Loading

Charlie Hebdo dan Monumen Kegilaan* (oleh: Linda Christanty)

Posted in Essay by Linda Christanty on 05/02/2015

Nasib imigran, rasisme dan neofasisme di Eropa dalam tragedi Charlie Hebdo.

Namanya yang merupakan perpaduan nama Perancis dan nama keluarganya yang Aljazair membuat Gilles, teman saya, agak mudah mendapat pekerjaan. Ibunya, asli Perancis. Ayahnya, dulu imigran dari Aljazair. “Tapi adik saya yang punya nama sepenuhnya Aljazair, sering ditolak ketika melamar pekerjaan,” tuturnya, suatu hari. Ayahnya memperoleh kewarganegaraan Perancis setelah lebih dari 20 tahun tinggal di negara tersebut. Gilles juga beruntung mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi ahli urusan perdamaian di wilayah Asia dan Afrika. Kini dia bertugas di Nigeria, Afrika Barat. 

Perancis tidak hanya menyambut kita dengan sejarah seni dan kebebasan, eksistensi mode yang memukau, keindahan arsitektur masa lampau, atau aura Paris, kota cintanya itu, tapi juga dengan kisah-kisah pedih tentang ketidakadilan, diskriminasi dan penistaan terhadap rakyat yang tidak pernah dianggap sepenuhnya “orang Perancis”. Mereka yang disebut orang-orang “Perancis-Aljazair”, “Perancis-Arab”, “Perancis-Afrika” atau “Perancis-Afrika Utara” itu kebanyakan menghuni kawasan tertentu. Mereka bekerja sebagai buruh atau pekerja rendahan. Kota atau kawasan yang identik dengan penduduk non kulit putih atau pendatang kulit berwarna dianggap sebagai zona bermasalah, yang membuat siapa pun dari situ sukar diterima bekerja akibat alamatnya. 

Tidak hanya Perancis, melainkan Eropa adalah sebuah epos tentang para imigran, yang pergi jauh meninggalkan tanah kelahiran untuk menyelamatkan diri dari kecamuk perang atau deraan kemiskinan demi melanjutkan hidup yang lebih bermartabat sebagai manusia. Tidak semua dari mereka sukses mewujudkan impian tersebut. Banyak yang gagal. Sebagian besar bahkan menjalani kehidupan yang berat dan nyaris tak tertahankan. 

Pada Januari 2014 lalu, saya diminta mengisi sebuah acara bertajuk World Stories: I Did It My Way di Teater Dakota, Den Haag, Belanda. Kami bertiga, saya, Antjie Krog dan Rodaan Al Galidi, saling berbagi cerita dengan para mahasiswa dari Haagse Hogeschool dan International Institute of Social Studies yang menjadi peserta acara. Antjie wartawan dan sastrawan terkemuka Afrika Selatan. Dia ikut menggagas Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pasca rezim apartheid. Bukunya Country of My Skull, mengungkap kesaksian para korban yang selamat. Sampul muka buku itu menampilkan sosok seorang ibu, Joyce Mtimkulu, yang memegang potongan kecil dari tubuh putranya yang dibunuh secara brutal selama pemerintahan apartheid berkuasa. Rodaan, sekarang penyair Belanda, sepuluh tahun lalu melarikan diri dari Irak dengan paspor palsu, lalu menyamar menjadi orang lain untuk sampai di sebuah kota kecil di Belanda. Kami ikut merasakan kepanikan Rodaan saat mendengar kisahnya diperiksa petugas imigrasi. Tetapi kisah-kisah para mahasiswa itulah yang membuat saya tercenung. Ada yang dulu melarikan diri dari salah satu negara Balkan yang dilanda perang, “Kami hidup dalam kecemasan luar biasa sebelum diizinkan tinggal secara resmi di sini,” kata perempuan berusia 20-an, yang kemudian menangis teringat ayahnya yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa-masa sulit itu. Dari suaranya yang bergetar, saya mengerti bahwa ayahnya telah mengalami banyak pengalaman buruk yang tak sanggup diutarakannya. Seorang lagi mengisahkan peristiwa yang membuat seisi ruangan terhenyak. Dia berasal dari negara di Asia Tengah dan tinggal di salah satu penampungan pengungsi di awal kedatangannya di Belanda. Suatu hari dia diperkosa. Tapi dia kemudian memutuskan untuk memberi kehidupan kepada janinnya. “Sekarang anak saya berumur tiga tahun, perempuan. Saya ingin dia mempunyai masa depan yang lebih baik,” ujarnya, tersenyum. 

Jumlah imigran di negara-negara Eropa yang tidak tersentuh perang atau konflik terus meningkat dan mencemaskan warga yang menyebut diri mereka bangsa setempat. Sikap anti imigran makin meluas ketika krisis ekonomi melanda dunia. Para imigran dianggap merampas kesempatan kerja mereka. Di Yunani, negara yang dianggap bangkrut sekarang ini, partai neo-Nazi Golden Dawn memperoleh makin banyak pengikut. Partai tersebut memberi bantuan pangan hanya kepada warga yang dapat membuktikan kebangsaan Yunaninya. Pegida, gerakan anti imigran yang cukup masif di Jerman, telah menemukan ruang subur untuk berkembang. Di Swedia, kelompok-kelompok neo-Nazi tidak pernah sungkan melakukan pembunuhan terhadap siapa pun yang berbeda haluan, termasuk dengan menggunakan bom. Stieg Larsson, penulis yang terkenal dengan Millenium Trilogy-nya, semasa hidupnya merupakan aktivis antifasisme garda depan yang seringkali menerima surat ancaman dari kelompok atau individu yang mendukung neo-Nazi. Larsson dianggap membela orang-orang Swedia non kulit putih atau para imigran. Tapi data menunjukkan bahwa Perancis adalah negara yang memiliki kelompok neo-Nazi atau neo-fasis terbanyak di Eropa saat ini, bukan Jerman yang justru menjadi tanah kelahiran Nazi di masa Perang Dunia II. 

Rasisme atau diskriminasi rasial sangat tinggi di Perancis, sehingga membuat sebagian orang di sana menjadi terbiasa dan menganggap praktiknya sebagai lelucon atau tindakan wajar. Ketidakadilan itu menyulut api. 

Pada 1986, Malik Oussekini, seorang mahasiswa berusia 22 tahun meninggal dunia setelah disiksa polisi. Puluhan ribu mahasiswa dan pelajar berpawai solidaritas untuknya. Sesudah itu, aksi protes merebak dan menjadi lebih keras. Puncak kerusuhan terjadi pada akhir Oktober 2005. Dua laki-laki, yang satu keturunan Arab dan satu lagi keturunan Aljazair, meninggal dunia akibat disiksa polisi. Dampaknya, ribuan kendaraan hancur. Belasan gedung dan perkantoran dirusak. Kerusuhan menjalar ke berbagai kota, mulai dari utara hingga selatan Perancis. Presiden Perancis ketika itu, Jacquez Chirac, mengakui adanya praktik diskriminasi terhadap warganegaranya sendiri. Dia bertekad mengakhiri situasi itu. Namun, praktik dari kata "akhir" itu masih jauh. 

Pada 7 Januari 2015, kakak-beradik, Said Kouachi dan Cherif Kouachi, warganegara Perancis keturunan Aljazair menembak 12 orang di kantor tabloid satir Charlie Hebdo atau CH. Orang Perancis kembali melawan orang Perancis. Sebelum penembakan terjadi, CH memasang kartun-kartun Nabi Muhammad. Para penembak menganggap kartun-kartun tadi ekspresi dari penghinaan terhadap agama dan orang suci mereka. Tak berapa lama dua bersaudara Kouachi dibunuh polisi. Pemimpin negara-negara besar dunia serentak menyatakan belasungkawa dan mendukung Perancis melawan “terorisme” atau “teroris Islam”. Sejumlah teman saya dari berbagai agama dan bangsa, buru-buru mengumumkan “Je Suis Charlie” atau “Saya adalah Charlie” di media sosial mereka. Tapi saya justru memeriksa secara seksama kartun-kartun Charlie. Tidak seorang pun pernah bertemu Nabi Muhammad di abad ke-21 ini, sehingga sangat menarik mengetahui cara berpikir para redaktur CH

Kartun-kartun itu menampilkan sosok lelaki Arab, bertelanjang di atas sajadah dengan penis menggantung dan lubang pantatnya diberi lambang bintang atau menjadi korban preman bersenjata yang mengeksekusi jiwa seseorang dengan mengatasnamakan ajarannya. Ini ekspresi dari rasisme dan Islamofobia, yang berakar dari kebencian dan penghinaan mendalam, bukan hiburan dan apalagi, jurnalisme. Ada yang berkata bahwa para redaktur CH mengkritik apa saja, selain Nabi Muhammad yang sudah meninggal hampir 15 abad lalu, untuk menggambarkan mereka telah berlaku adil dalam melancarkan kritik. Tapi itu bukan sebuah alasan, melainkan pengalihan. Sekali lagi, ketika rasisme menjadi praktik keseharian, maka kesewenang-wenangan adalah bagian dari kebebasan berekspresi. 

Banyak teman mendukung CH, karena mereka takut dianggap setuju terhadap penembakan brutal tersebut. Mereka lupa bahwa mengkritik CH tidak sama dengan mendukung praktik kekerasan. 

Dua minggu sesudah insiden di kantor CH, saya membaca tulisan De Wayne Wickham di suratkabar USA Today. Dia kepala Sekolah Komunikasi dan Jurnalisme Global di Morgan State University, Amerika Serikat. Menurut Wickham, CH bertindak terlampau jauh, tidak dapat membedakan antara kebebasan berpendapat dari kata-kata beracun, yang memicu kekerasan tersebut. Kebebasan berpendapat adalah salah satu pilar terpenting demokrasi, tapi memiliki batas, katanya. Dia mengkritik sikap Presiden Perancis Francois Hollande yang mengatakan bahwa para pemrotes kartun-kartun CH tidak memahami tentang kebebasan berpendapat di Perancis. Di Amerika Serikat, hukum rupanya memberi batas yang jelas tentang kebebasan berpendapat. Ketika seseorang berteriak ‘kebakaran’ di bioskop dan menyebabkan kepanikan yang membuat banyak orang celaka, maka itu bukan kebebasan berekspresi. Itu tindak kriminal. 

Peristiwa yang terjadi pada awak CH tidak perlu terulang, selama toleransi dan sikap saling menghormati terjalin, selama hukum berlaku adil terhadap setiap warga di Perancis. Indonesia, sebuah negara yang dihuni beragam suku, bangsa, agama dan budaya juga dapat menghindari tragedi semacam itu, agar kita tidak perlu membangun sebuah monumen untuk memperingati kegilaan.***

 *Dimuat pertama kali di Majalah Baccarat, April 2015




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates