Loading

Gaya Nusantara (oleh: Linda Christanty)

Posted in Journalism by Linda Christanty on 03/31/2016

Suka duka Dede Oetomo membangun organisasi dan media pertama kaum gay di Indonesia.

PASURUAN, kota berhawa panas di bagian timur Pulau Jawa, 1974. Seorang pemuda berusia 20-an tengah menulis surat untuk kedua orangtuanya. Ia berpura-pura jadi psikolog yang menjelaskan penyakit pasien, yang tak lain dari dirinya sendiri. Kebimbangan dan rasa takut menghantui, tapi keputusan harus dibuat. Ia membutuhkan tambahan biaya berobat.

Sore itu ayahnya masih bertandang ke rumah teman, sedang ibunya sibuk menjaga toko kelontong yang menyatu dengan rumah mereka.

Di kota ini harian Kompas tiba sore hari. Ia menyelipkan surat tadi dalam lipatan surat kabar tersebut. Ayahnya biasa membaca Kompas di malam hari. “Papi akan menemukan surat ini,” pikirnya.

Malam itu ia sengaja duduk di ruang tamu, sambil terus memandangi pintu kamar orangtuanya. Berbagai perasaan berkecamuk.

Pukul 19.30. Pintu kamar itu terbuka. Judo Oetomo menggenggam surat seraya menggandeng istrinya dan bergumam, “Anak kita ini sakit.”

Perlahan-lahan sebuah rahasia terkuak. Istrinya mulai menangis. Mereka, suami-istri, merasa bersalah atas apa yang dialami sang anak.

JANUARI 2002. Lelaki itu berdiri di teras rumahnya, mengenakan kaos oblong coklat pudar dan celana pendek katun abu-abu. Tubuhnya agak gemuk dengan tinggi di atas rata-rata orang Indonesia.

Lingkaran-lingkaran hitam mengitari sepasang matanya yang sipit, menandakan waktu lelapnya yang tak panjang. Ia kini dosen luar biasa di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Airlangga, Surabaya, dan mengelola majalah homoseksual, Gaya Nusantara (GN). Tiga tahun lalu kami pernah bertemu di sebuah pertunjukan kesenian rakyat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Maukah Anda menunggu satu jam saja? Saya mau istirahat sebentar. Anda bisa ngobrol dengan Joned dulu. Tidak apa-apa kan? Satu jam saja,” pintanya. Joned adalah salah seorang redaktur GN.

Saya pun mengikutinya masuk ke ruang tamu. Ruang tersebut berbentuk memanjang, agak gelap, dan kelihatan tak terawat. Lantai terasa berdebu. Piring-piring keramik Jepang dari awal abad ke-20 menghiasi dinding, peninggalan kekaisaran Taisho yang berusia singkat. Masa kekuasaan Taisho tercatat sebagai kekaisaran paling lemah dalam sejarah Jepang.

Dede Oetomo, sang tuan rumah, kemudian menghilang di balik sebuah pintu yang menghadap ruang tamu, yaitu kamar tidur merangkap ruang kerjanya.

GN berkantor di rumah ini. Di beranda belakang, sebuah meja tua dari kayu yang tak dicat menyela di antara saya dan Joned.

“Sampai sekarang saya belum bisa seterbuka Pak Dede. Saya belum pernah ngomong sama keluarga,” tutur Joned.

Di atas meja itu menggeletak Gaytimes, majalah khusus gay terbitan Amerika. Sampul depannya menampilkan model pria bertubuh atletis, telanjang dada. Beberapa edisi majalah GN seukuran buku tulis terserak di meja yang sama. Jam dinding menunjukkan pukul 16.00. Dari beranda ini tampak jelas pendopo kecil yang menampung barang-barang antik koleksi Rudy Musthapa, pasangan hidup Dede. Letak pendopo di sudut kanan halaman. Piring-piring keramik Dinasti Ching dari abad ke-18, bokor kuningan, kinangan gembol, guci dan lampu-lampu hias yang disebut gas pomp dari kurun waktu 1820 sampai 1890 tersimpan di situ. Beberapa rumpun pakis hias (cyras revolute) tumbuh menyudut di kiri halaman, di samping kolam kecil.

“Orang bilang, gambar-gambar dan artikel GN vulgar,” kata saya.

“Ini semua kiriman dari teman-teman. Makanya di halaman muka GN tertulis bahwa isi buku seri Gaya Nusantara belum tentu sama dengan pandangan organisasi Gaya Nusantara. Tujuan memuat gambar itu untuk menyenangkan mereka saja, yang penting tak melanggar hukum, bukan pornografi atau tulisan yang terlalu seksis. Ada kiriman surat yang bunyinya ‘Kalau kita ingin menikah carilah wanita pedesaan. Kalau kita mau ngapa-ngapain, dia nggak bisa ngomong.’ Tapi, Pak Dede melarang memuatnya. Terlalu seksis,” kata Joned.

Joned bergabung dengan GN pada 1989. Semula ia hanya pelanggan biasa.

“Terus saya baca di rubrik Gayung Bersambut Pak Dede ngeluh nggak ada tenaga. Suatu hari saya ketemu Pak Dede di tempat fotokopi dan saya bilang, ‘Katanya kekurangan tenaga, boleh saya bantu?’ ‘Oh, ya, datang aja ke rumah, ‘kata Pak Dede.”

Selain ikut mengelola GN, Joned bekerja di Surabaya Hotline, pelayanan konsultasi prilaku. Ia juga aktivis Ikatan Pendampingan Anak-anak Surabaya, organisasi sosial yang peduli pada pendidikan anak-anak dari keluarga tak mampu.

Satu jam berlalu. Dede menghampiri meja kami. Ia sudah bangun tidur, terlihat lebih segar, dan berkata, “Nah, sekarang nggak saya tinggal-tinggal lagi, deh. “

Hari berangsur gelap. Joned menyalakan lampu neon 20 watt. Luita Aribowo, yang mengurus sirkulasi GN, asyik mengetuk jari-jarinya di atas keyboard komputer rakitan di belakang kami, merapikan data.

“Saya coming out pada 1979, 1980. Semua orang yang saya kenal, saya beritahu. Saya kirimi kartu natal, surat. Saya coming out-nya gaya aktivis, saya langsung bergabung dengan grup gay dan lesbian di kampus dan ikut aksi,” kata Dede, tertawa.

Pada 1978, ia memperoleh beasiswa dari Universitas Cornell, Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliah tingkat doktornya di studi Asia Tenggara. Cornell menjadi salah satu kampus pertama di Amerika yang memiliki komunitas gay dan lesbian.

“Mulanya, mereka bertemu secara gelap-gelapan di kamar seorang pastor Marxis, New Left, Daniel Barrigan, yang kemudian mencopot jubahnya, “ tuturnya, mengungkap sejarah komunitas itu.

Di musim semi 1980 berlangsung sebuah reuni alumni universitas tersebut dan jadi momentum yang berpengaruh pada kesadaran Dede. Di sana ia berjumpa Bob Rock, aktivis yang mengajarinya tentang organisasi.

“Dia orang yang istimewa. Sekarang sudah meninggal dunia. Dia ini lawyer berwawasan internasional. Saya cerita (kepadanya), (kalau) saya surat-menyurat sama orang-orang. Terus dia bilang, kamu nggak coba menghubungkan orang-orang ini, yang sama-sama di Solo, yang Solo sama Semarang. Dari situ saya dapat ide untuk bikin network.”

Setelah tulisannya yang berjudul “Aku Menemukan Pribadiku Sebagai Homoseks” itu dimuat Anda, majalah prilaku, pada Juli 1980, 15 pria dari berbagai kota di Indonesia menyurati Dede. Mereka ingin berbagi pengalaman dan bertukar pikiran. Teman menjadi penting, ketika keluarga masih menganggap identitas anggota mereka yang homoseksual sebagai aib dan memalukan.

Namun, gagasan menyatukan orang-orang senasib ini belum menemukan bentuk yang sesuai.

Suatu hari di tahun 1981 paman Dede, Basuki Soedjatmiko, wakil pemimpin redaksi Liberty, sebuah majalah hiburan yang berkantor di Surabaya, memperhatikan kesibukan keponakannya yang asyik membalas surat-surat itu.

“Kamu itu tiap malem ngetikin surat, siang ngetikin surat, bikin majalah, dong,” kata Basuki kepada keponakannya.

Dede jadi bersemangat. Ia kemudian mendirikan Lambda Indonesia, organisasi kaum homoseksual pertama di Indonesia dan menerbitkan majalah Gaya Hidup Ceria pada 1982. Majalah ini hanya bertahan delapan edisi.

Pada pertengahan 1983, ia harus kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan disertasi.

“Lambda sebagai organisasi nggak jelas. Ini bukan kesalahan teman-teman, karena yang berani terbuka ‘kan saya,” tuturnya.

Ketika ia kembali ke Indonesia, isu homoseksual ternyata mulai memperoleh tempat di berbagai media massa. Wacana ini perlahan dibuka.

“Liputan gay di media massa makin banyak. Ada seminar di Gadjah Mada, si Kayam ngomong, lalu majalah Sarinah juga memuat, koran Jawa Post juga muat. Yang paling besar sebetulnya peran media dari luar, ketika Martina Navratilova coming out, terus orang baca Time ada gay liberation,” tutur Dede. Kayam yang dimaksud adalah almarhum Umar Kayam, budayawan yang juga menulis novel Para Priyayi dan antologi cerita pendek Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

GN terbit pertama kali pada akhir 1997, sebanyak 200 eksemplar dengan biaya cetak Rp 200 ribu.

Ketika semilir angin kebebasan bertiup seiring tumbangnya pemerintahan Soeharto, datang dakwaan baru bagi kaum homoseksual. Mereka dituduh membawa penyakit Acquired Immuno Defficiency Syndrome (AIDS), sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. Namun, propaganda pemerintah, kamu agamawan, dan paramedis yang menyebut mereka sebagai medium penularan penyakit ini justru makin mempopulerkan keberadaan kaum homoseksual di satu sisi.

Tuduhan itu tak terbukti. Laporan Yayasan Pelita Ilmu antara Oktober sampai Desember 2001 menunjukkan bahwa pecandu narkotika yang justru memiliki faktor risiko tertinggi untuk terserang AIDS (21 kasus), disusul heteroseksual (tujuh kasus) dan homoseksual (dua kasus). Data penderita AIDS dari 1987 sampai 2001 mengungkapkan bahwa 361 heteroseksual, 139 pecandu, dan 92 homoseksual/biseksual telah mengidap AIDS.

“Kemudian banyak organisasi AIDS itu yang menjadi tempat berkumpul orang-orang gay, “ ujar Dede.

Konsep GN terilhami dua media bersegmentasi sempit, majalah sastra Horison dan jurnal analisis ekonomi dan sosial Prisma. Ia ingin memadukan keduanya.

“Saya orang serius memang. Kalau kita perhatikan Gaya Hidup Ceria yang awal-awal, itu cenderung ada sastranya, ada eseinya, terus cenderung kayak majalah korespondensi, ada orang yang cari kawan. Ada korespondensi dan dakwahnya juga. Dakwah dalam pengertian, ini salah, ini benar, jangan berkecil hati.” GN terbit 12 edisi pada 1994.

Namun, pada 1995 majalah ini sempat terhenti.

“Ya, ada yang bilang, karena aku jatuh cinta lagi. Salah satu problem dari organisasi gay Indonesia adalah aktivisnya jatuh cinta atau putus cinta atau antar aktivis berantem,” seloroh Dede, yang disambut derai tawa Luita, Joned, dan Budi, staf redaksi GN yang baru saja datang.

GN ini menjadi alat pengorganisasian Anda?” tanya saya.

“Kalau pengorganisasian, nggak. Yang benar ini media untuk bacaan. Ada perasaan terwakili. Tapi, ini pun sudah tersaingi media umum. Katakanlah ada berita walikota Berlin gay. Kita malah nggak sempat memuat, semua udah memuat. Jadi, kita jelas nggak bisa jadi majalah berita. Paling-paling, yang susah didapatkan di media umum itu … ini lifeblood-nya. Kalau ini diambil, abis dia, nggak ada lagi orang yang mau beli ini basic need-nya. Ya, orang gay itu pengen ketemu orang lain. Kalau mau agak muluk-muluk, ingin berteman, solidaritas,” ujarnya, seraya memperlihatkan halaman GN yang berisi rubrik Perkawanan.

SUARA pria itu di telepon terdengar manja. Namanya, Dhedy Arief. Ia punya salon sederhana dan tinggal di sebuah rumah susun di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

“Rubrik Perkawanan jangan pakai internet, dong. Boros ‘kan? Sekali pakai, ongkosnya Rp 5000. Kalau masih belum terbuka sama keluarga, sama orang tua, bisa pakai Po Box. Seperti saya punya teman di Toli Toli, Surabaya, kalau pakai pos Rp 1000, Purworejo juga. Kebanyakan pembaca GN ‘kan menengah ke bawah. Ada internet-internet, nggak ngerti. Mereka yang pakai internet itu ‘kan yang punya pabrik mi, “ ujarnya bersemangat.

Dedy paling menyukai rubrik Perkawanan. Ia pernah menjadi model sampul GN No. 75 yang terbit pada November 2000. Akibatnya, ia memperoleh 1571 surat dari berbagai kota di Indonesia dan negara di dunia. “Ada yang dari Portugis, kebanyakan Surabaya, Jatim,Kalbar, NTB (Nusa Tenggara Barat), NTT (Nusa Tenggara Timur), Bandung. Malahan ada yang suka kirim kue, yang sampai sekarang saya belum bertemu orangnya. Profesinya juga macem-macem. Ada dokter, ada yang kerja di bank Lippo, BCA (Bank Central Asia), di departemen agama, departemen kehakiman, guru …”

Frixmon, gay yang juga tinggal di Jakarta, membaca GN sejak 1996 dan menyukai rubrik yang sama dengan Dedy. Berbeda dengan Dedy yang kurang menyukai gaya komunikasi ala dunia maya, Frixmon justru aktif memantau informasi dari dunia maya.

Ia mengeluhkan website GN yang sudah lama tak diperbarui isi dan tampilannya itu, “Sekarang ‘kan orang sudah cenderung pakai internet semua. Jadi kalau di-upload tiap bulan, orang bisa dapat yang baru, terutama mereka-mereka yang masih close gitu, yang masih ketergantungan pada internet. Biasanya secara berkala mereka upload tiap bulan, tapi ini sudah hampir setahun tidak di-upload. Jadi, nanti bisa ketinggalan, sementara sekarang sudah banyak yang lain, yang lebih bagus."

“Sebetulnya, jujur aja, saya tertarik baca, ya, nggak ya. Saya pertama beli karena saya cuma pengen cari teman lingkungan L (lesbian) aja,” ujar Lely, aktivis Suara Srikandi, sebuah komunitas lesbian di Jakarta, yang masih merahasiakan identitas seksualnya dari keluarga maupun teman-teman sekantornya.

Septianto di Semarang menemukan iklan penjualan GN di suratkabar Suara Merdeka dan tertarik membaca GN untuk mencari teman. Sejak itu ia jadi rutin membeli GN.

“Saya suka cerpennya, terus juga pengetahuan-pengetahuan lain tentang dunia, tentang penyakit-penyakit, terus hubungan yang aman itu gimana, “ katanya.

“Tapi, isinya terlalu vulgar. Kadang membacanya suka risih sendiri. Pengalaman ML (making love) kok ditulis di situ. Itu ‘kan pribadi sekali. Mungkin, bagi orang yang belum lihat ini mungkin menarik, “ tutur Yoga Pangestu, yang pernah menjadi model sampul GN No. 82, Juni 2001.

Pria ini menyebut dirinya biseksual. Ia bekerja sebagai penyiar radio swasta di Bumiayu, Jawa Tengah.

BENEDICT Anderson, seorang peneliti Indonesia, menganggap GN agak miskin dalam hal isi dan perwajahan dibanding majalah sejenis yang beredar di Thailand. “Terus madjalah-madjalah ini kadang-kadang ada bagian orang jang tengah umur, sedangkan Gaya diarahkan 100 persen kepada anak muda, “ tulisnya dalam sebuah e-mail kepada saya. Ben ingin penggunaan ejaan lama surat-suratnya dipertahankan saat menjadi kutipan.

Hotman Siahaan, rekan Dede sesama dosen juga menyimak GN. Namun, ia merasa tak berhak memberi penilaian. “Orang bisa saja bilang gay itu vulgar. Tapi, dari sudut mana melihatnya. Bagi saya, majalah khusus untuk orang-orang dari kelompok itu, pastilah disesuaikan karakteristiknya dengan audiensnya. Mungkin, ada luberan pembaca yang bukan dari kelompok tersebut ingin tahu, ya itu sudah konsekuensi dia. Penilaian mereka ini harus dibedakan dengan penilaian audiensnya dia, Gaya Nusantara,” katanya.

GN sekarang dicetak 400 sampai 500 eksemplar, dengan biaya sekitar 2 juta tiap bulan. Pendistribusiannya melalui sejumlah agen yang tersebar di berbagai kota, salon-salon kecantikan dan jaringan GN, seperti Gaya Priangan di Bandung, Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati di Jakarta, dan Lentera di Yogyakarta.

“Kalau dihitung matematis memang rugi, tapi kita bisa hidup dari sumbangan yang beli GN tapi membayarnya lebih, misalnya satu eksemplar dihargai Rp 20 ribu. Untuk pelanggan perorangan cukup banyak, dan dari sini GN bisa hidup, “ kata Luita.

Gaya Priangan membantu mendistribusikan majalah ini sebanyak 50 eksemplar sejak 1994.

“Omzetnya lumayan. Tapi waktu ada homepage, pembeli agak menurun. Tapi ‘kan nggak dimuat semua info dalam homepage. Ada yang mengaku susah menyimpannya (majalah), naruhnya di mana katanya, ada yang terus dipinjam, ya sudah nggak dikembalikan. Masih ada ketertutupan semacam itu, tapi nggak semua, “ kata Franklin Leyder, ketua Gaya Priangan.

Kertetutupan itu pula membuat cara pemasaran majalah ini menjadi unik.

“Kalau mereka datang, kita biasanya udah bungkusin majalahnya pakai koran, ada juga yang minta dianterin ke ujung gang, kita layani, ada juga yang minta diantar ke hotel atau kos mereka. Tapi, yang begini nggak banyak, sekitar 20 persen,” kata Leyder, dalam sebuah percakapan telepon dengan saya.

Sikap pembeli pun antusias. Kebutuhan mereka macam-macam, mulai dari mencari referensi untuk skripsi sampai mencari kawan.

“Tapi, lebih banyak perkawanan, 85 persen,” kata Leyder.

Namun, sejak dua tahun lalu, Gaya Celebes berhenti mendistribusikan GN di Makassar, Sulawesi Selatan. Alasannya, tak ada yang mengelola dan tak ada pembeli.

“Beredarnya pinjam-meminjam. Belum ada yang berani beli, dibaca di sekretariat kita. Akhirnya, stok menumpuk. Banyak peminat pembaca, bukan peminat pembeli, bukan nggak mau beli, tapi belum,” ujar seorang aktivis Gaya Celebes, yang menolak menyebutkan namanya.

Kendalanya adalah masih ada ketertutupan di kalangan ini. Rasa takut dan was-was membayangi benak kaum homoseksual. Bermacam stigma yang diberikan pada mereka, seperti pendosa atau mengalami gangguan jiwa, membuat tak semua orang berani membuka diri. Sanksi sosial yang bakal diterima juga tak ringan.

Dalam perbincangan kami di Surabaya, Joned menegaskan, “Pelanggaran hak asasi yang pertama itu yang sering terjadi dalam keluarga malahan. Makanya saya katakan, kamu berprestasilah, punya banyak uang, karier sukses. Karena kalau dia sukses semua keluarga, orangtua, kakak, adik, semua tertuju ke dia. Jadi dia bisa punya power di situ.”

HOMOSEKSUALITAS di Indonesia punya akar pada tradisi. Jejak-jejaknya masih terlihat dalam catatan para antropolog dan kitab-kitab tua. Snouck Hurgronye, seorang peneliti Aceh pada abad ke-19, mengungkapkan bahwa lelaki Aceh amat menyukai budak penari mereka yang berkelamin sejenis untuk menjalani paederastic habits atau kebiasaan berkasih-kasihan dengan anak muda. Hal ini ditulis Dede dalam bukunya, Memberi Suara pada yang Bisu, yang sebagian besar berisi kompilasi artikel yang ditulisnya untuk GN. Selain budaya warok (jagoan yang disegani) di Ponorogo, Jawa Timur, yang memelihara gemblak (penari atau ronggeng laki-laki) untuk menjaga kesaktiannya, di Sulawesi pun terdapat tradisi yang sama. Seorang pria penjaga pusaka yang disebut bissu tak boleh berhubungan dengan wanita untuk menjaga sakralitas pusakanya. Kesusastraan Jawa mengenal Serat Centhini. Kitab yang ditulis para punjangga kraton di masa Sunan Pakubuwono IV ini memuat adegan homoseksual secara gamblang.

“Saja pernah ada usul kepada Dede untuk muat terjemahan bagian-bagian dari Tjenthini, tetapi nampaknya suasana belum mengidjinkannja. Apalagi sifat-sifat hipokrit di kalangan agama (semuanja!). Ada adegan Tjenthini jang saya suka sekali, karena ‘ringan’nya dan kurangadjarnya. Di adegan itu, si tokoh diberi tugas di pesantren untuk mendjadi imam pada sembahjang subuh. Selama malam sebelumnja dia sibuk main sex dengan dua remadja jang tampan-manis (seks oral). Datang subuh mereka bertiga tjepat mandi dan turun untuk sembahjang dengan ummat lain, tanpa rasa dosa atawa malu. Dua ratus tahun jang lalu lumrah rupanya, tetapi sekarang ini skandal besar!” kata Ben dalam sebuah e-mail-nya yang lain untuk saya.

Soetandyo Wignjosoebroto, guru besar emeritus dari Universitas Erlangga, membenarkan adanya praktik homoseksual di pesantren-pesantern ini. “Karena lingkungan laki-laki, ini bagian dari eksperimen seksual, karena eksperimen dengan perempuan bisa terkena sangsi yang luar biasa. Tak hanya dalam pesantren, juga dalam asrama laki-laki, ketika hubungan dengan perempuan sangat terlarang.”

Soetandyo menjabat dekan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik saat Dede diterima menjadi dosen pada 1984. Wajahnya yang ramah tampak segar di usia menjelang 70 tahun. Ia membukakan pintu paviliun untuk saya yang mengunjunginya awal Januari 2002 lalu di Surabaya. “Bukankah agama melarang orang melakukan perbuatan itu?’ tanya saya.

“Manusia hidup dalam double reality. Agama bisa berkata begitu, tapi bersikap bisa lain,” jawabnya.

Perubahan tradisi dari masyarakat agraris di desa ke masyarakat industri di kota juga mempengaruhi prilaku orang. Hak-hak individu memperoleh kebebasan lebih luas, termasuk kecenderungan biologisnya di perkotaan.

“Lambat-laun moral menjadi hak individu, bukan lagi moral masyarakat yang berhak menghakimi. Kekerasan dan perlawanan dari kelompok yang defensif itu kalau agresif seperti saat menyerang Pak Dede (Oetomo) di Solo. Mereka ini gambaran perlawanan moral juga kultural, sebenarnya moral tradisi. Kadang tradisi itu mencari legitimasi pada agama. Legitimasi yang kuat itu agama,” tutur Soetandyo.

“Homoseksual ini nature atau nurture?”

“Dikatakan nature, ya nature, tapi dikatakan distorsi dari nature juga iya. Saya pernah membaca buku sosiobiologi yang ditulis Desmond Morris, berjudul The Human Zoo. Saya dulu suka membaca buku-buku yang berkaitan dengan human animality, sisi biologis, sisi hewani dari manusia yang berbudaya itu. Morris itu seorang pengurus kebun binatang dan dia mempelajari prilaku hewan di kandang-kandang,” katanya.

Menurut Morris, hewan itu seharusnya berada di ruang terbuka, hidup di alam bebas, tetapi secara artifisial mereka dikandangkan, di ruang tertutup.

Ia menjelaskan, “Nah, dia melihat manusia itu dulunya bebas, hidup di alam bebas sebagai pemburu-pemburu, lalu terjadi domesticated di pertanian-pertanian, hidup di kavling-kavling, tidak lagi sebagai makhluk pemburu yang bergerak ke sana ke mari. Sekarang dalam dunia industri malah di kota-kota, masuk ke gua-gua seperti ini. Manusia mengandangkan dirinya sendiri.”

Dalam kandang, hewan-hewan mengalami distorsi, terjadi hubungan seks sesama jenis. Tak hanya prilaku seksual yang berubah, juga prilaku mencari makan. Harimau yang dulu harus berburu mangsa, kini tinggal menerima lemparan daging. Kera yang melompati satu pohon ke pohon lain untuk menemukan buah-buahan yang bisa dimakan, sekarang hanya menunggu lemparan kacang di kebun binatang.

“Pada manusia, dia sudah lepas dari tradisi, karena mobilitas,” ujarnya.

Saya teringat sebuah e-mail Ben yang juga berkomentar tentang ini, “Malahan para zoolog sudah sempat pastikan bahwa gedjala macam ini djuga nongol di sebagian besar para “mammal”, dan paling sering dilihat di kalangan mammal yang “madju”- yaitu bangsa ketek (monyet), angsa, babi, anjing, lembu, dan sebagainya. Djadi pasti sebagian alamiah saza. Sering saja bilang pada temen-temen, mirip sifat “kidal”. Kita tak tahu mengapa kira 1 dari 6-7 orang lahir kidal. Anak-anak bisa dipaksakan oleh masyarakat untuk pakai tangan kanan, tapi kekidalannya tak bisa dilenjapkan.”

Soetandyo masih ingat peristiwa delapan belas tahun lalu, saat Hotman menemuinya untuk berbicara khusus tentang Dede. Ketika itu ia sedang berjalan di koridor lantai dua gedung fakultasnya, baru saja keluar dari perpustakaan kecil yang disebut ruang koleksi. Hotman memanggilnya.

“Informal. Mungkin, Pak Hotman takut saya membuat penolakan kalau langsung formal. Pak Hotman tanya, apa dia bisa masuk ke sini dan bercerita tentang kehidupan pribadi Dede. Saya bilang, itu ‘kan soal pribadi. Yang penting, dia bisa ikut membantu dunia akademis ini, “ kenangnya.

“Bagaimana kalau putra atau putri Anda ada yang homo?” tanya saya.

Ia terdiam sejenak. “Mungkin, tidak bisa menerima, sebagai ayah. Mungkin, ya seperti ibunya Pak Dede. Kalau nasi sudah menjadi bubur, tak berarti bubur itu harus dibuang, tapi diberi santan supaya menjadi enak. Saya kira, kita hidup di masyarakat yang terus berubah,” katanya.

KEMAJUAN di bidang psikiatri memberi legitimasi berikutnya pada prilaku ini. Bila dulu homoseksual dianggap suatu bentuk penyimpangan jiwa, kini tidak lagi. Banyak teori tentang etiologi homoseksual telah berjalan jauh dibanding setengah abad lalu.

Sigmund Freud yang menemukan fase oedipal yang cacad pada anak sebagai penyebab prilaku tersebut, menjadi terdengar kuno. Alfred Charles Kinsey, seorang dokter Amerika, melakukan penelitian terhadap sekitar 5000 kaum homoseks pada 1940-an dan mencipta skala bergradasi nol (heteroseksual eksklusif) sampai enam (homoseksual eksklusif). Ia menyimpulkan 37 persen pria Amerika pernah melakukan hubungan seks sesama jenis dan 10 persen dari mereka itu homoseks tulen.

Pada 1956 Evelyn Hooker, seorang psikolog, menyempurnakan kerja pendahulunya. Hooker meneliti sekelompok homoseksual dan heteroseksual yang menjalani hidup normal, tanpa keluhan psikis. Hasilnya, ia sama sekali tak menemukan perbedaan secara psikopatologis di antara kedua kelompok itu.

“Perbedaannya, hanya seleranya. Nah, kalau orang homoseksual tak merasa menderita, dalam kehidupan dia bisa berfungsi baik. Perbedaannya, hanya terletak pada apa yang dia perbuat di ranjang, “ tutur Lukas Mangindaan, dokter di bagian psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Hasil penelitian ini telah mendorong American Psychiatric Association menghapus homoseksualitas dari kategori gangguan jiwa pada 1973. Saya bercakap-cakap dengan Lukas di ruang kerjanya di rumah sakit tersebut. Setelah menerangkan ini dan itu kepada saya, ia berjalan ke arah rak buku, lalu mengambil sebuah buku tebal bersampul hitam yang dipajang di situ.

“Pada tahun 1985, Departemen Kesehatan menerbitkan buku tentang gangguan jiwa. Namanya, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II dan mengeluarkan lagi PPDGJ III pada 1993. Isinya, sudah menghapus homoseksual dari daftar penyimpangan jiwa, “ katanya, seraya meletakkan buku tersebut dan membukanya di hadapan saya.

Pada halaman ke empat tertera kalimat: ”… Gangguan minat seksual (disorder of sexual preference) dengan jelas dibedakan dari gangguan identitas jenis, dan homoseksualitas sendiri tidak lagi dicantumkan sebagai suatu kategori.”

Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sambil mengunyah kuaci di ruangan yang terletak di belakang gedung bagian psikiatri ini. Tak ada siapa-siapa, selain kami berdua. Betul-betul sunyi. Tubuhnya yang lumayan gemuk membuat ia seperti kepayahan saat bergerak atau berjalan. Kepalanya botak dan ciri fisik ini pula yang disebutkan seorang dokter di meja resepsionis ketika saya mencarinya. Hidungnya terlihat membungkuk di tengah wajahnya yang bundar.

“Nah, orang homo yang datang ke psikiater adalah orang homo yang tertekan. ‘Kenapa saya tak jadi heteroseksual?’ pikirnya Jadi, dia ingin jadi orang lain. Itu yang membuat dia menderita. Kenapa? Karena masyarakat kita homofobia. Coba you ngomong sama orang awam,”Apa pendapatmu tentang homo?’ ‘Ih, jijik,’katanya. Bahkan, di kalangan dokter saja masih banyak mereka yang berpikir kalau orang homo itu kerjanya hanya nyodok-nyodok aja, sodomi,” ujarnya, seraya tertawa-tawa.

“Tapi ada dokter yang berkata kalau itu harus disembuhkan, prilaku yang tak bermoral dan melanggar agama, “ kata saya.

“Itu karena mereka menggunakan value. Ilmu kedokteran punya basis ilmiah dan humanisme, bukan value. Orientasi seksual itu human identity, sama seperti warna kulit, warna rambut, jenis kelamin, pekerjaan. Apakah karena you perempuan boleh didiskriminasi? Apakah karena you perempuan, kerja di tempat laki-laki, gaji you lebih kecil? Apakah kalau you sendirian orang berambut hitam di tengah orang blonde boleh didiskriminasi? Di Ambon, di Poso, orang melakukan pembunuhan berdasarkan human identity,” sahutnya.

Human identity is a neutral. Bila dia mencuri, mencuri is human identity or behaviour? Itu behaviour,” Orang homo yang menyodomi itu behaviour,” lanjutnya, mengupas kuaci lagi.

“Mengapa penelitian tentang gay lebih maju ketimbang lesbian?”

“Karena jumlah lesbian lebih sedikit, mungkin di bawah satu persen. Gay sampai empat persen. Tapi, gay ditambahi predominasi itu bisa sampai 10 persen. Jadi, penelitian lebih diarahkan pada male homosexual, dan male homosexual lebih terbuka ketimbang female homosexual, yang lebih tertutup, “ tutur Lukas, sambil mengunyah-ngunyah kuaci.

Dampak dari posisi perempuan yang juga masih terdominasi?

“He-eh. Saya punya kasus pasien lesbian satu. Remaja. Ibunya menemukan surat cinta. Apa yang terjadi? Langsung rambutnya dibotakin dan mukanya disundut rokok, biar jelek. Itu yang nyundut ibunya sendiri. Dia dibawa dalam keadaan depresi sekali, sudah mau bunuh diri. Nah, coba bayangkan, tidak menerima kondisi anaknya, bahkan disiksa segala macam. Itu sangat tidak manusiawi.”

Lukas kemudian menjelaskan perbedaan gay, lesbian, transeksual, dan biseksual, “Gay, laki suka sama laki, lesbian itu perempuan yang suka sama perempuan, biseksual suka laki dan perempuan. Kalau transeksual ada dua macam. Waria itu laki, tapi dia ingin jadi perempuan, dia ingin punya breast dan ingin memotong penisnya, istilah dia wanita yang terperangkap dalam tubuh pria. Nah, kalau transeksual wanita, dia ingin memotong breast-nya dan punya penis. Semuanya itu human identity.”

“Apakah nggak ada rekayasa genetika yang bisa mengubah homoseksual jadi heteroseksual, kalau faktor gen punya peran juga?” tanya saya.

“Nah, ini very good question, because now you are playing God. Jadi, artinya begini, saya bukan anti terhadap rekayasa genetika, tapi gunakanlah untuk penyakit berbahaya, jangan untuk selera. Penyakit alzheimer, skizofrenia, parkinson, yang bibitnya sudah ada ketika dia lahir, ini bisa digunakan. Jangan untuk selera. Lama-lama nanti kayak Hitler. ‘Saya mau bangsa yang semuanya blond, matanya biru …,’ katanya,” Lukas tampak serius.

Ia mengatakan bahwa waria lebih diterima di masyarakat, sehingga dulu kaum gay rela mengenakan pakaian perempuan agar bisa berhubungan seks dengan sejenis.

HARI sudah gelap, pukul 18.30. Rudy menyiapkan makan malam. Menunya: nasi goreng yang dibeli dari penjual keliling. Kami akan makan malam bertiga. Joned, Luita, dan Budi sudah pulang.

Dede tak pernah melupakan ucapan Slamet Iman Santoso, psikolog yang menanganinya dulu, “Dia bilang sama orang tua saya, ‘Anak ini nggak bisa diapa-apain lagi, tergantung bagaimana anak ini menyesuaikan diri dengan masyarakat.’ Sayang sekali, nggak bilang langsung sama saya.”

Tatapannya menerawang.

“Ibu kadang masih bertanya-tanya sampai hari ini, apakah karena ia dulu sering mengajari saya pekerjaan perempuan, seperti memasang kancing baju. Itulah yang kadang membuat saya sedih, sepertinya ibu masih merasa bersalah. Tapi mengapa seseorang menjadi homoseksual sebetulnya masih misteri, “ tuturnya.

Rumah mereka kembali sunyi. Dede dan Rudy yang telah hidup bersama hampir 19 tahun ini tak berniat mengadopsi anak. Mereka khawatir tak bisa mengurusnya dengan baik. Kata Dede, “Kami ini kalau di Barat itu termasuk dari generasi 1960-an, antiketurunan. Nah, sekarang para lesbian itu berbondong-bondong punya anak. Ada satu statistik yang saya lihat di Belanda mengungkapkan setahun terakhir 20 ribu bayi lahir dari lesbian. Satu tren baru.”

Ia punya harapan yang lebih sukar lagi terwujud, yang membuat ia sering berandai-andai, “Barangkali lokomotif gerakan ini teman-teman lesbian. Di sini sebagian besar cowok cari cowok gitu, ya. Di sini mirip Thailand, karena relatif gampang dapat cowok di sini, nggak ada represi dari negara. Mungkin, picuan bergerak itu nggak kuat.”

Menurut Dede, kemampuan berorganisasi itu memang sudah dilumpuhkan pada 1965. Saat itu kudeta terhadap pemerintahan Soekarno dilakukan Soeharto dan berbuntut terhadap pembubaran sejumlah organisasi massa yang berbasis rakyat.

“Ini kalau saya boleh menyalahkan ’65. PKI (Partai Komunis Indonesia), lepas dari semua kesalahan yang dikatakan orang tetap satu organisasi hebat. Kita ini pewaris suatu budaya yang berorganisasi itu agak dilecehkan, “Ngapain jadi aktivis?’ Lain kalau saya perhatikan orangtua di Palestina ketika anaknya ikut Intifadah, diantar ibunya dengan doa. Di Indonesia, berapa, sih aktivis yang ibunya berdoa agar anaknya bisa menjatuhkan rezim? Malah berkata, ‘Nduk, Lek, Wuk, gimana, sih kamu itu nanti ditembak sama Kopassus (Komando Pasukan Khusus),“ ujarnya.

Ia mengungkap gaya berpolitik orang Indonesia, “Orang berpolitik by proxy. Di kampung-kampung, ‘Oh, Megawati udah jadi presiden, hore …’gitu, dan sudah. Dan orang-orang santri melihat Gus Dur udah jadi presiden, ya sudah, bukannya dibela bikin jihad. Biarin Mas Dede yang bikin majalah, nanti aku kirim foto aja.”

Namun, hatinya ada pada gerakan kiri, “Harapan saya ada pada gerakan ini, kalau gerakan lain hanya membuat mereka hedon aja. Dulu saya masuk PRD (Partai Rakyat Demokratik), karena saya ini memang sosialis lama. Saya gay itu kebetulan saja.”

Ketika Hassan Mulachela dari Partai Persatuan Pembangunan di Solo menentang rencana rapat kerja gay dan lesbian di kota itu, Dede juga tak gentar. 

“Tanggal 9 September 2001, Kamis pagi ada orang GN telepon, ‘Mas tiwas, Mas. Kita dimuat di Solopos, kita mau dibakar.’ Jumat sekitar 300 orang, pakai putih-putih menyerbu PRD di Sukoharjo, “ kisahnya. PRD mendukung gerakan LGBTIQ.

Setelah peristiwa itu para peserta rapat kerja malah jalan-jalan ke Malioboro, Yogyakarta, berbelanja.

“Ya, begitulah kejiwaan mereka.” Ia pasrah.

SEBUAH situs lesbian saya temukan setelah mengetik “homoseksualitas” and “psikiatri” pada mesin pencari www.google.com. Saya masuk homepage Indonesia Lesbian Forum dan menemukan informasi bahwa Suara Srikandi, sebuah komunitas lesbian di Jakarta, akan menyelenggarakan diskusi buku Dede, Memberi Suara pada Yang Bisu. Dalam email berisi pengumuman itu tertera kalimat: tertutup untuk homofobia dan pers.

Saya menyurati salah seorang panitia dan mengungkapkan rasa tertarik saya. Tak sampai setengah jam, telepon berdering. Terdengar suara perempuan di seberang. Ia mengizinkan saya menjadi peserta.

23 Februari 2002. Orang-orang mulai berdatangan ke salah satu ruangan di Wisma Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia yang terletak di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lima puluh kursi tersedia dalam ruang diskusi yang dingin itu.

Pukul 14.00, acara dibuka moderator. Dede sudah hadir.

“Ini pertama kalinya Suara Srikandi mengadakan event bersama teman-teman gay, Gaya Nusantara. Semoga nanti kita bisa melibatkan lebih banyak lagi …,” kata Diah Kartika Sari dari Koalisi Perempuan, organisasi perempuan bertaraf nasional.

Peserta yang datang sekitar dua puluh orang.

Tanya-jawab pun dimulai.

“Dalam buku ini tak ada tentang lesbian. Di televisi ada sinetron berjudul Cerita Cinta, menampilkan juga lesbian. Tapi, pendidikan tentang lesbi yang masih raba-raba, seperti ada kalimat ‘gue belok, lu belok (L) nggak? Kalau kita ingin membuka wacana, mendidik anggota DPR, agar tentang hak-hak lesbian muncul di sana, kita juga harus membuka wacana. Kita masih kayak film American Beauty, yaitu homoseksual yang homofobik, yang kalau menyebut dirinya saja pakai ‘itu,’yang ‘itu, ”’ ujar Bonnie dari Suara Srikandi.

“Ada teman saya dokter, dokter umum, lesbian. Masak dia bilang bahwa lesbian itu suatu penyakit, penyimpangan, padahal dia dokter,” ujar peserta lain.

“Ada teman saya yang kalau lama nggak sama cewek, dia bilang, dia bisa ‘sembuh,”’ celetuk seseorang.

“Kita jangan lagi mengonfrontasikan homoseksualitas dan heteroseksualitas. Ini sama saja dengan gerakan feminis yang dulu keliru dengan bersikap antilaki-laki. Seharusnya dominasi dilawan dengan fraternity. Dan kita melawan sesuatu yang singular dengan pluralisme,” ujar Ade Kusumaningrum, satu-satunya peserta yang datang bersama ibunya.

Perdebatan-perdebatan terus berlangsung. Mereka, para lesbian dan gay, tengah mencari identitas diri, dengan diskusi dan teori-teori.

Dede mengatakan ia bukan tak mau menulis banyak tentang lesbian, tapi hanya menulis apa yang diketahuinya saja. Dalam diskusi ini ia lebih banyak mendengarkan mereka, sesekali tertawa. Ia seperti menemukan semangat baru. Inilah sebuah dunia yang telah diperjuangkannya selama hampir dua puluh tahun.***

Jakarta, April 2002

Catatan:

Tulisan Linda Christanty ini pertama kali diterbitkan 14 tahun lalu di majalah Pantau (2001-2003) dan dimuat dalam bukunya Dari Jawa Menuju Atjeh: Islam, Politik, dan Gay (Kepustakaan Populer Gramedia, 2008).

Dr. Lukas Mangindaan meninggal dunia pada 3 Maret 2013. Profesor Soetandyo Wignjosoebroto meninggal dunia pada 2 September 2013. Hotman Siahaan kini profesor di Universitas Airlangga, Surabaya. Dede Oetomo masih terus memperjuangkan hak-hak LGBTIQ sampai sekarang.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates