Saya juga tidak tahu kenapa saya begitu. Wah, ternyata saya kurang bisa santai, ya?

Oh, ya, saya senang menonton film dan menari. Sudah lama saya tidak menari.***

 

*pertama kali dipublikasikan oleh Majalah AREA

 

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates