Loading

Hikayat Kebo (oleh Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 02/04/2010

JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal se¬men, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet. Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer¬nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut so¬rot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti.

JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal se¬men, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet. Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer¬nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut so¬rot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti.

Tepat di muka pemukiman para pemulung, enam pria melom¬pat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kaki orang tersebut terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokannya.

Ia sekarat.

Orang¬-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.

Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.

Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakan¬nya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.

Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumun¬an, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.

“Ini siapa?” tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.

“Kebo.”

Teriakan terdengar dari tengah massa.

“Buntungin aja tangannya!”

“Ceburin ke kali!”

“Bakar!”

Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah. Massa hanya menonton.

“Tolong jangan di sini! Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi jangan di sini!” seru Faried, panik.

Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.
Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tu¬buh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sam¬pah plastik dan ban mobil bekas.
Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Salah seorang dari mereka menyalakan korek api.

KARIMUN USMAN baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mu¬lai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari¬hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.

Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas, Jawa Barat, pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Mega¬wati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Per¬juangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata mene¬mukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cot Gire, Lhoksukon, Aceh Utara, pada 1966 dan sem¬pat ditahan di penjara Lhoksukon, karena dituduh komunis.

Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan ca¬bang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil par¬tai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan keda¬maian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.

Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah priba¬di Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.

Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun belum mengganti t-¬shirt putih dan pantalon warna krem¬nya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.

Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.

“Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak,” lapor Norman.

Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.

Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gero¬baknya di belakang Tower Anggrek Mall, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.

Karimun diwawancarai reporter dari “Patroli”, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.

“Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuh¬kan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota ma¬syarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini,” kata Karimun, menatap kamera.

Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.

Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di ko¬ridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkan¬toran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di se¬belah kanan gedung yang diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.

“Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum,” ujar Karimun.

Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, “Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan.”

Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tin¬dak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.

“Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, wa¬laupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa.”

CEROBONG BANGUNAN yang tersaput jelaga itu terus-menerus menyemburkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putik¬nya menjalar di atas tanah.

Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2x2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tan¬pa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.

Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar suka sama suka.

Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terben¬dung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.

Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hek¬tare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan me¬nancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.

Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya me¬nguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.

Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekono¬mian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang me¬landa negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.

Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufak¬tur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan ter¬konsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1.088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998. 

Saat situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.

Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama men¬jalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti ma¬tahari terbit atau terbenam.

Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjual¬nya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.

Kedengarannya mulia.

“Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok,” kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berse¬berangan dengan Kebo.

“Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler,” ujar Sri Utami, istri Ismawan.

Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nya¬man. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajeng¬king. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.

Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar me¬ngenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.

Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.

DARI JALAN masuk Sisalam, rumah Muah berada 500 meter ke dalam. Sisalam adalah sebuah desa di kecamatan Wanasari, kabu¬paten Brebes, Jawa Tengah.

Angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000 dari alun-alun kabupaten. Mobil akan melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang be¬lanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.

Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Kebanyakan pen¬duduknya bekerja sebagai buruh tani. Listrik baru dua tahun ma¬suk desa. Sekolah dasar hanya satu. Pusat kesehatan masyarakat belum ada.

Tak ada papan nama desa di jalan masuk. Sebuah jembatan kembar berada di muka jalan yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam itu. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.

Pagi itu Muah bersimpuh di lantai semen yang dingin. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal ber¬sama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.

“Rumah ini peninggalan embah saya,” tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan “l” diucapkan dengan tengah li¬dah pada langit-langit mulut.

Arsitektur rumah tersebut amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit¬langitnya memperlihat¬kan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar mataha¬ri menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.

Perempuan ini menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berce¬rita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia per¬kawinan pertamanya hanya bertahan setahun, meski ia dan suami¬nya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyu¬kai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.

Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjual¬an pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari pen¬jara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.

“Bo, Kebo kapan lu pulang?” tanya Kayem.

Muah memandangi ibunya heran, “Nama orang kok Kebo, sih Mak?”

“Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu ….”

Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.

“Tuh cewek boleh juga,” kisah Kebo pada sesama pemulung.

Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.

“Kamu mau nggak kawin sama saya?” tanya Kebo.

Muah ragu-ragu.

“Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani,” rayu Kebo.

“Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak apa-apa kawin sama lu,” Muah, mengajukan syarat.

Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.

Asal-usul Kebo tak jelas.

Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, “Lu kam¬pungnya di mana? Orangtua lu di mana?”

“Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk be¬rangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diam¬bil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang,” jawab Kebo pada Muah.

Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pe¬mungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang ke¬mudian mengangkatnya sebagai anak.

“Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak,” ke¬nang Muah.

Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.

“Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu,” kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, “Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minum¬an. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu… lama-lama abis,” lanjutnya.

Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.

“Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu.”

Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.

“Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang (pada temannya). Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus e... mulut saya sudah ber¬cucuran darah,” kata Muah, menerawang. 

Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.

Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.

“Situ boleh kawin, asal ceraikan saya,” ujar Muah, panas.

“Gua nggak mau ninggalin lu,” jawab Kebo.

“Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus.”

“Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan pu¬nya orangtua, punya saudara.” Kebo mengancam. Muah gemetar.

Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok. Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri. Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istri¬nya. Muah menjerit-¬jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan berlumur¬an darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.

Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di an¬tara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.

“Ada apa, sih, Pak?” tanya Teti.

“Nggak ada apa-apa, kok, Nok,” jawab Kebo. Nok adalah pang¬gilan untuk anak perempuan.

Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan pendu¬duk kampung Sisalam. Ia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak be¬rani melerai.

“Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa,” ujar Rodijuro, lurah Sisalam.

“Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini,” kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.

Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort Brebes.
Kenangan pahit terasa menyesakkan dada Muah. Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Sebentar¬-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan ke¬dua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan se¬perenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah ber¬harap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar berita sejak Mei 2001 itu.

SENJA TURUN pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka. Kali ini agak istimewa.

Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.

“Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan,” tutur Kusni, salah seorang pemulung.

Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan meng¬ancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.

Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.

Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.

Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terde¬ngar santer.

“Kebakaran… kebakaran!”

“Kebakaran!”

“Kebakaran….”

Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.

“Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan me¬lihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pak¬aian semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama tetangga,” kata Wati, tetangga Kebo, de¬ngan wajah memelas.

Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya. “Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati.”

Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawan¬an. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.

DI SISALAM, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.

Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.

“Suamimu lagi ada masalah,” kata Wage.

Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkum¬pul di ruang yang sama. Polisi hanya berhasil membekuk tersangka penganiaya Kebo, termasuk Suhari, paman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu. Empat pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemu¬lung lain sambil tertawa bangga.

Suhari sempat mengeluh pada Wage, “Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan.”

Eko bertanya pada Muah, “Ibu Muah, suami ibu meninggal di¬bunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?”

Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, “Orang dia itu jahat.”

Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, “Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?”

Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.

“Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerin¬tah juga membunuhi orang, kok, orang jahat,” kata Wage pada Eko.

Pada 1980an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan “Petrus” atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang diang¬gap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, “Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan meng¬atasinya.”

Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, bau busuk yang menusuk tercium dalam ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintu¬nya tertera angka¬angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: 21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar.” Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat tersebut.

Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.

ARNOLD TOYNBEE, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu men¬dengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.

Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik ha¬rus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.

Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersang¬ka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.

“Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi me¬ngeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian,” ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.

Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.

“Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Pen¬jahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini,” kata Anton.

Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan “tega.” Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus pembakaran korban.

Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.

Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, me¬ngatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.

“Media massa harus puasa memberitakan,” kata Meliala, serius.

Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.

“Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus. Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gam¬barnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline¬nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka.”

Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak.

Ia batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kan¬tornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.

“Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian,” ujar Gunawan de¬ngan mimik serius.

“Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada,” katanya. Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.

“Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipo¬tong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, ‘Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu’,” tutur Gunawan.

Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.

“Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan ke¬seharian masyarakat pembaca Pos Kota, menengah ke bawah,” Guna¬wan berargumentasi.

Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?

“Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, ‘celana dalamnya ketinggalan.’ Saya panggil redakturnya. Kok bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi,” kilahnya.

Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penu¬lisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu telanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat per¬saingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.

Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.

“Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak me¬madai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan,” kata Gunawan.

Pengalaman produser “Patroli” Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama de¬ngan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.

“Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa tele¬visi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga mo¬tor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia meli¬hat dari ‘Patroli’,” kata Indria.

Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melaku¬kan penyuntingan. “Patroli” tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.

Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk meme¬nuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita “Patroli” tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.

“Agar masyarakat makin hati-hati,” ujar Indria. “Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada.”

Pada awal masa tayang, “Patroli” memperoleh informasi dari ke¬polisian. “Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu,” ujar penanggung jawab program “Patroli” sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.

Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.

“Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng (Jakarta Barat). Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar per¬tama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagung¬an,” tuturnya, prihatin.

PERTENGAHAN JUNI 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.

“Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia be¬gitu.”

Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, “Sudahlah, kini kowe su¬dah bebas. Nanti cari suami yang baik.”

Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.

“Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil.”

Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.

Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan yang ter¬saput jelaga itu terus menyemburkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan. Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah miliknya masih tersampir di tali jemuran.

Muah kini termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar hebat untuk kesekian kali.

“Akan saya simpan terus. Kenang-kenangan,” ujar Muah, nyaris berbisik.


Dipublikasikan pertama kali di majalah Pantau, 2001




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates