Loading

Cerita yang Menghantam Kepala* (oleh A.S. Laksana)

Posted in Essay by Linda Christanty on 06/09/2013

UNTUK memperingati hari buku, tanggal 23 April 2013, The Guardian, Inggris, menurunkan sebuah artikel berisi kutipan sepuluh penulis tentang alasan mereka membaca buku. Kutipan kesepuluh dari Franz Kafka dan ia benar-benar mengganggu saya: “Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? …Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita.”

Saya sendiri meyakini hal yang hampir serupa bahwa sebuah buku atau sebuah tulisan yang baik akan memiliki kekuatan untuk menghajar kita, atau mengguncang pemikiran kita. Kita perlu memperbanyak bacaan-bacaan seperti itu karena pada saat terguncang itulah kita menikmati momen kreatif. Tulisan-tulisan demikian akan membuat kita sejenak terperangah, namun apa yang disampaikannya mungkin akan melekat sangat lama dalam benak, dan ia membuat kita berpikir.

Jika Anda penulis, tulisan yang baik akan memberi Anda rasa penasaran, “Kok bisa ia menulis seperti itu?” Itu rasa penasaran yang baik dan Anda perlu memilikinya, demi kebaikan Anda sendiri. Efek terguncang semacam itu saya dapati ketika membaca cerpen “Efek Jera” Linda Christanty yang dimuat pekan lalu di harian ini.

Saya suka membacanya dan ini kesukaan seorang pembaca saja, yang merindukan tema beragam dalam fiksi kita. Sebagai pembaca, saya pembenci cerita buruk, dan saya membuat pernyataan terbuka tentang itu. Menurut saya cerita yang buruk lebih mengerikan ketimbang lepra, karena ia menularkan keburukannya.

Kita belajar menulis pada orang-orang yang sudah menulis lebih dulu dari kita, antara lain dengan membaca karya-karya mereka. Dalam situasi sekarang, dengan ketiadaan media sastra yang berwibawa saat ini, khalayak akhirnya menentukan sendiri media mana yang dianggap sebagai barometer sastra Indonesia. Misalnya, secara diam-diam orang menganggap bahwa seorang penulis adalah sastrawan jika karyanya bisa tembus koran Kompas. Itu pandangan yang tidak punya dasar. Kompas adalah harian umum dengan tiras besar, saya bayangkan seperti lelaki tua kaya dan berperut buncit, dan ia bukan koran sastra. Menjadikannya sebagai barometer karya sastra adalah penalaran yang keliru. Mungkin benar bahwa tingkat persaingan untuk dimuat di Kompas cukup tinggi dibandingkan di media lain, tetapi apakah Kompas menerapkan kriteria kesastraan untuk menentukan cerpen yang layak muat di koran itu? Tidak. Sebagai harian umum ia lebih berkepentingan menyiarkan berita-berita aktual ketimbang memikirkan sastra. Saya bahkan merasa bahwa ia memperlakukan cerpen sebagai berita, setidaknya jika saran dari redaktur koran itu bisa dijadikan pegangan. Begini bunyinya: “Amati tema yang sering diperhatikan media koran, terutama yang berelasi dengan peristiwa-peristiwa aktual.” Aktualitas adalah kriteria utama pemberitaan. Ia tidak relevan diterapkan sebagai kriteria fiksi, dan menyesatkan karena kriteria itu muncul dari koran yang diposisikan oleh khalayak, secara tidak kritis, sebagai barometer karya fiksi Indonesia.

Efek sebagai barometer ini diperbesar oleh penerbitan buku kumpulan cerita pilihan Kompas setiap tahun. Akibat buruk dari penerapan harfiah prinsip aktualitas itu bisa kita lihat dari merajalelanya cerita-cerita yang menjalankan fungsi sebagai komentar sosial. Atau cerita-cerita yang menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi negara—itu keprihatinan yang bersifat massal dan cenderung melahirkan karya-karya dangkal. Pengarang dengan keprihatinan yang bersifat massal semacam itu seringkali tidak mampu mengembangkan kepekaan artistiknya terhadap detail dan situasi individu. Variasi dari keprihatinan massal tersebut adalah banyak bermunculannya cerita-cerita tentang orang susah, penderitaan hidup, kaum yang didepak oleh orang-orang kaya, dan lain-lain yang semacam itu. Itu tentunya juga dimaksudkan sebagai kritik sosial. Akibatnya, apa yang oleh publik dipahami sebagai karya sastra sesungguhnya adalah sebuah dunia yang sendu, sebuah melodrama, atau dunia yang selalu senja dan murung.

Pengarang-pengarang yang sendu sering memiliki hasrat obsesif untuk puitis atau tampak falsafi, demi menyampaikan formula klise ini: sudah jatuh tertimpa tangga. Atau dalam kasus cerpen-cerpen “sastra koran” kita: sudah sendu tertimpa tangga.

Sebagai pembaca saya mengharapkan sesuatu yang lain. Misalnya, kenapa tidak ada cerita kita dengan karakter utama seorang presiden, atau seorang bekas menteri agama, atau seorang kepala kantor bea cukai? Apakah kebanyakan penulis kita tidak memiliki kecakapan untuk menangani karakter dengan profesi-profesi lebih tinggi dari pemulung, atau tukang becak, atau pelacur, atau sarjana pengangguran?

Di tengah perasaan jemu itulah saya menemukan “Efek Jera” Linda Christanty. Penulisnya pintar mengolah bahan, dan memberi saya rasa penasaran: apakah yang disampaikannya itu fakta? Atau setidaknya ia berangkat dari kenyataan yang kurang lebih seperti itu? Lantas siapa orang-orang yang ia jadikan model untuk tiap-tiap karakter dalam ceritanya? Saya tahu itu rasa penasaran yang konyol. Fiksi adalah fiksi. Ia bisa memungut bahannya dari realitas, tetapi ia tetaplah realitas fiksional, yang sama sekali lain dari kenyataan yang kita jalani sehari-hari. Celakanya, meski menyadari itu, saya tetap tergoda untuk bertanya-tanya, siapa orang-orang itu? Dan apakah kejadiannya benar-benar begitu? Alangkah sialnya kita jika kejadian sesungguhnya benar-benar seperti itu. Kita dijadikan ajang main-main oleh tangan-tangan yang tak terlihat yang bermaksud membuat negara ini selalu rusuh. Kita dijadikan kelinci percobaan oleh sebuah kekuatan yang kehadirannya seperti hantu.

Catatan lain tentang cerpen itu, ia mengisi ruang kosong yang selama ini tak banyak dipikirkan oleh para penulis kita. Linda menuliskan tema politik hari ini dan menyodorkan kepada pembaca sebuah dunia rekaan yang terasa nyata. Ia penulis yang peka terhadap detail, dan ia tahu bagaimana menggunakan kekuatan detail untuk menggarap penokohan yang meyakinkan. Anabel, narator dalam cerita, bahkan memberi perhatian pada rambut seseorang yang rontok di lantai marmer restoran. Ana agen rahasia, dan ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin saja bisa menggagalkan operasinya. Begitulah, Linda melakukan riset dan kemudian mengajak kita bermain-main dengan karyanya. Itu cerita yang bagi saya memberi kesegaran.

Sejauh ini fiksi-fiksi politik kita seolah mandek pada peristiwa 1965. Sejumlah penulis sudah menggarap tema itu. Saya membacanya pertama kali pada cerpen-cerpen Umar Kayam, kemudian Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah Ahmad Tohari, kemudian beberapa novel lagi, sampai yang terakhir Amba Laksmi Pamuntjak dan Pulang Leila S. Chudori. Sejak Kayam sampai karya paling akhir yang mengangkat tema 1965, kita disodori cerita-cerita tentang orang-orang yang disengsarakan oleh negara padahal “tidak benar-benar komunis” atau "belum komunis". Mereka mendapatkan perlakukan sangat buruk oleh pemerintah tanpa diadili apa kesalahan mereka. Tentu saja orang-orang macam itu memang menarik dijadikan bahan cerita. Nasib buruk orang-orang inosens selalu bisa menyeret empati dan membangkitkan rasa iba. Namun, dengan mengekalkan cara pandang semacam itu, para pengarang kita sepertinya lupa mempertimbangkan pesan implisit bahwa dengan demikian orang-orang yang secara sadar memilih komunisme sebagai alat perjuangan layak diperlakukan seburuk itu.

Maka, dengan ingatan kepada ucapan Kafka, saya pikir cerpen Linda telah menjalankan perannya secara bagus untuk menghantam kepala saya. Tulisan ini adalah ucapan terima kasih saya sebagai pembaca.[*]

*) Kolom "Ruang Putih", Jawa Pos Minggu, 5 Mei 2013


AS Laksana, sastrawan dan esais Indonesia terkemuka. Kumpulan ceritanya Bidadari yang Mengembara (Katakita, 2004), meraih "buku terbaik tahun ini" dari Majalah Tempo, pada 2004. Bukunya Podium Detik merupakan kumpulan kolomnya yang terbit setiap minggu di tabloid Detik (yang dibreidel pada 1994). Buku fiksi terbarunya, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu, terbit pada 2013. Ia menulis kolom tetap, setiap minggu, di suratkabar Jawa Pos. Kolomnya yang bertajuk "Ruang Putih" di Jawa Pos merupakan kolom media terpopuler di Indonesia.




Linda Christanty is an author and journalist. Her writing has been recognized by various awards including the national literary award in Indonesia (Khatulistiwa Literary Award 2004 and 2010), award from the Language Center of the Ministry of National Education (2010 and 2013), and The Best Short Stories version by Kompas daily (1989). Her essay "Militarism and Violence in East Timor" won a Human Rights Award for Best Essay in 1998. She has also written script for plays on conflict, disaster and peace transformation in Aceh. It was performed in the World P.E.N Forum (P.E.N Japan and P.E.N International Forum) in Tokyo, Japan (2008). She received the Southeast Asian writers award, S.E.A Write Award, in 2013.

My New Book

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!

Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!
Penerbit : Horlemann Verlag (2015)

My New Book

Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (2015)

Klik disini untuk melihat review buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Latest Updates