Loading

Continental Club (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 12/11/2014

Menikmati musik dan sejarah di kota-kota selatan Amerika Serikat.

LELAKI yang berdiri di belakang meja kasir ini menstempel punggung tangan saya dengan tinta biru sebagai tanda masuk, setelah saya memberinya uang 10 dollar.

Ruangan terasa sejuk. Tidak tercium bau asap rokok.

Di zona gelap di tengah ruang, para pengunjung duduk di kursi-kursi kayu tinggi atau berdiri di lorong antar meja dengan tatapan terarah ke panggung sambil sesekali menyapa orang-orang yang baru datang dan dikenal. Di meja atau di tangan mereka ada gelas minuman. Beberapa pengunjung berdiri di area di muka panggung. Mereka menunggu Toni Price menyanyi. Percakapan-percakapan ditimpali gelak tawa. Sementara di atas panggung yang terang, sekawanan pemusik tengah mencoba peralatan. Sang penyanyi pujaan belum muncul. Lagu-lagu perintang waktu menggema dari pengeras suara.

Dua toilet bergaya “hongky tong” berada di sisi kanan panggung, menguarkan bau pesing yang samar. Pintu-pintunya terbuat dari kayu, bercat hitam. Di jalan belakang gedung ini beberapa mobil diparkir, tetapi para tamu sering berdiri atau berkumpul di situ sambil merokok atau bercakap-cakap setelah pertunjukan musik babak pertama usai dan mereka akan kembali ke ruang pertunjukan untuk menikmati babak terakhir dari penampilan penyanyi blues dan country yang menjadi legenda di klub ini. Kadang-kadang ada yang membawa ganja, mengisapnya sendiri atau bergantian, karena itu bukan benda terlarang di sini. Rata-rata mereka berusia 50 tahun ke atas dan pengunjung yang berumur lebih muda seperti saya, malam itu hanya saya sendiri.

Lelaki berambut gondrong dan uban, berusia sekitar 60-an, duduk di kursi roda tepat di muka panggung. Beberapa kali dia menggerakkan kursi rodanya untuk menghampiri pelayan bar yang lewat membawa baki berisi minuman atau hanya agar tidak terlihat diam mirip orang putus asa. Sesekali dia melintas di hadapan saya. Kelihatannya, dia penggemar fanatik. Tetapi kebanyakan pengunjung malam ini adalah penggemar fanatik. Mereka telah mengenal Toni sekitar 20 tahun dan mendengarnya menyanyi di Continental Club. Selasa malam menjadi jadwal tetapnya untuk menyanyi. “Dia sempat pergi ke kota lain, tapi kembali lagi,” kata salah seorang pengunjung, dengan nada seolah menceritakan teman akrab. Dia pengusaha furnitur dan lemari dapur.

Setelah 15 tahun menyanyi di Continental, Toni berhenti tampil pada tahun 2007. Dua tahun kemudian dia muncul lagi di klub ini untuk menghibur penggemarnya. “Kalau tidak salah, dulu dia pergi untuk mengurus anak perempuannya yang punya masalah. Entah benar atau tidak, kata orang begitu, “ ujar lelaki yang berdiri di sebelah saya dan menawari segelas Margarita. Dia bekerja untuk biro arsitekturnya sendiri.

Kemampuan Toni dalam menyanyi sering dianggap setara dengan penyanyi legendaris Stevie Ray Vaughan, yang juga memulai karier musiknya di kota ini. Toni sudah mengeluarkan beberapa album. Hey, salah satu albumnya memperoleh penghargaan pada tahun 1995 sebagai “Album of the Year”. Dalam album Midnight Pumpkin, ada lagu yang saya sukai: Thank You for the Love.

Ruang ini berbentuk persegi. Tidak ditata untuk terlihat artistik. Barangkali dibiarkan agak suram untuk mempertahankan keaslian dan suasana bersejarah. Dinding belakang panggung ditutupi tirai merah terang. Tulisan “Continental” berwarna emas tersemat pada permukaannya, sedangkan beberapa hiasan berbentuk bintang yang tergantung di langit-langit berayun-ayun di atasnya akibat terlanda embusan angin dari mesin pendingin. Bias cahaya dari panggung membuat saya dapat melihat lukisan-lukisan dinding karya artis setempat dalam warna-warna vintage. Pada sebuah lukisan tampak pemandangan di kota semacam Paris dan dua sejoli yang mengenakan busana resmi untuk acara pesta: perempuan mengenakan gaun malam panjang dan laki-laki mengenakan setelan jas hitam serta tuksedo. Klub ini terletak di 1315 S Congress Ave, Austin, Texas, di kawasan pertokoan dan tempat hiburan, sederetan dengan restoran pizza Home Slice Pizza yang saya anggap pizzanya terlezat di dunia dan setelah menyantap dua potong pizza Margarita di situ saya tidak ingin apa-apa lagi. Ini pizza ala New York, kata orang-orang. Saya pergi ke New York dan tidak menemukan pizza serupa. Mungkin karena New York terlampau luas.

Di sofa dari bahan kulit sintetis yang terletak merapat ke dinding, di sebelah kanan panggung, dan membuat penonton harus memiringkan tubuh mereka tiap kali melihat atraksi di panggung, sepasang kakek-nenek duduk dengan tangan saling menggenggam dan sesekali berbicara dengan wajah saling mendekat.

Perempuan yang paling dinantikan malam itu mengenakan gaun oranye. Rambut pirangnya panjang tergerai. Usianya, sekitar 50-an. Dia naik ke panggung, menjejakkan kakinya di situ. Tangan kirinya memegang gelas berisi minuman, sedangkan tangan kanannya meraih mikrofon. Dia menyapa penonton, melucu sebentar. Penonton tertawa, diiringi tepuk tangan. Suitan terdengar bersahut-sahutan. Di tengah sambutan hangat itu, dia mulai menyanyi. Perlahan dia meletakkan gelas minuman di meja kecil di sisi kursinya. Ada yang menyamakan jenis suara Toni dengan Bonnie Raitt, penyanyi yang lagu cintanya “I Can’t Make You Love Me” ditahbiskan menjadi satu dari 25 lagu tersedih di dunia. Tetapi menurut saya, suara Raitt lebih “halus” (atau akibat pengaruh proses di studio rekaman? Saya belum pernah menonton live show-nya), sedangkan Toni lebih “bergradasi”. Hmmm.... pemulas bibirnya oranye atau fuchsia? Cahaya lampu telah mengacaukan warna-warna asli.

Tak berapa lama, orang-orang mulai menari atau berdansa di area di muka panggung. Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit coklat dan hitam. Mereka menyuguhkan beragam gaya. Waltz, swing, tango, disko. Seorang perempuan paruh baya menari tango dengan gaya yang luar biasa panas, sehingga membuat saya percaya bahwa umur bukan wasit untuk kesenangan serta gairah. Meskipun sepulang dari sini, tulang-tulang dan pinggangnya mungkin terpaksa diurut.

Di sisi kiri panggung, kartu-kartu ucapan dipajang. Kartu-kartu ini dijual. Buatan Toni sendiri. Tak banyak pemasukannya dari menyanyi di Continental meski digabung dengan hasil berjualan kartu, tetapi dia mungkin orang yang bisa bahagia tanpa semata-mata bergantung pada uang.

Babak pertama pertunjukan berakhir. Toni turun dari panggung. Seorang lelaki berumur 70-an menghampirinya agak tertatih dan mengajaknya bicara dengan tatapan berbinar, sedikit saling tingkah. Mereka lalu berciuman pipi.

Austin benar-benar kota musik dan di malam hari, karakternya semakin nyata. Tiap klub menyuguhkan beraneka jenis musik dan musisi andalannya. Saya pernah mendatangi klub yang menyajikan techno music dengan kualitas prima. Saya sempat menonton pertunjukan “One Night with Janis Joplin” di Zach Teater, yang belum lama direnovasi. Tentunya, pertunjukan Janis Joplin tiruan. Suara Kacee Clanton lumayan mirip suara Janis Joplin asli yang digambarkan “seperti whisky” itu. Namun, penampilan Tiffany Mann Si Penyanyi Blues jauh lebih menggetarkan dan membuat saya percaya bahwa kekuatan suara mampu membuat kita seolah-olah melihat surga.

Suatu malam, saya menyaksikan serombongan kakek bermain musik di satu pasar malam. Anak dan cucu para pemain musik hadir memberi semangat, juga pasangan mereka yang tak kalah renta. Lead vocal grup itu benar-benar mengagumkan, suara maupun teknik. Tak ada bedanya dengan penyanyi profesional seperti Eric Clapton. Tetapi itu artinya kebanyakan penyanyi di sini profesional, tak peduli melantunkan nyanyiannya di klub atau di pasar malam setempat. Tiap personel menguasai alat musiknya bagai seorang maestro. Ketika mengenang pertunjukan ini sekarang, saya sepakat dengan pernyataan gitaris Jimmy Page tentang empat personel Led Zeppelin, grup musik yang ikut dibentuknya, dalam sebuah wawancaranya dengan suratkabar Financial Times pada Oktober 2014 lalu. Kata Page, mereka semua di Led Zeppelin benar-benar pemain musik berkaliber maestro. Kombinasi yang langka. Malam itu saya menyaksikan langsung kombinasi langka yang lain beraksi.

Bocah perempuan berusia sekitar dua tahun menari-nari di muka panggung, berputar-putar macam gasing. Dia terhanyut dalam irama musik. Aneh, dia tidak merasa pusing. Tiap sebentar ibunya yang khawatir mendatanginya untuk memastikan dia baik-baik saja. Tetapi dia berputar beberapa kali lagi, tidak limbung apalagi jatuh, sebelum berlari ke arah ibunya untuk minta digendong. Para penonton duduk di bangku-bangku kayu sambil makan dan minum.

Saya menganggap masyarakat kota ini sangat musikal. Mereka juga ramah. Di toko bukunya yang saya sukai Book People, tiba-tiba remaja perempuan bermata abu-abu menghampiri saya dan berkata sungguh-sungguh, “Saya hanya mau bilang, syal kamu benar-benar cantik. Syal yang sangat cantik.” Dia kemudian pergi sambil tersenyum. Syal saya bermotif kupu-kupu besar berwarna pelangi dan sebelum ini saya tidak memikirkan kecantikannya. Kata orang, Austin kota paling menyenangkan dibanding semua kota di negara bagian Texas, yang dikenal sebagai negara bagian paling rasis di Amerika Serikat. Penduduk Austin multiras dan karenanya, multikultural. Tetapi jarang sekali ada kota di dunia yang penghuninya terdiri dari satu ras dan satu budaya saja. Karena itu, saya pikir, bukan semata-mata keberagaman yang membuatnya otomatis lebih toleran. Pasti ada hal lain. Di cangkir cinderamata dan stiker ada tulisan “Keep Austin Weird”.

Bagaimana dengan makanan? Tak kalah mengesankan. Restoran khas Mexico menjamur. Kedai sarapan yang popular, Joe’s, juga menyediakan makanan dengan sentuhan Mexico, seperti taco isi telur. Selain itu, ada restoran makanan panggang atau bakar yang terkenal, Franklin Barbecue. Makanan Italia pun sangat diminati. Vespaio yang sederetan dengan Continental Club adalah salah satu restoran Italia terbaik di sini.


SEKITAR satu jam bermobil dari kota musik Austin adalah kota San Antonio. Di musim panas yang temperaturnya mungkin mencapai 40 derajat Celsius, saya ingin mengunjungi Benteng Alamo. Saran saya, jangan mencoba memakai sepatu berbahan plastik dalam suhu sepanas ini. Telapak kaki ditanggung melepuh. Es krim pun sangat cepat mencair.

Teman-teman Amerika saya tidak antusias. Kata mereka, itu hanyalah sebuah ruangan yang tidak ada apa-apanya, “Tidak sedramatis yang kamu bayangkan.” Begitu ya? Saya ingin membuktikan kata-kata mereka.

Monumen kemerdekaan Texas terletak di pelataran depan benteng tersebut, terbuat dari marmer. Bagian bawahnya dari batu granit. Patung para pejuang yang dulu mempertahankan benteng itu terpahat pada satu sisi monumen.

Pada lempengan kuningan yang disangga lima kakinya dan terletak di jalan menuju pintu masuk Benteng Alamo terukir ucapan “The Daughters of the Republic of Texas Welcome You” dan peraturan untuk menjaga ketenangan, tidak merokok, tidak memotret, tidak membawa minuman, tidak menggunakan telepon seluler dan kaum laki-laki harus melepaskan topi.

Bagian dalam benteng mirip interior rumah yang sederhana. Ruang-ruang berdinding putih. Senjata, buku dan benda-benda yang merupakan milik orang-orang yang dulu mempertahankan benteng ini dipajang dalam kotak-kotak koleksi dari kaca.

Benteng Alamo dibangun pada 1718 untuk Misi Katolik San Antonio de Valero yang dipimpin Pastor Olivares dari Ordo Fransiskan dengan tujuan melindungi para misionaris dari serangan orang-orang Indian, para penduduk asli Amerika. Di masa pendudukan Spanyol, benteng beralih fungsi sebagai rumah sakit dan barak militer. Setelah Mexico merdeka dari Spanyol, benteng ini jadi milik Mexico.

Buku yang saya beli di toko cinderamata museum, The Alamo, mengungkapkan bahwa gelombang imigran dari Amerika Serikat meningkat pesat ke wilayah Texas di Mexico pada 1829. Pemerintah Mexico merasa khawatir, lalu mencoba membendungnya setahun kemudian. Ketika itu Texas belum menjadi salah satu negara bagian Amerika Serikat, bahkan belum menjadi sebuah republik. Kolonel William Barret Travis dan Kolonel James Bowie kemudian memimpin orang-orang Texas untuk melawan pemerintahan Mexico dan mendirikan Republik Texas yang merdeka. Mereka berbagi tugas. Travis memimpin tentara, Bowie memimpin para sukarelawan.

Sekitar 200-an orang dari berbagai koloni imigran di Texas, juga imigran dari Amerika Serikat dan Eropa turut mempertahankan Benteng Alamo sebagai pintu gerbang Texas di kota yang dulu bernama San Antonio de Bexar. Mereka adalah para sukarelawan dengan bermacam latar belakang, antara lain peternak, petani, dokter, dan pengacara, yang melawan ribuan pasukan Jenderal Santa Anna. Kebanyakan dari mereka gugur dalam pertempuran tidak seimbang itu.  Travis juga gugur. Bowie yang dikenal sebagai ahli perang andal justru tengah terbaring sakit parah ketika benteng mengalami gempuran terhebat. Dia akhirnya melawan dan terbunuh.

Salah seorang sukarelawan yang gagah berani dan paling dikenang dalam sejarah kemerdekaan Republik Texas adalah David Crockett atau Davy Crockett. Dia orang sipil, pernah menjadi anggota Kongres Amerika, terkenal sebagai pemburu serta pembunuh orang Indian sebelum ikut bertempur di benteng tersebut.  Menurut saksi mata dari pihak Mexico, Crockett gugur dengan 16 prajurit Mexico terkapar tak bernyawa di sekelilingnya. Dia kemudian menjadi legenda. 

Pada 6 Maret 1836, pasukan Santa Anna telah menguasai benteng. Berdasarkan perintah Santa Anna, para prajurit Mexico membakar seluruh mayat pejuang dan menguburnya. Santa Anna tidak membunuh perempuan dan anak-anak yang masih hidup. Dia juga membiarkan budak Kolonel Travis, Joe, untuk tetap hidup. Susanna Dickinson, salah satu perempuan, ditugaskannya menyampaikan pesan ke Jenderal Sam Houston dan pasukan Texas di kota Gonzales bahwa siapa pun yang melawannya akan mengalami nasib naas. Ketika Jenderal Sam Houston tiba bersama pasukan, dia menyaksikan sendiri kehancuran luar biasa dan bukti pengorbanan yang heroik para pejuang di Benteng Alamo. Dia menyerukan seluruh penduduk Texas melawan tentara Mexico. Pertempuran sengit terjadi lagi. Jenderal Santa Anna akhirnya menyerah. Republik Texas berdiri sampai akhir bergabung menjadi salah satu negara bagian Amerika Serikat, yang berbatasan langsung dengan Mexico. “Kalau mau jujur, kami merebut Texas dari Mexico,” kata seorang pengunjung, lelaki paruh baya, di toko museum. 

Di ruang utama benteng, saya menemukan buktinya. Saya melihat bendera enam negara yang pernah menguasai Texas secara berganti, yaitu Spanyol, Perancis, Mexico, Republik Texas, Negara-Negara Konfederasi Amerika dan Amerika Serikat. Benteng ini merekam sejarah para penakluk.

Setelah mengunjungi Benteng Alamo, saya pergi ke kawasan River Walk atau Paseo del Rio untuk makan siang. Bebek-bebek asyik berenang di sungai yang berwarna kehijauan. Perahu-perahu berisi turis melayari permukaan sungai yang tenang.


DALLAS yang berjarak hampir tiga jam bermobil dari Austin juga merekam salah satu peristiwa penting dalam sejarah Amerika. Pada 22 November 1963, presiden John F. Kennedy ditembak di kota ini. Kennedy selalu mengingatkan saya pada Soekarno, presiden pertama Indonesia. Mereka sama-sama ganteng dan dikelilingi banyak perempuan. Kematian mereka juga sama-sama tragis. Kennedy dibunuh, Soekarno dikudeta dan meninggal dunia dalam keadaan sakit parah.

Pembunuhan Kennedy sangat mengguncang Amerika dan dunia. Orang-orang Texas dianggap ikut bertanggung jawab. Lee Harvey Oswald yang dituduh sebagai penembak Kennedy adalah bekas marinir. Sebelum Oswald sempat diadili, Jack Ruby, pengelola sebuah klub malam di Dallas, tiba-tiba menembaknya. Oswald tewas seketika.

Selain polisi dan FBI (The Federal Bureau of Investigation), berbagai komisi dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan tersebut, antara lain Komisi Warren yang dibentuk presiden Lyndon B. Johnson, United States House of Representatives Select Committee on Assassinations (HSCA) dan Komisi Church yang dibentuk Senat dan dipimpin senator Frank Church. Hasil-hasil penyelidikan mengundang ketidakpuasan masyarakat, terlebih lagi sejumlah barang bukti penting ternyata telah dibersihkan, hilang atau dihancurkan. Sebagian besar rakyat Amerika hari ini masih percaya bahwa pembunuhan presiden Kennedy bermotif politik dan menjadi salah satu tragedi dalam sejarah negara itu yang masih menyimpan misteri.

Dua tahun sebelum presiden Kennedy dibunuh, pemerintah Amerika Serikat mendukung sebuah operasi penggulingan presiden Kuba, Fidel Castro. Pasukan khusus untuk operasi ini mendarat di pantai Teluk Babi di Kuba. Namun, operasi mengalami kegagalan.

Uni Soviet rupanya merasa kesal dengan ulah Amerika Serikat terhadap Kuba. Setahun kemudian Soviet membantu Kuba dengan memasang rudal-rudal nuklir di Kuba, yang siap diarahkan dan diluncurkan ke arah Amerika Serikat. Pemerintahan Kennedy tidak terima, lalu membalas dengan mensiagakan armada laut dan udara untuk menyerang kembali Kuba. Perang nyaris berkobar. Pada bulan Oktober 1962, perdana menteri Uni Soviet, Nikita Khruschev, mulai ragu, dan akhirnya sepakat memindahkan kembali rudal-rudal itu dengan syarat Amerika Serikat tidak lagi mengganggu Kuba. Namun, ketegangan antara dua negara adikuasa ini tidak berakhir begitu saja. Keraguan Khruschev di masa tersebut sering dianggap sebagai momentum yang menentukan bagi kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya dalam Perang Dingin dan keruntuhan Uni Soviet pada 1990. Andaikata Khruschev bertahan, situasi politik dunia mungkin akan berbeda.


PADA hari Selasa terakhir di Austin dalam bulan Agustus 2013 itu, saya datang lagi ke Continental Club untuk menonton pertunjukan Toni.

Para penonton fanatiknya hidup bersama lagu-lagunya. Dalam 20 tahun mungkin ada di antara mereka yang menikah, punya anak, bercerai dan menikah lagi, atau punya cucu, atau tidak menikah tetapi berpasangan, atau hidup sendiri atau seolah-olah sendiri. Toni akhirnya menyanyikan lagu blues yang mengesankan saya, “Thank You for the Love”, gubahan Michael Keck.

I love what you do to me, love what you make me see, about reality. You call me in the mornin', tellin' me you love me, tellin' me you need me, makes everything alright. You give me good feelings, give me good feelings yeah, give me good feelings. Oh, I want to thank you for the love. Thank you for the heartache. Thank you for the tears I've cried, Thank you for all those lies. And your love, your love is just right on time. I'm proud to say you're mine….

Lagu cinta ini tidak semata-mata manis, melainkan mencerminkan pasang-surut hubungan antarmanusia. Barangkali dia disukai karena itu, menyuarakan apa yang tidak pernah sempurna dan biasanya, memberi rasa gamang serta seberkas kepedihan.***




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates