Loading

Kakek Saya, Opa Manusama dan Opa Willem (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 11/30/2014

Kisah orang-orang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pascaproklamasi.

Kakek saya, Tubagus Abdul Malik Ismail, seorang yang tidak pernah tunduk. Menurut keterangan bekas ajudan pribadinya Amaruddin Jakfar kepada Ayah saya, Kakek dibuang Belanda ke Palembang menjelang Jepang berkuasa. Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, dia pulang ke Pulau Bangka. Ternyata di Pulau Bangka Kakek ditangkap oleh tentara Jepang dan dibuang lagi ke Palembang. Di sana dia dipaksa menjadi romusha untuk membangun rel kereta api di Tanjung Enim. Kakek kemudian memimpin pemberontakan romusha melawan tentara Jepang di Tanjung Enim. Banyak romusha dan tentara Jepang terbunuh akibat pemberontakan itu. Sisa romusha yang masih hidup melarikan diri. ke arah Jambi. Namun, hanya dua orang yang selamat dan akhirnya sampai di Aceh, yaitu Kakek dan temannya, Mamat bin Sanip.

Amaruddin juga bercerita bahwa Kakek adalah salah satu dari empat pejuang perintis kemerdekaan Indonesia terpenting di Pulau Bangka. Kakek dan tiga temannya, yaitu Ali Banyu dari Belinyu, yang kelak menjadi kepala negeri di Kecamatan Kelapa pascaproklamasi, Yakub Hasan dari Keretak, Sungai Selan, dan Haji Ishak, seorang lulusan Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, dari desa Celuwak, Simpang Katis, mendirikan Partai Indonesia (PI) di Pulau Bangka pada tahun 1930 setelah Soekarno ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Penjara Banceuy, Bandung pada tahun 1929. Para Soekarnois berinisiatif mendirikan PI, karena PNI mengalami mati suri dan menjadi partai terlarang di masa tersebut. Kini Amaruddin, seperti halnya Kakek, sudah almarhum. Sebelum meninggal dunia, dia menyelesaikan penulisan bukunya tentang masa-masa itu dan menunggu diterbitkan oleh ahli warisnya.

Ketika tentara Jepang menyerah, Kakek memutuskan pulang dari pelariannya di Aceh dengan berjalan kaki dan menyeberangi laut untuk sampai kembali di Pulau Bangka. Namun, masa perlawanan terhadap penjajah ternyata belum selesai. Pasukan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) atau tentara pemerintah Hindia Belanda dalam pengasingan di Australia, datang dengan membonceng pasukan Sekutu.

Di Pulau Bangka, seperti di daerah-daerah lain di Indonesia, proklamasi kemerdekaan Indonesia disambut dengan pembentukan Badan Keamanan Rakyat yang kelak berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Seperti di daerah-daerah lain juga, seorang panglima teritorium diangkat untuk memimpin TKR dan berkedudukan di Pulau Bangka, tepatnya disebut Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung. Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung ini adalah Kolonel FFJ. Manusama, seorang Ambon, mantan Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang memilih bergabung dengan Republik Indonesia (RI).

Kolonel Manusama mendapat tugas dari pemerintah RI untuk memimpin Teritorium Bangka Belitung. Beliau seangkatan dengan Daud Beureuh, Kolonel Soedirman (kemudian dikenal sebagai “Panglima Soedirman” dalam sejarah Indonesia) dan Kolonel AH. Nasution. Sebelum mengemban tugas di Bangka, Kolonel Manusama bertugas di Lampung, Sumatra. Di Bangka, dia pun dikenal dengan julukan “Pak Lampung”. Temannya sesama KNIL yang juga bergabung dengan pemerintah RI dan merangkap asisten pribadi beliau ikut menyertainya ke Bangka, yakni Letnan Willem Nanlohy.

Singkat kata, sepulangnya Kakek dari pelarian di Aceh, dia berteman akrab dengan Kolonel Manusama dan Letnan Willem Nanlohy. Mereka adalah orang-orang yang ingin mempertahankan kedaulatan RI di Pulau Bangka, yang tindakan ini tentu tidak disukai oleh sebagian orang Bangka yang federalis atau para pendukung negara boneka Belanda buatan Van Mook.

Situasi politik tadi mempengaruhi kehidupan Ayah di muka bumi hingga jauh ke tahun-tahun sesudahnya. Ayah lahir waktu Kakek dalam pelariannya di Aceh dan sesuai pesan Kakek kepada Nenek saya, dia dinamai Tubagus Zarkasih Abdul Malik.

Ayah terlahir prematur atau kurang dari tujuh bulan dalam kandungan Nenek saya. Akibatnya Ayah sakit-sakitan, seolah hidup segan mati tak mau. Atas inisiatif Kolonel Manusama, Ayah diangkatnya sebagai anak dan atas usul Letnan Nanlohy dinamainya “Johnny”, sebuah nama yang tidak ditemui pada nama orang Bangka di masa itu. Kakek setuju saja dengan tindakan sahabat-sahabatnya, asalkan Ayah menjadi lebih sehat. Sejak itu pula Ayah dipanggil “Johnny” oleh seluruh keluarga dan handai taulan kami. “Zarkasih” sudah tak ada lagi. Dalam dokumen-dokumen resmi, nama Ayah tercantum “Johnny Malik”.

Namun, usia Opa Manusama tidak panjang. Pasca proklamasi, situasi di Pulau Bangka sangat mencekam. Para pendukung Republik tak sampai 500 orang dan senjata pun tak sampai 100 pucuk. Mereka harus berhadapan dengan tentara NICA yang mendukung para federalis dan juga harus berperang melawan Tentara Tionghoa (TT) yang ingin membentuk negara Cina di Pulau Bangka. TT ini didukung oleh pemerintah Belanda dan Sekutu. TT merupakan sebuah gerakan politik pascaproklamasi Indonesia. Perang yang terjadi antara pasukan TKR dengan pasukan TT bukanlah sebuah kerusuhan sosial atau kerusuhan etnis, melainkan pertempuran untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara dari ancaman musuh.

TKR kewalahan menghadapi dua musuh sekaligus, yaitu NICA dan TT. Akibatnya, ribuan rakyat Bangka tewas, mengungsi dan terbantai antara tahun 1945 hingga 1947. Tentara NICA dibantu TT akhirnya berhasil menghancurkan dan memecahbelah TKR di Bangka.

Akibatnya terjadi pembangkangan para perwira TKR terhadap pucuk pimpinan TKR, yakni Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung. Saking tajamnya pembangkangan dan perpecahan itu ditambah serangan musuh, akhirnya Kolonel Manusama menyeberang ke Palembang seorang diri, terpisah dari pasukannya untuk mengambil tambahan pasukan dari Palembang, dengan menumpang perahu nelayan. Di Muara Sungsang, Sungai Musi, dia ditembak mati oleh pasukan TKR sendiri dalam peristiwa yang kemudian disebut “salah tembak”, dengan alasan bahwa tentara-tentara itu tidak tahu bahwa sasaran tembak mereka ternyata Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung. Mereka juga mengatakan bahwa sasaran mencoba terjun ke laut saat ditembak dan membuat mereka menganggapnya musuh yang ingin menghindari pemeriksaan.

Itu alasan yang dicari-cari.

Mustahil pasukan di Muara Sungsang tidak mengenal Panglima Tentara dan Teritorium Bangka Belitung. Hanya ada satu sebab penembakan itu. Perpecahan TKR di Bangka telah berimbas di Palembang dan membuat TKR di Palembang juga terpecah. Artinya, Kolonel Manusama ditembak oleh faksi TKR yang berseberangan dengan dirinya. Mayatnya tidak pernah ditemukan. Adik saya, Budhi, dalam tiap perjalanannya ke Sumatra, selalu menyempatkan naik perahu nelayan ke Muara Sungsang. Sesuai amanat Ayah kami, dia menabur bunga di situ, tempat Opa Manusama gugur.

Peran Kolonel Manusama dalam mempertahankan Bangka-Belitung jatuh ke tangan pasukan NICA tertera pada catatan sejarah tentang perlawanan rakyat di Pulau Belitung. Dia mengirim utusan untuk mengetahui kekuatan NICA di pulau tersebut dan mengabarkan gerak pasukan musuh di Bangka. Pada 14 Desember 1945, para pemuda di Belitung bertempur dengan NICA di desa Selat Nasik yang terkenal dengan sebutan “Pertempuran Selat Nasik”. Catatan tentang pertempuran itu mengungkapkan bahwa mereka menggunakan “senjata bren-gun pemberian Manusama, pimpinan TKR yang berkedudukan di desa Pongkok, Bangka”. Tidak hanya itu, Opa Manusama memimpin langsung pertempuran di Pulau Mendanau, Tanjung Lancur, Belitung, dari tanggal 14 Desember sampai 19 Desember 1945 untuk menghadang pendaratan tentara NICA yang menggunakan kapal perang Admiraal Tromp.

Di tubuh TKR sendiri terdapat beberapa faksi, yang ikut mewarnai dan menentukan situasi Indonesia pascaproklamasi: 1. Faksi Peta yang dipimpin Kolonel Soedirman, 2. Faksi KNIL yang dipimpin Kolonel Oerip Soemohardjo dan Kolonel AH Nasution, 3. Faksi lasyar dari rakyat yang tidak terlatih dan kelak dibubarkan wakil presiden Muhammad Hatta melalui rasionalisasi dan restruktursasi tentara, yang menyebabkan pecahnya pemberontakan di mana-mana melawan RI yang baru seumur jagung.

Letnan Willem Nanlohy, yang menjadi kepala staf dan perwira detasemen markas TKR di Bangka, terpisah dari pasukan seperti yang dialami panglima teritoriumnya, Kolonel Manusama. Dia mengemban tugas menyelundupkan tambahan senjata untuk pasukan di Pulau Bangka, tetapi dia kemudian tertangkap tentara NICA. Dia lalu dijebloskan ke penjara lama kota Pangkalpinang yang sekarang berubah menjadi RUBASAN atau rumah barang sitaan.

Di penjara itu pula dia bertemu lagi dengan Kakek saya yang juga ditangkap tentara NICA. Kakek ditangkap di Jalan Keretak Besi, Lampur, akibat pengkhianatan seorang Tionghoa, pendukung NICA dan TT. Selain Kakek dan Opa Willem, di sel khusus itu juga ditahan Haji Samad dari Kampung Asem, Pangkalpinang. Mereka bertiga menjadi tahanan politik dari tahun 1948 hingga 1950.

Setelah Kakek dibebaskan, beliau mulai mencurahkan perhatian kepada keluarga, termasuk pendidikan anak-anaknya. Kakek mengirim Ayah belajar ke Semarang, Jawa Tengah. Ayah naik kapal laut Kuanmaru ke Semarang, bersama Mursid, sahabatnya (yang kelak kami kenal sebagai "Om Mursid"). Berkat koneksi politik Kakek, selama beberapa bulan Ayah tinggal di rumah Walikota Semarang, Wuryanto, di daerah Candi. Letak rumah itu cukup jauh dari tempat Ayah menjalani belajar praktik, sehingga Ayah meminta izin Kakek untuk pindah ke tempat lain dan menyewa kamar di rumah seorang Indo-Belanda bernama Ruben. Walikota Semarang ini pada tahun 1965 dibunuh tentara, karena dituduh terlibat G 30 S. Selama di Semarang, Ayah bersahabat dengan keluarga Jenderal Sudarman dan sering menginap di rumahnya. Jenderal Sudarman kelak menjadi direktur utama PT Timah.

Menjelang 1965, situasi di Semarang memanas dan Ayah yang tadinya ingin bekerja di Semarang diminta pulang ke Bangka oleh Kakek. Ayah mematuhi permintaan Kakek dan membawa serta temannya dari Semarang, Sudibyo, keponakan Jenderal Sudarman. Ayah pun melamar bekerja di PT Timah yang ketika itu Jenderal Sudarman sudah menjabat direkturnya. Tetapi Ayah tidak diterima bekerja di perusahaan penambangan timah terbesar di Indonesia, bahkan di dunia di saat itu. Bukan akibat ketidakmampuannya, melainkan akibat sentimen premordialisme. Ayah saya dianggap bukan orang Jawa. Sudibyo, keponakan Jenderal Sudarman dan teman akrab Ayah saya, langsung diterima bekerja di perusahaan tersebut.

Gagal memperoleh pekerjaan membuat Ayah malu pulang ke rumah orangtuanya dan dia pun mencari pekerjaan paruh waktu di bengkel permesinan PT Timah. Usia Ayah masih 20-an. Kepala bengkel permesinan tersebut bernama Kapten Willem Nanlohy. “Nama kamu, siapa?” tanya Willem kepada Ayah. Dia heran begitu Ayah menyebutkan namanya. Itu bukan nama yang biasa untuk orang Bangka. Dia lalu menanyakan nama Kakek saya. Ketika Ayah menyebutkan nama Kakek, Willem sangat terkejut. Dia langsung bercerita kepada Ayah bahwa dia adalah “Om Willem” yang dulu sering menggendong Ayah saya waktu kecil dan dia dipenjarakan Belanda bersama Kakek, tempat Ayah sering dibawa Nenek untuk membezuk mereka. Sejak keluar dari penjara, Kakek saya dan Opa Willem memang tidak pernah bertemu lagi, karena melanjutkan kehidupan masing-masing. Opa Willem menikah dengan perempuan Tionghoa yang berasal dari Belinyu dan dikaruniai beberapa anak.

Sejak itu pula Ayah diterima bekerja dan menjadi salah satu kepala di bagian permesinan. Karier Ayah meningkat cepat, sehingga menjadi kuasa Kapal Enggano di usia yang sangat muda. Persahabatannya dengan keponakan Jenderal Sudarman, kami memanggilnya “Om Dibyo”, berlangsung sampai Ayah meninggal dunia.

Di rumah kakek di masa perjuangan itu, selain Opa Manusama dan Opa Willem, seorang teman dekat Kakek bernama Mat Peng juga sering datang. Mat Peng seorang Melayu-Bangka. Dia kelak gugur saat terjadi kontak senjata dengan pasukan NICA di tempat yang sekarang terletak antara desa Belilik dan desa Celuwak, Simpang Katis. Jenazahnya dimakamkan di daerah Namang, jalan menuju Koba, Bangka Tengah, oleh penduduk setempat. Berdasarkan pemberitahuan seorang warga Namang belum lama ini, penduduk desa Belilik mengenal Mat Peng dengan nama Badar Muluk. Makamnya telah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pawitralaya di kelurahan Dul, Bangka Tengah.

Sebelum meninggal dunia, Ayah selalu menceritakan berulang-ulang tentang Kakek, Opa Manusama dan Opa Willem. Karena itu pula, saya menulis kisah ini untuk mengenang dan menghormati mereka yang kini telah tiada. ***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates