Loading

Karbala (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 08/11/2010

TIAP waktu adalah Asyura. tiap tempat adalah Karbala, tiap mihrab adalah darah. Kata-kata itu selalu terngiang dan saya tidak ingat lagi siapa yang pernah mengatakannya. 

Di hari raya Asyura, Nenek selalu memasak bubur merah dan bubur putih. Bubur merah yang legit terbuat dari campuran beras dan gula merah, sedang bubur putih yang asin berasal dari beras, santan kelapa, dan garam yang ditanak. Ketika mata Nenek makin rabun dan tidak sanggup lagi memasak bubur istimewa ini, Ibu atau Bibi-Bibi saya kelak menggantikannya memasak penganan tersebut. Selain untuk dimakan seisi rumah, bubur juga dibagikan kepada para tetangga. Saya dan adik-adik tidak menyukai bubur merah-putih. Namun tiap kali Asyura selalu ada bubur yang membosankan itu.

Setahu saya, bubur merah-putih sama sekali bukan kuliner dari tanah Arab. Peringatan Asyura terjadi di Irak dan berbagai negara Islam, yang dilaksanakan kaum Muslim bermazhab Syiah secara besar-besaran. Di saluran televisi Al Jazeera, misalnya, saya pernah menonton tayangan perayaan Asyura di Irak. Lelaki dan perempuan menangis keras-keras, memukul-mukul tubuh mereka, menampakkan duka cita mendalam sambil menyiksa diri, meratapi kematian Imam Hussain bin Ali. Padahal dalam keluarga kami pantang meratapi orang yang sudah meninggal dunia dan apalagi, menyakiti tubuh sendiri. Keluarga kami menganut mazhab Sunni Syafi’i, meskipun merayakan Asyura telah menjadi tradisi.

Ketika Hussain diserang tentara Yazid bin Muawiyah di Karbala, Irak Selatan, hanya orang-orang Syiah yang membelanya. Syiah, artinya ‘pengikut’ dalam bahasa Arab. Para ahlul bait atau keluarga Nabi Muhammad berhutang budi pada orang-orang Syiah ini dan merayakannya sebagai tanda ikut merasakan kesedihan mereka atas kematian Husain.

Orang-orang Syiah tidak pernah berkompromi dengan kezaliman, berbeda dengan orang-orang yang Sunni menganggap anarki lebih berbahaya daripada kezaliman dan mereka memilih mendukung status quo demi rasa aman. Di masa presiden Suharto berkuasa di Indonesia, para ulama atau para pemuka agama banyak yang mendukungnya. Itu pula yang membuat rezim Orde Baru begitu lama tumbang dan bahkan kini tengah berusaha bangkit lagi. Keadaan semacam itu pula yang terjadi di masa hidup Hussain. Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan, memaksa siapa pun untuk mengakuinya sebagai khalifah. Para ulama tadinya sudah sepakat tidak mendukung kekhalifahan Yazid, seorang yang destruktif, despotik, perampok, dan penista kaum perempuan. Tetapi kelak semua orang berbaiat atau bersumpah setia atas ancamannya.

John Bar Penkaye, pendeta Nestorian di Mesopotamia pada akhir abad ke-7, menggambarkan Yazid sebagai “tiran berkepala kosong”. Penkaye menjadi saksi di masa awal kekuasaan Islam di Timur Tengah. Selain Penkaye, Abul A'la al Maududi dalam bukunya Al Khilafah wa al Mulk menyebutkan dua ciri utama pemerintahan Yazid: 1. Ditegakkan di atas nepotisme dan negara berlandaskan asas kekeluargaan. Makin dekat seseorang dengan pemimpin yang berkuasa, makin banyak hak istimewa yang didapat, 2. Ditegakkan di atas pelecehan hak-hak rakyat. Penguasa menafsirkan ayat Alquran sesuai kepentingan mereka untuk membenarkan penindasan itu sebagai kehendak Tuhan. Ketika ada yang menentangnya, akan dituduh menolak takdir dan tidak mau menerima ketentuan Allah. Hanya Hussain, satu-satunya yang menolak berbaiat. Dia menjadi panutan orang-orang Quraishy dan para ulama di Mekkah dan Medinah setelah kematian abangnya, Hasan, yang meninggal dunia akibat diracun istrinya sendiri, keponakan Muawiyah bin Abu Sofyan. Bagi Hussain, dia tidak mungkin berkompromi pada kekuasaan.

Hussain berusia 57 tahun saat itu. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan," kata Hussain pada Muhammad Ali Hanafiah, saudara tirinya, yang mencegahnya keluar dari kota Medinah. Maksud Ali Hanafiah, bila mereka berkumpul di Medinah, mereka akan menghadapi apa pun bersama-sama. Minimal, kalau terjadi sesuatu pada Hussain dan pendukungnya pasti ada demo kecil-kecilan. Percakapan dan adegan ini dikisahkan kembali oleh orang-orang tua dalam keluarga kami di hari Asyura. Namun, Hussain tetap memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersamanya ada puluhan penunggang kuda dan pejalan kaki, juga banyak anak-anak. Di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, sekitar 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Mereka membantai Hussain dan keluarga serta pendukungnya itu.

Pengertian 'setiap mihrab adalah darah' dalam ajaran Syiah tetap relevan hingga hari ini, yakni di saat kekuasaan menjadi alat untuk menghukum, menghilangkan nyawa dan merampas hak orang tanpa proses pengadilan yang benar, dan menghalalkan darah rakyat yang dibunuh atas nama Tuhan. Ketika keadilan tidak berpihak kepada orang yang sepatutnya dibela.

Sebenarnya Hussain sudah mengtahui bahwa dia tidak akan pernah sampai di Khufah. Dia memang tidak punya pilihan lain dan harus mati. Kalau dia sampai tunduk kepada kekhalifahan Yazid, maka tidak akan ada lagi kebenaran. Ibarat matahari, kebenaran akan tenggelam selamanya.

Gugurnya Hussain kemudian membangkitkan semangat orang-orang Islam melawan pemerintahan Islam Muawiyah yang berpusat di Damaskus, Suriah. Satu-satunya keturunan Muawiyah yang selamat dari perang tersebut adalah Abdurrahman, yang lari ke Spanyol dan menjadi raja di Kordoba. Kebanyakan pengikut Muawiyah berada di Kordoba, lalu mendirikan Dinasti atau Bani Umayyah. Kekuasaan dinasti ini amat luas, meliputi Afrika, India, Tiongkok, hingga perbatasan Rusia.

Teladan Hussain tak ada beda dengan Nabi Isa Almasih atau disebut umat Kristiani, Yesus Kristus, ketika melawan kekuasaan Romawi. Kekaisaran Romawi dan Dinasti Umayyah sama-sama negara adidaya di zamannya. Walaupun sekarang Bani Umayysah dan Bani Abbasiyah—dua kekhalifahan Islam yang sama-sama menyelewengkan ajaran Nabi Muhammad—telah jadi fosil dalam sejarah, praktik penindasan ala mereka tetap terjadi di dunia kita hari ini. Selama masih ada sekelompok orang, sekte, aliran, penguasa atau siapa pun yang ingin membeli kebenaran dengan kekuasaan dan bahkan mengatasnamakan Tuhan atau agama untuk bertindak sewenang-wenang, maka setiap waktu adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala, dan setiap mihrab adalah darah.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates