Loading

Efek Jera (oleh Linda Christanty)

Posted in Fiction by Linda Christanty on 07/20/2013

KECELAKAAN mobil di Missoula, Montana membuat Ruth harus cuti beberapa waktu. Mobilnya menabrak pohon. Ia mengalami kebutaan wajah, tak dapat membedakan wajah-wajah orang secara detail.

Ia membutuhkan pertolongan dokter syaraf untuk memperbaiki fungsi otaknya. Lobus oksipital-nya membengkak. Menurut dokter, kerusakan ini sudah terjadi sejak lama dan Ruth tidak menyadarinya. Saya teringat ia pernah menembak orang di klab, yang disangkanya bekas pacar. Kalau benar tindakan tersebut akibat kebutaan ini, banyak sekali hal fatal yang sudah terjadi dan kami luput. Kebutaan wajah dapat mengakhiri karier Ruth. Sebenarnya ia juga sedikit bermasalah dengan lobus frontal, karena tidak mampu mengendalikan perilaku seksualnya. Ia binal dan punya banyak kekasih.

Hubungannya dengan para lelaki ini berhenti begitu salah seorang dari mereka mati. Efek jera itu datang dari Razak. Ketika kami masih tinggal bersama di satu apartemen di Kuala Lumpur, ia selalu berteriak keras-keras saat bercinta dengan Razak, wartawan Malaysia yang kelak tercabik oleh ledakan bom di Afghanistan. Teriakan saat bercinta orang-orang yang saya kenal tidak pernah sekeras Ruth. Dua teman seasrama saya dulu berteriak-teriak juga saat bercinta, tapi dalam batas kewajaran film-film biru. Teriakan Ruth seperti lenguh objek penyiksaan di penjara-penjara rahasia. Setelah Razak menjadi serpihan daging mentah, Ruth tidak lagi menyukai laki-laki. Dalam seminggu, ia telah memiliki kekasih baru, perempuan. Ia mengganti objek kelaminnya supaya tidak membayangkan serpih daging berserak di tempat tidur atau di meja atau di lantai atau di sofa atau di dudukan kloset saat ia bercinta.

Ruth membantu saya masuk ke Indonesia pada 1983. Ketika itu ia mengepalai sebuah lembaga riset di Jakarta. Persahabatan saya dengan Ruth cukup panjang. Pada 2008, ia mengenalkan saya pada lelaki cebol, botak, berkulit hitam, dan berhidung pesek di satu pesta komunitas budaya. “Dia orang penting. Kamu harus mengenalnya,” bisik Ruth di telinga saya, seraya tersenyum ke arah si cebol yang tengah menghampiri kami. Tak berapa lama, ia berbisik lagi, “Tapi itunya lumayan, gemuk meski jauh lebih pendek dari punya laki-laki Kaukasia. Ada yang lebih tinggi dan langsing dibanding dia di sini, tapi itunya kurus seukuran lidi, tidak terasa apa-apa, lepas terus.”

Saya terbahak, tepat di saat si cebol tiba di hadapan kami, lalu Ruth memperkenalkan saya dengan nada suara yang manis, “Annabel Carson, peneliti konflik-konflik di Asia Tenggara.”

Lelaki kurcaci ini bernama Bakar. Suaranya cempreng. Ia benar-benar cebol, sehingga saya terpaksa agak membungkuk untuk menggenggam tangannya yang kecil, mirip ibu guru menjabat tangan murid baru di taman kanak-kanak. Telapak tangannya terasa lengket, pertanda ia menderita hiperhidrosis, produksi keringat berlebih. Atau lebih serius lagi, ia mengidap diabetes. Ruth mengerdipkan mata. Saya tertegun. Dalam Bahasa Inggris, “bakar” berarti “burn”. Kata itu bagai anak panah yang tengah menembus ke masa silam saya yang tergelap. Rupanya, kata kerja dapat menjadi sebuah nama di Indonesia. Ruth kelak menjelaskan bahwa “bakar” yang menjadi nama orang Indonesia berasal dari nama orang Arab, tidak berkaitan dengan pertemuan api dan bensin yang menghanguskan gedung atau orang atau kampung.

Beberapa kali saya bertemu dengan Bakar setelah itu. Kami melakukan kontak seksual sekali, kemudian tidak lagi. Saya sangat terganggu dengan cucuran keringat Bakar. Mengapa cucuran keringat itu tidak jatuh ke pelimbahan saja, seperti peribahasa dalam Bahasa Indonesia tentang air cucuran atap. Saya seolah terbekap jas hujan yang basah waktu ia menimpuk (atau menumpuk? Bahasa Indonesia saya masih agak kacau) tubuh saya yang satu setengah kali lebar tubuhnya dan 30 sentimeter lebih panjang dengan tubuhnya yang ringan dan kurcaci itu. Saya tidak menyukai permainannya. Teknik Bakar mirip tingkah kucing lapar mengais-ngais makanan sisa di tong sampah, mementingkan diri-sendiri dan tidak berseni. Untuk tampak perkasa, rupanya Bakar merasa harus menunjukkan dirinya seekor kucing. Mungkin tadinya ia bermaksud memukau dan menampilkan diri sebagai harimau jantan, tetapi tubuh kurcacinya menjadikan ia lebih mirip seekor kucing di mata saya. Jangan-jangan Napoleon Bonaparte, si cebol paling ternama dalam sejarah, juga menerapkan teknik ini. Dan Bakar barangkali punya ambisi untuk dicatat sejarah, mengikuti jejak Napoleon. Saya pernah membaca sebuah artikel berjudul “Lelaki Bertubuh Pendek yang Mengguncang Dunia.” Ada tiga orang: Napoleon Bonaparte,Adolf Hitler, dan Kim Jong-Il. Suatu hari jumlah ini akan jadi empat, dengan nama Bakar.

Beberapa kali setelah itu Bakar mencoba memancing-mancing saya dan juga menyanjung-nyanjung saya sebagai salah satu yang paling memuaskan dalam hidupnya. Ia benar-benar tidak mampu menyembunyikan hasrat untuk mengulangi atraksi kucingnya setiap kali kami bertemu, tetapi saya menanggapi pancingannya dengan sikap biasa-biasa saja, seolah-olah saya tidak paham. Jika kami bertemu dalam acara-acara yang kami hadiri, sedapat mungkin saya menghindari pembicaraan berdua dengannya. Saya tahu ia berupaya mencari kesempatan untuk bicara berdua dengan saya. Mungkin akhirnya ia menyadari bahwa saya selalu menghindar.

Di satu pesta koktail meriah, di rumah duta besar Australia, ia menanyakan secara terus-terang keengganan saya untuk mengulangi lagi dengannya, “Apakah saya tidak menarik secara fisik, atau bagaimana?” Suaranya terdengar khawatir bahwa ia gagal memuaskan. Saya menggeleng cepat, lalu berkata, “Bukan itu. Saya tidak suka seks.” Ia mendesak, “Sama sekali?” Tangannya menyikut paha saya dan bukan lengan saya, karena ia cebol. Saya diam saja, seolah-olah senggolan itu tak pernah ada. Namun, penolakan Putri Salju membuat orang cebol harus menghibur diri. Ia menuduh saya biseksual dan lebih cenderung ‘bi’. Saya pikir ia sedang melancarkan provokasi, tetapi itu jauh lebih baik daripada mendengarkan sanjungannya, karena itu saya tidak menolak dan juga tidak membenarkan apa yang ia katakan. Senyum adalah reaksi paling tepat untuk menghadapi provokasi semacam ini.

Di hadapan kami, sekelompok laki-laki hitam bertelanjang dada, menggenggam tombak, dan mengenakan rok serat kayu baru saja menyelesaikan tarian perang. Orang-orang ini diterbangkan langsung dari Papua, bersama dengan batang-batang kayu untuk mereka ukir, disponsori sebuah perusahaan tambang emas dan uranium dari Phoenix, Arizona. Mereka dan benda-benda dari kayu yang dipajang di ruang tamu ini berkategori “barang asli” untuk pameran. Duta besar kemudian berpidato tentang pelestarian seni ukir dari sebuah suku kecil yang populasinya 1.200 jiwa. Ia menunjuk ke patung ular, burung, buaya, ikan,kadal....

Di luar aksi kucing dan tong sampah, Bakar lumayan berguna. Ia mengenalkan saya pada orang-orangnya dan salah satu dari mereka bekerja untuk saya sampai sekarang. Sebenarnya saya mencoba mempekerjakan dua orang dari kelompok Bakar. Sengaja saya pilih dua lelaki peranakan Tionghoa, bukan orang-orang Jawa. Saya memanfaatkan rasa tidak terikat mereka terhadap Indonesia, yang bukan negeri asal nenek moyang mereka. Saya menganggap semua imigran di seluruh dunia ini sama. Mereka tidak punya kesetiaan. Salah seorang ternyata bereaksi di luar dugaan. Ia sangat nasionalis. “Indonesia memang punya beberapa masalah,” katanya. “Tapi kami harus membangun Indonesia.... Di sini kami lahir, di sini kami mati. Kami harus optimistis.” Tidak mungkin saya mengajak antek Sukarno dari Fukien ini bekerjasama. Saya menyukai keramahannya, saya menyukai mata sipitnya yang menatap saya sungguh-sungguh ketika ia menyampaikan kesetiaan kepada negeri kelahirannya, namun saya tak punya urusan apakah Indonesia akan terbangun sesuai cita-citanya, atau menjadi negara seperti Somalia: miskin, sarang bajak laut, tanpa harapan.

Lelaki kedua bersikap santun berlebihan, sehingga saya merasa diberhalakan. Dugaan standar yang berlaku, orang seperti ini pasti punya masalah kejiwaan berat. Saya menyelidiki latar belakang keluarganya. Tiga adik perempuannya mengidap skizofrenia. Ayahnya meninggalkan ibunya untuk menimpuk (atau menumpuk?) tubuh perempuan lain. Selama setahun ibunya menginap di rumah sakit jiwa. Ia dan tiga adiknya kemudian diurus oleh sebuah panti asuhan. Ia sering dipukuli ayah dan ibunya yang tertekan oleh kehadiran satu sama lain, sebelum mereka akhirnya berpisah. Ia dikucilkan dalam pergaulan di sekolah. Ia suka berbohong dan mengemukakan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan dirinya hebat dan perlu dihargai, sampai dewasa. Saya membutuhkan orang-orang seperti ini. Kalau ia mati, kami masih mempunyai segudang yang lain.

Suatu hari agen lain bercerita pada saya bahwa di suatu acara, lelaki ini berpidato dan berbohong. Ia menyatakan pernah mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum di hadapan pendiri lembaga itu sendiri! Saya terbahak-bahak, sampai keluar air mata. Untuk uji nyali, ia lulus dengan nilai 100. “Dia menguntungkan kita untuk sejumlah pekerjaan, An, tapi akan menyulitkan kita dikemudian hari,” kata agen ini, meminta saya berhati-hati. Saya tahu di mana batasnya dan sekarang ia masih menguntungkan. Sikap tebal muka Henry justru amat membantu. Keinginannya untuk terkenal mendorongnya lebih tebal muka lagi.

Banyak lagi laporan orang tentang kebohongan-kebohongan Henry. Ketika kebohongannya terbongkar, ia bersikap tenang, seolah ia memang dilahirkan untuk berbohong. Orang-orang sakit jiwa selalu tangguh dan bisa diandalkan, sebelum dimusnahkan, seperti anjing atau sapi gila. Di tengah persiapan untuk Henry, Mark mengabari saya rencananya menyelenggarakan konferensi tentang Mindanao dan Aceh di Berlin. Ruth menyarankan saya mendukungnya, “Kita memerlukan orang baru di Berlin, An.” Saya dan Mark bertemu di Jakarta empat tahun lalu. Ia datang ke lembaga penelitian Ruth untuk mencari data tentang terorisme. Dari bentuk wajahnya yang persegi, saya langsung tahu ia orang Jerman.

PADA akhir 2008, saya ditemani oleh Henry untuk menggarap Borneo, tetapi pekerjaan kami di sana gagal. Orang-orang di pulau itu tak ada yang bisa dihasut lagi untuk saling bunuh. Tentang hal ini, Collison sudah pernah memperingatkan agar untuk beberapa waktu saya tidak bermain-main di Borneo. “Jakarta mengarahkan matanya ke sana saat ini dan orang-orang Borneo sendiri sedang sangat waspada terhadap kabar mencurigakan, sehalus apapun itu,” katanya. Collison menemukan fakta bahwa pasukan khusus Indonesia di masa presiden Suharto terlibat dalam operasi intelijen untuk menyingkirkan orang-orang Dayak di Borneo agar dapat menguasai lahan-lahan penambangan strategis dan wilayah-wilayah hutan yang strategis untuk industri perkayuan, juga untuk membangun perumahan pekerja murah dari luar Borneo. Collison sudah pensiun sekarang dan kemudian menulis beberapa novel. Agen lain juga memperingatkan saya untuk bermain di tempat lain dulu, sebelum masuk lagi ke sana.

Saya memiliki pertimbangan yang berbeda dan ada Henry yang selalu siap mengerjakan apa yang sudah kami rencanakan. Sebenarnya saya ingin melihat bagaimana ia bekerja di lapangan dan apa yang bisa ia lakukan saat menghadapi situasi sulit sebagaimana diperkirakan oleh agen-agen yang mengkhawatirkan pekerjaan kami. Dalam kasus ini, ia bisa diandalkan. Di samping itu, Bakar dan orang-orangnya tidak berlepas tangan untuk membantu membebaskan Henry dari tuduhan menghasut.

Pekerjaan yang gagal di Borneo mempertemukan saya dengan Karina Ramli, seorang antropolog. Kami berjumpa di Palangkaraya. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya rontok di lantai marmer restoran. Barangkali ia mengidap kurang gizi. Karina tengah meneliti manusia abadi. Saya tertawa sampai sakit perut mendengar kisahnya. “Semacam highlander? Itu hanya ada dalam film,” seru saya. Karina tidak mendesak saya untuk mempercayainya. Ia ikut tertawa saat saya tertawa. Namun, saya merasa ia seorang yang selalu berjarak dengan siapa pun. Ia punya kewaspadaan tinggi, yang seharusnya dimiliki orang-orang seperti kami. Butuh waktu lama untuk mendekati pribadi seperti Karina. Risiko gagal sangat tinggi. Ia bahkan tidak tertarik pada pertemanan.

Nama Karina Ramli, saya catat dalam folder di komputer. Barangkali ia akan berguna suatu saat. Kebanyakan antropolog bekerja untuk kami.

Setelah Borneo, Henry akhirnya mengepalai kantor cabang dari lembaga yang dulu didirikan Ruth. Posisi barunya membuat ia lebih menghamba dan, di sisi lain, ia menjadi lebih leluasa bergerak dan mengumpulkan informasi yang diperlukan demi keberhasilan pekerjaan kami. Saya tidak memungkiri bahwa ia memiliki kepentingannya sendiri, ia ingin dianggap penting, tetapi penghambaannya membuat Henry selalu mengikatkan diri pada kedekatannya dengan saya. Memang saya harus berhati-hati menerima setiap informasi yang ia sampaikan, karena ia memiliki kebiasaan berbohong dan membesar-besarkan segala sesuatu. Namun sampai sekarang, ia tetap berguna untuk serangkaian pekerjaan setelah kami gagal menyalakan api di Borneo. Di Sampang, Jawa Timur, kami memanfaatkan masalah keluarga dan membelokkannya jadi pertentangan dua aliran. Orang-orang merusak tempat ibadah. Di Banten, kami mengeluarkan biaya penghasutan paling murah dibanding operasi mana pun di seluruh dunia: sebuah pesan pendek di telepon seluler. Kami mengadu para pengikut Ahmad dari Asia Selatan dan pengikut Muhammad dari Timur Tengah. Ayah saya pasti senang sekali menyaksikan pesta-pesta ini, andaikata ia masih hidup.

PADA 1992, ketika Ruth menembak orang di satu klab di Berlin, saya berada di sana. Di tahun itu, umur Mark baru 16 tahun. Apartemen keluarganya tak jauh dari hotel tempat saya dan Ruth menginap, tapi saya bertemu Mark 12 tahun kemudian. Beda usia kami 21 tahun. Mark pernah berujar, “Seandainya kita bertemu sejak dulu, An....” Itu pengandaian yang buruk. Pertemuan yang lebih awal akan membuat saya seperti pedofil. Pertemuan 12 tahun kemudian membuat saya seperti tante girang, sama buruknya. Dalam Bahasa Indonesia, tante girang julukan untuk perempuan matang dan kaya yang suka mencari kesenangan pada lelaki yang miskin dan jauh lebih muda. Saya tidak berpacaran dengan Mark. Kami memutuskan tidak. Ia mudah emosi. Percik-percik api dalam rumah sendiri tidak dibutuhkan ketika kau harus mengobarkan api yang melahap ratusan atau ribuan atau jutaan rumah.

Sebelum ke klab, siang harinya saya dan Ruth bertemu dengan Jurgen Mayer di lobi hotel, lalu berjalan ke kantornya. Ketika kami melewati sebagian tubuh Sungai Spree, yang melintasi kawasan itu, Jurgen menceritakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan beberapa teman Jerman saya berulang kali. Mayat Rosa Luxemburg ditemukan di situ. “Komunis tengik, biar saja mampus,” teriak Ruth, seraya mengembuskan asap rokok dari mulutnya, melayangkan pandangan ke arah sungai.

Saya mengisap rokok saya dalam-dalam, memikirkan air panas yang tidak mengalir tadi pagi. Kami lupa melaporkannya ke pihak hotel. Ruth buru-buru menyeret saya ke lobi menemui Jurgen.

Tiga pembenci komunis dan penjaga benteng antikomunis berjalan riang. Udara musim semi terasa segar. Jurgen, lelaki tampan, tinggi, langsing. Namun, bau ketiaknya keras sekali. Saya sengaja berjalan agak jauh di belakangnya. Penciuman saya terlalu tajam. Namun, sepoi angin kadang membawa aroma apak-kecut itu melintas-lintas di lubang hidung. Ruth berjalan di sebelah Jurgen.

Kami tengah merancang buku panduan “50 Cara untuk Menghapus Gagasan Komunisme dalam Seni”. Buku panduan ini diterbitkan untuk agen-agen kami di seluruh dunia, yang bekerja sebagai direktur-direktur rumah budaya.

Saya masih ingat salah satu butirnya: menjadikan lukisan abstrak sebagai wabah di dunia. “Makin tidak jelas lukisan itu, makin baik. Biarkan hanya pelukisnya yang tahu apa arti lukisannya. Orang-orang lain hanya akan melihat lukisan itu sebagai garis dan bidang warna-warni. Kita jauhkan pelukis dari khalayaknya. Komunikasi seniman dan khalayak itu celah bagi komunisme.” Jurgen menekankan kalimat terakhir dengan melambatkan pengucapannya. Ia jenius. Bagaimana dengan musik? “Musik atau komponis yang kita beri penghargaan dan tempat untuk konser adalah yang paling tidak dapat dinikmati umum karyanya. Semakin sedikit peminat musiknya, semakin kita hargai. Para musisi tolol ini akan mengorbankan diri untuk menulis musik yang tak dipahami sampai mereka kurus kering kurang makan, karena merasa karya mereka istimewa dan keistimewaan itu membuat mereka tak dapat hidup dengan musik mereka sendiri. Tambahkan juga bahwa musik kontemporer tidak memerlukan tambahan kata-kata atau lirik, semata-mata mengandalkan bunyi. Makin tidak beraturan komposisi itu, makin kontemporer ia. Padahal kita sedang menjauhkan mereka dari khalayaknya. Sebab inti dari komunisme adalah komunikasi dan interaksi si seniman dengan khalayak. Kita hilangkan itu.” Jurgen luar biasa.

Pembicaraan tentang kesusastraan akan berlanjut besok. Sofa di kantor Jurgen begitu empuk. Kami memutuskan minum bir untuk merayakan “50 Cara” tersebut. Orang Jerman peminum berat. Gelas-gelas bir mereka sebesar teko. Saya tidak terlalu suka bir, terasa tak enak saat bersendawa.

Di klab, peluru Ruth menembus tulang rusuk lelaki itu. Ia melihatnya sebagai Carpio, lelaki yang ia benci di Roma. “Entah bagaimana,” bisiknya, sebelum diinterogasi polisi. Saya sempat melihat lelaki itu merangkul seorang perempuan, lalu mereka berciuman. Ruth di sebelah saya, meneguk martini. Tiba-tiba ia membuka tasnya, lalu menembak. Sangat cepat. Lelaki tersebut dilarikan ke rumah sakit, dan selamat.

Ruth dipindahtugaskan ke Islandia pasca peristiwa Berlin. Tak banyak cerita menariknya di negara ini, selain tentang rasa dingin. Menurut ibu saya, Islandia adalah tempat terakhir ayah saya bertugas sebelum pensiun. Ayah pernah mengirim pesan lisan untuk para jenderal Indonesia agar membunuh komunis dan menghancurkan partai komunis pada 20 Oktober 1965, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian para jenderal ini dari perbatasan Borneo yang menjadi sengketa Indonesia dan Malaysia di masa tersebut. Inggris mendukung Malaysia. Ayah menyatakan hal ini dalam sebuah wawancara dengan sebuah suratkabar Inggris, menjelang kematiannya. Ayah juga selalu membakar gedung kedutaannya sendiri untuk mengesankan pelakunya adalah separatis atau pengacau setempat. Ibu tidak pernah menikah dengan Ayah, tapi menikahi seorang perwira angkatan udara asal Montana. Lelaki itu memberi saya nama keluarga, Carson. Ayah Ruth dan George Carson saling mengenal. Saya tidak pernah bertemu ayah kandung saya sekali pun.

Sejak Islandia, Ruth jera membawa senjata untuk mabuk di klab. “Siapa tahu ada yang mirip lagi dengan beberapa bekas pacar saya.” Ia bergurau. Ketika memikirkannya sekarang, saya khawatir ia telah mengalami kebutaan wajah waktu itu. Apa sebabnya? Barangkali, kecelakaan lain atau serangkaian kecelakaan. Dalam operasi, hal-hal keras kadang terjadi. Pada 1997, ia kembali lagi ke Indonesia. Kami pun bergabung kembali. Namun, kecelakaan di Montana akan mengawali sejumlah perubahan.

*) dimuat di suratkabar Jawa Pos, 28 April 2013.

 




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates