Loading

Ingatan (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 05/08/2010

AKU akan terus ada selama kalian mengingatku. Tapi aku khawatir aku justru tidak dapat mengingat kalian lagi. Ingatanku akan musnah, seperti ingatan siapa pun yang ada di sini. Barangkali mereka dulu khawatir juga memikirkan ingatan mereka yang akan hilang, seperti aku memikirkan ingatanku saat ini. Tapi akhirnya mereka tidak memikirkannya lagi karena ingatan mereka sendiri sudah tak ada.

Di sini burung-burung tidak pernah makan atau hinggap di dahan-dahan pohon. Mereka selalu terbang. Mereka tidak pernah lapar. Pohon-pohon tidak pernah menua. Pohon-pohon hijau segar seperti gambar-gambarmu di dinding rumah kita. Daun-daun tidak pernah gugur. Satu-satunya yang akan gugur di tempat ini hanya ingatan.

Aku belum bisa terbang seperti burung-burung. Tapi mereka yang sudah bisa terbang menghiburku: lama-lama kamu akan bisa terbang seperti kami dan itu tidak lama lagi. Mereka yang datang sesudahku bahkan bisa terbang lebih cepat dan tidak lagi betah duduk di sini. Aku tidak pernah benar-benar punya teman. Mereka semua terbang bersama burung-burung.

Mereka yang baru saja datang selalu menghampiriku dan bercerita tentang apa saja, lalu ingatan mereka lenyap dan mereka pun terbang. Aku tetap tinggal. Aku tidak khawatir tidak bisa terbang. Aku tidak ingin terbang. Aku hanya kesepian. Perlahan-lahan aku merasa ingatanku akan meninggalkan aku.

Ketika aku baru tiba di sini, aku ingat banyak hal. Sekarang aku lupa begitu banyak. Kadangkala ingatan datang seperti sebuah adegan, kadangkala seperti sebidang gambar, kadangkala seperti sebuah garis, lalu menjadi titik. Setelah itu kesunyian akan menghapusnya.

Beritahu ibumu, aku ingin selalu mengingat dia. Tapi jangan dia bayangkan aku seperti dulu. Aku tidak bisa memeluk dia lagi. Aku juga tidak bisa menciumnya. Bukan karena aku tidak mau memeluk dan mencium ibumu, tapi karena dia juga tidak akan bisa melakukan hal yang sama terhadapku. Aku tidak seperti dulu.

Aku tidak ingat lagi jalan ke rumah kita. Mereka yang terbang itu berkata lebih baik aku mulai belajar terbang, karena ingatan tidak ada gunanya, apalagi rumah. Di sinilah rumah.

Tapi begitu aku terbang, aku tidak ingat kalian lagi. Aku tidak bahagia melayang-layang seperti burung. Aku ingin merasa letih dan mengantuk. Mereka menertawaiku dan berseru itu tabiat manusia. Di sini tidak ada manusia. Aku juga tidak bisa disebut manusia lagi.

Perlahan-lahan aku akan meninggalkan perasaan manusia, sebagaimana ingatanku perlahan-lahan musnah.

Tapi aku masih ingat alasan aku pergi dari rumah. Puisi-puisi mengajakku pergi dan aku ikut mereka pagi itu. Ibumu memintaku segera pergi sebelum ada yang melihatku dan puisi-puisiku. Kamu dan adikmu masih tidur.

Puisi-puisiku tidak pergi ke kebun binatang atau taman bermain, tempat-tempat yang kamu sukai. Mereka pergi ke tempat-tempat yang tidak menyenangkan hati, yang akan membuatmu menangis dan marah seperti saat mainanmu direbut anak tetangga kita yang nakal, lalu kamu mengajak ibumu atau teman-temanmu untuk membantu mengambil kembali mainan itu.

Ibumu khawatir puisi-puisi membuatku tak bisa pulang lagi, karena aku dan puisi-puisiku selalu bersama.

Suatu hari kami dirobek-robek, lalu serpih-serpih kami dibuang ke laut. Aku melihat serpih-serpih puisiku tenggelam dan aku ikut tenggelam bersama mereka. Laut biru dan dingin. Di dasarnya aku dan puisiku pernah ada.

Di sini puisi-puisi perlahan meninggalkanku. Maafkan aku, Nak. Tolong jaga ibu dan adikmu.

Kamu, ibumu, dan adikmu tentu tak percaya bahwa di sini sama sekali tidak ada hujan atau banjir atau busuk limbah. Di sini pohon-pohon segar setiap waktu seperti gambar-gambarmu di dinding rumah kita. Tapi aku belum juga bisa terbang seperti yang lain atau burung-burung. Aku tidak ingin terbang, tapi semua yang ada di sini akhirnya akan terbang, seperti burung-burung.

 *) salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Linda Christanty, "Rahasia Selma" (Gramedia Pustaka Utama, 2010)




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates