Loading

Hubungan Indonesia-Malaysia dan Kolonialisme di Asia Tenggara (oleh Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 10/14/2010

MALAYSIA di benak saya bukan gambaran yang benar-benar menyebalkan seperti teriakan sekelompok orang di Indonesia akhir-akhir ini.

Malaysia di benak saya terbentuk dan berawal dari siaran radio: sandiwara-sandiwara yang menggugah dan lagu-lagu yang meresap di hati. Di masa sekolah menengah pertama dulu saya rajin menyimak satu sandiwara radio Malaysia tentang sepasang kekasih yang tidak bisa bersama dan makin terpisah lagi lantaran bencana banjir. Tapi uniknya, latar tempat peristiwa itu di Jepang, bukan Malaysia. Nama sepasang sejoli ini pun Maiko dan Isamu. Ada pula lagu kesayangan yang selalu saya tunggu tiap kali tangga lagu disiarkan di radio Malaysia dan pada jam itu saya berhenti membaca buku atau tidak mendengar sama sekali panggilan Ibu saya. Radio transistor hitam, gemuk, merek Philips itu bertengger di atas rak buku kami, yang karena usia tua sering mengeluarkan bunyi treeeeeeeeeeet panjang dan siapa pun harus mendekatkan telinga untuk mendengar suara serta nyanyian pemain sandiwara Bangsawan di Udare.

Sehari-hari kakek dan nenek saya juga berbicara bahasa Melayu dengan logat serta kebanyakan kosa kata percis orang-orang di radio itu bicara. Di kampung mereka di Mentok, Pulau Bangka, seluruh penduduk bercakap-cakap seperti penyiar radio dan karakter-karakter dalam sandiwara tadi berkata-kata. Saya kelak diberitahu mereka bahwa kami dan orang-orang Malaysia itu saudara serumpun, sehingga mempunyai nenek moyang bahasa yang sama, yaitu bahasa Melayu. Meski bahasa Melayu-Malaysia dalam perkembangannya makin bertaburan kosa kata serapan dari bahasa Inggris.

Orang-orang di kampung nenek dan kakek saya tergila-gila pada penyanyi-penyanyi Malaysia, P. Ramlee—yang asal Aceh itu—atau Anita Sarawak. Begitu pula ayah, ibu dan saya adik-beradik. Cerita-cerita tentang pahlawan Melayu, Hang Tuah dan Hang Jebat, lebih akrab di telinga kami ketimbang kisah Pangeran Diponegoro di Jawa atau bahkan Tjut Nyak Dien di Aceh, Sumatra, dan Christina Martha Tiahohu, pahlawan Maluku itu, namanya lebih sayup lagi. Di kampung ini pengaruh Pulau Jawa sebagai pusat budaya negara kesatuan Republik Indonesia nyaris tak terasa.

Ayah saya bahkan merancang dan membangun antene televisi yang mirip menara Eiffel wujudnya, diletakkan di halaman belakang rumah kami yang luas dan jadi antene pribadi tertinggi di pulau Bangka masa tersebut, sebelum ada parabola atau televisi kabel, demi menangkap siaran televisi Singapura dan Malaysia!

Ketika pindah ke Pulau Jawa, pusat pemerintahan negara Indonesia, kontak saya dengan Malaysia terputus. Kakek dan nenek juga sudah tidak ada lagi. Sampai suatu ketika saya membaca buku kumpulan cerita pendek penulis Malaysia Karim Raslan, Heroes and the Other Stories. Buku itu pemberian teman Malaysia yang bergabung dalam aliansi mahasiswa menentang rezim diktator di negara-negara Asia Tenggara, sebuah organisasi radikal tingkat kawasan. Ketika itu organisasi kami di Indonesia yang menentang rezim Soeharto merupakan bagian dari aliansi tersebut. Cerita-cerita Karim menambah pengetahuan saya tentang Malaysia dari sisi sastra dan amat mengesankan; kehidupan masyarakat modern yang rumit, penuh kejutan dan abu-abu.

Namun, di luar pengalaman pribadi saya dengan Malaysia ini, hubungan pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia terus pasang surut dan tentu saja, politik konfrontasi selalu menyeret sejumlah orang Indonesia untuk berseteru dengan orang Malaysia. Pola hubungan pemerintah Indonesia-Malaysia yang semacam tadi berasal dari sejarah masa lalu.

Indonesia bukan sama sekali tidak bisa dipersalahkan dalam hal ini. Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, sudah terjalin hubungan antara pejuang Indonesia yang melawan penjajahan Belanda dan pejuang Malaysia yang menentang penjajahan inggris. Mereka sepakat memerdekakan wilayah jajahan Hindia Belanda dan wilayah jajahan inggris di Malaya, dua wilayah rumpun bangsa Melayu.

Seharusnya Indonesia menepati janji pada Malaysia untuk memproklamasikan kemerdekaan negeri mereka secara serentak dari para penjajah. Tapi hal itu tak terwujud. Negara Malaysia merdeka pada 1957 setelah Inggris memberinya kemerdekaan, tidak melalui pemberontakan rakyat seperti yang dicita-citakan para pejuang Malaysia itu.

Malaysia kemudian menganggap tindakan Indonesia yang cuma menyatakan kemerdekaan bekas jajahan Hindia Belanda saja sebagai tindakan yang meninggalkan kawan. Namun, pemimpin-pemimpin perjuangan Indonesia memberi alasan. Kalau Indonesia ikut campur dalam persoalan Malaysia, maka Indonesia akan berhadapan dengan dua penjajah sekaligus: Inggris yang menjajah Malaysia dan Belanda yang menjajah Indonesia. Bagi Indonesia, lebih baik memusatkan kekuatan untuk berhadapan dengan Belanda yang merupakan negara mini di Eropa, ketimbang harus berhadapan juga dengan Inggris yang waktu itu merupakan negara pemenang Perang Dunia II.

Setelah Malaysia merdeka, Soekarno, proklamator dan presiden pertama negara Indonesia, justru mencemaskan pengaruh Malaysia sebagai negara baru yang masih mengakui institusi feodal (kerajaan) dan sekaligus didukung kekuatan Nekolim (Neokolonialisme-Imperialisme) di balik pembentukannya.

Feodalisme Malaysia yang ditentang Soekarno itu tetap jaya sampai hari ini. Rakyat Malaysia tidak bebas mengeritik sultan atau keluarga kerajaan dan pemerintah. Tidak ada kebebasan pers di Malaysia. Media elektronik dikontrol. Media cetak disensor. Kebanyakan pemimpin oposisi dipenjarakan. Surat-suratkabar mainstream adalah milik partai-partai yang berkuasa.

Kembali ke sikap Soekarno yang menentang feodalisme Malaysia, ironisnya ia juga bermental feodal. Bukti kefeodalan tersebut terlihat nyata saat Soekarno mencantumkan namanya sebagai Insinyur Raden Soekarno, di sampul buku Di Bawah Bendera Revolusi, yang merupakan magnum opus-nya. Raden adalah gelar bangsawan rendah di Jawa.

Selain itu, sebagai orang Jawa yang dibesarkan dalam budaya Jawa, Soekarno kemungkinan cemas budaya Melayu juga akan jadi saingan utama dalam berebut pengaruh di Indonesia sendiri dan di kawasan. Terlebih lagi budaya Melayu di Malaysia masih kuat karena dilembagakan dan diakui dalam negara federasi ini. Di tataran yang lebih luas, budaya Melayu meliputi sebagian besar kawasan Asia Tenggara, yaitu negara kepulauan Filipina dan Indonesia, Indocina, dan Thailand Selatan, sedang budaya Jawa ketika itu hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa bagian timur, yang mencakup Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kelak Jawanisme di Indonesia menguat ketika Soeharto, presiden setelah Soekarno, berkuasa. Ia berambisi men-Jawa-kan seluruh Indonesia, secara demografi, politik, dan budaya, dan seringkali dengan jalan kekerasan. Di masa pemerintahannya, suku Jawa menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, mulai dari tingkat pusat sampai daerah, baik sipil maupun militer. Ia bertanggungjawab terhadap bertumbuhnya sikap anti Jawa di daerah-daerah luar Jawa akibat kebijakannya yang diskriminatif tadi.

Soeharto menjalankan pemerintahan seperti seorang feodal memerintah, tak boleh ada bantahan dari siapa pun yang tidak puas. Tindakan protes dihadapinya dengan tangan besi: penjara , pembunuhan dan penghilangan paksa. Dampak Jawanisme Soeharto sampai juga ke kampung saya. Kubah masjid yang baru dibangun tidak lagi bergaya Timur Tengah melainkan beratap gaya limasan Jawa. Meski tidak melalui pemaksaan, nama-nama adik saya pun berasal dari pengaruh bahasa Jawa; Bud(h)i dan Susila (dibaca “Susilo”) dan akhirnya kami hidup di silang budaya Melayu dan budaya Jawa, yang saling memperkaya, bila ingin menyebut sisi baiknya.

Di lain pihak, Melayuisme di negara Malaysia menimbulkan diskriminasi terhadap bangsa-bangsa lain di negara itu. Meski slogan “Satu Malaysia” terus tersiar di televisi tapi pada praktiknya orang-orang Melayu lebih diutamakan ketimbang orang India atau orang Tionghoa. Dengan pekerjaan yang sama, gaji yang diterima orang India lebih sedikit ketimbang orang Melayu sesama warganegara di Malaysia.

RASA ditinggalkan yang dialami Malaysia saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya itu terbawa dalam politik konfrontasi. Pemerintah Malaysia mengambil sikap keras ketika Soekarno ingin menggagalkan Kalimantan Utara masuk ke dalam federasi Malaysia.

Pada 1963 perdana menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman Putra, bangsawan Kedah sekaligus keturunan bangsawan Patani, menyatakan Kalimantan Utara sebagai bagian dari negara federasi Malaysia, sedang Soekarno menghendaki rakyat di wilayah itu menentukan sendiri pilihan mereka: bergabung dengan Malaysia atau Indonesia, atau jadi negara sendiri. Lagipula pembentukan negara federasi Malaysia itu dinilai Soekarno sebagai negara Nekolim atau Neokolonialisme-Imperialisme, dengan Inggris di belakangnya. Namun, Soekarno kemudian melancarkan operasi khusus agar Kalimantan Utara cenderung bergabung dengan Indonesia.

Soekarno mencetuskan politik Dwikora atau Dua Komando Rakyat, yang berisi seruan untuk menggagalkan pembentukan negara boneka bikinan Inggris dan persiapan mobilisasi umum untuk membantu perlawanan rakyat di Kalimantan Utara.

Rakyat Kalimantan Utara yang tak mau bergabung dengan Malaysia dipimpin tokoh mereka yang populer, Abang Azahari, dengan panglima perangnya Abang Zulkifli. Soekarno makin berang ketika pemerintah Malaysia dibantu Inggris yang mengirim 80 batalyon pasukan tempur dan mengerahkan helikopter dalam jumlah terbesar sepanjang pasca Perang Dunia II. Amerika Serikat mendukung Inggris.

Rakyat Kalimantan Utara yang didukung sukarelawan dan pemerintah Soekarno menyerang pasukan Inggris di perbatasan dan tentara Inggris mengejar mereka sampai memasuki wilayah Indonesia. Ketegangan dan perang ini berlangsung sampai 1967. Konflik Indonesia-Malaysia makin rumit begitu pemerintah Soekarno didukung pemerintah Tiongkok, yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia atau PKI waktu itu.

Tentu saja, pemerintah Tiongkok memiliki agenda tersendiri lewat dukungannya: agar bisa masuk ke Indonesia dan membantu PKI mendirikan negara sosialis di Indonesia. PKI bahkan siap mengerahkan lima juta massanya sebagai pasukan berani mati untuk melawan tentara Malaysia dan Inggris.

Soekarno pun membuat poros Jakarta-Peking (Beijing)-Pyongyang.

Di masa itu, di tataran politik internasional, perseteruan antara Blok Barat (negara-negara kapitalis) dan Blok Timur (negara-negara sosialis-komunis) masih berlangsung tajam. Di dalam negeri, Angkatan Darat membaca agenda Tiongkok dan PKI, sedang di luar sana, Amerika melihat tindakan Soekarno sebagai ancaman bagi Blok Barat di kawasan Asia Tenggara dan bahkan pengaruh Soekarno telah meluas serta mewabah di Asia dan Afrika dengan pembentukan Non Blok pada 1955, yang digagasnya. Amerika dan negara-negara Blok Barat khawatir Non Blok jadi kekuatan baru yang jadi titik penentu keseimbangan strategis dalam perang dingin Blok Barat dan Blok Timur.

Operasi intelijen dilancarkan untuk membendung pengaruh Soekarno. Perang Indonesia-Malaysia tak jadi berkobar lebih luas. Akibat politik Dwikoranya, Soekarno jatuh lewat peristiwa politik 1965 yang dirancang CIA.

Dampak ketegangan masa lalu antara pemerintah Indonesia-Malaysia berlangsung sampai sekarang. Pencetusnya pun bermacam-macam, mulai dari perlakuan buruk aparat Malaysia terhadap tenaga kerja Indonesia atau TKI di Malaysia, soal lagu dan batik, masalah perbatasan dan perairan, sampai masalah Manohara. Provokasi-provokasi yang berlatar belakang kepentingan tertentu juga menyemarakkannya. Masalah bisa menjalar dan meletup. Tapi akar konfrontasi antara dua negeri ini adalah kolonialisme di Asia Tenggara.

Karim Raslan, saudara kita yang tak bisa dipisahkan oleh kolonialisme dan politik kawasan tersebut. Melalui tulisan-tulisannya dalam Ceritalah Indonesia, Karim tidak hanya menyambung kembali hubungan kita dengan saudara serumpun, melainkan juga mencerminkan pandangan seorang intelektual Malaysia sekaligus penulis penting di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik dengan reputasi internasional ini, tentang persoalan-persoalan dalam hubungan dua negeri dan apa yang terjadi di Indonesia pasca Soeharto.

Tulisan-tulisannya yang cerdas, kritis, dan kadang jenaka akan mengajak kita menyongsong masa depan Indonesia dengan optimistis, juga menjembatani hubungan bilateral pemerintah Indonesia-Malaysia ke arah yang lebih bermartabat dan saling menghargai.

Tulisan-tulisan ini tidak mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran Karim, melainkan kami pilih yang menceritakan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia dan sosok-sosok yang mengesankan untuk disimak. Tulisan-tulisan Karim pantas menjadi rujukan siapa pun untuk melihat negara Indonesia dari sisi lain.

Banda Aceh, 30 Agustus 2010

 

*) Esai ini merupakan kata pengantar Linda Christanty untuk buku Karim Raslan, Ceritalah Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia/KPG, 2010). Karim Raslan adalah kolumnis Malaysia dengan reputasi internasional. Ia banyak mengulas soal politik, ekonomi dan budaya negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates