Loading

Jazirah di Utara (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 07/16/2009

KETIKA ayahnya menyerah pada Izrail*) di malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara. Dia merasa dunianya dipenuhi kelepak burung elang dan hujan panah api tiada henti, berbeda dengan kematian yang sepenuhnya rahasia dan akhirnya tiba. Dia memejamkan mata, membayangkan desau angin, ladang gandum, dan pohon-pohon zaitun di suatu tempat yang sayup.

KETIKA ayahnya menyerah pada Izrail*) di malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara. Dia merasa dunianya dipenuhi kelepak burung elang dan hujan panah api tiada henti, berbeda dengan kematian yang sepenuhnya rahasia dan akhirnya tiba. Dia memejamkan mata, membayangkan desau angin, ladang gandum, dan pohon-pohon zaitun di suatu tempat yang sayup.

Sebelum kesakitan memuncak di bawah sana, matanya terbuka sekali lagi, menatap wajah lelaki itu. Begitu lembut. Begitu kanak-kanak. Dia tiba-tiba ingin memberikan seluruh dirinya sekarang juga, lalu menjelma udara agar tinggal di dalam darah dan paru-paru lelaki itu, menjaganya dari maut.

Ketika jari-jarinya menyentuh punggung lelaki itu, dia tak lagi merasa takut. Dia meresapi harum yang asing dan jauh, menyukai aroma ini meski sedikit gelisah karena begitu dekat dengan seseorang untuk pertama kali. Ketika lelaki itu menyeka pipinya lembut-lembut dengan jari-jari yang hangat, dia semakin tenang. Dengannya, dia telah melampaui apa yang tak terbayangkan. Kini semua hal sulit bagai simpul-simpul tali terurai, dan dia akan terus berpikir seperti ini.

Ayahnya adalah sisa-sisa kenangan dari sebuah negeri yang tak dikenalnya, selain nama dan garis batas di peta dunia, di utara. Kata “utara” itu seolah menjodohkan dia dan lelaki ini, seseorang yang seperti ayahnya terdampar di tempat yang barangkali tak pernah menghendaki mereka. Dia tak akan bisa melupakan keduanya; cinta ayahnya kepadanya dan cintanya kepada lelaki itu. Keduanya abadi, tiada tergantikan, seperti semua yang disebut “pertama kali”.

Di lantai dia melihat kalung emas lelaki itu tercampak bagai ular mati. Mata rantai persegi, dengan bandul salib. Namun, dia membiarkan benda itu di tempatnya, tanpa keinginan memungut lalu meletakkannya di meja. Dia tiba-tiba merasa sedih, karena menemukan sesuatu yang tak memiliki kaitan apa pun dengan dirinya. Seperti baling-baling pesawat terbang di gunung salju: keduanya bukan komposisi yang sesuai, tapi musibah telah mempertemukan benda dan tempat tersebut sebagai hal wajar. Kini dia lebih merasa sebagai gunung salju, sesuatu yang pasif dan cedera.

Cahaya kota di luar hanya tampak bagai garis tipis vertikal yang bersinar, membelah tirai jendela tepat di tengah-tengah. Dia pelan-pelan meraih gaun terusan putihnya yang bermotif bunga-bunga hitam kecil, terbuat dari katun, yang ringan dan sejuk. Dia mengenakan gaun itu cepat-cepat, lalu  teringat bahwa malam itu semua orang tengah berjaga di rumah sakit. Rasa gugup mulai datang.

Dari atas ranjang kusut mirip kapal karam dengan tumpukan kain layar basah, lelaki itu menggeliat bangkit seraya berkata dalam bahasa Perancis yang tiada dipahaminya, mungkin bergumam pada diri sendiri, mungkin benar-benar tertuju kepadanya. Menyadari betapa panjang diam yang terjadi, membuat si lelaki tersenyum dan beralih ke bahasa Inggris yang seketika jadi bisikan.

“Kita bisa memesan makan malam sekarang? Saya aslinya memang suka makan. Dokter bilang saya punya masalah dengan kolesterol, tapi itu  kan kata dokter.” Lelaki itu kemudian mengerdipkan sebelah matanya.

Sepasang mata coklat gelap itu berkilat seperti marmer, dengan bulu-bulu hitam lentik di seputarnya, mirip sepasang mata ayah tapi dengan kilau riang sekaligus nakal.

Dia menjawab, “tentu saja,” lalu meraih buku menu di meja, dan dia belum mengenakan celana dalam. Dari bawah tumpukan kemeja dan pantalon lelaki itu di sisi tempat tidur, menyembul kain hitam berenda yang seolah dirinya dan sejumlah perempuan lain di belahan timur dan negeri ini, yang diperangkap patriarki; kata yang kurang puitis untuk puisi.  Dia seketika jadi peka terhadap tanda-tanda, sebagaimana yang terjadi ketika dia belajar tentang film dan semiotika di minggu pertama di universitas hampir dua puluh tahun lalu. Kereta api, menara, cerutu, pantai, nyala unggun, burung gagak, dan warna-warna adalah tanda-tanda yang terus berbicara kepadanya. Dunia modern menamai pembacaan tanda sebagai ilmu, sedang dunia lama menyebutnya nujum; menafsir apa yang tersembunyi dari yang nyata-nyata hadir di hadapanmu.

Dan dia menyukai tanda-tanda. Seperti permainan. Seperti teka-teki.

Seminggu yang lalu, dia menjenguk ayahnya di rumah sakit. Selimut ayahnya tersingkap. Tungkai yang kurus pucat, sepasang kaki yang kelihatan mengecil bagai batang kayu kering, kaos kaki wol hitam. Dengan suara pelan ayahnya mengeluh tentang Al Fatihah yang tiada lagi diingatnya utuh, sehingga ibu menuntun ayah melafalkan ayat itu berulang-ulang dan terdengar seperti nyanyian sedih dari dua orang letih. Dia terpaku di samping tiang infus, sambil sesekali memandangi tetes-tetes glukosa jatuh.

Dia tidak akan berakhir dengan lelaki itu sebagaimana ayah dan ibunya.

Dia telah menelusuri  jazirah kata-kata untuk menggambarkan hubungan kilat yang rumit ini dan yang paling mungkin hanyalah membubuhkan alasan-alasan, seakan membuat apa yang fana jadi berharga: bom curah, ranjau darat, senjata kimia, granat, peluru, roket, kecelakaan mobil, pembunuhan politik, atau racun radioaktif atau arsenik. Pertemuan dan perpisahan mereka, dia dan lelaki itu, semata-mata untuk tujuan mulia. Begitulah dia menghibur diri.

Lelaki itu telah bersumpah untuk mengelana, semula untuk melupakan kata “utara” yang menguntitnya serupa hantu jahat dari pinggiran Paris yang bergentayangan mengawasi pabrik-pabrik, kata yang membayang-bayangi orang-orang pertama dalam keluarganya yang menjejakkan kaki di situ. Di benak lelaki itu tempat-tempat baru akan membebaskannya dari kata “utara”,  tempat-tempat yang kebebasan justru tak ada atau baru diawali, dan membuktikan bahwa kata itu telah berkembang biak di mana-mana laksana sel kanker yang menggerogoti ayah. Kini lelaki itu bermimpi membantu siapa pun yang seperti dirinya.

Dia melihat bayangan memantul di cermin dinding. Dia memegang buku menu, dan di belakangnya seseorang yang baru dikenalnya dua hari lalu memungut-mungut apa yang berserak di lantai.

“Setelah ini saya akan menulis sebentar. Boleh?” tanya si lelaki, sambil mencium bibirnya sekilas.

Dia hanya mengangguk. Dia sungguh-sungguh tak keberatan. Mereka semakin punya banyak kesamaan, pikirnya, sama-sama suka merenung, berpikir, menulis, dan melawan apa yang musykil.

“Kamu pucat sekali.” Lelaki itu mengambil buku menu dari tangannya, lalu bergumam menyebut nama-nama masakan, membuka halaman-halaman. Menunjuk ini, menunjuk itu.

Dia merasa agak demam.

Ayahnya ingin dia mengawini seseorang dari keturunan yang terpuji, kepada siapa dia menjadi patuh dan apa yang dikatakan seseorang tadi menjadi kutuk serta berkah untuknya seumur hidup. Dalam hati dia tersinggung dan protes: mengapa dia harus tunduk pada seseorang yang tak akan pernah sederajat dengan ibu yang melahirkannya, seseorang yang tak merasa sakit ketika dia sakit, pun dia tak pernah makan dan menyusu dari tubuhnya. Dan kepada orang semacam itu dia harus memberikan tubuhnya pertama kali.

Namun, kata ayah, lelaki semacam itu akan berziarah bersamanya ke tempat di mana burung-burung pembawa batu api pernah menaklukkan pasukan gajah, di mana Ibrahim menunjukkan rasa setia yang agung dengan mengorbankan putranya dan ditukar Allah dengan domba, di mana setelah 700 ratus tahun terpisah sepasang kekasih bertemu lagi, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti.

Itulah pesan Ayah. Sebab dia harus menjaga darah leluhurnya dari cemar dan hina oleh manusia dan para jin dan iblis yang menyamar.

Dia telah diselimuti doa-doa berumur ribuan tahun, yang mengitari dan melindunginya bagai kabut abadi.  Tak seorang pun bisa menyentuhnya. Dimuliakan atau dinista ternyata sama-sama memberi pedih, pikirnya.

Namun, ayahnya lupa bahwa dalam diri putrinya ini mengalir darah suku Akad, nenek moyang mereka yang mengembarai padang-padang tandus dan tak mengenal tempat bermukim.

Lelaki itu adalah jazirah yang membentang dalam pikirannya. Dia akan membiarkannya tetap seperti itu, karena sesuatu yang luas selalu memberi banyak kejutan.

Tapi telepon selulernya bergetar. Sekali. Sebuah pesan pendek dari adik perempuannya. Pesan yang terlambat, karena saluran yang terganggu atau padat, atau alasan lain yang tidak dia pahami: Ayah sudah tidak ada. Sangat tenang perginya, dengan sendi-sendi bercahaya. Semua yang hidup pasti merasakan mati.

Dia terdiam. Dunianya jadi pipih. Lelaki itu jadi lebih kurus dari semestinya. Meja, kursi, ranjang, lemari, pun begitu kurus. Ketika lelaki itu menyeka dahinya lembut, dia mencium aroma ganjil yang segar. Sedih dan nyaman berbaur. Sepasang mata coklat itu memandanginya bingung. Ketika pandangannya menjadi normal, diraihnya kerudungnya di lantai. Dia tidak akan ke mana-mana, hanya ingin sendiri sebentar.

Banda Aceh, Februari 2008

*) malaikat maut dalam agama Islam




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates