Loading

Jilbab Tata dan Kekerasan terhadap Perempuan (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 08/26/2010

INDIRA atau Tata, adik saya, berjilbab sejak ia masih kuliah di semester dua jurusan statistika FMIPA, Universitas Padjadjaran. Ketika Tata memutuskan berjilbab, pemerintah Soeharto justru mewaspadai penggunaannya.

Menjelang kelulusannya, Tata diminta berpotret untuk foto di ijazah sarjananya. Ia juga diminta melepas jilbab saat dipotret. Tata menolak melepas jilbab. Akhirnya ia harus menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa ia tidak akan menuntut apa pun di kemudian hari bila foto itu berdampak terhadap hidupnya, termasuk susah memperoleh pekerjaan.

Di SMAN 3, Bandung, tempat adik saya Budhi bersekolah, para siswi secara resmi dilarang berjilbab. Jilbab dianggap bukan bagian dari ajaran Islam, melainkan proses Arabisasi (dan uniknya pengusung Arabisasi anti terhadap Westernisasi yang mereka sebut sebagai "Barat" itu). Sementara pemerintah Indonesia menganggap gerakan berjilbab merupakan bagian dari propaganda kaum fundamentalis Islam, yang hendak menyeragamkan ajaran Islam berdasarkan penafsiran mereka sendiri dan tindakan tersebut dianggap mengancam demokrasi—meski dalam praktiknya, pemerintah Soeharto juga melanggar demokrasi.

Ketika itu pengajian-pengajian marak di Bandung, termasuk pengajian yang diselenggarakan Aa Gym dan berpusat di rumahnya sendiri, di saat ia belum terkenal dan masuk televisi. Saya pernah datang sekali ke pengajiannya bersama Tata untuk mengetahui isi ceramahnya. Gaya ceramah Aa Gym agak berbeda dengan Kyai Haji Zainuddin Mz yang terkenal waktu itu. Ia bertutur kalem dan menyelipkan ungkapan-ungkapan lucu, sedang Zainuddin lebih lugas dan penuh sindiran yang juga lucu. Yang saya ingat, logat Sunda Aa Gym kental sekali, dan hal itu membuat ia terdengar makin lucu di telinga saya. Kelak ia berpoligami dan membuatnya tidak populer lagi.

Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung seingat saya punya lingkaran pengajian sendiri, begitu pula mahasiswa Universitas Padjadjaran. Di belakang sekolah saya, SMAN 1, ada masjid Salman dan istilah "anak-anak Salman" begitu populer sebagai julukan untuk mahasiswa yang giat mengikuti pengajian. Apa yang disebut pengajian di Bandung ternyata berbeda dengan pengertian pengajian di Pulau Bangka. Pengajian di Bangka berisi kegiatan membaca Alquran bersama-sama, sedang pengajian di Bandung berisi ceramah-ceramah tentang Islam dan tidak seorang pun terdengar membaca Alquran.

Beberapa kampus melarang mahasiswi berjilbab pada akhir1980-an itu. Perempuan yang mengenakan jilbab ke kantor juga mendapat teguran dari atasan mereka. Sejumlah perempuan sukar memperoleh pekerjaan, karena berjilbab. Mereka yang berjilbab dianggap aneh dan keanehan itu dianggap berbahaya. Tapi orangtua kami punya pandangan terbuka dan menghargai perbedaan.

"Mungkin inilah pakaian yang sesuai dengan hati adikmu," kata Ibu pada saya.

Sejak kecil selera berbusana Tata agak unik. Baju-baju yang dibeli Ibu di toko jarang sekali berkenan di hatinya. Ia tidak suka hiasan pita, kerah renda, apalagi lengan berkaret. Jangankan baju,Tata kecil pun tidak suka mengenakan pakaian dalam bikinan pabrik. Kakek kami bahkan berinisiatif merancang celana dalam dari bahan katun untuk Tata dan menjahit sendiri celana dalam untuk cucunya ini, yang tentu saja berukuran dua kali lipat ukuran semestinya demi kenyamanan si pengguna.

Apa jawaban Tata sendiri tentang jilbabnya? "Tata berjilbab agar Allah mencintai Tata, Kak," katanya pada saya, belum lama ini.

Oh....

"Selain itu, Tata juga merasa nyaman dengan pakaian ini," lanjutnya.

Percis penjelasan Ibu kami.

Saya kemudian bertanya kenapa Tata tidak memaksa saya memakai jilbab agar Allah mencintai saya juga.

"Memakai jilbab atau tidak, itu urusan pribadi! Tidak boleh dipaksakan sama sekali. Keyakinan tiap orang berbeda. Tidak siapa pun berhak memaksa orang lain untuk punya keyakinan yang sama dengannya," katanya, sambil terheran-heran mendengar penuturan saya tentang penerapan hukum Islam di Aceh pascakonflik.

Tata tidak pernah mencela celana jins atau blus lengan pendek saya, seperti halnya saya tidak mempersoalkan jilbabnya. Kami menghargai pilihan busana masing-masing.

Dalam keluarga besar kami tidak satu perempuan pun mengenakan jilbab sebelum Tata memecah rekor tersebut. Nenek buyut saya, nenek saya dari sebelah ayah maupun ibu, bibi-bibi saya, dan ibu saya juga tidak berjilbab. Seingat saya, nenek menggunakan selendang untuk menutup kepala, begitu pula ibu dan para bibi di saat menghadiri acara kenduri. Anak-anak perempuan mengenakan setelan selendang dan baju kurung saat hendak pergi mengaji.

Berbeda dengan masa Soeharto, kini jilbab jadi tren dan di Aceh, ia malah wajib dikenakan oleh perempuan Muslim. Seperti halnya memelihara jenggot dan bersorban, jilbab adalah fenomena yang berulang. Gerakan penampilan ini kemudian dihubung-hubungkan dengan kebangkitan kembali Islam. Namun, apa yang disebut "kebangkitan kembali" justru tidak sesederhana apa yang terlihat. Dinamikanya ternyata lebih dari sekadar jilbab, sorban dan jenggot itu.

"Kebangkitan kembali" tadi juga tidak merujuk pada gagasan tunggal, melainkan terpecah dalam dua aliran: fundamentalisme dan revivalisme.

Kaum fundamentalis ingin mengembalikan ajaran Islam ke masa ribuan tahun lalu, atau seperti di zaman kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, dan menganggap masa-masa tersebut sebagai bentuk sempurna penerapan Islam dibanding selama ini.

Revivalisme adalah kebangkitan kembali Islam melalui cara-cara yang sesuai peradaban manusia dan kemajuan zaman. Alquran dan hadist ditafsirkan dengan semangat kekinian.

Cara berpakaian Tata memang ala kaum fundamentalis, tapi cara pandangnya adalah cara pandang revivalis. Ia tidak menganggap perempuan Muslim yang tidak berjilbab sebagai kaum sesat. Ia juga tidak setuju terhadap wajib jilbab dan kekerasan terhadap perempuan yang mengatasnamakan syariat Islam.

Kaum fundamentalis juga mencoba menerapkan ajaran Islam yang mereka terjemahkan sebagai penerapan budaya Arab, bahkan sama sekali tidak mempraktikkan ajaran-ajaran penting Islam, seperti penghormatan terhadap martabat manusia dan kaum perempuan. Penerapan budaya Arab ini seringkali dengan cara kekerasan,yang bertentangan dengan ajaran agama mana pun.

Peristiwa serupa pernah terjadi di Kesultanan Banten pada abad ke-17.

Suatu hari Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Gusti kembali dari naik haji dan perjalanannya ke negara-negara Timur Tengah serta Turki. Ia langsung mengeluarkan dekrit yang isinya mewajibkan seluruh rakyat Banten mengenakan baju ala Muslim Arab!

Ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa, langsung membatalkan dekrit itu. Sultan bahkan meminta para ulama di Banten, termasuk Syeh Yusuf Al Makassari, untuk menasihati putranya.

Kelak Pangeran Gusti berambisi jadi Sultan. Ia memberontak terhadap ayahnya dengan dukungan VOC. Pada April 1684 Pangeran Gusti dilantik Belanda sebagai Sultan Banten ke-7, dengan nama penobatan Sultan Abu Nazar Abdul Qohhar, dan digelari Sultan Haji, karena ia sudah dua kali naik haji ke Mekah sebelum dilantik jadi Sultan. Ayahnya, Sultan AgungTirtayasa, menghabiskan sisa hidup sebagai tawanan perang di kastil Batavia dan wafat setelah dipenjara selama sembilan tahun oleh VOC, musuh besar yang dibencinya seumur hidup.

Selain memutuskan berjilbab, Tata juga ikut tarekat. Ia memilih Qadiriyah wal Naqsabandiyah, gabungan tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah. Tarekat Qadiriyah merupakan tarekat tertua. Pelopor tarekat ini adalah Abu Shalih Sayyid Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Az Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa Al Jun bin Abdullah Al Mahdi bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Sayyidina Ali, r.a, atau terkenal dengan nama Syeh Abdul Qadir Jaelani Al Baghdadi, yang lahir di Jaelan, Iran, pada 1077 dan wafat di Baghdad, Irak pada 1166. Ia seorang Sunni, guru besar mazhab Syafi'i dan mazhab Hambali.

Tarekat mulai marak di abad ke-10. Namun, baru pada abad ke-12 dikenal istilah baiat atau para murid berjanji untuk mengikuti ajaran sang guru. Ilmu yang diajarkan tidak terbuka untuk umum. Tapi ibaratkan sekolah, lebih banyak murid gagal ketimbang yang lulus.

Tata masih bertarekat sampai kini. Saya masih ingat bagaimana ia berdzikir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya itulah salah satu ciri tarekatnya. Adik saya, Budhi, pernah mengingatkan Tata bahwa cara semacam itu bisa mematahkan tulang leher, membahayakan kesehatan. Menurut Budhi, guru Tata sudah ada yang lehernya terkulai dan tidak mampu menegakkan lagi kepalanya secara normal.

Ada yang mengatakan bahwa tarekat merupakan ibadah dan latihan tambahan bagi orang-orang yang telah sempurna dalam menjalankan syari'at, ibadah-ibadah wajib atau pokok dan ibadah-ibadah sunat. Ada pula yang menyebut bahwa kejumudan orang terhadap dunia hari ini membuat tarekat diminati, semacam pelarian spiritual dari masalah-masalah duniawi.

Namun, Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, mursyid Tarekat Syaziliyah, menyatakan bahwa orang boleh menjalani disiplin tarekat untuk meningkatkan kualitas taqwa dan keimanannya kalau ia sanggup dan mampu secara jasmani dan rohani.

Tarekat lebih tepat untuk mereka yang telah menunaikan tanggung jawab duniawinya, memenuhi kebutuhan hidup diri-sendiri maupun keluarga. Tapi seringkali terdengar seorang lelaki mendalami tarekat dengan meninggalkan pekerjaan dan tidak menafkahi anak-istri dalam waktu tak terbatas.

Kembali ke soal jilbab. Setelah Tata, Donna, sekretaris kantor Aceh Feature, merupakan salah satu orang terdekat saya yang berjilbab. Berbeda dengan Tata yang mengenakan jilbab sebagai pilihan, Donna mengenakan jilbab akibat penerapan wajib jilbab di Aceh. Ia mengenakan jilbab, karena terpaksa.

Suatu hari Donna memutuskan mengenakan selendang, yang juga dikenakan Cut Nyak Dien, pejuang perempuan Aceh dan pahlawan perang melawan kolonialisme Belanda. Cut Nyak Dien seorang Muslim dan ia berbusana ala Muslim Aceh masa itu, tidak berjilbab melainkan berselendang. Cut Nyak Dien juga mengenakan celana panjang, bukan rok seperti yang diwajibkan untuk perempuan di Meulaboh atas nama syariat Islam itu.

Donna sudah dua kali ditangkap polisi syariah atau di Aceh populer disebut wilayatul hisbah (WH). Menurut komandan WH di Banda Aceh, penangkapan yang ketiga kalinya bisa membuat si pelanggar aturan ini disidang dan dikenai hukuman cambuk tiga kali. Tapi ada juga WH yang mengancam akan "membina" Donna di ruangan dan menyatakan telah berdiri penjara khusus untuk para perempuan tak berjilbab.

Namun, Donna tidak gentar. Ia hanya khawatir keluarganya diintimidasi, seperti dulu militer mengintimidasi keluarga orang-orang yang menentang kediktatoran di masa Orde Baru atau yang dituduh anggota Gerakan Aceh Merdeka. Dulu orang takut terhadap militer, kini takut terhadap syariat Islam.

Kekerasan terhadap perempuan dengan mengatasnamakan syariat Islam menemukan bentuknya yang paling buruk di Langsa, Aceh Timur, akhir tahun lalu: pemerkosaan. Tiga polisi syariat atau WH membawa mahasiswi berusia 20-an ini ke kantor mereka, lalu memperkosanya secara bergiliran. Si perempuan dituduh berbuat maksiat, tapi tidak terbukti. Pasangannya dipersilakan pulang ke rumah, sedang ia diperkosa. Reaksi di kalangan WH bermacam-macam. Ada yang menyebut itu tindakan oknum, tapi ada pula yang membela para pelaku dengan menyatakan pemerkosaan tadi wajar terjadi lantaran si perempuan sudah "bolong" alias tidak perawan lagi. Korban sudah "bolong" atau tidak "bolong", tetap saja disebut pemerkosaan dan tindak kejahatan berat seperti ini harus dihukum berat pula.

Di Republik Yaman, negara yang menerapkan sebagian hukum Islam saja ganjaran untuk pemerkosa tidak main-main. Pemerkosa digiring ke lapangan terbuka. Sehelai kain merah dibentangkan. Pemerkosa diminta tengkurap, lalu algojo menembak kepalanya dengan senapan otomatis. Di hadapan keluarga dan publik, ia dieksekusi mati tanpa penyiksaan, tidak seperti cita-cita para pendukung hukum rajam di Aceh yang ingin menyaksikan pesakit dilempar batu sampai mati.

Belum lama ini tersiar kabar tentang penerapan syariat Islam di kabupaten Bireuen, Aceh. Masyarakat dihimbau sekelompok orang agar tidak menolong perempuan yang terluka parah dalam kecelakaan lalu-lintas bila si perempuan tidak mengenakan jilbab.

Seorang teman bercerita bahwa mayoritas kaum akademisi di Aceh pun tidak bisa diharapkan dalam menentang kekerasan terhadap perempuan. Banyak yang mengajak melupakan kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan Aceh di masa konflik dulu. Ada pula yang mengatakan bahwa pemerkosaan itu tidak pernah terjadi. Rata-rata tidak mau membicarakan kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan akibat penerapan syariat Islam.

Seorang dosen bahkan berkata dengan lantang bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi karena perempuan cengeng. Oh ya? Kalau begitu, kaum perempuan di Aceh dan di mana pun mari kita bersatu dan melawan, jangan pernah meneteskan airmata sampai musuh-musuh kita tumpas.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates